Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Kenari menyalahkan Cempaka


__ADS_3

"Jomblo! Buka pintunya!" Teriak Kenari penuh emosi.


" Keluar kamu! Jangan bersembunyi! Kamu harus tanggung jawab! Jangan lari kamu jomblo! Awas kamu!" Teriak Kenari lagi, dari teras samping.


Bukannya mengucapkan salam, dia malah berteriak-teriak memanggil adiknya dengan sebutan Jomblo.


Karena teriakannya sangat kencang. Semua orang yang berada di dalam rumah itu mendengarnya, begitu juga dengan pak Jati yang baru saja terkena serangan strok beberapa jam yang lalu.


"Astaghfirullahaladzim, kak Kenari, kenapa dia? Sepertinya dia marah kepada ku. Apa salahku?" Gumam Cempaka, waktu itu, dia tengah menjemur baju di atas.


"Uh! Uh!" Ujar pak Jati dengan menunjuk- nunjuk ke arah samping rumah. Mungkin maksudnya supaya di lihat dan di tanya oleh istrinya.


"Astaghfirullahaladzim, ada apa ini? Kenapa lagi anak sulungku ini? Selalu saja bikin ulah" Gumam bu Sekar.


"Sebentar ya pak, ibu mau lihat dulu anak sulung kita"


Bu Sekar beranjak hendak melihat anak sulungnya yang tengah berteriak - teriak di teras samping rumah.


Pak Jati hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Sementara Kilat dan Seruni sudah berangkat ke Sekolah dari tadi.


"Kemana dia? Apa enggak kedengaran gitu? Pokoknya tidak akan aku biarkan! Bukannya segera mencari pasangan hidup, ini malah anteng - anteng saja! Dasar Jomblo!" Kenari terus ngedumel. Tangannya sibuk mengguncang - guncangkan gagang pintu yang susah di buka. Karena, sengaja di kunci dari dalam oleh bu Sekar.


"Ini pintu, malah di kunci segala.


Bikin kesal saja. Enggak ngerti dengan bapak sama Ibu, kenapa begitu sayangnya sama si jomblo itu? Sampai-sampai di pikirin siang malam. Buat apa coba mikirin anak yang jomblo?" Gerutu Kenari kesal.


"Jomblo! Buka pintunya!" Dia berteriak kembali.


" Ucapkan salam kalau mau di bukain pintu! Di sini tidak ada nama jomblo, kamu salah alamat!" Ujar bu Sekar dari dalam. Dia merasa kesal dengan teriakannya Kenari.


"Iya, Assalamualaikum" Kenari baru mengucapkan salam, setelah di tegur sama ibunya.


"Masuk! Jangan teriak - teriak di luar! Sudah dewasa tapi tidak ada sopan santunnya!" Tegur bu Sekar setengah membentak.


Kenari pun masuk ke dalam rumah lewat pintu samping. Tanpa bicara sepatah katapun. Hanya bibirnya yang manyun bagaikan keong sawah.


"Tuh mulut! Perbaiki posisinya! Enggak enak dipandang mata! Kalau bicara itu pikirkan dulu baik - buruknya perkataan yang akan di keluarkan dari mulut itu, jangan asal nyablak saja. Jaga bicaramu!" Ujar bu Sekar.


"Iya, ma'af!" Sahut Kenari ketus.


Nada bicaranya membuat bu Sekar marah. Di tariknya lengan Kenari ke dapur, biar menjauh dari kamarnya pak Jati. Biar tidak kedengaran olehnya.


"Kamu jangan kurang ajar begitu! Jaga bicaramu! Bicara seenaknya, seperti yang tidak punya otak!" Bentak bu Sekar, dengan mata yang melotot.


"Duduk!" Perintahnya ketus.


Kenari sedikit ketat - ketir juga melihat ibunya benar - benar marah.


"Apa maksud dari teriakan kamu tadi?" Tanya bu Sekar tegas.


"Emh, aku cuma, cuma bercanda" Ujarnya perlahan.


" Kamu bilang itu bercanda? Gelar yang kau sematkan di nama adikmu itu kau anggap candaan? Bagaimana orang lain menghargai keluarga kita? Kamu sebagai bagian dari keluarga ini malah sengaja mencorengnya. Apa yang membuatmu begitu membenci


adikmu itu? Punya salah apa adikmu itu sama kamu heh?" Bu Sekar sepertinya sudah hilang kesabarannya.


