
Setelah mengetahui tentang Buana yang sebenarnya sa'at itu.
Cempaka jadi bermurung diri bermuram durja.
Hatinya terlalu sakit yang teramat parah. Sembilu yang di tancapkan Buana terlalu dalam masuk ke relung hatinya. Menghancurkan rindu yang selama ini membelenggu kalbu, lalu mengubahnya menjadi pilu.
Dengan alasan terjebak, dia tak segan-segan menorehkan pisau tajam di dalam dadanya Cempaka, tanpa rasa iba.
Dengan dustanya, Mengoyak cinta menjadi duka nestapa, menimbulkan luka yang menganga. Hingga akhirnya merana.
Sungguh janji itu hanya tinggal janji yang tak berarti sama sekali.
Sedikitpun dia tidak menyangka kalau Buana yang dulu begitu mengejar-ngejarnya untuk mendapatkan cintanya.
Kini berpaling ke lain hati.
Ibunya Buana dan keluarganya, begitu berharap ingin menjadikan Cempaka sebagai menantunya.
Kini... Mereka hanya diam seribu bahasa, diam membisu tak seorangpun diantara mereka yang peduli pada perasaannya Cempaka.
"Bagaimana?... Benar kan yang aku katakan tempo hari itu? Aku tidak memanas-manasi, aku hanya mengungkapkan apa yang ku dengar dari keponakannya. Sekarang kamu telah mendengarnya sendiri, tinggal bagaimana sikap kamu itu terserah" Ucap Bunga sore itu sa'at Cempaka tengah menyendiri di halaman belakang.
"Aku tidak tahu kak" Sahut Cempaka dengan tetesan airmata di pipinya yang terasa sulit untuk di sembunyikan.
"Harusnya kau labrak dia, tanyakan kepadanya tentang janjinya selama ini. Minta tanggung jawabnya, karena dia telah mempermainkan hati dan perasaanmu!" Ucap Bunga. Entah menyemangati atau mengompori maksudnya.
"Cempaka, masuk nak!" Tiba-tiba terdengar suara pak Jati memanggilnya dari dalam.
"Iya pak" Cempaka segera memenuhi panggilan bapaknya.
"Duduklah!" Ujar pak Jati menyuruh Cempaka untuk duduk.
Tak berkomentar, Cempaka langsung duduk di kursi yang bersebrangan dengan kursi yang di duduki oleh bapaknya.
Ibunya pun telah berada di sana, keduanya seakan sengaja menunggunya.
Tanpa di suruh, Bunga pun mengikutinya duduk di samping Cempaka.
"Sebelum semuanya kau dengar dari mulutnya Buana atau mulut ibunya, kau jangan percaya dulu.
__ADS_1
Apalagi omongan keponakannya.
Tahu apa dia?... Paling cuma nguping. Orang yang nguping kan dengarnya hanya separoh-separoh. Sebaiknya kamu telusuri dulu kebenarannya" Ucap pak Jati mengingatkan anaknya.
"Iya nak, ibu juga berpikiran begitu. Rasanya tidak mungkin Buana dan keluarganya bersikap begitu pada keluarga kita. Kau tahu sendiri kan... Bagaimana bu Kejora sayangnya kepadamu. Beliau begitu menginginkan kamu untuk menjadi menantunya, dan Buana juga begitu tergila-gilanya padamu. Jadi tak mungkin bisa berubah hanya dalam waktu yang sangat singkat" Timpal ibunya.
Kedua Orangtuanya Cempaka sepertinya tidak percaya dengan semua yang dia dengar dari anaknya itu.
Mereka tidak percaya dengan kabar miring tentang Buana.
Karena mereka sudah setuju dan percaya seratus persen kepada Buana dan juga Keluarganya itu.
"Tapi, tak mungkin Melati berbohong" Sergah Cempaka bimbang.
"Iya benar itu. Coba saja pikir, kalau si Buana itu tidak merasa bersalah atau takut ketahuan kesalahannya, tidak mungkin dia berlari menghindar dari Cempaka waktu Cempaka memanggil namanya. Biasanya juga tanpa di panggil dia datang sendiri ke rumah kita. Ini kan... Tidak! Dia berada di rumahnya selama empat hari waktu kemarin itu, masa tidak ada waktu untuk datang ke sini barang sekejap saja, aneh kan?" Bunga meyakinkan kedua Orangtuanya.
"Iya memang benar apa yang kau katakan itu. Tapi, bapak sama ibu sedikitpun tidak mengizinkan kalian pergi ke sana untuk melabraknya. Ingat itu! Dia yang waktu itu bikin janji, dia juga yang harus menepatinya. Dia kan yang datang sendiri ke sini? Kita tidak pernah mengundangnya atau memintanya. Jadi, sekarang juga
ya harus dia yang ke sini" Pak Jati tetap pada prinsipnya.
