
"Assalamualaikum..."Terdengar suara seorang pria mengucapkan salam dari balik pintu samping.
Sore itu Cempaka dan Mawar sedang berada di ruang makan. Mereka tengah mempersiapkan perlengkapan buat besok pagi.
"Waalaikumsalam... " Sahut Cempaka dan Mawar bersamaan.
"War, ada tamu tuh!" Ucap Cempaka.
"Masuk saja, pintunya enggak di kunci" Teriak Mawar tak beranjak dari tempat duduknya.
"War! Kok gitu sih sama tamu?... Bukannya di bukain pintunya" Cempaka menegurnya.
"Dia saudaraku, anaknya bibi. Bukan tamu, paling mau nanyain kak Fajar" Sahut Mawar.
Kak Fajar itu adalah kakak laki-lakinya Mawar.
"Oooh..." Sahut Cempaka singkat.
"Ceklek!..." Suara pintu terdengar ada yang membuka dan mendorongnya.
Tak lama terlihat sosok pemuda yang cukup tampan dengan badan yang tinggi dan tegap muncul dari balik pintu itu.
Dengan senyum manisnya dia menatap kepada Cempaka sambil manggut hormat.
"Deg!..." Ada suatu perasaan aneh menyelinap ke dalam dadanya Cempaka, entah perasaan apa namanya.
Perasaan aneh itu baru di rasakan sa'at itu oleh Cempaka.
Dulu, waktu pertama bertemu dengan Buana, dia tidak merasakan hal aneh seperti itu.
Waktu bertatapan mata dengan Buana, dia merasa biasa-biasa saja. Tidak ada perasaan aneh seperti kali ini.
"Apakah ini yang namanya cinta?" Bathin Cempaka penuh tandatanya.
Yang jelas, pemuda itupun seperti merasakan hal yang sama. Itu terlihat dari sikapnya.
Dia seperti yang terpana, diam mematung diambang pintu, sambil menatap lembut tepat ke wajahnya Cempaka.
Tangannya masih memegangi gagang pintu.
Dia sepertinya terpesona mendapatkan sesuatu yang baru dilihatnya.
Seakan ada suatu sihir di sana, yang membuat mata kedua insan itu tak bisa lepas untuk saling beradu pandang penuh kasih.
Mawar yang tadinya menunduk karena tengah asyik mengerjakan satpel ( satuan pelajaran) buat besok dia ngajar, merasa heran saat sudut matanya melirik matanya Cempaka yang tengah beradu pandang dengan mata saudaranya itu.
Dia pun lalu mengangkat kepalanya, dan mengalihkan pandangannya kearah saudaranya yang juga tengah berdiri mematung di ambang pintu.
"Wooi!... Ngapain kamu mematung di sana?... Biasa juga langsung menerobos masuk. Memangnya ada pagar yang menghalangimu?" Teriak Mawar sambil melemparkan pinsil ke wajahnya pemuda itu.
"Aduh!... Astaghfirulahaladziiim...
Mawar!... Bisanya ngagetin saja"
Teriaknya sambil mengusap pipinya yang kena lemparan pinsilnya Mawar. Lalu tangannya memungut pinsil yang jatuh di kakinya itu.
Cempakapun tak kalah kagetnya, dia tersipu malu dengan sikapnya tadi.
Pemuda itu melangkah perlahan, menuju ke arah Cempaka dan Mawar, tangannya memegangi pinsil yang di lemparkan oleh Mawar tadi.
Entah kenapa tiba-tiba ada suatu desiran halus yang merayap di sela-sela dadanya Cempaka.
Apalagi setelah pemuda itu berdiri tepat di sampingnya.
"Ada tamu rupanya?" Dia berbasa-basi.
"Iya, duduk!... So basa-basi segala, mau apa?" Tanya Mawar galak.
__ADS_1
"Kamu kok!... Galak banget sih?... Ini siapa War?" Dia balik bertanya.
"Ini sahabatku semasa sekolah dulu" Sahut Mawar ketus.
"Bolehkan aku kenalan?" Tanyanya dengan sopan.
"Tanya saja sendiri, mau enggak dia kenalan dengan kamu" Ujar Cempaka pula masih dengan nada yang ketus.
"Tentu saja boleh" Sahut Cempaka.
"Jangan mau, dia itu sukanya ngegangguin saja kalau aku sedang ngerjain tugas, sangat menyebalkan" Gerutu Mawar sambil memonyongkan bibirnya.
Cempaka tersenyum melihatnya.
Pemuda itu terpesona melihat senyuman nya Cempaka.
"Wooi!... Jaga mata!" Mawar berteriak kembali.
"Memangnya aku harus menutup mataku ini?... Galak bener sih" Serunya sambil mencubit pipinya Mawar.
"Tuh kan!... Mulai lagi jahilnya" Teriakan Mawar, membuat bu Dahlia, ibunya Mawar bergegas menghampirinya.
"Kalian ini!... Seperti kucing dengan tikus saja, tiap bertemu pastiiii saja ribut!" Ujarnya kesal.
"Ini Mawarnya wa!... Galak banget, masa aku enggak boleh kenalan dengan temannya ini" Pemuda itu mengadu sambil mendekati bu Dahlia dan memegangi tangannya.
Cempaka merasa lucu, dia tersenyum melihatnya.