"Bapak kamu baru saja kena serangan strok. Kamu teriak - teriak di luar mencemooh adikmu yang tidak salah tidak apa, kalau orang waras yang mendengar dan menyaksikannya, pasti menganggap mu sudah gila!" Lanjut bu Sekar.


" Enggak ada sopan - santunnya sama sekali, anak SD saja tahu adab, tahu sopan santun, dia tidak ribut, tidak teriak - teriak kayak orang gila. Dia memberi semangat kepada bapakmu, lha ini! Sudah dewasa, sudah punya anak, kelakuan masih kurang ajar! Apa kedua orang tuamu mengajarkan hal seperti itu? Tidak! Sama sekali ibu sama bapak tidak mengajarkan hal yang kurang ajar begini"


"Habisnya aku kesal dan jengkel sama Cempaka" Ujarnya pelan.


"Kamu kesal? Kamu jengkel? Memangnya adikmu itu membuat masalah apa sama kamu? Hingga membuat kamu kesal dan jengkel" Tanya bu Sekar.


"Aku yakin pasti bapak kena strok itu gara - gara mikiran dia yang masih belum punya jodoh"


Tutur Kenari menyalahkan Cempaka, tanpa nanya - nanya dulu.


"Jadi itu yang membuat kamu teriak - Teriak kayak orang gila itu? Harusnya nanya dulu sama yang tahu masalahnya apa? Jangan seenaknya bicara"


"Aku yakin bu, pasti si Cempaka yang jomblo itu penyebabnya! Tidak perlu aku tanyakan dulu, aku sudah yakin, selama ini tidak ada yang menjadi beban pikiran bagi bapak dan ibu, selain si Cempaka! Iya kan bu?"


Kenari balik bertanya setelah dia nyerocos.

__ADS_1


"Kamu mau tahu kan penyebab bapakmu strok?" Bu Sekar bertanya dengan menekan giginya hingga terdengar suara gemeretak, gigi yang beradu.


Kenari sampai menyingsingkan badannya sedikit ke belakang, karena kagetnya. Selama ini dia belum pernah melihat ibunya se marah itu.


"Memangnya apa gitu yang jadi penyebabnya?" Melemah nada suaranya Kenari.


"Asal tahu saja ya! Bapakmu itu mendapati ayam - ayamnya mati bergelimpangan di pelataran kandang, nampaknya seperti yang keracunan. Ayo! Ikut ibu! Biar tahu apa yang sebenarnya terjadi, biar mulut usil mu itu bisa diam. Tidak nyablak seenak udel mu!" Bu Sekar menarik kasar tangannya Kenari, dia tarik ke arah samping rumahnya, di mana kandang ayam berada.


"Aduh! Ibu, aku mau di bawa ke mana?" Tubuhnya Kenari hingga sempoyongan menahan tenaga ibunya yang tengah emosi.


Kenari menahan erat-erat gendongan kainnya, supaya Cemara tidak jatuh dari gendongannya.


"Ibu, aduuh ibu, ini Cemara mau jatuh, gendongannya melorot!"


Kenari berteriak kelabakan.


"Diam! Enggak usah berteriak! Bukannya tadi kamu sudah berteriak di teras samping rumah? Sekarang, giliran ibu yang harus memberitahu kamu apa yang sebenarnya terjadi kepada bapakmu!" Ujar bu Sekar setelah mereka tiba di kandang ayam.


"Kenapa ke sini bu? Ini kan kandang ayam, bu!" Kenari belum menyadari apa yang berada di sekitar kandang ayam milik bapaknya itu.


"Tuh lihat! Buka matamu lebar - lebar! Jangan asal menyalahkan orang lain! Itu yang membuat bapakmu kaget, terkejut, shock dan akhirnya kena strok!" Bu Sekar membawa Kenari ke dalam kandang ayam, dan mengarahkan netra anak sulungnya itu tepat ke arah tumpukan tiga ratus dua puluh dua ekor ayam yang sudah mati kaku, dengan dagingnya yang berubah warna menjadi kebiru-biruan.


"Haah, apa ini buu?" Teriak Kenari histeris, setelah melihat tumpukan bangkai ayam yang menggunung di hadapannya.


"Ini yang membuat bapakmu seperti sekarang ini! Kamu juga kaget kan?"


"Kenapa bisa begini bu?" Tanyanya dengan nada bicara yang penasaran.


