
"Ayo Cempaka! Jangan merasa ragu lagi, karena Karmin itu sekarang sudah menjadi suamimu" Kenari menggandeng tangannya Cempaka, dan di bimbingnya untuk mencium tangannya Karmin.
"Bu, pak" Sebelum beranjak, Cempaka meminta izin dulu kepada kedua orangtuanya.
Bu Sekar dan pak Jati pun tidak banyak komentar, mereka setuju seraya menganggukkan kepalanya.
Dalam keadaan masih terpengaruh oleh jampi-jampi nya si Kakek tua itu, Cempaka menuruti perintahnya Kenari.
"Ayo, duduk di hadapannya" Ujar
Kenari sambil mendudukkan adiknya tepat di depannya Karmin, yang sedari tadi bibirnya terus mengembangkan senyumnya.
Senyuman penuh kemenangan, penuh dengan kebahagiaan.
Lha! laki -laki mana yang tidak akan merasa bahagia? Mendapatkan istri seorang gadis cantik yang Solehah dan berpendidikan tinggi lagi, juga anak orang kaya dan terpandang di kampung nya, dengan tidak mengeluarkan biaya sepeserpun!
Sungguh! Karmin itu seperti yang mendapatkan durian runtuh.
"Ayo terima tangan suamimu! Dan ciumlah, itu tanda kamu berbakti kepadanya" Perintah Kenari. Karmin sudah menyodorkan tangannya ke arah Cempaka, tak lepas dari senyuman nya.
Dengan ragu Cempaka meraih tangannya Karmin, dan di ciumnya juga dengan ragu-ragu.
Seperti ada sesuatu di dalam hatinya Cempaka kala itu.
Entah mantera Kakek itu mulai memudar atau apa? Semua belum ada yang tahu.
"Plok! Plok! Plok!" Kenari mengangkat kedua tangannya dan bertepuk tangan dengan meriah, setelah Cempaka selesai mencium tangannya Karmin.
"Plok! Plok!Plok! Huuh, hore!" Tanpa sadar, semua langsung mengikutinya.
"Cincin nya pasangin di jarinya neng Cempaka!" Teriak bi Ijah dengan harapan dia dan seluruh orang yang berada di sana bisa mengetahuinya.
"Iya, cincinnya keluarin! Ayo pasangkan di jari pengantin wanita nya!" Teriak yang lain.
"Iya pasangkan! Pasangkan!" Teriakkan itu semakin riuh saja.
Karmin menatap Kenari, minta persetujuan nya.
"Bagaimana?" Bisiknya.
"Jangan! Bahaya, bisa-bisa nanti ketahuan kalau itu milik ibuku" Bisik Kenari di telinganya Karmin.
"Kenapa kalian bisik-bisik begitu?" Cempaka tak mengerti.
"Eng, enggak, enggak ada apa-apa" Sahut Kenari gugup.
"Iya, ayo keluarkan cincin dan gelangnya! Kami semua ingin mengetahuinya. Kan mahar pernikahan itu harus di ketahui oleh orang banyak. Masa di umpetin terus? Bahkan mempelai wanitanya juga belum tahu seperti apa bentuknya?" Ucapan bu Sekar terasa menohok ke dalam ulu hatinya Kenari.
Dia saling tatap dengan Karmin.
Dengan sigap, Kenari segera mengambil kotak perhiasan berwarna merah itu, lalu di masukkan nya ke dalam kantong bajunya.
"Mana kotak perhiasan nya? Ayo buka dan keluarin perhiasannya!" Pak Penghulu memintanya.
__ADS_1
"Tadi, kan pak Penghulu sudah tahu dan sudah melihat isinya" Kenari berkata ragu.
" Memang saya sudah tahu, tapi Cempaka sama sekali belum mengetahuinya. Sedangkan yang jadi istrinya saudara Karmin kan bukan saya" Pak Penghulu mengelak.
"Emh, emh tadi kan di sini kotak perhiasan nya" Kenari semakin gugup.