"Kamu ini!... Apa-apaan sih?... Pegang-pegang tangan uwa segala kayak anak kecil saja" Bu Dahlia menepiskan tangannya.
"Weei!..." Mawar menjulurkan lidahnya meledek saudaranya itu.
Ulahnya itu membuat Cempaka makin terus tersenyum merasa lucu.
"Kalian ini, enggak malu sama neng Cempaka, sudah pada gede masih saja ribut" Ujar bu Dahlia.
"Mamah!... Kenapa di kasih tahu?" Tegur Mawar.
"Dasar!... Aduh ma'af ya neng Cempaka, mamah enggak sengaja"
Bu Dahlia seperti yang merasa bersalah.
"Enggak apa-apa mah" Ucap Cempaka.
"Kenapa kamu sewot?... Neng Cempaka saja enggak apa-apa" Ujar pemuda itu lagi kegirangan.
Dia lalu kembali lagi mendekati kami, dan mengulurkan tangannya kepada Cempaka setelah dia berada di hadapannya.
"Perkenalkan, nama saya Samudera" Katanya sambil menjabat tangannya Cempaka.
"Enggak ada yang nanya!" Ujar Mawar sambil mendelikkan matanya.
"Biarin bukan sama kamu ini" Sahutnya, dengan tangan masih menggenggam tangannya Cempaka.
"Aku Cempaka" Sahutnya lembut.
"Terimakasih... MasyaAllah... Lembut sekali suaranya. Jauh berbeda tidak seperti si garang itu" Samudera menunjuk ke arah Mawar dengan bibirnya.
"Apa kamu bilang?... Sudah kenalannya?... Lepasin tuh tangannya!... Keenakan tahu!" Mawar begitu sewot di juluki si garang.
Sementara Cempaka hanya bisa tersenyum melihatnya.
"Iya... Iya aku lepaskan. Tapi, bolehkan aku berteman dengannya?" Dia balik bertanya.
"Boleh, tapi ada syaratnya" Ucap Mawar.
"Oke! Siapa takut?" Ucapnya menantang.
__ADS_1
"Kamu langsung suka ya sama dia!" Mawar langsung menotok nya dengan pertanyaan pribadi. Tentu saja membuat wajahnya jadi memerah.
"Malu ya, ketahuan langsung" Goda Mawar pula.
"Kalau aku suka sama dia memangnya kenapa? Masalah buat kamu!" Sahutnya dengan suara agak di pelanin. Tapi tetap saja kedengaran sama Cempaka.
"Dia sudah ada yang punya, polisi lagi. Tetangganya iya kan Cempaka?" Mawar menoleh pada Cempaka meminta jawaban nya.
Cempaka bingung mau jawab apa?
Mawar tahunya hubungan Cempaka dan Buana baik-baik saja, karena Cempaka belum menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Cempaka, iya kan?" Tanya Mawar lagi, tak sabar.
Cempaka mengangguk perlahan.
Tepat setelah Cempaka mengangguk, perubahan di wajahnya Samudera nampak kentara.
"Neng Cempaka sudah menikah?" Samudera bertanya lemas.
"Belum, baru dekat saja" Jawab Cempaka yang membuat wajah tampan di hadapannya itu sumringah kembali.
"Alhamdulillah... Memang kalau jodoh tak kan kemana" Ujarnya begitu percaya diri.
"Ke pede an. Memangnya Cempaka akan suka gitu?" Mawar mengejeknya.
"Neng Cempaka, kalau punya suami, mau yang kerjaannya sebagai apa?" Samudera bertanya serius.
"Jangan panggil aku neng ah, Cempaka saja biar enak dengarnya" Kata Cempaka.
"Baiklah kalau begitu, lalu jawabannya?" Dia menagih jawaban dari Cempaka.
"Aku ingin punya suami itu seorang ABRI yang baik" Sahut Cempaka dengan mantap.
"Kalau aku pantas ya jadi ABRI"
Dia meminta pendapat.
"Pantas juga, memangnya sekarang Samudera kerja apa?"
Kini Cempaka yang bertanya.
"Dia jualan pasir sama paving blok tuh di pinggir jalan sana, kalau besok kita ke sekolah pasti kelewatan" Ucap Mawar.
"Pastinya dong di pinggir jalan, kalau di tengah jalan pastinya enggak boleh, iya kan Mawar?"
Guyonan Cempaka mulai keluar.
"Ya iya lah, kalau di tengah jalan bukannya mau jualan, tapi mau bunuh diri" Sahut Mawar dengan jawaban yang tepat.
"Tepat sekali! Kamu memang anak yang pintar" Puji Cempaka.
"Ternyata suka humor juga" Ucap Samudera sambil tersenyum.
"Woi, jangan di tanya. Dia itu paling jago ngisengin orang dengan guyonannya" Mawar buka rahasia.
"Enggak juga, itu cuma keceplosan saja" Cempaka tersipu malu.
"Kalau boleh tahu, dengan polisi itu sudah tunangan apa belum?"
Samudera kembali lagi ke masalah pribadi.
"Belum, baru mau tapi enggak jadi. Terhalang sama kakak yang belum nikah" Sahut Cempaka.
"Eh, ma'af!... Malah curhat" Cempaka tersadar jadi malu sendiri.
"Enggak apa-apa, aku malah senang mendengarnya" Ujar Samudera, sepertinya dia bahagia setelah mengetahui bahwa Cempaka belum bertunangan.
__ADS_1