"Bapak sama ibu juga tidak tahu apa penyebabnya? Yang jelas, tadi sepulang dari masjid habis sholat subuh berjama'ah, bapak mendapati ayam - ayamnya sudah bergelimpangan di sekitar pelataran ini. Bapakmu shock dan akhirnya strok" Tutur bu Sekar dengan raut wajah yang sedih.


"Seperti yang keracunan" Gumam Kenari.


"Iya, dokter yang memeriksa bapakmu juga mengiyakan pendapat ibu tadi, sama seperti perkiraan mu, seperti yang sengaja ada yang menaruhnya di sekitaran kandang.Tapi, tidak tahu ditaruh di mana dan, enggak tahu siapa juga orang yang melakukannya" Lirih bu Sekar.


"Sebentar lagi, setelah Cempaka selesai jemur baju, kamu bantuin ibu ya, panggilkan mang Diman, biar dia menolong kita untuk menggali lobang untuk mengubur bangkai ayam - ayam ini"


" Iya bu. kasihan bapak, banyak sekali ayam - ayamnya yang mati" Gumam Kenari, sedih.


" Tiga ratus dua puluh dua ekor"


"Apa tidak salah dengar, bu? Tiga ratus dua puluh dua ekor?"


Kenari terlonjak kaget.


"Sebanyak itu?" Serunya lagi.


"Iya, sebanyak itu"


"Pantesan bapak sampai shock, eh bu, aku mau bertemu bapak dulu. Aku belum melihat keadaannya" Ujar Kenari, baru teringat kepada pak Jati.


"Ayo! Jangan lupa bersih - bersih dulu sebelum masuk ke dalam rumah" Bu Sekar tidak lupa menginginkan Kenari.


"Jadi, ternyata bukan karena memikirkan Cempaka" Gumamnya perlahan.


"Ya bukan lah! Karena, jodoh itu tidak bisa di atur oleh kita, seperti halnya kematian, hanya Allah yang berkuasa mengaturnya. Mungkin, Cempaka belum di pertemukan dengan jodohnya. Tinggal kitanya saja yang harus sabar dan tidak lupa ikhtiar"


"Nah! Sekarang kamu sudah tahu semuanya. Lalu, apa kelakuan kamu tadi pantas tidak? Kamu merasa bersalah tidak? Berteriak menyalahkan adikmu yang tidak tahu apa-apa, dengan kata-kata yang membuat sakit telinga orang yang mendengarnya" Bu Sekar mengingatkan.


"Iya bu, aku salah" Sahutnya pelan, merah pipinya menahan rasa malu.


"Lalu?" Bu Sekar ingin tahu sampai di mana kepekaan anak sulungnya itu.


"Nanti aku mau minta ma'af bu"


Ucapnya.


"Bagus itu! Dan, alangkah lebih bagus lagi kalau tidak melakukan hal itu lagi selamanya! Ingat! Jodoh itu bukan kita yang ngatur! Dan dia juga pasti tidak mau bernasib seperti itu. Lagipula, semua yang di alami Cempaka sa'at ini, sedikit banyaknya kita juga ikut andil, ingat itu!" Ujar bu Sekar lagi, tak henti-hentinya dia mengingatkan anak sulungnya itu.


Kenari terdiam menunduk, mencoba untuk menyembunyikan wajahnya.


*


"Bu, sepertinya ada suara kak Kenari !" Cempaka bertanya sa'at berpapasan dengan ibunya di ruang tengah.


"Iya ada" Sahut ibunya.

__ADS_1


"Sepertinya dia marah - marah sama aku, bu. kedengarannya dia menyalahkan aku. Kenapa ya bu ya?" Tanya Cempaka lagi, mimik wajahnya sedih.


"Dia itu tidak tahu yang sebenarnya terjadi, jadi nyerocos ke mana - mana"


"Ooh, mana sekarang kak Kenari nya, bu? Sepertinya aku harus bicara sama dia" Cempaka sepertinya merasa kesal, dan mau menegurnya.


"Itu, di kamar bapak" Bu Sekar menunjukkan tempat di mana Kenari sekarang berada.


"Makasih bu, ma'af aku tinggal dulu sebentar. Sepertinya aku harus menemui kak Kenari"


Sebelum Cempaka beranjak meninggalkan ibunya untuk menuju ke kamarnya pak Jati, Bu Sekar menggamit lengannya lalu, mereka berjalan beriringan menuju ke kamarnya pak Jati.


