Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Di hadang di jalanan


__ADS_3

"Waalaikumsalam, bagus kalau begitu. Sana, nunggu apa lagi?"


Indah bahagia sekali mendengar Yanto berpamitan mau pulang.


"Jangan lupa sampaikan salam ku!" Ujar Yanto sebelum dia berlalu keluar dari rumahnya bu Sekar.


"Iya, iya, enggak usah aku sampaikan juga pastinya dia sudah dengar" Gumam Indah.


Yanto pun berlalu dari rumahnya bu Sekar, walau dengan terpaksa.


"Alhamdulillahirobbil alamiin. Akhirnya, pecah juga telornya" Ucap pak Jati kegirangan.


"Alhamdulillah, pergi juga tamu bebal dan kurang ajar itu" Bu Sekar dan Cempaka pun tak kalah senangnya.


Satu masalah besar telah mereka lalui.


Sambil melangkahkan kakinya, beberapa kali dia menengok ke belakang, ke arah rumahnya bu Sekar. Dia berharap Cempaka akan keluar dari rumahnya untuk berdiri di teras sambil menatap kepergiannya, seperti yang suka di lakukan sebelumnya.


Namun, hal itu tidak dia dapatkan. Lambaian tangannya Cempaka yang cantik itu, kini tidak terlihat lagi.


Senyuman nya Cempaka yang membuat hatinya meronta-ronta itu, sudah menjauh dari dirinya.


"Kenapa terlambat aku di pertemukan dengannya. Seandainya waktu itu aku tidak segera menikah, pasti senyuman Cempaka itu akan terus mengembang untuk diriku" Yanto bergumam menyesali pernikahannya.


Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, walaupun dia sudah jauh melangkah meninggalkan rumahnya bu Sekar. Namun, setitik harapan itu masih ada tersimpan di sudut hatinya yang paling dalam.


Setelah kepergian Yanto, Indah segera menghampiri keluarganya bu Sekar sambil mengembangkan senyumnya.


"Assalamualaikum" Ucapnya.


"Waalaikumsalam, akhirnya si ontohod borokokok itu pergi juga. Kamu hebat Indah! Ibu sangat senang sekali ada kamu di sini. Coba kalau kamu tidak berada di sini, tentunya ibu yang harus nyerocos berdebat dengan dia" Bu Sekar menyambut Indah dengan sebuah pelukan hangat.


"Ah, ibu bisa saja. Yang jelas perkataan ibu yang sangat mengena di ulu hatinya yang paling dalam" Sahut Indah sambil tak lepas bibirnya mengembangkan senyuman tanda kemenangan.


"Terimakasih ya sahabatku, kau memang sahabatku yang paling baik dan paling berarti bagiku" Cempaka memeluknya dengan penuh kasih sayang.


Bu Sekar dan pak Jati pun mendekati mereka, kemudian mereka memeluk Cempaka dan Indah dengan mesra.


Sungguh! Waktu itu adalah akhir yang bahagia.


*


Malamnya, Indah dan Cempaka berangkat bersama-sama menuju ke tempat kerjanya.


Malam itu, Yanto tidak kelihatan di tempat kerjanya. Sepertinya dia tidak masuk kerja, entah apa alasannya, tidak ada kabar dan beritanya. Heripun yang satu mesin dengannya, tidak mengetahuinya.


Pulang kerja keesokan harinya, Cempaka dan Indah mampir dulu ke pasar, ada sesuatu yang harus mereka beli.


Di depan apotek, mereka ada yang menghadang jalannya.


Seorang laki-laki yang tiada lain dia adalah Yanto.


" Cempaka! Aku kamgen sama kamu!" Katanya, jarak yang terlalu dekat membuat aroma tidak sedap yang berasal dari mulutnya Yanto, jelas tercium oleh Cempaka dan Indah.


"Heh! Bau sekali, bau apa ini?" Dengan refleks, Cempaka dan Indah segera menutup hidungnya.


"Cempaka, kenapa kau tidak mau menerima lamaranku?" Dia bertanya tanpa rasa malu, tanpa melihat sekitar yang ramai dengan hilir mudiknya kendaraan, dan juga orang yang berlalu-lalang.


Cempaka dan Indah makin rapat menutup hidung dan mulutnya. Mereka tak kuat dengan aroma tak sedap yang keluar dari dalam mulutnya Yanto.


