
Buana begitu kaget!... Setelah mengetahui bahwa calon kakak iparnya itu sampai mau bunuh diri, hanya karena enggak mau di dahului oleh Cempaka, adiknya sendiri.
"Memang salah? Kalau aku enggak mau dilangkahi oleh adikku?... Itu wajar kan?... Kenapa kaget begitu?" Bunga tidak suka dengan kekagetan Buana.
"Kita bisa mencari solusinya kak, tidak perlu memakai cara nekad seperti itu. Tapi, ma'af ya kak" Buana mencoba menetralkan suasana.
Pak Jati kemudian menceritakan sarannya buat Bunga, namun dia tidak bisa menerimanya.
Buana pun diam sambil menatap wajahnya Cempaka, seperti tengah mencari jawabannya disana.
"Kami disini bukan menolak niat baiknya mas Buana, tapi hanya ingin menundanya untuk sementara, selama kakaknya Cempaka belum ada pendampingnya. Kami mohon ma'af dan juga pengertiannya" Ungkap bu Sekar perlahan.
Buana terdiam, dia merasa bingung dengan kejadian yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
"Semoga saja kak Bunga segera meresmikan hubungannya dengan calonnya itu. Dan, kami mohon supaya mas Buana berhati-hati di sana" Lanjut bu Sekar hati-hati.
"InsyaAllah bu, semoga saja semua kekhawatiran yang kita bayangkan selama ini tidak sampai terjadi" Ucap Buana sambil melirik Cempaka dengan mata yang berkaca-kaca.
"Amiin... Semoga kalian berjodoh. Kalau berjodoh, pasti tidak akan ada yang mampu memisahkan kalian berdua" Bu Sekar membesarkan hati anak dan calon mantunya itu.
"Tidak ada hal yang perlu di bahas lagi kan?... Aku merasa gerah berada di sini, tak nyaman rasanya atmosfer di ruangan ini" Bunga berlalu dengan gaya jalannya yang di buat-buat. Bikin kesal dan jengkel yang melihatnya.
"Selamat berkhawatir ria adikku tercinta, semoga saja Buanamu itu bisa teguh dengan janjinya" Ucapnya lagi sebelum dia menghilang di balik dinding.
"Ibu... "Cempaka nampak merasa khawatir.
"Sudah... Jangan termakan oleh kata-kata kakakmu itu" Bujuk bu Sekar lembut.
"Sekali lagi, bapak sama ibu juga Cempaka minta ma'af atas penundaan pertunangan kalian ini. Dan... Ma'afkan kalau bapak sama ibu tidak mampu untuk menasihati kakaknya Cempaka. Terus terang, kami merasa tak berdaya di sa'at Dia hendak menenggak botol yang berisi racun tikus itu" Pak Jati berulang kali meminta ma'af.
"Iya pak, saya faham. Semoga saja kak Bunga bisa berubah pikiran dan dia mau mencoba saran dari bapak sama ibu" Buana mencoba berlapang dada.
Padahal yang sesungguhnya dia sakit hati dan merasa dendam dengan kejadian itu.
Dia merasa tidak dihargai, merasa di sepelekan niat tulusnya itu.
Dia mencoba menekan semua kekecewaan yang baru saja dia terima itu.
"Aku tidak akan tinggal diam dengan penolakan yang berkedok penundaan ini" Bathinnya ngejelimet.
Entah apa yang akan di lakukan oleh Buana. Yang jelas dia merasa dendam.
__ADS_1
"Kalau kalian mau ngobrol, silahkan saja. Tapi jangan sampai terlalu malam ya. Ibu sama bapak pamit ke belakang dulu" Bu Sekar sepertinya mau memberikan waktu untuk pasangan kekasih itu.
Yang sebentar lagi akan berpisah, entah untuk berapa lama, tidak ada yang tahu.
"Iya bu, pak, terimakasih... Silahkan" Sahut Buana.
"Cempaka, sebenarnya kenapa dengan kakakmu itu? Kok!... Sampai segitunya" Buana mencoba membuka percakapan setelah kedua Orangtuanya Cempaka meninggalkan mereka berdua.
"Aku juga enggak tahu, cuma yang aku tahu hanyalah kak Bunga tidak mau diduluin sama aku, adiknya. Dia merasa terhina kalau aku sampai melangkahinya
Katanya, sudah tahu aku jomblo, ini malah dilangkahi sama adiknya sendiri, begitu Buana" Cempaka dengan lirih menjelaskan pada Buana.
"Kamu tidak mencoba memberikan penjelasan tentang kota yang akan aku tuju nanti"
"Sudah berulang kali, tapi dia malah emosi dan kabur dari rumah. Bapak membujuknya supaya kembali, dan dia mengajukan persyaratan kepada bapakku" Tutur Cempaka.
"Syaratnya?..." Tanya Buana cepat.
