Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Rahasia yang hampir terbongkar


__ADS_3

"Sekarang kamu baru hamil dua bulan, masih belum kelihatan. Masih bisa di sembunyikan. Tapi, nanti kalau kehamilan mu sudah besar, sudah menjelang lahiran. Bagaimana kita bisa menyembunyikannya? Bagaimana kita bisa menutupinya?" Pak Jati gusar.


"Itu yang menjadikan aku seakan terpenjara oleh kelakuan keluarga mertuaku sendiri, keegoisanku waktu itu.Aku tidak bisa keluar dari lingkaran kebohongan ini" Anyelir pun tidak kalah resah nya.


"Bagaimana dengan suami dan mertuamu, dengan keadaan ini?" Bu Sekar bertanya tentang keluarga besarnya itu.


"Apakah pernah mereka menyesali perbuatannya? Apa pernah mereka ada satu itikad baik untuk meminta ma'af kepada Cempaka? Menyesalinya, mengakui kesalahannya? Selama ini, tidak kan! Mereka tenang-tenang saja, sepertinya memang tidak ada niatan untuk itu " Bu Sekar mulai uring-uringan, dia mulai kesal dan marah kepada besannya itu.


Anyelir menggigit bibirnya, dia merasa tak mampu untuk berkata-kata. Dia jadi semakin merasa bersalah dan semakin menyesali perbuatannya kala itu.


"Aku itu adik yang kurang ajar, tidak punya perasaan" Gumamnya kesal pada diri sendiri.


"Suami dan mertuamu apakah sudah tahu kalau kamu kini telah hamil?" Tanya bu Sekar, sesaat kemudian.


"Sudah bu" Jawab Anyelir perlahan.


"Lalu, bagaimana reaksinya?" Susul bu Sekar.


"Mereka menyuruhku untuk memberi kabar bahagia ini kepada keluarga di sini, bu" Dengan polosnya, Anyelir memberikan jawaban.


"Makanya sekarang aku ke sini, membawa kabar tentang kehamilanku ini" Lanjut Anyelir.


"Tadinya kamu tidak akan mengabarkan tentang kehamilan mu, begitu kan?" Bu Sekar menyusul lagi dengan pertanyaan yang lain.


"Karena aku takut, bu. Takut kak Cempaka mengetahuinya, jadi aku diam saja" Sahut Anyelir lagi. Dia benar-benar menyesal.


"Kalau seandainya kamu tidak mengabarkan tentang kehamilan mu itu, berarti kamu mau merahasiakannya dari kami?" Lanjut bu Sekar.


"Bukan begitu, bu. Tapi, aku merasa takut sama kak Cempaka. Aku enggak tahu harus bicara apa sama kakakku,


sungguh aku sangat takut dan menyesal karena telah melangkahinya" Sahut Anyelir.


"Aku bingung bu, aku harus bagaimana? Mana sebentar lagi acara empat bulanan lagi. Aku tidak mau kalau ibu dan bapak tidak datang menghadiri acara empat bulanan kehamilanku ini,


Dan, tentu saja kita harus berbohong lagi" Ungkap Anyelir.


" Tentu saja kalau kita sudah berbohong satu kali, pastinya kita harus berbohong lagi untuk yang kesekian kalinya dan untuk selanjutnya. Dari kebohongan satu ke kebohongan yang lainnya lagi" Anyelir mulai terlihat panik.


Mereka diam sesa'at, pak Jati menatap wajah istrinya. Sepertinya beliau meminta jawaban untuk kepanikan putrinya, Anyelir.


"Kita hanya bisa berdo'a dan berharap supaya kakakmu itu memaklumi dan bersedia untuk mema'af kan kita semua" Bu Sekar berharap.


"Sepertinya hanya cuma itu, untuk sa'at ini. Ibu belum mendapatkan cara yang lainnya" Lanjut bu Sekar.


"Iya bu, karena kesalahan aku dan keluarga suamiku, aku jadi terbebani oleh kebohongan ini"


Anyelir menerawang ke masa-masa di kala dia melangsungkan akad nikah bersama Petir, tanpa minta restu dari kakaknya, Cempaka.


