
"Bunga, coba cari kakakmu di rumahnya! Dan bawa dia kemari, bilangin bapak dan ibu mau bicara, gitu!"
Sore itu, selepas maghrib pak Jati menyuruh Bunga untuk mencari Kenari di rumahnya.
Sa'at itu pak Jati tidak sampai lepas sholat Isya di Masjidnya, tidak seperti biasanya. Selepas shalat Maghrib, diapun kembali ke rumahnya bersama Kilat dan ketiga menantunya, Sakti dan Petir, juga Karmin sang menantu barunya.
"Iya pak, aku ajak suamiku ya pak, dan aku titip dulu Nirwana ya, bu " Ucap Bunga sebelum dia berangkat ke rumahnya Kenari.
"Iya" Singkat jawabannya pak Jati.
Nirwana, bayi yang belum berumur setahun itu berpindah ke pangkuan neneknya.
Bunga dan Sakti pun berangkat ke rumahnya Kenari.
Karmin masih tetap di tempat yang sama, yaitu di ruang tamu.
Dirinya sendiri merasa tidak enak dengan kejadian yang telah terjadi di rumah mertuanya itu.
Kini diapun merasa bersalah karena telah mengikuti hawa nafsunya, menuruti kehendak hatinya yang tersesat.
Namun, nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi, tidak bisa di ulangi lagi.
"Kira-kira maharnya di umpetin sama siapa ya?"
Sambil berjalan, Sakti mengajak bicara istrinya.
"Sepertinya sama kak Kenari"
Jawab Bunga, simpel.
"Kok! Bisa asal tebak begitu?"
"Bukan asal tebak, tapi menurut logikanya sepertinya begitu. Pertama, Karmin kan tidak bawa apa-apa, kak Kenari memaksa ibu untuk meminjam
cincin nya, ibu tidak memberikannya. Lalu, kak Kenari menghilang beberapa sa'at. Eh, kembali lagi dengan kotak perhiasan, akad nikah pun di laksanakan. Eeh, waktu mau di sematkan di jari manisnya Cempaka, itu kotak hilang lagi. Aneh kan? Siapa lagi kalau bukan kak Kenari yang ngambil?"
Bunga tetap pada pendiriannya.
"Iya juga ya, tapi kenapa kak Kenari menyembunyikan kotak mahar itu?"
Sakti ikut berpikir.
"Karena, kotak perhiasan itu bukan miliknya Karmin yang di jadikan mahar untuk pernikahannya. Ya, mungkin dia kembalikan lagi ke yang punya"
Bunga menduganya.
Sakti manggut-manggut sepertinya faham akan maksud istrinya.
"Kita sudah sampai kak"
Bunga menghentikan ucapannya.
"Assalamualaikum, kakak!"
Bunga mengucapkan salam, berharap Kenari mendengarnya.
"Assalamualaikum"
Sakti ikut mengucapkan salam juga, suaranya lebih keras dari istrinya, supaya Kenari langsung mendengarnya dan membukakan pintunya.
Namun tidak ada jawaban sama sekali.
Apalagi pintu yang terbuka.
Suasana nampak lengang dan sepi. Seperti tidak ada penghuninya.
"Kakak! Kakak!" Bunga beranjak ke pintu samping.
Tidak ada jawaban juga.
"Sepertinya tidak ada di rumah"
Sakti menduganya.
"Tok! Tok! Tok!" Bunga masih penasaran, dia mengetuk pintu samping hingga berkali-kali.
"Neng Bunga, cari Kak Kenari?"
Bi Ijah yang lumayan dekat rumahnya dengan Kenari, menyapanya.
"Iya bi, apa bi Ijah lihat kak Kenari enggak?"
Bunga segera bertanya.
"Tadi siang saya lihat, tapi sebelum waktu Ashar dia pergi, saya kira mau ke rumahnya ibu. Waktu saya tanya dia tidak menjawabnya. Mungkin dia masih marah karena kejadian tadi di rumahnya ibu. Eh, bagaimana keadaannya neng Cempaka?"