"Itu bau minuman keras, Cempaka! Dia kan sudah terbiasa minum minuman keras yang memabukkan dan juga haram itu. Makanya, mbak Ranti sering nangis karena kelakuannya. Untung kamu segera terselamatkan" Entah dari mana datangnya, dan entah sejak kapan, tiba-tiba Yeti sudah berdiri di samping Cempaka.


"Hah! Minuman keras? Berarti dia suka mabuk-mabukkan?"


Cempaka dan Indah sangat kaget sekali, mendengar bahwa keburukan Yanto itu bukan hanya mau menduakan istrinya saja. Tapi, ini lebih dari fatal.


"Iya memang begitu yang sebenarnya. Sebelum kerja dengan kita, dia itu kan calo angkatan umum, minum dan mabuk serta judi sudah menjadi kebiasaannya. Makanya waktu dia terlihat melamar kerja, aku tuh merasa heran. Karena, dari dulu dia tidak mau kerja yang benar, padahal sudah di suruh oleh kedua orangtuanya juga. Sekarang, kamu sudah menyaksikannya sendiri dan aku itu tidak mengada-ada, tidak membohongi kamu" Dengan panjang lebar, Yeti menjelaskan tentang Yanto yang sesungguhnya.


"Yeti, sekali lagi aku haturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepadamu. Karena, kamu yang telah membuka mataku supaya aku bisa melihat kebenarannya" Cempaka langsung menyambutnya dengan bahagia.


"Iya sama-sama, aku senang kamu bisa terbebas dari jeratannya setan ini, tidak seperti mbak Ranti yang sudah kadung menikah dan punya anak. Katanya, dia itu kurang teliti waktu mau menerimanya, ya akhirnya, begini jadinya. Dia terkekang dalam kehidupan rumah tangga yang sangat jauh dari kata bahagia" Lanjut Yeti lagi.


"Cempaka, aku harap kamu tidak mendengar ocehannya si Yeti. Dia itu iri sama kita, karena dia bertepuk sebelah tangan, dia tidak terbalaskan cintanya olehku" Ujar Yanto, mengarang cerita.


"Apa kamu bilang? Amit-amit jabang bayi kalau aku sampai jatuh cinta sama kamu!" Yeti sangat marah mendengar ocehannya Yanto yang memfitnahnya.


"Sebentar Cempaka, aku mau ke apotek dulu" Yanto pamitan.


Cempaka cuek saja, dia pura-pura tidak mendengarnya.

__ADS_1


Dia tengah serius berbincang dengan Yeti, sang penyelamat.


Beberapa menit kemudian, Yanto sudah keluar lagi dari apotek dengan membawa sebuah kantong plastik berwarna putih.


Diapun lalu duduk di pinggiran trotoar jalan. Lalu dia mengeluarkan dua buah botol kecil berwarna putih.


Sekilas nampak tulisan alkohol tertera di sana.


"Itu lihat! Cempaka, Indah!" Yeti mencolek lengannya Cempaka, dan menunjukkan sesuatu yang tengah berlangsung di hadapan mereka.


Cempaka dan Indah pun langsung menoleh, matanya mengikuti arahan dari Yeti.


"Sedang apa dia?" Cempaka bertanya kepada Yeti, dia tak mengerti dengan yang sedang di perbuat oleh Yanto.


"Lihat saja nanti!" Sahut Yeti.


Dengan tanpa ragu sedikitpun, tanpa canggung dan tanpa rasa malu pula, Yanto menumpahkan isi dari dua botol plastik putih itu ke dalam kantung plastik kecil. Lalu dia ikat ujungnya dengan kuat. Setelah itu, dia menggigit ujung plastiknya untuk membuat lobang.


Beberapa sa'at kemudian, dia meminum cairan putih alkohol itu dengan santainya.


"Hah! Dia meminumnya! Itu kan bukan air untuk minum" Cempaka mundur beberapa langkah, dengan mimik wajah yang ketakutan.


"Ya itulah dia, minum minuman keras yang memabukkan. Tapi, dengan harga yang murah" Ujar Yeti.


Sedangkan Indah, dari tadi dia hanya menyaksikan saja, dengan mulut yang menganga terbuka dan mata yang melotot kaget bukan kepalang.


Dia tak bisa berkomentar apa-apa, dia hanya menyesali perbuatannya yang telah membuat Cempaka dekat dengan Yanto, selama dua bulan terakhir.


Indah membayangkan betapa tersiksa dan menderitanya Cempaka, seandainya saja Yeti tidak memberi tahu, atau telat memberitahunya.