"Sekarang ke mana? Siapa yang mengambilnya? Tak mungkin kotak perhiasan bisa jalan sendiri" Pak Ustadz ikut bertanya.
"Ayo tolong carikan kotak perhiasan nya!" Seru Kenari, dia pun pura-pura sibuk mencari-cari kotak perhiasan nya.
"Tadi kotaknya itu di sini" Ucap Kenari menyembunyikan kecurangannya.
Semua sibuk mencari-cari kotak perhiasan yang menjadi mahar pernikahannya Cempaka dan Karmin.
"Coba di angkat karpetnya!" Perintah pak Jati.
Bi Nani segera mengambil sapu.
Seluruh karpet yang tergelar di gulung kembali, seluruh ruangan di sapu. Tapi, kotak perhiasan itu tidak ketemu juga.
Semua merasa heran, semua merasa panik dengan adanya kejadian itu.
Semua heboh dan sibuk mencari-cari kotak perhiasan itu. Hanya Kenari dan Karmin yang tersenyum di dalam hatinya.
"Kotak perhiasan nya tidak kita temukan, ini menjadi pr bagi kita. Perlu kita selidiki hingga kotak perhiasan itu di temukan. Sekarang gelar lagi karpetnya, karena pengantin nya sudah syah, bagaimana kalau sekarang kita nikmati dulu hidangan yang sudah kami sediakan sejak subuh tadi? Semua setuju,kan? Pasti semuanya setuju karena semuanya pasti sudah merasa lapar, iya kan?" Lagi-lagi Kenari angkat bicara.
Dia berusaha untuk mengalihkan perhatian semua orang yang berada di sana.
"Lalu, bagaimana dengan neng Cempaka? Dia kan belum mengetahui apa yang menjadi maharnya?" Bi Nani tak setuju.
"Ya sudah kita tunda saja dulu pencarian kotak perhiasannya, sekarang kita gelar lagi karpetnya dan kita makan hidangan lezat ini bersama-sama" Karmin ikut bicara.
Cempaka mendelik tak suka.
Akhirnya karpet pun di gelar kembali di tempatnya semula.
Satu persatu dari mereka mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan berbagai macam lauk-pauk yang telah tersedia di atas meja.
"Bibi ngeliatin apa sih? Kok! Matanya melihat ke arah sana terus?" Seseorang menegur bi Ijah yang berada di sampingnya.
"Itu lihat! Seperti kotak berwarna merah, siapa tahu itu kotak perhiasan emas yang tengah kita cari" Bisik bi Ijah, telunjuknya mengarah ke kantong bajunya Kenari.
Di sana terlihat seperti kotak yang membayang di kantong blazer nya, kebetulan bahan blazer nya tidak terlalu tebal. Jadi bentuk yang ada di dalam kantong blazer nya itu nampak terlihat.
"Jangan - jangan sengaja di umpetin sama Kenari?"
"Bisa juga, bi. Dia kan tadi memaksa bu Sekar mau minjam cincin nya untuk mahar pernikahan nya Cempaka"
"Seandainya itu benar?" Bi Ijah terperangah dengan mata terbelalak.
"Cepetan bi Ijah! Itu di belakang sudah pada ngantri!" Seseorang mengingatkan bi Ijah yang tengah nyentong nasi tapi, tidak beranjak juga karena asyik ngobrol dengan orang yang berada di sampingnya.
"Eh, ma'af semuanya" Bi Ijah jadi malu sendiri.
__ADS_1
Kantong bajunya Kenari pun hilang dari pandangannya.
Bi Ijah dan Ceu Karni yang tengah mengintai kantong bajunya Kenari, berusaha untuk tidak jauh dari Kenari.
Matanya di pertajam supaya dapat melihatnya kembali. Namun, sepertinya Kenari lebih lihai. Dia memindahkan kotak perhiasan itu ke dalam tasnya yang selalu dia bawa ke manapun dia pergi, dia tak pernah meninggalkannya.
