Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Anyelir Hamil


__ADS_3

"Di sini saja nak! Sepertinya di sini agak jauh dari kamarnya kakakmu" Ujar bu Sekar sambil duduk di atas karpet yang sudah tergelar di sana.


"Iya bu, di sini saja" Anyelirpun duduk di samping ibunya.


"Bu, sebelumnya aku minta ma'af, karena tidak membuat ibu, bapak dan semuanya kucing-kucingan dengan kak Cempaka" Anyelir memulai pembicaraan.


"Ya mau bagaimana lagi? Semuanya telah terjadi. Tinggal kita mencari cara, bagaimana supaya kakakmu itu tidak marah setelah mengetahui bahwa dirinya telah di langkahi oleh kamu dengan diam-diam itu" Bu Sekar berkata seakan di tujukan kepada dirinya sendiri.


"Iya bu, tapi bagaimana caranya? Aku tidak tahu, aku bingung ibu" Wajah Anyelir nampak tegang. Karena, di liputi oleh perasaan merasa bersalah.


"Satu tahun setengah kita bisa menutupinya. Walaupun beberapa kali kak Cempaka pernah bertanya, karena dia mendengar kabar dari tetangga bahwa aku sudah menikah dengan Petir. Tapi, kita masih bisa mengelak dan mengatakan bahwa omongan tetangga itu tidak benar" Anyelir berhenti sejenak, dia menarik nafasnya perlahan.


"Itu bisa kita lakukan, karena tidak ada bukti yang bisa membuat kak Cempaka meyakini omongan tetangga itu. Tapi, kini rasanya tidak mungkin kita bisa menutupinya, bu" Anyelir berucap lirih.


"Maksudnya?" Bu Sekar bertanya heran.


"Karena, aku hamil bu" Perlahan sekali suaranya Anyelir berbisik. Hampir tak terdengar.


"Apa kamu bilang? Coba ulangi dengan jelas sekali lagi!" Pinta bu Sekar.


"Aku, hamil bu" Anyelir mengulanginya.


"Apa? Kamu hamil? Alhamdulillah ya Allah, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu, kenapa wajahmu seperti yang panik begitu?" Bu Sekar kegirangan setelah mendengar bahwa anaknya sudah hamil itu.


"Aku takut bu, takut kak Cempaka tahu kalau dia telah di langkahi oleh aku" Ujar Anyelir dengan wajah yang panik.


"Astagfirullahaladzim, oh iya. Ibu lupa akan hal itu, makanya ibu merasa bahagia sekali mendengarnya. Tapi, setelah ingat akan hal itu, ibu juga jadi bingung, bagaimana harus menyembunyikannya?" Bu Sekar pun mulai panik.


"Sudah berapa bulan, nak?"


"Sudah dua bulan, bu"


"Kenapa baru cerita sekarang?"


Bu Sekar bertanya, ingin tahu kenapa anaknya baru mengatakannya sa'at itu.


"Waktu bulan lalu aku ke sini, sa'at itu kak Cempaka sedang tidak ada di rumah. Aku ingin mengatakannya, tapi keburu ada kak Kenari, jadi aku urungkan niatku untuk menyampaikan kabar bahagia ini. Baru sekarang aku berani mengatakannya" Tutur Anyelir.


"Iya nak, enggak apa-apa. Cuma ibu ingin tahu saja penyebabnya" Sahut bu Sekar.


"Tadi juga bu, aku kaget sekali. Di kira aku, kak Cempaka itu lagi kerja, eh ternyata ada di rumah"


"Bagaimana bu, hubungan kak Cempaka dengan mas Yanto itu? Aku dengar katanya Kak Cempaka lagi dekat dengan dia ya? Dengar-dengar mas Yanto katanya mau melamar kak Cempaka, apa betul itu, bu?"


Anyelir mengalihkan pandangannya, dia ingin tahu kabarnya tentang kakaknya itu.


"Kalau kabar Yanto mau melamar kakakmu, itu benar nak. Tapi, ibu juga tidak tahu kenapa nasib kakakmu itu selalu di rundung pilu?" Bu Sekar muram wajahnya.


"Maksudnya bagaimana,bu? Apa dia membohongi kak Cempaka atau bagaimana bu?"


Anyelir sedikit emosi.


"Ternyata yang namanya Yanto itu, sudah berkeluarga, sudah punya istri dan punya anak perempuan satu, nak" Ujar bu Sekar dengan wajah yang langsung berubah sedih.


