
Tiga hari sejak acara lamarannya Anyelir.
Pagi itu, setengah jam setelah Cempaka berangkat ke tempat kerjanya. Di rumahnya bu Sekar terlihat para penghuninya seperti yang tengah bersiap-siap untuk berangkat ke suatu tempat.
"Bu, jadi sekarang kita ke rumahnya Petir?" Tanya Kenari yang baru tiba di rumah Ibunya.
"Iya jadi , kita kan sudah janji sama keluarganya Petir. Ayo cepat siap-siap! SebelumĀ Cempaka pulang, kita harus sudah ada di rumah lagi" Ujar bu Sekar.
"Baik bu, aku sudah siap" Sahut Kenari.
"Seruni dan Kilat ikut enggak?"
Anyelir keluar dari kamarnya dengan memakai baju baru, pemberian keluarganya Petir.
"Kamu cantik sekali memakai gaun itu. Keluarganya Petir pintar memilih gaun yang cocok untuk kamu" Kenari memujinya.
"Mereka sudah berangkat ke Sekolah, Kilat bawa kunci cadangan" Sahut Bu Sekar.
"Ayo, kita segera berangkat mumpung masih pagi" Bu Sekar bangkit dari tempat duduknya.
Di ikuti oleh Anyelir, Bunga dan Kenari juga Pak Jati yang diam seribu bahasa.
Mereka berlima pun berangkat beriringan menuju ke jalan raya. Di sana sudah menunggu mobil carteran.
Pak Jati, tak sedikitpun memberikan komentar. Pikiran dan hatinya terpaut kepada Cempaka.
"Bapak sepertinya masih kesal, sejak acara tunangan dan walimahan kamu tiga hari yang lalu itu, tak sedikitpun bapak bicara, wajahnya nampak murung terus" Bisik Kenari kepada Anyelir yang duduk di sampingnya.
Pak Jati duduk di depan, di samping sopir.
"Habis, mau gimana lagi? Semuanya sudah terjadi. Mungkin ini jalanku" Bisik Anyelir.
"Iya, kalau enggak memakai cara begini, kapan aku nikah? Bisa-bisa aku jadi jomblo juga. Amit-amit jabang bayi jangan sampai itu terjadi pada diriku" Lanjut Anyelir sambil bergidik.
"Enggak akan ku biarkan adikku, masalahmu adalah masalahku juga" Kenari menghiburnya.
"Makasih kak" Anyelir merebahkan kepalanya di pundak Kenari, dia merasa di perhatikan dan di sanjung oleh sang kakak.
"Tenang saja, ada kakak yang akan membelamu" Bisik Kenari meyakinkan.
"Bu, Bapak kok! Murung terus?" Bunga bertanya dengan tatapan mata yang tertuju pada ibunya.
"Huuuuh" Bu Sekar hanya menarik napas panjang, lalu dia keluarkan kembali dengan perlahan, seakan ingin membuang sedikit beban yang menumpuk di pundaknya.
Bunga menatap Anyelir dan Kenari bergantian, sebenarnya mereka sudah tahu apa yang jadi penyebab pak Jati bersikap murung.
Tak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan halaman rumah orangtuanya Petir.
"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa berkumpul untuk membicarakan tentang kelanjutan pesta pernikahan anak-anak kita. Baiknya kapan dan di mana ya tempatnya?" Bu Tari begitu bersemangat menyambut kedatangannya keluarga pak Jati.
"Terserah keluarga di sini saja, sekarang sudah tanggung membicarakan hal ini. Waktu walimahan juga kan tidak ada rundingan dulu dengan kami" Dengan kesal pak Jati menyahut.
Dia masih merasa tak di hargai oleh keluarganya pak Andro.
"Kami benar-benar minta ma'af atas kelancangan kami tempo hari. Kami harap bapak sekeluarga berbesar hati untuk mema'afkan semua kesalahan dan kelancangan kami" Pak Andro mencoba meminta maaf, sambil menggabungkan kedua telapak tangan di dadanya.
"Iya pak, kami menyesal telah terburu-buru mengambil keputusan, tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan bapak sekeluarga" Bu Tari turut mempertegas permintaan ma'af suaminya.
Enggak ada yang berkomentar, semua diam dan tertunduk. Entah penyesalan, entah apa yang ada di pikiran mereka.