Bi Ijah menjelaskan dan di akhiri dengan menanyakan tentang keadaannya Cempaka.
" Cempaka sedikit shock setelah dia tahu kalau dia telah menikah dengan Karmin"
Ungkap Bunga perlahan.
"Kasihan sekali neng Cempaka, malang nian nasibnya. Sedikitpun bibi tak menyangka kalau neng Cempaka akan mengalami nasib seperti itu. Benar-benar kasihan sekali, bibi ikut prihatin dengan semua ini"
Gumam bi Ijah.
"Iya bi, aku juga tidak menyangka nya" Sahut Bunga.
"Terimakasih bi, kalau begitu kami pulang dulu ya bi, Assalamualaikum"
Bunga dan Sakti berlalu meninggalkan bi Ijah yang diam mematung, teringat akan nasibnya Cempaka.
"Waalaikumsalam"
Sahut nya perlahan.
"Kenari, Kenari, kenapa kamu tega sekali kepada adikmu sendiri?"
Bi Ijah bergumam seraya masuk ke dalam rumahnya.
"Kak Kenari kemana ya?"
Bunga bertanya perlahan, seakan untuk dirinya sendiri.
"Entahlah"
Sakti menjawabnya singkat.
###
__ADS_1
"Assalamualaikum"
Bunga dan Sakti mengucap kan salam, sebelum mereka memasuki rumahnya bu Sekar.
"Waalaikumsalam, mana kakakmu?"
Pak Jati mencari Kenari.
"Kak Kenari tidak ada di rumahnya, pak. Kata bi Ijah, dia tadi berangkat sebelum Ashar. Tapi, enggak tahu ke mana? Karena waktu di tanya sama bi Ijah juga, katanya dia tidak menjawabnya"
Bunga menjelaskan apa yang dia dengar tadi dari bi Ijah.
"Astagfirullahaladzim, kemana lagi tuh anak?"
Pak Jati garuk-garuk kepala yang tidak merasa gatal.
"Sini bayinya, bu. Takutnya ibu pegal menggendong bayi gendut ini" Sakti meraih Nirwana yang tengah di gendong neneknya.
"Iya nih, berat sekali bayimu itu. Berapa kilo beratnya?"
Bu Sekar memberikan Nirwana kepada Sakti.
"Sepuluh kilo, bu"
"Waduh! Pantas saja bahu nenek pegal, sepuluh kilo ternyata? Awas jangan terlalu berat! Nanti susah gerak, tuh seperti bibi mu dulu, jalannya susah karena kegemukan"
Bu Sekar menunjukan kepada Anyelir sambil tersenyum. Dia belum mengetahui kalau anak sulungnya sedang tidak ada di rumahnya.
Karena waktu itu bu Sekar tengah berada di ruang makan, sedangkan pak Jati bersama Cempaka ada di ruang tengah.
"Ooh gitu, bu?"
Sakti baru mengetahui nya.
"Iya, kurangi berat badannya, biar lincah jadi tidak susah bergerak"
"Ini makannya lahap, minum susunya juga lahap"
"Jadi gembrot ya cu, ya"
Bu Sekar menjawil pipi tembem cucunya.
"Bagaimana, Kenarinya ada?"
Bu Sekar menanyakan anak sulungnya.
"Ma'af bu, kami tidak menemukannya, rumahnya kosong. Kata tetangganya kak Kenari tadi pergi sebelum Ashar, tapi enggak tahu pergi ke mana?"
Sakti menjelaskan.
"Astagfirullahaladzim, malah keluyuran ke mana tuh anak! Bukannya segera selesaikan masalah ini, karena dia yang membawanya"
Bu Sekar menghampiri pak Jati di ruang tengah.
Sakti pun mengikutinya sambil menggendong bayinya.
"Katanya Kenari tidak ada di rumahnya?"
"Iya bu, dia pergi enggak tahu ke mana. Di tanya sama bi Ijah juga dia tidak menjawabnya"
Bunga menjelaskan kepada ibunya.