"Cempaka, ma'afkan aku ya!" Indah menangis sambil memeluk Cempaka dengan erat.


"Sudah, sudah!" Sahut Cempaka sambil mengusap-usap kepala Indah yang menyusup di pundaknya.


"Aku tak menyangka sedikitpun, kalau kelakuannya itu begitu. Indah, kita pulang yu! Perutku rasanya mual, dan kepalaku juga terasa pusing, aku tak kuat dengan aroma bau yang datang dari minuman yang tengah di nikmatinya itu" Cempaka menarik lengan Indah, mengajaknya untuk pulang.


"Iya, Cempaka. Aku juga mau pulang, sudah ngantuk berat nih!" Ujar Yeti sambil menguap.


"Iya silahkan! Kami juga mau pulang, sekali lagi terimakasih ya temanku yang baik" Ucap Cempaka sambil kembali dia memeluk Yeti.


Mereka pun berlalu dari tempat itu, menuju ke rumahnya masing-masing.


Badannya Yanto nampak limbung, dia melangkahkan kakinya agak sempoyongan seperti yang sedang mabuk. Mungkin itu pengaruh dari alkohol yang dia minum.


"Indah, aku takut! Dia mengejar kita" Cempaka bergidik ketakutan. Dia memegangi Indah erat-erat.


"Jangan di pedulikan! Biarkan saja, kita pura-pura tidak mendengarnya! Sebaiknya kita percepat langkah kita, biar tidak terkejar olehnya" Indah sedikit menarik tangannya Cempaka, supaya bisa segera menjauh dari kejaran Yanto yang sudah mulai sempoyongan karena mabuk itu.


"Kita naik ojeg saja, Indah. Biar cepat sampai ke rumah" Cempaka ketakutan, matanya sibuk mencari-cari ojeg yang lewat. Tapi, tak satupun ada ojeg yang melintas di sana.


Angkutan umum belum ada yang melewati jalan yang menuju ke rumah mereka. Baru Ojeg dan delman yang jadi kendaraan yang melintas di jalanan yang menuju arah rumah mereka.


"Kita naik delman saja!" Ajak Cempaka.


"Delman suka ngetem, aku enggak mau! Nanti dia bisa mengejar kita, aku takut!" Cempaka mulai menangis takut ke kejar sama Yanto, yang masih tetap berusaha untuk mengejarnya, walaupun dengan terseok-seok karena pengaruh alkohol yang diminumnya.


"Jangan panik! Tenangkan dulu dirimu! InsyaAllah kita tidak akan terkejar, kita kan langkahnya normal, sedangkan dia terseok-seok, sempoyongan karena di pengaruhi oleh alkohol, iya kan! Sebaiknya kita cari delman yang mau penuh saja penumpangnya, biar tidak ngetem. Bagaimana?" Indah berusaha untuk menenangkan sahabatnya yang tengah panik karena ketakutan.


"Iya" Cempaka menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Indah.


Mereka lalu mencari-cari delman yang sudah ada penumpangnya.


Satu persatu delman yang berderet itu di lihatnya, kebanyakan masih pada kosong, belum ada penumpangnya.


"Aduh ini bagaimana, Indah? Delman nya pada kosong semua" Cempaka terus saja mengeluh dan menoleh ke belakang, melihat Yanto yang terus mengejarnya.


"Itu delman yang paling depan, sepertinya sudah ada dua penumpangnya! Ayo, Cempaka!" Indah berseru sambil menarik lengannya Cempaka, untuk menghampiri delman yang berada di jajaran paling depan.


"Ayo, naik!" Indah menyuruh Cempaka untuk naik lebih dulu.


"Kamu duduknya di sini! Biar terhalang oleh penumpang yang lain. Jadi, dia tidak bisa langsung melihatmu!" Indah mengatur Cempaka, supaya duduknya terhalang oleh penumpang lain.


"Iya, iya" Cempaka segera menempati tempat duduk yang masih kosong, yang di tunjukkan oleh Indah.


Kemudian dia menoleh lagi ke belakang, Yanto masih terlihat tengah berusaha mengejarnya.


"Mang, sudah ada empat orang penumpangnya, ayo cepat jalan!" Indah menyuruh nya supaya segera berjalan.


"Sebentar neng, satu orang lagi" Sahut kusir delman.

__ADS_1


"Begini saja mang, kami kan lagi terburu-buru. Kalau sampai kami turun, tidak ada yang naik lagi, nanti saya yang akan membayarnya" Ujar Indah.