"Bu, sepertinya ada yang aneh dengan pernikahan anak kita ini. Apa ibu tidak merasakannya?" Di sela-sela suapannya pak Jati bertanya kepada istrinya.
"Ibu juga sama merasakan hal yang aneh, namun ibu sendiri tidak tahu apa hal anehnya itu?"
Sahut bu Sekar.
"Apa ibu melihat perhiasan emas yang di jadikan mahar oleh Karmin? Apa Karmin pernah memberitahukan kepada ibu tentang maharnya itu?" Tanya pak Jati dalam kebingungan.
"Tidak sama sekali, yang ibu tahu hanyalah Karmin tidak membawa apa-apa! Dia tidak membawa maharnya, dia hanya bawa satu stel baju untuk ganti saja, tidak lebih" Sahut bu Sekar.
"Kalau begitu, perhiasan emas yang lima belas gram itu dari mana? Juga uang yang lima ratus ribu rupiah itu, uangnya siapa? Dan dari mana juga?" Bu Sekar mengerut kan keningnya.
"Apa Kenari memakai uangnya sendiri, gitu? Tapi, kalau perhiasannya punya siapa? Dia kan tidak punya perhiasan sebanyak itu. Setahu ibu dia hanya punya cincin satu gram yang di pakai nya itu" Bu Sekar menghentikan suapannya.
Benaknya tengah mencari-cari tentang perhiasan emas yang jadi mahar pernikahan nya Cempaka itu, dan katanya sekarang kotak perhiasan itu entah di mana, sudah hilang.
Rupanya mantera dan jampi-jampi yang tadi di sebarkan oleh si Kakek misterius itu sudah mulai rontok dari benaknya bu Sekar dan pak Jati, namun belum sepenuhnya hilang.
Sedangkan Cempaka sejak tadi dia seperti orang yang tengah kebingungan sendiri. Matanya entah tengah menatap apa, tidak ada yang tahu.
Cempaka yang tadinya duduk bersebelahan dengan Karmin, setelah dia di suruh Kenari untuk mencium tangannya, kini beringsut menjauhinya.
"Mau ke mana dek?" Tanya Karmin.
Cempaka menggelengkan kepalanya.
Tak berapa lama acara makan- makanpun sudah selesai.
Semua orang duduk kembali di tempatnya semula, semuanya belum ada yang berniat untuk pulang. Karena, mereka ingin mengetahui kemana hilangnya kotak perhiasan emas itu.
"Bagaimana ini? Saya sudah di tunggu di tempat lain, tapi kotaknya belum di temukan" Pak Penghulu merasa kebingungan.
"Akan kami usahakan untuk mencarinya, pak" Ujar pak Jati.
"Tapi, pernikahan anak kami ini bagaimana pak Penghulu?"
Bu Sekar menjadi was-was.
"Insya Allah syah, semoga maharnya segera di temukan. Karena sudah mepet waktunya, dan di kampung sebelah sudah ada yang menunggu saya, mereka sudah siap akan melangsungkan ijab qobul juga, bukannya saya tidak mau ikut serta dalam mencari maharnya yang hilang. Namun, ada pasangan mempelai lain yang menunggu dan membutuhkan kehadiran saya. Untuk itu saya permisi pada semuanya, Assalamualaikum" Pak Penghulu berpamitan.
"Iya pak, silahkan dan kami ucapkan terimakasih atas kehadirannya, waalaikumsalam" Pak Jati mengantarnya hingga ke ujung teras depan.
"Ayo kita cari lagi kotak perhiasan itu! Kami ingin tahu dan ingin melihat cincinnya di pakaikan di jari manisnya Cempaka!" Teriak seseorang setelah pak Penghulu menjauh dari rumahnya bu Sekar.
Kenari dan Karmin kebingungan, wajahnya terlihat panik seperti yang sangat ketakutan.
Mereka saling pandang seperti mencari jalan untuk menenangkan suasana.
__ADS_1
Karena untuk melarikan diri itu tidaklah mungkin.
***