"Makin pening kepala ibu, ibu kira dengan menikahkan Cempaka, ibu akan bahagia karena melihat Cempaka sudah punya suami, ada yang akan mengurus dan menjaganya seperti yang di katakan oleh Kenari sebelum Cempaka mau menerima Karmin. Tapi, kenyataan ya Allah, malah makin pusing saja. Ini semua gara-gara Kenari, ulahnya dia yang tidak bertanggung jawab"
"Tenangkan hatinya, bu. Tidak baik buat kesehatan ibu"
Bunga mencoba untuk menenangkan emosi ibunya.
Sedangkan Cempaka, hanya berurai air mata.
Kepedihan itu kini datang lagi menyapa jiwanya kembali.
Kehancuran hatinya mulai membayang di benaknya.
Dukanya semakin dalam saja, tak terukur dengan kata-kata.
Luka itu, kini tertoreh lagi oleh sembilu nan tipis dan tajam hingga menganga dan berdarah.
Cempaka tak kuat lagi untuk menahan semua penderitaan itu. Diapun menangis dan menjerit histeris.
"Aaaaaaaaagh!"
Jeritnya sekuat tenaga, bersamaan dengan gema Adzan Isya yang berkumandang di Masjid.
Dia mencoba untuk melepaskan semua beban derita yang kini menghimpit jiwanya.
"Astagfirullahaladzim, Cempaka?" Seluruh penghuni rumah besar itu memburu Cempaka yang barusan berteriak histeris.
Cempaka terduduk lesu di sudut ruang tengah, tatapan matanya nanar berbaur air mata
yang membuncah deras berderai.
Sungguh memilukan, di sa'at hari pernikahannya.
Yang sangat berbalik tiga ratus enam puluh derajat.
Seharusnya, hari pernikahan adalah hari yang sangat membahagiakan untuk semua mempelai.
Tapi, tidak untuk Cempaka.
Karmin pun bergegas pergi ke ruang tengah yang hanya berjarak beberapa meter saja, dari tempatnya dia duduk.
Karmin terpaku di lawang, dia tak berani mendekati Cempaka. Dia takut, karena dia yang jadi salah satu penyebabnya.
"Kenapa dia menjerit?" Karmin bergumam sendiri, matanya menatap wajahnya Cempaka dari kejauhan.
"Kenapa,nak?"
Bu Sekar dan pak Jati panik.
"Kenapa kak?"
Anyelir dan kedua adiknya ikut panik juga.
Begitu pula dengan Bunga dan kedua iparnya Cempaka.
Semua menatap kaget wajah Cempaka yang nampak pucat pasi.
Yang di tanya tidak menjawabnya, hanya tatapan matanya yang nampak kosong, entah menatap apa.
__ADS_1
"Ya Allah, sepertinya dia sangat tertekan dengan kejadian demi kejadian yang terus-terusan menimpa dirinya, istighfar nak, sadar sayang, ini ibu nak" Bu Sekar meraih Cempaka dan di peluknya dengan erat.
"Segera panggil pak Ustadz! Kilat, ajak kakak ipar mu ke rumahnya pak Ustadz"
Pak Jati melirik kepada Petir, memberi isyarat supaya menemani Kilat pergi ke rumahnya pak Ustadz.
"Iya pak, ayo dek!"
Petir meraih tangannya Kilat dan segera beranjak pergi ke rumahnya pak Ustadz.
🌼🌼🌼
"Assalamualaikum"
Tak selang berapa lama, Kilat dan Petir sudah kembali bersama pak Ustadz.
"Waalaikumsalam"
Sahut semuanya.
"Silahkan masuk, pak Ustadz"
Pak Jati segera bergegas menyambutnya.
"Assalamualaikum, neng Cempaka"
Pak Ustadz mengucapkan salam, setelah dia tepat berada di hadapannya Cempaka yang tengah bersender di dadanya bu Sekar.
Cempaka tidak membalas salamnya pak Ustadz. Dia hanya menatap nanar.
Ketika bu Sekar agak sedikit menggeser tubuhnya, tak ada yang mengira, tubuhnya Cempaka langsung terkulai dengan lemas, tak bertenaga.