"Iya pak, aku tidak akan kesana. Aku tidak akan melabraknya, aku mau menuruti apa yang di ucapkan bapak sama ibu" Ucap Cempaka. Dia tidak mau terus-terusan berdebat tentang masalah itu tanpa menemukan solusinya.
"Naaah... Gitu dong! Kita jangan su'udzon dulu. Kita berbaik sangka saja,. karena kita juga tidak pernah menyakiti perasaan orang lain. Masa orang lain mau menyakiti perasaan kita?" Ujar pak Jati nampak lega.
"Sebentar lagi Maghrib, ayo kita siap-siap! Bapak mau ke masjid, mana Kilat?" Pak Jati menanyakan anak laki-laki satu-satunya itu.
"Aku di sini pak, baru selesai mandi" Sahutnya sambil mengacungkan jari telunjuknya.
"Kamu ini, kayak di absen guru saja" Ucap bu Sekar sambil tersenyum melihat tingkah anaknya itu.
Pak Jati dan anak laki-lakinya itu berangkat ke Masjid beriringan. Sedangkan bu Sekar dan ke empat anak perempuannya bersiap-siap untuk mengambil air wudhu. Untuk kemudian melaksanakan shalat Maghrib berjamaah.
*
Keesokkan harinya Cempaka mendapatkan tugas menjadi pengawas ujian di SD yang berada di Desa lain.
Sebuah Desa yang berada agak jauh dari kampung tempat tinggalnya.
Desa itu kebetulan adalah desa tempat tinggal sahabatnya waktu masih sekolah dulu.
__ADS_1
Cempaka sangat senang sekali mendapat tugas itu. Dia merasa tidak sabar ingin segera berangkat ke sana.
"Cempaka, kau bapak tugaskan untuk mewakili sekolah kita dalam pertukaran pengawas ujian. Kau bersedia kan?" Tanya pak Jati, siang itu di ruangan kepala sekolah dimana Cempaka bertugas sebagai guru honorer. Yaitu di Sekolah yang mana Bapaknya sendiri sebagai kepala Sekolahnya.
"Di Sekolah mana pak?... Aku mau, aku bersedia. Kapan itu pak?" Cercar Cempaka kegirangan.
"Aduuh... Bu Cempaka bersemangat sekali rupanya" Bu guru Senja tersenyum mengomentari sikapnya Cempaka yang antusias itu.
"Iya nih, ada apa gerangan?" Seloroh bu guru Arum menggodanya.
"Dasar anak muda, bahagia banget kalau mendapat tugas keluar itu, bisa sekalian cuci mata ya neng ya" Goda pak Langit, pak guru yang sebentar lagi akan menghadapi masa pensiunnya.
"Bapak tahu saja" Ujar Cempaka tersipu malu.
"Dimana pak? Enggak jauh kan?"
Cempaka penasaran.
"Di desa Ujung, tepatnya di SD Ujung jaya" Sahut pak Jati sambil menatap anaknya.
"Desa Ujung?... SD Ujung jaya?...
Aku mau pak!... Aku mau!... Kapan pak?... Ujian minggu depan kan pak?" Cempaka mencercar pak Jati kembali dengan beberapa pertanyaan.
"Iya nak!" Sahut pak Jati
"Bapak-bapak, ibu-ibu sengaja saya tugaskan Cempaka untuk mewakili pertukaran pengawas dari sekolah kita ini, tiada lain biar dia tahu dan punya pengalaman. Kalau bapak-bapak sama ibu-ibu kan sudah beberapa kali saya tugaskan. Jadi, apa ada yang keberatan? Atau... Apa ada yang mau menggantikannya?" Ujar pak Jati minta pendapat pada guru-guru yang lainnya.
"Saya sangat setuju pak!... Neng Cempaka kan masih single, jadi gak bakalan ada yang nangis minta susu, enggak seperti saya ini" Ujar bu Arum yang sudah punya anak tiga, dan kini dia masih menyusui anak ketiganya.
"Iya pak Saya juga setuju dengan pendapat bu Arum. Di sekolah kita kan cuma neng Cempaka yang masih single, masih bebas kalau ditugaskan kemanapun, yang penting ada izin dari bapak dan ibunya" Ujar bu Raya yang baru pindah beberapa bulan ke sekolah itu.
"Bagaimana dengan yang lainnya?..." Pak Jati masih minta pendapat dari guru-guru yang lainnya.
"Saya setuju!"
"Saya juga setuju!"
Semua guru-guru menyatakan hal yang sama. Yaitu, sangat setuju dengan keputusannya pak Jati, kepala sekolahnya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, jadi, sebagai perwakilan pengawas ujian dari sekolah kita adalah Cempaka, anak saya. Karena semuanya sudah setuju, maka rapat hari ini saya cukupkan sampai disini. Selamat hari libur, InsyaAllah kita jumpa lagi di hari senin lusa. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Pak Jati menutup rapat kilatnya.
Setelah semua guru-guru pulang ke rumahnya masing-masing. Barulah pak Jati dan Cempaka pulang juga.