Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Menjelang perpisahan


__ADS_3

Tak terasa, satu minggu sudah Cempaka bertugas sebagai pengawas ujian di sd Ujung jaya satu.


Dia begitu kerasan tinggal di sana, rasanya Cempaka tidak mau kembali ke rumahnya. Rasanya dia ingin pindah saja ke desa Ujung, dan ngehonor di sd Ujung jaya bersama sahabatnya itu.


Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia terpaksa harus kembali lagi ke kampungnya yang telah membuatnya terluka.


"Ini hari terakhir ya kamu bertugas sebagai pengawas ujian di sini, berarti... Kita akan segera berpisah" Ujar Mawar, sa'at itu mereka baru saja keluar dari gerbang sekolah Ujung jaya satu.


"Iya, rasanya aku ingin pindah saja untuk ngehonor di sini. Guru-guru dan kepala sekolah nya juga baik banget, guru-gurunya enggak suka ngelemparin tugasnya ke guru honorer, enggak kayak di sekolah tempat aku ngehonor" Gumam Cempaka.


"Emangnya gimana gitu?" Tanya Mawar.


"Hampir tiap minggu aku suka ngajar dua sampai tiga kelas, guru-guru yang sudah di angkat dan sudah punya anak, pasti saja nitipin kelasnya kepadaku dengan berbagai alasan. Mau tidak mau aku ya harus mau, masa anak-anak di biarkan ribut"


Sahut Cempaka.


"Tapi, betahnya bukan karena ada Samudera? Yang begitu terpesona setiap berjumpa denganmu" Ledek Mawar, membuat Cempaka memerah padam pipinya karena merasa malu.


Apalagi waktu itu sudah dekat dengan tempat usahanya Samudera.


"Sst!... Mawar, diam ah!" Cempaka mencubit lengannya Mawar dengan keras, hingga membuat Mawar menjerit kesakitan.


Suara teriakkannya jelas terdengar oleh Samudera yang tengah sibuk melayani pelanggan.


"Assalamualaikum... Ada apa?"


Ucapnya sambil tak lupa tersenyum manis kepada Cempaka.


"Waalaikumsalam..." Jawab Cempaka dan Mawar berbarengan.


"Ada apa?... Sini mampir dulu!" Ajak Samudera sambil menghampiri keduanya.


"Enggak apa-apa, ini biasa Mawar nih enggak tahu kenapa"


Sahut Cempaka.


"Mampir dulu yu!" Ajaknya lagi sambil menatap kepada Cempaka.


"Makasih, lain kali saja ya" Sahut Cempaka lagi.


Sedangkan Mawar hanya cemberut sambil mengusap-usap lengannya yang kena cubit Cempaka.


"Kamu kenapa cemberut gitu?... Kayak tutut saja" Tanya Samudera kepada Mawar.


"Pacarmu tuh!... Nyubit sampai sakitnya ke ubun-ubun" Ucapnya.


"Mawar!" Cempaka mendelik malu.


"Kenapa nyubit segala?" Tanya Samudera dengan lembutnya.


"Dia enggak mau pulang, katanya dia betah tinggal di sini karena ada... Ada... Kamu" Bisik Mawar di telinganya Samudera.


Bisikan yang terdengar jelas juga oleh Cempaka.


"Iih, Mawar!... Bikin malu saja" Sampai memerah pipinya Cempaka.


"Aku sangat senang mendengarnya, semoga saja itu benar adanya"Ujar Samudera.


Cempaka jadi salah tingkah di buatnya. Dia merasa malu karena perasaan hatinya diketahui.


"Aku duluan ya, Assalamualaikum" Ucap Cempaka sambil melangkahkan kakinya hendak meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Tunggu dulu sebentar, Cempaka" Ujar Samudera.


Langkah kakinya terhenti seketika. Karena ada tangan yang kekar yang memegang lengannya.


"Ada apa?" Tanya Cempaka sambil matanya mengarah ke lengan yang masih di pegangi oleh Samudera.


"Oh ma'af!" Samudera segera melepaskan pegangannya.


"Hari ini hari terakhir kau bertugas?" Tanya Samudera dengan suara yang berat.


"Iya" Cempaka menjawabnya dengan singkat.


"Mampir dulu ke warung bakso yu!... Atau... Kemana lah yang kamu suka, hitung-hitung perpisahan. Iya kan Mawar?" Samudera mengajukan usul.


"Boleh, siapa takut?" Sahut Mawar sigap menjawab karena mau di traktir.


"Bagaimana Cempaka? Mau kan kita makan bakso sambil ngobrol-ngobrol?" Tanya Samudera penuh harap.


"Emh..." Jawaban Cempaka terhenti karena langsung di sambar oleh Mawar.


"Sudah, mau saja jawabnya. Ketibang di ajak makan bakso, apa susahnya? Tinggal makan, bukan kita yang bayarin ini, ayo!... Kasihan tuh peliharaan yang di dalam perutmu! Dari tadi berteriak-teriak terus pingin di kasih makan. Lagipula, ini sudah waktunya makan siang nih" Kedua tangan Mawar langsung menarik tangan Cempaka dan tangannya Samudera, menuju warung bakso yang tidak jauh dari tempat itu.


Keduanya menurut saja sambil tertawa-tawa melihat tingkahnya Mawar begitu.


"Kenapa neng?... Sampai ditarik-tarik segala?... Apa yang dua orang itu sudah enggak mau lagi makan baksonya saya?" Si Mas nya salah sangka.