"Empat bulan itu tidak akan lama ya, bu. Sebentar lagi pasti akan datang menyapa kita, aku harus bagaimana? Apa aku harus sembunyi-sembunyi lagi? seperti waktu dulu kami bersanding di pelaminan, kak Cempaka tidak mengetahuinya. Bahkan sampai sa'at ini, kak Cempaka masih mempercayai kita semua karena keluguannya, karena kebaikannya. Tapi, kita malah sebaliknya" Keresahan nampak jelas tersirat di raut mukanya Anyelir.


"Tapi, walaupun kita masih menyembunyikan tentang kehamilanku ini, ibu sama bapak pasti akan hadir kan di acara empat bulanan kehamilanku nanti?" Anyelir sepertinya merasa khawatir, kalau orangtuanya tidak dapat datang karena mereka merasa tidak enak dengan Cempaka.


"InsyaAllah kami akan datang" Bu Sekar meyakinkan Anyelir.


"Terimakasih, bu. Ternyata ibu sama bapak masih saja menyayangiku, walaupun aku sudah membuat ibu sama bapak melakukan dosa membohongi anak ibu dan bapak, menyakiti hati kakakku yaitu kak Cempaka" Ujar Anyelir.


"Sebagai orang tua memang harus penuh kasih sayang untuk anak - anaknya" Sahut pak Jati.


"Iya kan bu?" Pak Jati bertanya kepada istrinya yang terlihat bengong.


"I, iya pak" Bu Sekar gugup menjawab pertanyaan suaminya.


"Assalamualaikum" Kilat dan Seruni sepertinya sudah kembali dari sekolah.


"Waalaikumsalam" Jawab mereka.


"Ada kak Anyelir, kak Petir nya mana?" Tanya Kilat, matanya mengitari sekeliling ruangan itu.


"Kak Petir nya enggak ikut? Kenapa kak?" Tanya Kilat lagi.


Karena dia anak laki-laki satu-satunya, jadi kalau ada Petir datang ke rumah ibunya, dia sangat bahagia sekali nampaknya. Mungkin merasa ada teman yang sejenis, sepertinya.


"Kak Petir enggak bisa ikut, karena dia sedang kerja. Tadi dia cuma nganterin kakak sampai di gang depan saja, karena takut terlambat. Jalanan di tempat kita kan selalu macet"

__ADS_1


Anyelir menjelaskan kepada adik laki-lakinya itu.


"Tapi, nanti kak Petir akan ke sini, akan menjemput kak Anyelir kan?" Tanya Kilat lagi sambil mengglendot di pangkuannya Anyelir, manja.


"Kilat! Jangan begini! Nanti adek bayinya kesakitan" Anyelir tak sengaja berteriak.


Kilat langsung menggrinjal dia langsung berdiri sambil menatap Anyelir dengan heran.


"Kakak, kenapa bicara begitu? Adek bayi siapa? Mana adek bayinya?" Kilat tak kalah berteriak.


"Kakakmu itu sedang Hamil, seperti kak Kenari dan kak Bunga dulu. Kalau kak Kenari bayi yang dulu di kandungnya sudah lahir, sudah jadi anak yang cantik. Kalau kak Bunga, masih mengandung bayinya, sama seperti kak Anyelir sekarang ini. Bedanya, kak Bunga tidak lama lagi akan melahirkan adek bayinya, kalau kak Anyelir, masih lama melahirkannya. Adek bayinya masih di dalam perutnya, jadi Kilat harus hati-hati ya!" Bu Sekar mencoba untuk menjelaskannya.


"Asyik, berarti nanti akan ada dua adek bayi di rumah kita ini!


Iya kan Seruni?" Kilat berseru kegirangan.


"Adek bayinya kak Bunga, kata dokter adalah seorang bayi laki-laki, semoga saja adek bayinya kak Anyelir juga laki-laki ya, kak! Biar aku ada dua temannya, asyik!" Kilat berseru sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan.


Kami tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lakunya Kilat.


"Aku tidak mau kalau adek bayinya kak Anyelir, laki-laki! Aku maunya adek bayinya perempuan, untuk jadi teman mainku" Seruni tidak mau kalah.