"Apa bu? Mas Yanto sudah berkeluarga? Sudah punya anak dan istri? Kata siapa bu?"


Anyelir terperanjat sangat kaget sekali mendengar penuturan dari ibunya itu.


"Iya nak, kakakmu sendiri yang telah menyelidikinya bersama Indah, teman kerjanya yang rumahnya di depan itu" Ujar bu Sekar.


"Awalnya kakakmu mendapatkan kabar itu dari Yeti, teman kerjanya. Dia kan tetangganya Yanto, cuma beda rt. Dia menyarankan supaya kakakmu menyelidikinya sendiri" Lanjut bu Sekar.


"Lalu?" Anyelir tak sabar nampaknya.


"Benar saja semua yang di ceritakan oleh Yeti itu. Malah ada yang lebihnya" Bu Sekar berhenti sebentar, wajahnya langsung muram.Karena, teringat akan kelakuannya Yanto yang tengah mabuk.


"Apa lebihnya bu?" Anyelir segera menanyakannya.


"Dia suka minum minuman keras, mabuk-mabukkan, malah


pernah suatu kali Yanto mengejar-ngejar kakakmu dalam keadaan mabuk berat, dia berteriak- teriak sepanjang jalanan memanggil kakakmu, sungguh sangat memalukan"


Lanjut bu Sekar sedih.

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim, ya Allah kasihan sekali kak Cempaka" Wajah Anyelir pun langsung berubah sedih, membayangkan


nasib kakaknya itu.


"Nasib kak Cempaka sungguh menyedihkan sekali, perasaannya selalu di hantam oleh peristiwa yang tidak kita harapkan sama sekali. Hatinya terus di toreh, setiap kali luka itu akan mengering. Beberapa kali akan bertunangan, tapi selalu gagal dan gagal lagi. Hatinya, perasaannya sangat rapuh. Apalagi kalau Seandainya dia mengetahui tentang kita yang sesungguhnya, ibu" Anyelir menarik nafas dalam-dalam.


"Ternyata, kita itu sudah menjadi bagian dari kehancuran yang dia rasakan selama ini. Aku menyesal, ibu. Aku menyesal karena aku sudah turut menyakitinya, menghancurkan hidupnya, aku sungguh sangat menyesal, ibu"


Anyelir menangis tersedu-sedu, baru kali ini dia menyesalinya.


Tapi, semuanya sudah terlambat!


Semua telah terjadi, tak mungkin bisa di ulang kembali.


"Uhk! Uhk! Uhk! Ibu, aku harus bagaimana? Tolong aku, ibu. Aku sangat menyesal" Anyelir terus menangis di pangkuannya bu Sekar. Menyesali semua yang telah di perbuat nya.


Bu Sekar tidak bisa mengatakan apapun, hanya tangannya yang mengusap-usap rambutnya Anyelir.


"Sudah, nak! Jangan menangis terus. Takutnya nanti kalau kakakmu bangun, lalu dia sampai tahu kejadian yang sebenarnya bagaimana? Apalagi kejadian itu sudah kita rahasiakan selama ini" Bu Sekar


berusaha untuk menenangkan Anyelir.


"Nanti ibu juga bingung, harus menjawab apa? Bila kakakmu menanyakannya. Apa alasan kita untuk membuat dia supaya tidak marah sama kita, terutama supaya tidak sakit hati dan perasaannya dia" Lanjut bu Sekar.


"Iya bu" Anyelir mengangkat kepalanya dari pangkuannya bu Sekar.


Di usapnya sisa air mata yang masih tergenang di sudut matanya, memakai ujung kerudungnya.


"Sudahlah nak, kita semua salah" Ujar bu Sekar sambil mengusap pipinya Anyelir.


"Assalamualaikum" Ucap pak Jati yang baru sampai di depan rumahnya, beliau baru pulang mengambil uang pensiunnya.


Karena sudah sehat kembali, pak Jati mencoba untuk ke kantor pos sendiri, tanpa di temani oleh bu Sekar seperti biasanya.


"Waalaikumsalam, Alhamdulillah, bapak sudah pulang" Sambut bu Sekar senang melihat suaminya pulang dengan selamat.


