
Setelah tahu Bunga tidak menerima saran dari mereka. Akhirnya pak Jati dan bu Sekar pun keluar dari kamarnya Bunga sambil membawa hati yang kecewa dan bingung.
Baru saja beberapa langkah pak Jati dan bu Sekar meninggalkan kamarnya Bunga.
"BRUG!..." Tiba-tiba terdengar suara pintu yang di banting dengan sangat keras.
Bunga membanting pintu kamarnya dengan penuh emosi.
"Astaghfirulahaladziiim..." Kedua orang tua paruh baya itu terlonjak kaget.
Keduanya membalikkan badannya kembali ke arah pintu yang dibanting barusan sambil memegangi dadanya masing-masing.
"Ya Allah... Anak kita pak" Bu Sekar berlinang air mata. Dia tak menyangka akan mendapatkan perlakuan kasar seperti itu dari anaknya tercinta.
Dadanya berdebar sangat kencang, jantungnya pun berdegup dengan cepat saking kagetnya.
"Sudah bu, jangan di ambil hati. Kini kita coba bicara sama Cempaka, bagaimana baiknya. Biasanya dia itu mudah di kasih arahan, dia itu anak yang lembut pasti mendengar semua perkataan kita" Pak Jati mencoba menenangkan Isterinya.
"Ada apa bu?... Barusan bunyi apa?" Cempaka yang tengah nyapu di halaman belakang langsung berlari ke dalam rumah. Dia takut terjadi apa-apa terhadap kedua Orangtuanya.
"Enggak ada apa-apa nak" Pak Jati berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"Sudah selesai nyapu nya?" Bu Sekar mengalihkan pembicaraan.
"Sudah bu, baru saja beres nyapu waktu aku mendengar seperti suara pintu yang di banting keras
tadi. Syukurlah kalau ibu sama bapak tidak apa-apa" Ujar Cempaka sedikit merasa tenang.
Walau di dalam hati dia bertanya-tanya setelah melihat kedua Orangtuanya memegangi dadanya seperti ada sesuatu.
Bu Sekar dan pak Jati lalu duduk di ruang tengah sambil menyenderkan punggungnya. Dadanya nampak jelas turun naik seperti yang melihat sesuatu yang mengagetkan.
Melihat kedua Orangtuanya seperti itu, Cempaka segera bergegas menuju ke dapur untuk mengambil dua gelas air putih hangat.
__ADS_1
"Bu, pak, minum air hangat dulu"
Dia menyodorkan gelas berisi air hangat.
"Terimakasih nak" Bu Sekar dan pak Jati segera meneguknya dengan perlahan-lahan.
Baru saja kedua suami isteri itu selesai minum air hangat. Dan kemudian menyimpan gelasnya di atas nampan.
Tiba-tiba... Pintu kamarnya Bunga nampak terbuka.
Bunga pun keluar dari dalam kamarnya dengan membawa koper dan menyampir kan sebuah tas di bahunya. Dia seperti yang hendak pergi jauh.
Semua yang ada di ruang tengah spontan menatapnya dengan penuh rasa heran.
"Nah ini biang keladinya!... Sok cantik!... Sok laku!... Sedikitpun enggak punya perasaan!... Lebih baik aku pergi saja dari rumah ini. Semuanya sudah tidak ada yang peduli lagi sama aku" Bentaknya sambil berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk ke arah mukanya Cempaka.
Cempaka merasa kaget dan bingung dengan sikap kakaknya yang seperti itu, tidak seperti biasanya.
"Ini ada apa kak?" Cempaka berusaha bertanya.
"Siapa yang mau menikah kak?... Buana hanya mau melamar aku saja sebelum dia berangkat ke tempat tugasnya. Kakak tahu kan kalau di kota " S " itu, para orangtua yang punya anak perempuan, suka menahan ktp laki-laki yang datang ke rumahnya. Walaupun itu baru sekali, dan belum mereka kenal" Cempaka menghela nafasnya perlahan.
"Yang penting anak gadisnya suka sama laki-laki itu. Apalagi kalau lihat seorang pria berpangkat yang datang. Enggak mungkin bisa kembali dengan begitu saja" Lanjut Cempaka lagi.
"Lalu, kenapa dia berani mau melangkahi aku?" Bunga memotong perkataan Cempaka.
"Jadi begini kak, setelah selesai pendidikan, Buana bersama teman-temannya menyurvei tempat tugasnya mereka. Kebetulan katanya asrama yang kosong tidak cukup untuk menampung anggota polisi yang baru. Ini berarti yang enggak kebagian terpaksa harus ngekost atau menyewa kamar di luar asrama" Ucap Bunga, dia berhenti sejenak.