"Silahkan di minum airnya besan" Bu Tari berusaha mencairkan suasana.
"Terimakasih bu, saya minum ya" Untuk menghargai pribumi, bu Sekar mengambil cangkir yang berada di hadapannya.
Bunga, Anyelir dan Kenari pun mengikutinya.
Kecuali pak Jati yang diam tak bergeming. Hati dan perasaannya sakit tak menentu. Wajah Cempaka yang seakan menyalahkannya, tak mau lepas dari kelopak matanya.
"Semuanya sudah terjadi, tidak mungkin bisa di rubah atau pun di ulang kembali. Sebaiknya bagaimana kalau kita adakan pestanya sesegera mungkin, kasihan kalau pernikahan mereka tidak di pesta kan" Dengan hati-hati bu Tari mengarahkan pembicaraan.
"Bagaimana kalau minggu depan?" Ucap bu Tari lagi dengan sedikit ragu.
"Silahkan saja, terserah keluarga di sini saja, mau kapan juga boleh. Rasanya tidak perlu mengajak kami berembug lagi. Seperti waktu tempo hari juga, kalian tidak meminta pendapat kami. Padahal akad nikah lebih penting dan sakral daripada pestanya. Kenapa untuk pesta mesti berembug dulu dengan kami?" Pak Jati mengeluarkan kekesalannya, di akhiri dengan pertanyaan.
__ADS_1
Bu Tari, pak Andro dan Petir tertunduk malu. Mereka tidak ada yang berani menjawab atas pertanyaan dari pak Jati.
"Emh... Kami, kami memang salah. Emh, untuk itu kami tidak ingin mengulang kembali kesalahan yang sudah terjadi. Sekarang, emh, kami memerlukan data, siapa saja yang mesti kita undang dari pihak mempelai perempuan. Begitu pak, bu, makanya kami mengundang bapak dan ibu ke mari" Dengan tergagap pak Andro berusaha menjelaskan.
"Dari pihak kami tidak ada yang perlu di undang. Kejadian tempo hari itu, sudah cukup untuk mengetahui siapa kalian sebenarnya" Tegas pak Jati.
"Emmh, kalau begitu baiklah. Kami sudah memilih waktu yang kami rasa sangat cocok untuk mengadakan pesta. Bagaimana kalau hari minggu nanti?" Tanpa merasa bersalah, pak Andro mengusulkan hari untuk pesta pernikahan Anyelir dan Petir.
"Baik, kami ngikut saja" Bu Sekar berucap singkat.
"Kami sudah mendata kerabat dan rekan yang mau di undang. Tinggal dari keluarga besan yang belum. Kira-kira ada berapa orang yang akan besan undang? Biar kita satukan pencetakan undangannya" Rupanya bu Tari sudah mengatur segalanya.
" Kalau tukang riasnya bagaimana bu?" Anyelir ikut nimbrung. Sepertinya dia tidak mau kalau riasannya tidak sesuai dengan yang dia inginkan.
Rupanya kakaknya sudah tidak di pikirkan lagi olehnya.
" Emh... Kebetulan di sini ada tukang rias yang lumayan sangat bagus dan rapi riasannya. Bagaimana kalau kita pakai bu Dian saja untuk juru rias kalian nanti?" Lagi-lagi bu Tari menyarankan.
Pak Jati melirik sambil mencolek lengan istrinya.
Bu Sekar hanya melirik sambil mengedipkan matanya, memberi isyarat kepada suaminya.
Petir dan Anyelir langsung sibuk dengan alat tulisnya. Keduanya mendata semua teman, kerabat dan kenalannya untuk di undang
di pesta pernikahannya nanti.
Mereka berdua nampak sangat bahagia, sedikitpun tak ingat akan Cempaka yang telah di sakit i hatinya. Canda tawa sesekali terdengar dari bibir mereka. Sungguh pemandangan yang membuat pak Jati semakin merasa bersalah.
"Tempat pestanya di mana bu?"
Kenari bertanya penasaran.
"Di sini saja teh, biar tidak usah nyewa. Lagi pula kalau di sini, saya rasa tempatnya tersembunyi, belum banyak yang tahu dan..." Bu Tari tidak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa berhenti besan? Lanjutkan saja!" Nada kesal masih terdengar dari suaranya pak Jati.