"Assalamualaikum" Sebelum mereka masuk ke kamarnya pak Jati.


"Waalaikumsalam" Sahut Kenari.


Pak Jati menatap ke arah bu Sekar, seperti ada sesuatu yang ingin di sampaikan nya.


Dari matanya pak Jati, bu Sekar faham dengan maksudnya.


"Kenari, kita bicara di luar yu! Ada yang perlu ibu sampaikan" Bu Sekar mengerti tatapan mata suaminya yang meminta supaya Kenari keluar dari kamarnya.


Benar saja, setelah bu Sekar mengajak Kenari keluar dari kamarnya pak Jati, seketika itu pula pak Jati menganggukkan kepalanya.


"Cempaka, emh" Kenari sepertinya merasa kaget demi melihat adiknya berada di Lawang pintu kamar.


"Iya kak, ada yang perlu aku sampaikan kepada kakak" Ujar Cempaka datar.


"Emh, ada apa?" Kenari pura-pura tidak mengerti.


"Sudah, keluar dulu saja! Masa, mau bicara di lawang pintu kamar bapakmu!" Bu Sekar menarik tangannya Kenari, supaya keluar.


"Di sini sepertinya tempat yang sangat tepat, untuk kalian bicara menyelesaikan masalah kalian! Dan, setelah ini tidak ada lagi hal-hal yang seperti tadi terdengar kembali!" Tegas bu Sekar.


"Assalamualaikum" Tiba - tiba terdengar suara orang yang mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam" Sahut mereka bertiga. Semua menoleh ke arah pintu.


Bunga dan Sakti sudah berdiri di balik pintu.


"Kak Bunga sama kak Sakti, ibu, bapak, silahkan masuk" Cempaka membukakan pintu, lalu mempersilahkan mereka masuk.


"Besan, kami turut prihatin dengan kejadian yang menimpa pak Jati" Ucap mertuanya Bunga.


"Terimakasih,besan" Sahut bu Sekar dengan lirih.


Yang baru datang segera menemui pak Jati. Sedangkan Cempaka kembali lagi ke ruang makan. Dia ingin menyelesaikan masalah nya.


"Sebaiknya kita duduk dulu, sebelum kita bicara" Cempaka duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan.


"Tadi kakak berteriak dengan memanggil Jomblo kepada aku, apa maksudnya? Apa tidak ada lagi sapaan yang baik untuk memanggil orang lain? Sedangkan kakak tahu, bahwa aku itu punya nama pemberian bapak dan ibu, seperti kakak dan semua orang yang berada di dunia ini" Dengan tenang dan tegas, Cempaka bertutur.


"Emh, emh, tadi kakak-


Kenari tidak melanjutkan ucapannya.


Cempaka menatapnya tak berkedip. Dia ingin tahu jawaban dari kakak sulungnya itu.


"Ma'afkan kakak ya dek! Tadi kakak emosi setelah mendengar kabar bapak strok"


Sejurus kemudian, jawab Kenari.


" Lalu, apa hubungannya teriak - teriak memaki aku, mengatai aku dengan panggilan yang kurang ajar begitu? Lagi pula kakak berteriak nya di luar lagi, seperti yang sengaja supaya semua orang tahu" Cempaka sedikit emosi nada bicaranya.


"Kakak kira, bapak terlalu banyak memikirkan nasib kamu yang masih belum punya suami, jadi bapak terkena strok. Makanya, kakak emosi" Sahut Kenari memberikan alasan.


"Kenapa kakak tidak bertanya dulu yang sebenarnya terjadi?Kenapa asal cuap saja? Asal memaki saja? Tanpa tahu kebenarannya" Tegur Cempaka kesal dengan tingkah kakaknya itu.


"Ada apa ini? Cempaka, kenapa bicaranya sewot begitu sih?" Bunga menghampiri Cempaka dan Kenari, beberapa sa'at kemudian.


" Tanya saja kakak sulung kita ini!" Cempaka menunjuk ke arah Kenari.


"Ayo jawab kak! Jangan diam saja! Biar jelas semuanya" Cempaka berujar lagi dengan nada yang ketus, karena merasa kesal.


"Emh, kakak kira Cempaka yang jadi sebab strok nya bapak"

__ADS_1


***


__ADS_2