"Dia mau kembali ke rumah, asalkan Cempaka membatalkan pertunangannya. Kalau tidak di penuhi syaratnya, jangan harap kalian bisa melihatku hidup. Lebih baik aku mati daripada hidup jomblo dilangkahi lagi, begitu syarat dan ancamannya kak Bunga" Suara Cempaka tercekat di tenggorokan, terhalang isak tangisnya yang sulit untuk ditahan.
"Aku tak menyangka kalau kak Bunga akan nekad begitu" Buana bergumam.
Yang dia mau hanyalah kalau dia jomblo, adiknya juga harus ada yang merasakan hal yang sa.. Ma.. Yaitu... Ja... Di... Jom... Blo... Juga!... Uhk... Uhk..." Cempaka tak kuasa lagi membendung air matanya, tak berdaya lagi menahan tangisan yang sudah menyesak di tenggorokannya.
Akhirnya tangisan Cempaka meledak tak terbendung lagi.
Buana segera merengkuh kepalanya Cempaka, supaya menumpahkan tangisannya di pundaknya.
Buanapun tak kuasa menahan airmata, diapun menangis sedih walau tak seperti tangisannya Cempaka.
Untuk beberapa saat keduanya bertangisan, mengeluarkan perasaan kecewa yang menggunung di dalam dada.
"Ma'afkan ibumu ini anakku, ibu tak mampu meluluhkan hati kalakmu itu, ma'afkan ibu yang lemah ini, ibu tak berdaya" Bu Sekar pun menitikkan airmata menyaksikan adegan sedih di hadapannya itu.
Dia melongokan kepalanya dari ruang tengah, setelah mendengar tangisnya Cempaka.
"Aku takut kau mengalami nasib seperti ka Angkasa, yang ditahan ktp nya hanya karena ngobrol sama anak gadis di sana" Cempaka menghiba, mengungkapkan kekhawatirannya.
"Semoga saja itu tidak menimpaku" Bisik Buana di telinganya Cempaka.
"Aku pergi untuk kembali kepadamu. Aku berjanji tidak akan menikah kalau bukan denganmu, saksinya langit dan bumi yang kita tempati ini. Jadi, tenanglah sayang... Aku tidak akan mengkhianati cinta kita. Hanya kamu yang aku sayangi sampai nanti" Tuturnya lagi. Sambil mengusap airmata di pipinya Cempaka dengan jari tangannya.
__ADS_1
Kata-kata yang sedikit mampu menenangkan hatinya Cempaka.
"Kan ku nanti janjimu itu, semoga kau tidak mengingkarinya" Ucap Cempaka pula.
"Percayalah padaku!... Setelah kak Bunga menikah, aku akan langsung melamarmu dan menikahimu. Aku ingin membawamu kemanapun aku pergi" Bisik Buana lagi.
"Nanti, waktu aku berangkat ke tempat tugasku, ku mohon kau ikut mengantarkan aku ya!" Pinta Buana.
"Tentu saja, dengan senang hati. Kalau boleh, aku ingin mengantarkanmu sampai ke tempat tugasmu. Enggak apa-apa kan?"Ucap Cempaka manja.
"Jelas boleh dong... Aku akan perkenalkan kamu kepada kawan-kawanku, dan juga kepada komandan di sana. Kau mau kan?" Di kecupnya punggung lengannya Cempaka dengan lembut.
"Hai!... Kita belum muhrim. Kau ini bikin aku berdebar saja" Cempaka mendelikan bola matanya.
Kesedihan yang tadi mengiris hatinya kini sudah mulai sedikit mencair.
"Tadi kau bersandar di bahuku waktu kau menangis, kenapa enggak bilang belum muhrim, ayo!" Seloroh Buana, sambil menjentik hidung Cempaka yang mancung itu.
"Eith!... Enggak kena" Cempaka yang suka belajar pencak silat itu, mengelak dari jarinya Buana.
"Itu kan terpaksa!"
"Kau sangat pintar sekarang!... Masih sering latihan silat kan?... Sudah sabuk apa sekarang?" Buana nyerocos.
"Ayo tebak!..." Cempaka menggoda Buana.
"Syukurlah!... Sekarang kau sudah tidak sedih lagi" Buana menatap mesra wajah cantik di hadapannya.
"Kan ada kamu yang temani aku, menghiburku dan meyakinkan aku. Jadi sedikit rontoklah tuh sedih yang ada di hatiku ini" Canda Cempaka yang selalu membuat Buana rindu.
"Itu yang membuat aku selalu merindukanmu!... Candaanmu itu
yang bikin aku tak bisa jauh darimu" Ujar Buana.
"Gombal ah!... Eh ngomong-ngomong sudah jam sembilan tuh, ma'af ya bukan aku ngusir. Tapi, aku takut kebablasan... Oke?" Cempaka mengingatkan.
"Oke!... Aku pulang dulu ya!... Besok sebelum aku berangkat, aku pasti datang lagi, boleh kan?"
"Aku tunggu!" Sahut Cempaka sambil bangkit dari tempat duduknya.
Setelah pamit pada kedua Orangtuanya Cempaka, Buanapun pulang dengan kecewa dan kesal kepada kakaknya Cempaka.
__ADS_1