Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Karena Salah sangka


__ADS_3

Empat hari sebelum resepsi pernikahan Bunga dan Sakti, Kenari pergi ke Desa Ujung untuk


mengabarkan kabar bahagia itu, kepada paman dan bibinya yang kebetulan rumahnya berada di sana, berdekatan dengan Samudera.


"Syukurlah, Neng sudah mendapatkan jodohnya" Ujar bibinya Kenari.


"InsyaAllah kami akan ke sana"


ujar pamannya Kenari.


"Kalau begitu, saya pulang dulu ya bi, paman. Kami tunggu kehadirannya." Kenari pamitan pulang.


Sehari sebelum walimahan Bunga dan Sakti, paman dan bibinya Bunga berangkat ke rumahnya bu Sekar.


Tak disangka di jalan mereka bertemu dengan Samudera yang baru mau berangkat dinas.


"Samudera! Berangkat dinas?"


"Iya mang! Mau pada kemana ini?"Samudera balik bertanya.


"Kita mau ke pernikahannya Neng. Putrinya kang Jati" Ucap pamannya Bunga.


"Kang Jati yang mana?" Samudera bertanya penasaran.


Dia merasa nama Jati itu, bapaknya Cempaka.


"Itu bapaknya Neng, yang rumahnya di desa Ujung" Sahut mang Ramdhan.


"Berarti..., neng, putrinya pak Jati


mau nikah."Gumam Samudera.


"Dia benar-benar mau mempermainkan aku, berarti..., selama ini dia tidak mencintaiku.


Dia lebih memilih si Buana itu" Gumamnya dengan geram.


"Sam, kami pergi dulu ya! Takut kepanasan di jalan" mang Ramdhan membuyarkan lamunannya Samudera.


"Ooh..., iya! Iya!" Samudera menjawab gelagapan.


Samudera begitu geram dan marah hatinya setelah dia mendengar kabar dari mang Ramdhan barusan.


Luka yang telah di torehkan oleh kedua Orangtuanya Cempaka, terasa semakin menganga saja setelah tahu bahwa Neng yang begitu di cintainya itu mau menikah dengan orang lain.


"Kalau begitu, aku juga harus mencari perempuan yang mau di jadikan isteri olehku. Cempaka tidak mampu menahan kehendak orangtuanya, untuk apa aku harus menunggunya" Gumamnya.


"Begitu sakit rasanya hatiku ini, tak mungkin akan ku biarkan semua perlakuanmu kepadaku.


Ma'afkan aku Cempaka, bukannya aku tak cinta dan tak sayang padamu, tapi..., aku tak sanggup menerima semua kekecewaan ini. Usahaku sia-sia hanya karena keegoisan orangtuamu" Samudera mengusap titik bening di sudut kelopak matanya.


*


Rumah bu Sekar sudah dihias dengan indahnya.

__ADS_1


Tenda biru sudah terpasang di halaman rumahnya yang luas itu.


Pelaminan yang indah sudah tersedia di sana, di ruang tamu rumahnya bu Sekar. Pengantinnyapun sudah duduk di sana dengan baju dan riasan yang mewah.


Keduanya nampak tersipu malu.


Sedangkan Cempaka yang kecewa dan sakit hatinya, terpaksa dengan sekuat tenaga menghalau duka itu. Walau wajahnya masih terlihat murung bermuram durja.


"Cempaka, cobalah untuk sedikit ceria."bisik Kenari di telinga adiknya itu.


"Iya kak!"Cempaka menjawabnya dengan singkat.


Bagaimana dia akan Ceria? Hatinya di penuhi awan kelabu.


"Nanti kakak akan menemui bu Seroja, kakak akan menagih janjinya Buana, sudah! Jangan sedih" Ucap Kenari.


"Tak perlu kak!i Sudah terlalu sakit hati ini"jawab Cempaka pelan.


"Cempaka" Kenari memeluk bahu adiknya itu.


"Ma'afkan kakak, kakak tidak bisa


meyakinkan ibu dan bapak." bisiknya dengan lembut.


"Enggak apa-apa kak, mungkin ini sudah menjadi takdirku, mungkin aku terlahir untuk menderita kak" Cempaka menangis di pelukan kakaknya.


"Jangan berkata begitu adikku, jalanmu masih panjang. Sekarang kau menderita, esok hari kau pasti mendapatkan kebahagiaan itu. Allah tidak akan membiarkan ummatnya selalu menderita, percayalah." Kenari memeluk Cempaka, berusaha menenangkannya.


Tamu undangan satu persatu sudah meninggalkan tempat resepsi pernikahan Bunga dan Sakti.


"Alhamdulillah..., acaranya sudah selesai, tamu-tamu yang di undang datang semuanya ke acara kita ini" ujar bu Sekar sambil duduk berselonjoran di atas karpet di ruang tengah.


"Iya bu, bapak bahagia sekali, akhirnya Bunga yang kemarin ada yang meledeknya dengan sebutan putri jomblo, kini sudah menikah, sudah punya suami pilihannya. Semoga rumah tangga mereka berkah, sakinah mawadah warahmah ya bu. Tinggal kita menikahkan Cempaka dengan Buana." sahut pak Jati dengan senyum bahagia.