"Baiklah kalau begitu, ayo!" Sang kusir delman menyetujuinya.


Dengan sekali tarik saja, tali kekangnya. Kuda yang menarik delman yang kami tumpangi itu, langsung melangkahkan kakinya, kemudian berlari sesuai aba-aba dari kusir nya, untuk melaju meninggalkan tempat itu.


Bersamaan dengan melajunya


Delman yang mereka tumpangi,


hati Cempaka pun mulai sedikit tenang. Karena, Yanto yang tengah mengejarnya mulai tertinggal di belakang.


"Alhamdulillah, kita sudah agak menjauh darinya" Cempaka sedikit lega perasaannya.


Delman pun melaju dengan tenang, seiring ketenangan yang mulai menyusup ke dalam hati sanubarinya Cempaka.


"Dia semakin jauh kita tinggalkan, Cempaka" Ujar Indah senang.


"Iya Indah" Cempaka pun nampak bahagia.


Bahaya yang tadi sempat jadi ancamannya, kini perlahan bisa dia tinggalkan di belakang.


"Cempaka! Tunggu aku!" Sementara itu, Yanto masih berteriak memanggil Cempaka dengan sempoyongan akibat alkohol yang di minumnya.


"Dia sepertinya tengah mabuk" Seseorang yang terlewati oleh Yanto mengomentarinya.


"Nampaknya, benar. Dia sedang mabuk. Dia memanggil nama Cempaka dari tadi. Memangnya Cempaka itu siapanya dia?" Tanya seseorang lagi, yang kebetulan berada di sana.


"Mana mau perempuan sama laki-laki yang lagi mabuk?" Ujar seorang ibu-ibu yang sedang belanja di sebuah toko.


"Iya, bu. Amit-amit jabang bayi"


Ujar pelayan toko yang tengah melayani ibu-ibu itu.


*


"Berhenti di sini saja, mang!" Indah menyuruh kusir itu untuk menghentikan kudanya, tepat di depan sebuah gang yang menuju ke rumahnya Cempaka.


Setelah turun dan membayar ongkosnya, Cempaka dan Indah menoleh ke belakang, mereka melihat keberadaannya Yanto.


"Dia tidak terlihat! Ayo kita pulang!" Ajak Indah sambil menggenggam tangan Cempaka, sahabatnya.


"Ayo! Aku sudah ngantuk dan juga lapar" Sahut Cempaka sambil memegangi perutnya yang mulai keroncongan.


"Sama, aku juga sangat lapar. Cacing ternak di perutku sudah meronta-ronta minta di kasih makan" Seloroh Indah.


"Ha, ha" Mereka berdua tertawa sangat lepas.


"Kamu makan di rumahku saja, ya! Biar sambil cerita kejadian tadi waktu di depan apotek. Aku ingin menceritakan nya kepada ibuku. Pasti ibuku merasa sangat beruntung karena, putri cantiknya baru saja terhindar dari marabahaya yang sangat-sangat mengerikan itu"


Ujar Cempaka penuh semangat.


"Wow! Memuji diri sendiri" Indah menjentik hidung Cempaka yang bangir itu.


"Ya iya lah, aku cantik. Aku kan perempuan, masa aku tampan"


Sahut Cempaka dengan riang.


Sifatnya yang periang sudah muncul kembali.


"Alhamdulillah, sahabatku sudah kembali riang lagi" Ujar Indah bahagia.


"Assalamualaikum, ibu aku pulang" Setibanya di depan rumahnya, Cempaka mengucapkan salam sebelum dia masuk ke dalam rumahnya.


"Waalaikumsalam, kalian sudah pulang rupanya" Bu Sekar segera menyambutnya.


"Kami lapar, bu!" Cempaka dan Indah berucap berbarengan.


"Aduh! Kalian berdua kelaparan rupanya? Pantesan saja kalian lapar, kalian sich! Malah keluyuran dulu. Memangnya tadi kalian ke mana dulu?" Bu Sekar bertanya.


"Kami ke Pasar dulu, ibu"


"Ooh, pantesan. Mana belanjaan nya?"


"Ini!" Cempaka menunjukkan sekantung kresek penuh belanjanya.


"Terimakasih, anak - anak" Bu Sekar Menyambutnya dengan gembira.


Cempaka dan Indah tertawa melihat tingkah ibunya.

__ADS_1


***


__ADS_2