Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Sosok Aneh


__ADS_3

Dengan perasaan sedih, Cempaka menapaki anak tangga yang berjumlah Sekitar 170 buah anak tangga itu.


Lumayan banyak juga jumlah anak tangganya. Karena, makam eyang Dalem Cikundul itu berada di atas bukit.


Dalem Cikundul, yaitu Raden Aria Wiratanu Datar. Adalah penyebar agama Islam di daerah Ci anjur. Beliau adalah murid Sunan gunung jati.


Makam dalem Cikundul itu, berada di Desa Ci Jagang kecamatan Ci Kalong kulon, Kabupaten Ci Anjur. Jaraknya sekitar 20 kilo meter dari pusat kota Ci anjur.


Walaupun tempatnya sangat jauh dari rumahnya, Pak Jati membawa anaknya itu ke sana. Tiada lain tiada bukan, dia berikhtiar demi kesembuhan anaknya.


Dengan hati yang hancur, dia menatap langkah anaknya yang berjalan gontai di depannya.


"Sabar ya nak" ujarnya.


"InsyaAllah pak, aku berusaha untuk bersabar. Semoga saja kedepannya tidak akan ada lagi penderitaan dalam hidupku ini" sahut Cempaka perlahan.


Angin pegunungan yang semilir menerpa wajahnya, tak sedikitpun mampu menghilangkan semua penderitaannya.


Walau dengan langkah gontai, akhirnya Cempaka sampai juga ke pasarean Dalem Cikundul.


Di sana sudah banyak orang yang mau berziarah.


Bangunan yang seperti gedung itu, sudah di penuhi para peziarah. Mereka datang dari segala penjuru.


"Itu makamnya di dalam sana, yang di pasangin kelambu putih.


Kalau kita yang berziarah, di sini saja. Ayo! Kita cari tempat yang nyaman, soalnya kita kan semalaman di sini, besok setelah shalat Subuh, baru kita pulang"


Ujar bu Sukma, memberikan penjelasan.


"Kita tidak boleh melihatnya, bu?"


Seruni mengungkapkan rasa penasarannya.


"Tidak bisa, hanya petugasnya yang suka membukakan kelambunya untuk di ganti jika sudah kotor" Sahut bu Sukma.


Seruni menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti.


Kami semua duduk bersila, berdo'a dengan khusyuk memohon dimudahkan segala urusan kepada Illahi Rabbi.


Kami sengaja memilih tempat itu, supaya bisa khusyuk berdo'a. karena tempatnya tenang, jauh dari kehingar bingaran.


Kami semalaman berdo'a di sana, hanya sesekali saja kami turun ke bawah, untuk berwudhu.


Keesokkan harinya, kira -kira jam dua dinihari, kami berkemas untuk bersiap-siap turun ke bawah.


Sengaja kami meninggalkan tempat Ziarah itu jam dua dini hari. Karena, biar tidak ketinggalan kereta.


Setelah Sampai di bawah, kami mencari dulu makanan buat sarapan.


Ternyata di sana, jam berapa juga tidak susah untuk mencari makanan. Karena, warung-warung yang menjajakan


dagangannya berjejer di sana.


Setelah selesai mengisi perut, tidak menunggu waktu lama, kami segera menuju sebuah kendaraan yang akan membawa kami ke Statsiun Kereta api.


"Jam berapa pak, berangkatnya?"


Bu Sukma menanyakan kepastian kendaraan itu berangkat. Karena, dia takut Pak Jati dan anak-anaknya ketinggalan kereta.


"Sebentar lagi bu, paling telat jam tiga kami berangkat, sekalian dengan yang mau pergi ke pasar"


Ujar Sopir.

__ADS_1


"Alhamdulillah... Terimakasih pak kalau begitu, kami takut ketinggalan kereta." Ujar bu Sukma.


"Sebelum adzan subuh kami sampai di Statsiun bu."


" Iya, terimakasih pak"


Benar saja kata pak sopir, baru beberapa menit kami berada di dalam kendaraan itu, nampak beberapa orang menaiki kendaraan itu, mereka yang sudah biasa pergi ke pasar.


"Jam tiga, ayo kita berangkat!" Ujar kernet mobil itu.


Kendaraanpun melaju perlahan, memecah kesunyian waktu dini hari, di sa'at yang lain masih sembunyi di balik selimut tebalnya masing-masing.


Jam tiga pagi, udara begitu dingin di sana. Keadaan sekeliling masih gelap, hanya di terangi oleh beberapa lampu yang ada di setiap rumah yang kami lewati.


Karena jalanan yang sepi dan menurun, kendaraan yang kami tumpangi tidak mengalami hambatan. Tidak seperti ketika naik tadi.


Tak berapa lama, kendaraanpun sampailah di depan Statsiun.


"Setatsiun habis" ujar kernet.


Kendaraanpun berhenti tepat di depan Statsiun Kereta api.


Kami segera turun, dan menuju kursi tempat tunggu penumpang.