"Semoga saja Buana segera datang untuk melamar dan menikahi anak kita, Cempaka ya pak. Ibu sudah tidak tahan lagi ingin besanan dengan bu Seroja."


ucap bu Sekar sambil tersenyum bahagia juga.


Keduanya nampak menikmati kebahagiaan yang tengah Allah berikan kepada keluarganya sa'at itu.


"Kakak do'akan semoga kamu segera mendapatkan jodoh, sesuai dengan pilihan hatimu" Bunga menepuk pundak adiknya itu dengan lembut.


"Makasih kak" sahut Cempaka.


"Bunga, kenapa kamu mendo'akannya begitu? Bukannya mendo'akan supaya berjodoh dengan Buana!" bu Sekar agak membentak Bunga, dia tidak suka dengan perkataannya Bunga.


Iya, ma'af bu, aku keceplosan" Bunga meminta maaf kepada ibunya.


Hari pun merangkak senja, mentari menghilang dari pandangan mata, memasuki peraduannya.


Malam pun menyapa kampung hilir dengan sayap-sayap malamnya yang gelap gulita.


Cempaka dan seisi rumah sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing, untuk mengistirahatkan tubuhnya dari aktivitas seharian tadi yang lumayan menguras tenaga.

__ADS_1


"Tadi, bu Seroja datang memenuhi undangan Keluargaku. Tapi..., dia tidak berkata apa-apa sa'at bertemu denganku, tidak seperti biasanya,


yang selalu memanggilku dengan sebutan mantu. Tadi, dia hanya tersenyum dan mengangguk saja, sepertinya ada sesuatu yang telah merubahnya. Mungkinkah benar kabar yang disampaikan oleh Melati dan bi Rora itu?" Gumamnya. Dia tidak bisa memejamkan matanya, walau tubuhnya merasakan cape.


"Kepada ibu juga dia tidak hangat seperti biasanya. Tapi, kenapa ibu tidak mengerti juga?" pikir Cempaka.


"Samudera, ma'afkan aku, tadi kamu tidak aku undang ke resepsi pernikahan kakakku. Bukannya aku tidak mau kau datang, tapi..., aku tidak mau kalau ibu dan bapak marah dan mengusirmu." Wajah tampannya Samudera membayang di kelopak matanya.


Dia teringat kembali waktu Samudera pergi meninggalkan rumahnya, dengan hati yang kecewa berat.


Perjuangannya untuk mendapatkan cintanya tak membuahkan hasil yang dia harapkan.


*


"Neng sudah menikah dengan si Buana, berarti..., aku juga harus segera mencari penggantinya"


Samudera bergumam sendiri dengan geramnya.


Hingga giginya terdengar gemeretak.


Dia tidak konsentrasi dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang tentara. Dia banyak melamun dan diam membisu.


Sikapnya itu membuat rekan kerjanya bertanya-tanya.


"Kamu kenapa sih...? Kulihat sejak kau ditugaskan di kesatuan ini, kerjamu salah melulu. Kita ini masih baru, jangan membuat ulah! Nanti komandan bisa marah!"ujar salah satu rekannya.


"Pasti gara-gara perempuan ya?"


tebak yang lainnya.


Waktu itu mereka tengah beristirahat di kantin.


Samudera diam saja, dia tidak mau menjawab pertanyaan rekan-rekannya.


"Sam, kalau ada masalah, ya cerita lah! Jangan di pendam sendiri. Apalagi kita kan berteman dari sejak kita mengikuti pendidikan, apa..., orangtuanya kekasihmu tidak setuju anaknya di lamar olehmu? Bukannya kamu pernah cerita, kalau kamu daftar ABRI itu demi membahagiakan kekasihmu, iya kan?" Temannya menebak kegalauan Samudera.


"Sok tahu!" Samudera tidak mau berterus terang.


Diapun beranjak dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan kantin dengan langkah gontai.


Tidak ada setengah jam, tiba-tiba Samudera sudah berada di atas atap asrama.


"Aaaaaarkh! Hidup ini tidak adiiil!" Teriaknya lantang hingga terdengar kemana-mana.


"Ada apa ini?" Rekan-rekannya yang masih berada di kantin, terperanjat merasa kaget mendengar teriakkan itu.


"Apa salahkuuuuu ya Allah!" Teriaknya lagi, lebih histeris daripada tadi.


Semua orang yang berada di kesatuan itu, berlari berhamburan mencari asal suara.


"Ituuuu! Di atas genteng!" teriak salah satu prajurit.


Semua mata memandang ke arah yang ditunjuk oleh prajurit itu.

__ADS_1


"Siapa itu?" Komandan kesatuan itu bertanya sambil berlari ke tempat dimana ada seorang anak buahnya yang membikin ulah, berteriak di atas genteng.


Semua mengikutinya, menuju ke gedung asrama yang gentengnya di naiki oleh Samudera.


__ADS_2