Karena tadi waktu mau berangkat, bu Sekar awalnya tidak mengizinkannya untuk pergi sendiri. Bu Sekar masih merasa khawatir, takut terjadi apa-apa terhadap suaminya itu.


"Bapak, sehat?" Sambut Anyelir sambil mencium tangannya pak Jati.


Pak Jati merasa bangga dan bahagia menjawabnya.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu aku senang mendengarnya. Tapi, kalau boleh aku sarankan, sebaiknya bapak jangan pergi sendiri. Zaman sekarang kan banyak orang jahat yang suka memanfaatkan keadaan" Ujar Anyelir mengkhawatirkan orangtuanya.


"Tuh kan,pak. Apa ibu bilang, bapak nakal sih" Ujar bu Sekar.


"Iya, iya, ini yang terakhir kalinya. Nanti enggak akan bapak ulangi lagi. Kalau mau mengambil uang pensiun, atau ke manapun, bapak akan minta di temani sama ibu, atau sama Cempaka. Eh, kemana Dia? Bukannya dia sudah pulang?" Pak Jati baru tersadar akan anak gadisnya yang tidak ada di sana bersama ibunya.


"Dia lagi tidur pak, baru pulang. Ini minum dulu air hangatnya" Bu Sekar menyodorkan secangkir air hangat kepada suaminya.


"Iya, terimakasih" Di teguk nya beberapa tegukan air hangat yang di sodorkan oleh istrinya.


"Ini bu, amplopnya. Semoga dapat mencukupi semua kebutuhan keluarga kita untuk sebulan ke depan" Pak Jati memberikan sepucuk amplop kepada istrinya yang berisi uang gajinya.


"Terimakasih pak, InsyaAllah cukup. Ibu akan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Ibu terima ya pak, semoga berkah bagi keluarga kita semua" Sahut bu Sekar.


Sungguh pemandangan yang indah, suami istri yang selalu rukun hingga usia tua kini.


Dari dulu, pak Jati selalu memberikan semua uang gajinya kepada istrinya.


Pak Jati paling meminta sedikit saja, untuk uang bensin dan pegangannya sekedarnya saja.


Sungguh! Suami idaman.


Suami yang di dambakan oleh setiap istri.


"Anyelir, kamu kapan datang?" Pak Jati menanyakan kedatangan anak ke empat nya itu.


"Dari tadi pak" Sahut Anyelir


"Sendirian? Mana suamimu?" Pak Jati keceplosan. Untung tidak terdengar oleh Cempaka yang masih terlelap di kamarnya.


"Sssst! Bapak ini, bagaimana kalau dia mendengarnya? Ibu tidak tahu mau jawab apa?" Bu Sekar segera menghentikannya.

__ADS_1


Bu Sekar begitu ketakutan sekali.


"Ya Allah, ma'afkan bapak. Bapak lupa kalau kita itu harus terus menerus menutupi pernikahannya Anyelir dan Petir" Pak Jati terperanjat kaget.


"Lalu, sampai kapan kita harus menutupi kebohongan demi kebohongan ini, bu. Kita itu sudah tua, sudah waktunya kita jujur. Apalagi pada anak kita sendiri, terus terang bapak merasa sudah tidak sanggup lagi kalau harus terus membohongi anak kita" Lirih suaranya pak Jati.


"Lalu? Kita harus bagaimana pak? Apa kita harus membongkar rahasia yang selama ini kita tutupi rapat-rapat?" Tanya bu Sekar bingung.


Anyelir hanya terdiam membisu.


"Ini semua gara-gara aku, jadi bapak dan ibu ikut berbohong, ikut membohongi kak Cempaka


melukai perasaannya, menyakiti. hatinya, aku yang salah. Aku telah mendzolimi kakakku sendiri" Ujar Anyelir dengan ter bata-bata karena, tangisan yang mengiringinya.


"Anyelir, sudah! Tidak usah menangis menyesali yang sudah terjadi. Itu tidak baik, tidak akan menjadi solusi bagi masalah yang tengah kita hadapi sa'at ini" Ujar pak Jati.


"Lalu, aku harus bagaimana pak? Aku tidak bisa menemukan solusinya" Anyelir meminta jawabannya kepada bapaknya.


"Kalau menurut bapak, sebaiknya kita akui saja semuanya, kita jelaskan semua yang sudah terjadi waktu itu. Sebenarnya bukan kita yang sengaja menyakiti hati dan perasaannya Cempaka. Tapi, itu semua di luar rencana kita waktu itu" Ujar pak Jati.