"Cempaka, kakaknya Anyelir tidak tahu tempat ini kan? Jadi, kita bebas berpesta tanpa sepengetahuannya. Begitu kan besan?" Bu Sekar melanjutkan.
"Sekarang sudah kadung terjadi, kakanya Anyelir sudah tersakiti, sudah kita khianati, sudah kita cabik-cabik perasaannya. Lanjutkan saja semua rencana kalian yang mana itu sangat baik menurut kalian"Tenggorokan pak Jati tercekat menahan tangis.
"Hari minggu besok, jam sembilan sampai jam lima sore, kalau begitu saya rasa semuanya sudah jelas, saya pamit duluan, assalamualaikum" Pak Jati bangun dari duduknya dan keluar dari rumahnya bu Tari setelah dia mengucapkan salam.
Wajah Cempaka kian lekat dalam benaknya. Seakan-akan terus menyalahkan dirinya, yang memang salah karena terperdaya oleh siasat licik sang besan.
"Waalaikumsalam... Pak! Pak! Mau kemana? Pak!" Bu Sekar berteriak memanggil suaminya.
"Kalian memang tidak punya perasaan!" Bu Sekar lari menyusul suaminya.
Sebenarnya dirinya pun terpaksa memenuhi undangannya pak Andro dan bu Tari.
Dia tidak menyangka kalau undangannya itu untuk membicarakan rencana pesta pernikahan Anyelir dan Petir.
Akad nikah yang dilaksanakan secara dadakan itu, mungkin tidak berpengaruh apa-apa bagi keluarganya pak Andro. Mereka sama sekali tidak punya perasaan.
Begitu pula waktu pak Jati dan bu Sekar beranjak dari rumahnya. Pak Andro sekeluarga hanya saling tatap, tak ada seorangpun yang berusaha untuk menghalanginya.
"Ini bagaimana?" Anyelir cemas.
"Sudahlah, gak usah di pikirkan. Lanjutkan saja, bapak mungkin masih kesal. Kalian sudah syah sebagai pasangan suami-istri, tinggal pesta. Sekarang kakak di sini sebagai wakil dari bapak dan ibu, nanti juga luluh hatinya, asal kita bisa mengambil hatinya. Ayo kita lanjutkan lagi!" Kenari langsung mengambil alih, menyatakan diri sebagai wali dari kedua orangtuanya.
Sungguh kakak sulung yang tak punya perasaan.
"Baiklah kalau begitu, kami percayakan pada teh Kenari saja.
Kami yakin teh Kenari bisa meluluhkan hatinya pak Andro dan bu Sekar" Dengan entengnya bu Tari berkata begitu, seakan tidak ada masalah yang dia buat.
Aneh!
"Ayo Anye, siapa lagi yang akan kita undang? Itu sudah berapa orang yang kamu undang? Rekan-rekan bapak di kantor dan Guru-gurunya sudah di data belum?" Bunga mulai sibuk melihat-lihat catatan adiknya.
"Aku tidak hapal semuanya kak. Yang tahu rekan-rekan bapak dan Guru-gurunya adalah kak Cempaka" Tatap Anyelir lekat di wajahnya Bunga.
"Oh iya ya, pasti si jomblo itu tahu dan hapal, dia kan lama ngehonor di Sekolah itu" Ucapan yang tak pantas meluncur dari bibirnya Kenari.
__ADS_1
"Apa? Siapa teh?" Bu Tari mengernyitkan keningnya.
"Siapa lagi kalau bukan si Cempaka, sang putri jomblo penghalang adik-adiknya untuk dapat suami" Dengan nada sinis Kenari berucap.
"Ha... Ha... Ha! Teh Kenari ini, ada-ada saja" Bu Tari tergelak tertawa, sepertinya perkataan Kenari itu sangat lucu sekali terdengar di telinganya.
"Memang iya bu, karena dia jomblo jadi Anyelir menikah dengan sembunyi-sembunyi. Apa saya salah kalau menyematkan gelar putri jomblo kepadanya?"
Lanjut Kenari lagi menegaskan.
"Iya kak, kalau Cempaka gak Jomblo, aku gak akan melangkahinya" Bibir Anyelir monyong karena merasa kesal.