" Buana merasa takut kalau nanti dia harus mencari tempat kost. Dia takut di tempat itu ada anak gadisnya atau jandanya. Dia tidak mau di tahan ktp oleh si pemilik rumah untuk kemudian harus menikahinya, karena dia sudah ada aku yang menunggu di sini. Jadi, biar tenang biar tidak ada yang menahan KTPnya, dia mau melamar aku dulu sebelum dia berangkat ke tempat tugasnya" Lanjut Cempaka.
"Memang itu bisa menjamin gitu?" Bunga bertanya masih dengan wajah yang ketus.
"Iya kak, kan ada cin-cin sebagai buktinya. Dan, ada beberapa temannya sebagai saksinya. Begitu kak, jadi tolong izinkan Buana melamar ku, aku mohon kakak rela demi kebaikan kami"
__ADS_1
Cempaka menangkup kan kedua tangannya di dadanya sambil bersimpuh di hadapan kakaknya.
"Iya Bunga, kau juga tahu kan sudah ada beberapa orang laki-laki di sini yang di tahan KTPnya hanya karena kedapatan ngobrol sama anak perempuan orang sana. Tuh seperti si Angkasa, dia kesana kan mau ke rumah temannya. Kebetulan di sana itu ada anak gadisnya. Angkasa menegurnya dan berkenalan. Pas mau pulang... Eeh... Dimintai KTPnya dan tidak di kembalikan. Angkasa tidak bisa memaksanya, diapun pulang tanpa KTP" Pak Jati menjelaskan panjang lebar.
"Seminggu kemudian, orang yang menahan KTPnya itu datang ke sini, mau menyerahkan ktp dengan syarat harus mau menikahi anaknya. Jadi jangan sampai ini terjadi kepada Buana,
kasihan adikmu itu dan juga kita bisa malu sama seluruh warga Kampung ini, kau faham kan maksud kami?" Bu Sekar melanjutkan perkataan suaminya.
"Kalau itu terjadi ya mungkin kalian tidak berjodoh saja, kenapa harus melangkahi aku?"
Bunga tetap keras kepala.
"Tadi kan sudah ibu dan bapak sarankan, biar kamu tidak di langkahi oleh adikmu, coba kamu minta segera di lamar sama Sakti. Ibu yakin dia pasti segera melamarmu. Dengan demikian kamu tetap yang duluan di lamar bukan Cempaka" Bu Sekar mulai sedikit kesal nampaknya.
"Jangan paksa aku, sekali aku enggak mau ya sudah enggak mau!... Aku ingin dia sendiri yang berinisiatif melamar ku bukan karena di minta oleh aku!... Lagipula kamu Cempaka!... Jangan besar kepala!... Jangan sombong dan berbangga hati mau melangkahi aku. Kalau sampai kamu berani menerima lamarannya si Buana, sebelum aku ada yang melamar, jangan panggil aku kakak lagi!... Daripada aku di langkahi lebih baik aku tidak punya adik kamu!!!
Lebih baik aku pergi dari rumah ini!!! Aku muak mendengar kamu akan di lamar si Buana!!" Teriak Bunga sambil melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar, dengan koper besar di tangannya.
"Bunga... Jangan lakukan itu nak!
Kau mau kemana?... Jangan tinggalkan kami nak!" Bu Sekar berlari mengejar Bunga yang sudah berada di lawang pintu keluar.
Bu Sekar memegangi tangannya Bunga sambil terduduk bersimpuh, memohon supaya anak keduanya itu tidak berbuat nekad.
"Lepaskan tanganku bu!... Sudah anggap saja ibu tidak punya anak aku, anggap saja ibu tidak pernah melahirkan aku. Ibu kan punya Cempaka yang sebentar lagi mau di lamar oleh seorang polisi. Jadi buat apa ibu menahan aku?" Cempaka mengenyahkan tangan ibunya hingga ibunya terjerembab ke lantai.
"Bunga!... Apa-apaan kamu?" Pak Jati membentaknya. Dia segera mengangkat Isterinya dan mendudukkan nya di kursi.
"Kakak!" Teriak Cempaka. Dia sangat geram dengan sikap kasar kakaknya itu.
"Apa?... Kalian tidak suka?" Bunga seperti yang menantang.
Dia kembali melangkahkan kakinya hendak meninggalkan rumah orangtuanya.
__ADS_1
"Bunga!... Jangan pergi nak!... " Bu Sekar berteriak histeris mencoba untuk menahan kepergian anaknya.
Namun Bunga tak sedikitpun tergerak hatinya. Dia terus melangkah dengan membawa segunung emosi di dada.