"Adek bayi laki-laki!" Seru Kilat.


"Adek bayi perempuan!" Seruni tidak mau kalah.


"Laki-laki!" Teriak Kilat, lebih keras dari tadi.


"Perempuan! Pokoknya harus bayi perempuan!" Seruni berseru dengan suara yang nyaring. Dia tidak mau kalah.


"Sudah! Sudah! Malah berantem


tidak jelas begini. Sana, bersih-bersih dulu, lalu ganti baju dan makan siang, tuh sudah ibu siapkan makanannya di meja makan" Bu Sekar segera menengahi keributan itu, dia takut kalau teriakan mereka akan membangunkan Cempaka dari tidurnya.


Dan, kekhawatiran bu Sekar itu sudah menjadi kenyataan.


Cempaka membuka matanya, mendengar keributan antara kedua adik-adiknya itu, yaitu antara Seruni dan Kilat.


"Sebenarnya apa yang kedua adikku rebut kan? Sepertinya telingaku mendengar mereka menyebut bayi laki-laki dan juga bayi perempuan! Bayi kak Bunga kan sudah jelas laki-laki, waktu di usg itu. Tapi, satu lagi bayi siapa ya? Tidak mungkin kalau kedua adikku meributkan bayinya kak Bunga, karena mereka sudah tahu bahwa bayinya kak Bunga adalah seorang bayi perempuan" Gumam Cempaka dengan tubuh yang masih terbaring di atas tempat tidurnya.


Cuma, pernah Cempaka bertanya tentang hubungannya Anyelir, yang menurutnya sudah hampir dua tahun bertunangan, kapan mereka akan menikah?Tapi, tak ada Jawaban Yang di inginkan Cempaka, keluar dari mulut kedua orangtuanya.


"Bayi perempuan! Apakah kak Bunga mengandung bayi kembar? Sepertinya, bisa juga itu terjadi, karena suaminya kak Bunga kan kembar. Iya sepertinya bayinya kak Bunga" Gumam Cempaka, dia sepertinya berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.


""Sebaiknya aku bangun saja, aku ingin memastikan bahwa yang di ributkan oleh kedua adikku itu adalah bayi kembarnya kak Bunga" Cempaka perlahan bangun dan meregangkan tubuhnya.


Diapun bangun dan beranjak dari tempat tidurnya, perlahan melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamarnya.


Dibukanya pintu kamarnya, suara celotehannya Seruni dan Kilat semakin jelas terdengar di telinganya.


"Aku sudah selesai makannya! Kak Anyelir, adek bayinya nanti perempuan kan?" Ujar Seruni, dia berteriak sambil berlari mendekati Anyelir yang tengah duduk di karpet, selonjoran.


"InsyaAllah, Seruni berdo'a saja, minta sama Allah SWT biar punya keponakan perempuan" Anyelir menjawabnya lembut.


"Iya kak, aku akan berdo'a biar bayinya perempuan" Sahut Seruni dengan menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas.


"Amiin" Bu Sekar yang baru kembali dari kamar mandi, mengaminkannya.


"Eh, Anyelir! Itu kakimu! Segera lipat! Jangan seenaknya kalau duduk! Ayo segera di lipat kakinya!" Bu Sekar agak membentaknya.


"Aku tidak tahu, bu! Ma'afkan aku"Anyelir segera melipat kedua kakinya.


"Kenapa ibu menyuruh Anyelir untuk segera melipat kedua kakinya? Dan, ibu seperti yang marah melihat Anyelir duduk selonjoran begitu, kenapa ya?"


Cempaka bergumam sendiri. Dia jadi bertanya-tanya dengan kejadian yang berlangsung di depan kedua matanya itu.


"Ya sudah, lain kali jangan kau ulangi lagi!" Perintah bu Sekar mengingatkan Anyelir.


"Iya bu" Anyelir menjawabnya perlahan.


"Asyik, bayi perempuan!" Ujar Seruni.


"Bayi laki-laki" Kilat tak mau kalah dari adiknya, dia pun berteriak kembali.

__ADS_1


"Aku jadi penasaran" Gumam Cempaka.