"Enggak kok Mas!... Bukan begitu. Ini teman saya sudah enggak sabar pingin segera makan bakso, sudah kelaparan kayaknya" Ucap Cempaka sambil duduk di kursi yang berjejer di setelah tangannya di lepaskan oleh Mawar.


"Cempaka, besok-besok boleh enggak kalau aku ke rumahmu?"


Samudera yang duduk di samping Cempaka bertanya Perlahan.


"Yes!... Yes!..." Samudera kegirangan.


"Ehem!... Ehem!..." Mawar yang duduk di sebelah kiri Cempaka berdehem dengan sengaja. Hingga orang-orang yang berada di sekitarnya, semua menatap ke arahnya.


"Kau ingin punya suami seorang ABRI kan?..." Dia bertanya lagi.


"Iya, Sam. Semoga saja Allah meridhoi nya" Ucap Cempaka lirih.


Perbincangan itu terputus oleh kedatangan tiga mangkuk bakso, yang sangat menggoda untuk segera di santap.


"Sudah jangan berkicau terus!... Nanti berkicaunya di terusin di rumah, sekarang mari kita sikat makanan terenak di dunia ini. Bismillahirrahmanirrahim..." Seru Mawar sambil mengaduk semangkuk bakso, supaya bumbunya tercampur merata.


"Oke!... Siapa takut?" Sahut Cempaka pula.


"Ooi!... Begitu rupanya dua sahabat ini?" Ujar Samudera, dia tersenyum merasa lucu melihat tingkah dua perempuan yang berada di sampingnya itu.


Setelah berdo'a mereka langsung menyantapnya dengan lahap sampai tak tersisa sedikitpun.


Sejurus kemudian, ketiganya sudah terlihat sedang berjalan lagi, di jalanan yang menuju ke rumahnya Mawar.


Mawar bersama Cempaka berjalan bersebelahan. Sedangkan Samudera berjalan dibelakangnya.


"Assalamualaikum..." Ucap mereka, ketika mereka sudah berada di depan pintu samping rumahnya Mawar.


"Waalaikumsalam... Buka saja nak, pintunya tidak di kunci" Jawab bu Dahlia dari ruang tengah. Mungkin dia lagi asyik nonton TV.


"Kalian sudah pulang?" Sapanya Waktu mereka menyalami tangannya bu Dahlia.


"Iya mah, tapi aku merasa sedih"

__ADS_1


Mawar cemberut, wajahnya di tekuk.


"E... Eh!... Anak mamah kenapa sedih?" Bu Dahlia bertanya kaget melihat sikap anaknya begitu.


"Cempaka mau pulang" Ucapnya manja. Maklum, anak bungsu.


"Neng Cempaka mau pulang?... Kenapa mau pulang?... Memangnya ada masalah apa di sini nak?...Apa ada yang berbuat yang tidak-tidak sama kamu nak?... Ayo cerita sama mamah! Siapa orangnya?" Bu Dahlia nampak sewot sendiri.


"Enggak ada apa-apa mah, bukan itu yang menjadi sebab aku mau pulang" Cempaka segera menjelaskan.


"Habis, ada apa?" Tanya bu Dahlia lagi penasaran.


"Masa tugasku sudah selesai mah, kan cuma satu mingu. Dari hari Senin sampai hari ini, hari sabtu"


Cempaka menjelaskannya.


"Oh... Memangnya sudah seminggu gitu?" Bu Dahlia seperti yang tidak percaya.


"Iya mah, sekarang hari sabtu. Bukan mamah saja yang merasa berat. Ada yang merasa berat lagi untuk melepaskan Cempaka"


Mawar mulai menggoda Samudera.


Bu Dahlia menoleh ke arah Samudera sambil tersenyum.


"Oh iya ya, Eh sebentar ya, mamah mau ke belakang dulu"


Bu Dahlia langsung ngibrit ke dapur, entah mau apa.


"Silahkan mah" Ucap Cempaka.


"Cempaka, bagaimana di terima enggak?" Mawar sepertinya mewakili Samudera.


"Apa nya?" Cempaka pura-pura tak mengerti.


"Katanya dia mau main ke rumahmu, mau kenal sama keluargamu, boleh enggak?" Tanya Mawar.


"Tentu saja boleh, siapa yang melarang?" Sahut Cempaka.


"Lalu, Buana gimana?" Cempaka penasaran.


"Entahlah, dia pergi tanpa pesan apapun padaku, dia ku panggil malah berlari menghindar dariku.


Masa, harus aku pertahankan"


Cempaka menjawabnya santai.


"Betul itu, Laki-laki yang tidak menghargai perempuan buat apa di pertahankan, aku setuju itu" Samudera berkata penuh semangat.


"Kalau begitu, aku pulang dulu ya. Nanti lepas isya boleh kan aku datang lagi?" Tanya Samudera.


"Itu yang punya rumahnya, boleh enggak?" Cempaka menunjuk ke arah Mawar dengan matanya.


"Untuk kalian, tentu saja boleh. Sekarang, cepat sana pulang! Aku cape mau istirahat" Mawar mengusir Samudera.


"Aku pulang dulu, Assalamualaikum" Ucapnya.


"Waalaikumsalam" Jawab mereka berdua.


Setelah Samudera keluar dari rumahnya Mawar, Cempaka segera mengambil wudhu dan mengerjakan shalat dhuhur.


Selesai shalat, Kemudian dia membereskan baju-bajunya ke dalam koper, dengan sedikit enggan.

__ADS_1


__ADS_2