"Yang salah sepenuhnya dalam hal ini adalah keluarganya Petir! Tapi, dalam hal ini juga kita bersalah. Karena, kita tidak tegas, tidak konsisten dengan rencana awalnya" Sahut bu Sekar.


"Benar kata bibi mu waktu itu, lihat Cempaka! Bagaimana hancur hati dan perasaannya bila suatu saat nanti dia mengetahuinya? Dia itu sudah menderita berkali-kali, masa sekarang kak Sekar tega menambah rentetan penderitanya? Jangan mau kak!


Kita tetap pada rencana awal, itu yang bibi mu katakan sa'at itu, tapi ibu tidak menggubrisnya, ibu tidak berdaya untuk menolak keinginan keluarganya Petir" Bu Sekar menuturkan kembali apa yang di ungkapkan oleh adiknya waktu itu.


Sungguh! Penyesalan selalu datang terlambat.


"Menurut bapak, hanya satu - satunya cara supaya kita terbebas dari kebohongan ini, yaitu mengakuinya! Membongkar semua rahasia ini.


Dan, satu lagi yang harus di ingat. Kita harus menerimanya waktu kita di salahkan dan bahkan di marahi atau di maki-maki sekalipun olehnya"


Ujar pak Jati menuturkan pendapatnya.


"Aku takut, pak! Pasti kakak marah sama aku" Anyelir merengut takut.


"Iya kalau tidak dengan cara itu, Sampai kapan kita menutupi dan terus menutupinya? Makin lama dosa kita makin banyak, nak! Kakakmu akan sangat sakit hatinya dan terpukul, kalau dia tahu akan hal ini dari orang lain. Kita tahu, kakakmu sudah beberapa kali menanyakan kabar tentang pernikahanmu, yang dia dengar dari tetangga"


Lanjut pak Jati.


"Iya pak. Kita sampai kelabakan mencari jawabannya, kita keteter waktu Cempaka meminta jawaban yang pasti. Ibu sama bapakmu hingga tak bisa tidur semalaman" Bu Sekar teringat kembali akan waktu itu.


"Ma'afkan aku ya, bu, pak. Ini semua salahku. Karena kelakuanku aku, ibu dan bapak jadi menderita" Ucap Anyelir, dia begitu tertekan karena merasa bersalah.


"Itu sudah biasa kalau kesalahan anak, pasti orangtuanya terbawa-bawa. Tapi, sudahlah enggak apa-apa. Semuanya sudah terjadi, tidak mungkin bisa di ulang lagi"


Ujar bu Sekar, dengan wajah penuh rasa penyesalan yang teramat sangat.


Anyelir diam menunduk, Pak Jati diam kebingungan, begitu juga dengan bu Sekar yang begitu sangat menyesal.


"Mana sekarang Anyelir lagi hamil, tidak mungkin orang hamil bisa di sembunyikan perutnya, yang makin lama semakin membesar" Gumam bu Sekar.


"Apa bu? Anyelir tengah hamil? Sudah berapa bulan?" Pak Jati tersentak kaget ketika mendengar bahwa Anyelir tengah hamil.


Antara bahagia dan kebingungan kini melanda hatinya pak Jati. Itu terlihat jelas di raut wajahnya.


Kerutan di dahinya pak Jati, semakin jelas terlihat dengan terdengarnya berita itu.


Berita yang seharusnya mendatangkan kebahagiaan. Tapi, ini malah sebaliknya. Karena, kesalahan yang telah mereka perbuat kala itu.


Kini mereka harus menuai benih kebohongan yang dulu mereka tanam.


Dulu, terasa enteng permasalahannya. Dengan dalih biar tidak jadi perawan tua semuanya. Maka, terciptalah suatu kebohongan, kedzaliman terhadap anggota keluarga sendiri.


Kini, mereka begitu kebingungan akibatnya.


"Ya Allah, ya Robby,. aku harus bagaimana menghadapi semua ini? Tolong aku ya Allah" Ujar pakak Jati setelah beberapa sa'at terdiam.


Mereka kini terpuruk dalam kebingungan yang teramat sangat.


Mau terus terang setelah hampir dua tahun lamanya kucing-kucingan dengan Cempaka, rasanya berat bibir ini


mengungkapkannya.

__ADS_1


***


__ADS_2