"Biarin Anye, akad nikah dan pesta sembunyi-sembunyi juga yang penting kalian sudah syah, sudah resmi sebagai pasangan suami-istri. Sebenarnya tidak sembunyi-sembunyi, banyak orang yang tahu tentang pernikahan kalian. Cuma, putri jomblo saja yang tidak tahu karena kita bodohi, iya gak?" Celetuk Bunga yang di ikuti dengan gelak tawa mereka yang mendengarnya.
"Bisa saja kak Bunga ini" Ujar Petir sambil menutup mulutnya menahan tawa.
"Kalau kita membicarakan tentang putri jomblo itu, saya rasa tidak akan ada habisnya. Lebih baik kita susun acara untuk minggu besok" Pak Andro membelokkan arah pembicaraan.
"Baik pak, kita jadi keluar jalur pembicaraan" Kenari masih tertawa.
"Ini yang akan kita undang, buat cetak kartu undangan tiga hari cukup waktu enggak ya?" Petir nampak khawatir.
" Bisa, kita cari percetakan yang tidak terlalu ramai saja" Bunga menyarankan.
"Nanti kakak mau cari data Guru-guru, biar besok kalian cetak undangannya" Usul Kenari.
"Baik kak"
Mereka nampak serius melanjutkan pembicaraan tentang pesta pernikahan Anyelir dan Petir. Tak sedikitpun yang peduli dengan pak Jati dan bu Sekar yang sudah pamit pulang terlebih dahulu karena merasa kesal.
Mereka hanya mementingkan diri mereka saja.
*
Sementara itu, bu Sekar tengah berusaha membujuk suaminya supaya kembali ke rumahnya bu Tari.
"Pak! Ayo kita kembali ke rumahnya bu Tari, ibu enggak enak pak, meninggalkan mereka begitu saja. Acaranya kan belum selesai" Bu Sekar mencoba membujuk suaminya.
"Apa mereka peduli pada kita? Kita pergi saja tidak ada yang menahan, tidak ada yang menyusul lagi. Itu tandanya mereka tidak memerlukan kita, kenapa pula kita harus menghargainya?" Pak Jati mengingatkan istrinya.
"Pak sopir, jalan pak! Kita pulang" Seru pak Jati setelah dia duduk di samping pak Sopir.
"Baik pak" Sopir carteran itu tak banyak bicara, dia menghidupkan mesin mobilnya perlahan.
"Pak! Tunggu!" Bu Sekar segera masuk ke dalam mobil. Dia ingin meredakan kekesalan pak Jati, dia tidak mau suaminya berlarut-larut dalam kekesalannya.
Di perjalanan mereka tidak bicara sepatah katapun. Pak Jati terdiam dengan wajah yang tampak kesal dan jengkel.
Sementara bu Sekar, nampak merasa serba salah. Hatinya bimbang dan pikirannya bingung, bagaimana dia harus bersikap.
Bu Sekar kebingungan memilih kata untuk di rangkai menjadi sebuah kalimat yang sedikitnya bisa meredakan kekesalannya pak Jati. Walau sebenarnya hatinya pun tidak kalah kesalnya.
*
" Ini uang rentalnya pak, dan langsung saja pulang. Terimakasih ya pak" Pak Jati membayar uang rental mobilnya dan menyuruhnya untuk langsung pulang.
" Baik pak, trimakasih pak, bu saya pamit" Tak banyak cakap, sopir langsung berpamitan untuk kembali ke tempat rental.
" Mereka gimana pak? Apa tidak akan di jemput dulu?" Bu Sekar mencemaskan keadaan ke tiga anak-anaknya yang masih di rumahnya bu Tari.
"Mereka sudah pada gede, sudah bisa balik sendiri. Mereka lebih memilih keluarga pak Andro dari pada kedua orangtuanya sendiri"
Dia rebahkan tubuhnya di sofa dengan keras. Jelas terlihat rasa kesal dan jengkel serta kecewa menyelimuti jiwanya pak Jati.
"Minum dulu teh nya pak" Bu Sekar menyodorkan secangkir teh hangat untuk sekedar meredakan perasaan suaminya yang tengah tidak menentu.
"Terimakasih bu" Pak Andro langsung segera meminumnya sampai habis, tak ada sisa.
***
Assalamualaikum semuanya...
Ma'af š
__ADS_1