"Baru jam empat, adzan subuh masih lama" pak Jati melihat jam tangannya.


"Kita cari Masjid yu. Biar mudah untuk shalat Subuh, biar tidak ketinggalan kereta" Cempaka bangkit dari tempat duduknya.


"Itu Mushollanya neng" Bu Sukma menunjukkan Musholla yang berada di sekitar statsiun itu.


"Ayo! Siapa yang mau ikut?" Ajak Cempaka.


"Semuanya saja ke sana, jangan pergi sendiri- sendiri. Ini tempat asing bagi kita" Sergah pak Jati, mengingatkan anak-anaknya.


Baru saja kami akan melangkahkan kaki menuju ke sebuah Mushola.


Mata Cempaka menangkap sesuatu di pojokan statsiun itu.


Di kursi tunggu Statsiun, yang berada di pojokan, nampak ada seorang perempuan dengan baju panjang berwarna putih, yang menjuntai hingga menyapu lantai.


Rambutnya panjang terurai, kepalanya menunduk. Seperti yang tengah menyembunyikan wajahnya.


"Pak, itu siapa? Kok! Berani ya nunggu kereta sendirian di sini."


Gumam Cempaka, sambil mencolek tangannya pak Jati.


"Itu pak, nunduk terus. Kenapa ya?" Cempaka bertanya lagi.


"Enggak tahu, mungkin dia ngantuk." sahut pak Jati.


Sepertinya orang itu merasa dirinya tengah di omongin. Perlahan dia mengangkat kepalanya.


Cempaka dan pak Jati yang dari tadi memperhatikannya, hatinya mulai terasa berdebar.


Setelah kepalanya tengadah, wajah perempuan itu nampak sangat putih sekali.


"Astaghfirulahaladziiim... Pak! Itu... Apa?" Teriak Cempaka menjerit histeris karena kaget.


Mendengar teriakannya Cempaka, Seruni, Anyelir dan bu Sukma tersentak kaget.


"Ada apa neng?" bu Sukma kaget bertanya.


"Itu apa buu, mukanya kok! Putih banget." Bisik Cempaka.

__ADS_1


Semua menatap ke pojokkan Statsiun, mengikuti telunjuknya Cemara yang mengarah ke sana.


"Ya Allah!"


"Astaghfirulahaladziiim..."


Kami semua terpaku menatap sosok makhluk aneh yang tengah duduk dan menatap ke arah kami semua.


Keberadaannya membuat bulu kuduk kami meremang, merinding menahan rasa takut.


Kaki kami terasa susah untuk di gerakkan, kami berdiri mematung di sana.


Untungnya sosok aneh itu tidak begitu lama menatap kami. Perlahan dia berdiri, dan terbang melayang menembus atap Statsiun.


"Hantuuuu!" Seruni menjerit histeris, dia memeluk pak Jati dengan kuat.


Kami semua merasa ketakutan yang amat sangat.


Tak lama adzan subuhpun terdengar berkumandang.


"Alhamdulillah... Terimakasih ya Allah" Kami berucap senang, ketika mendengar gema Adzan subuh berkumandang.


Setelah menengok ke kiri dan ke kanan, kami berebutan berlari menuju ke Musholla.


"Hantuuuu!"


"Kuntilanaaaak!"


Sesampainya di Musholla, kami segera menuju ke tempat Wudhu.


"Wudhu nya yang khusyuk, dia sudah enggak ada" ujar pak Jati.


Kami segera mengambil air wudhu, untuk melaksanakan shalat Subuh.


Beberapa menit setelah selesai shalat Subuh, terdengar suara mesin kereta api di nyalakan.


Kereta api siap-siap hendak berangkat menuju ke kota Bandung.


"Ayo, jangan sampai kita ketinggalan" Anyelir bergegas menuju ke pintu kereta api yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri.


"Bu Sukma, kami menghaturkan banyak terima kasih, karena telah di antar berziarah, dan juga di temani menunggu kereta di sini."


Sebelum naik kereta, tak lupa pak Jati mengucapkan terimakasih.


"Iya bu, saya juga sangat berterimakasih sekali sama ibu"


Ucap Cempaka.


"Sama-sama, itu sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong" sahut bu Sukma.


"Kami pergi dulu ya bu!"


"Enggak akan mampir dulu?" ucapnya mengajak kami untuk mampir ke rumahnya.


"Terimakasih buu, kami ingin segera sampai ke rumah" Sahut pak Jati.


"Kalau begitu, kalian hati-hati ya"


Ucap bu Sukma.


"Assalamualaikum..." Kami mengucapkan salam sebelum kami menaiki tangga pintu kereta api.


"Waalaikumsalam... Hati-hati!"

__ADS_1


Kursi yang berjejer di gerbong itu, masih banyak yang kosong.


Tak lama menunggu, akhirnya kereta api pun bergerak perlahan meninggalkan Statsiun.


__ADS_2