"Astagfirullahaladzim"
Pak Ustadz terkejut, begitu juga dengan bu Sekar yang tubuhnya di jadikan senderan nya.
"Hampir saja dia jatuh, aduh"
Bu Sekar mengusap dadanya saking kaget mengetahui tubuh anaknya jadi lemas begitu, seakan tak punya tulang.
Pak Ustadz berusaha menandingi nya, dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang dia miliki.
"Semuanya, tolong bantu saya, bacakan Al Fatihah bersama-sama dengan khusyuk"
Pak Ustadz meminta untuk membaca surat Al Fatihah bersama-sama.
"Al Fatihah!" Seru pak Ustadz.
"Audzubillahiminassyaitonirrodzim bismillahirrahmanirrahim..."
Semua melafalkan surah Al Fatihah dengan penuh khusuk. Berharap seluruh jin yang tengah merasuki tubuhnya Cempaka, minggat dan tak pernah datang kembali lagi.
Beberapa kali mereka semua melafalkan surah Al Fatihah, memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah SWT.
Dan...
"Ada apa ini?"
Cempaka seperti yang baru tersadar dari mimpinya, dia celingukan menatap kepada semua orang yang berada di sana.
"Alhamdulillahirobbil alamiin"
Ucap pak Ustadz dan semuanya.
"Alhamdulillah, kau sudah sadar nak?"
Bu Sekar memeluknya kembali.
"Ini, minum dulu"
Pak Ustadz menyodorkan air putih kepada Cempaka.
Cempaka menerimanya, lalu dia meminumnya hingga tinggal sedikit lagi yang tersisa.
"Neng Cempaka, sepertinya merasa tertekan jiwanya, karena terlalu sering mengalami penderitaan yang bisa di bilang tidak wajar dan tidak masuk akal"
Ujar pak Ustadz menjelaskan apa yang tengah di rasakan oleh Cempaka sa'at itu.
"Sekarang semuanya sudah terjadi, mungkin ini semua sudah menjadi takdir nya neng Cempaka. Biar tidak merasa tertekan jiwanya, perbanyak membaca Al Qur'an, biar jiwa kita tidak kosong"
Ujar pak Ustadz.
"Iya pak Ustadz"
Lirih suaranya Cempaka.
"Terimakasih pak Ustadz, tadi kami merasa panik karena Cempaka tiba-tiba menjerit histeris"
Bu Sekar berucap terimakasih kepada pak Ustadz.
"Neng Cempaka tengah kosong pikirannya, dan dia tengah labil dengan kejadian tadi pagi. Jadi, ada yang masuk memanfaatkan kekosongan jiwanya. InsyaAllah sekarang sudah saya kembalikan kepada yang punya hajat nya"
Ucap pak Ustadz dengan tenang.
"Siapa yang punya hajat nya pak Ustadz?"
Bu Sekar bertanya penasaran.
"InsyaAllah, kalau tidak malam ini, besok siang dia akan datang menemui kalian semua"
Dengan santainya pak Ustadz berucap.
"Siapa dia pak Ustadz?"
"Lihat saja nanti! Siapa yang akan datang malam ini atau besok siang, kira-kira beberapa menit sebelum waktunya sholat Dzuhur"
Pak Ustadz tidak menjelaskan siapa - siapanya.
"Siapa ya?"
Bu Sekar bertanya-tanya.
"Neng Cempaka, perbanyak wirid dan membaca Ayat-ayat suci Al-Qur'an, ini sepertinya tidak main-main, hati - hati dan waspada selalu"
"Karena neng Cempaka nya sudah baikan, saya mohon izin untuk pamit. Semoga tidak terjadi apa-apa lagi, InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja, asalkan kita tidak putus minta perlindungan dari Allah SWT. Selalu wirid dan baca Al Quran, Assalamualaikum"
Pak Ustadz berpamitan.
"Iya pak Ustadz, terimakasih, waalaikumsalam"
__ADS_1
Petir mengantarkan pak Ustadz pulang ke rumahnya.
***