Diapun segera melewati Lawang pintu kamarnya, untuk mencari tahu apa sebenarnya yang tengah terjadi di rumahnya itu. Dia merasa penasaran dengan tingkah kedua adiknya itu, dia ingin tahu apa yang tengah di ributkan oleh keduanya.


Perlahan Cempaka melangkahkan kakinya, menuju ke dapur, di mana kedua orangtuanya dan ke tiga saudaranya tengah berkumpul.


"Kilat, adek bayi siapa yang kau harapkan laki-laki itu?" Cempaka mencoba bertanya kepada Kilat, adik laki-lakinya.


"Adek bayinya kak.Any


"Maksudnya adek bayinya kak Bunga" Anyelir langsung menyambar, sedangkan jarinya mencolek lengannya Kilat.


Perkataan Kilat langsung terhenti seketika. Dia nampak keheranan.


"Kenapa kalian ributkan? Kita semua sudah tahu kan, dari hasil usg, bahwa adek bayinya kak Bunga adalah seorang bayi perempuan, kenapa kamu berharap jadi laki-laki?" Cempaka lalu duduk di sebelah adik laki-lakinya itu.


"Bukan bayinya kak Bunga" Ujar Kilat, sambil menatap wajahnya Cempaka.


"Lalu? Bayinya siapa?" Cempaka bertanya menyelidik.


"Bayinya kak-


"Kilat! Sini sebentar!" Bu Sekar segera memotong perkataan Kilat, dia sangat ketakutan sekali. Wajahnya terlihat panik.


"Iya bu, ada apa?" Kilat segera mendekati ibunya.


"Ini tolong simpan di atas meja!"


Bu Sekar menyodorkan sebuah piring yang berisi makanan.


"Bayinya siapa, ya? Membuat aku penasaran" Bathin Cempaka.


"Bayinya Bunga tentunya juga. Kilat mengharapkan kalau bayinya Bunga itu seorang bayi laki-laki, dan Seruni sebaliknya. Dia mengharapkan bayinya itu laki-laki, begitu Cempaka" Bu Sekar terpaksa membohongi Cempaka lagi, untuk kesekian kalinya.


"Ibu mengatakan itu padaku, tapi tadi aku sempat mendengar Kilat berkata, bukan bayinya kak Bunga, lalu bayinya siapa bu? Yang di ributkan oleh mereka berdua." Cempaka mengutarakan kepenasaran nya.


"Emh, bayinya siapa ya? Ah,.dasar anak - anak! Mereka asal saja kalau bicara" Bu Sekar nampak kikiuk sikapnya, seperti ada yang tengah dia coba untuk di sembunyikan.


"Ooh, aku kira bayinya kak Bunga jadi kembar" Ujar Cempaka sambil tersenyum tipis.


"Bayinya kak Anyelir, kak!" Seruni tiba-tiba berteriak.


"Apa? Bayinya Anyelir?" Cempaka mengerutkan dahinya, dengan mata yang melotot menatap Kilat, rasa terkejut dan tidak percaya, nampak sangat jelas terpancar di wajahnya.


"Ibu, apa benar yang aku dengar barusan?" Tanya Cempaka, setelah beberapa sa'at dia terdiam.


"Emh, emh, tentu saja bu, bukan, Cempaka, bukan Anyelir" Bu Sekar menjawabnya dengan gugup.


"Hampir saja!" Bathinnya bu Sekar.


"Sepertinya ada yang di sembunyikan dariku oleh ibuku. Tapi, apa ya?" Gumam Cempaka.


Melihat Cempaka nampak kebingungan, Anyelir diam saja tak bersuara. Dia tengah menguasai hatinya yang tidak karuan. Dia ketakutan sekali, kalau rahasianya yang selama ini dia simpan rapat-rapat itu, akan segera terbongkar.


"Mati aku, kalau sampai semuanya terbongkar. Aku harus bagaimana?" Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.


"Kamu kenapa? Sepertinya kamu tidak sehat? Tadi pagi kau seperti mual dan mau muntah. Sekarang, pelipis mu di banjiri oleh keringat" Cempaka mendekati adiknya, dia mencoba untuk mengeringkan keringat adiknya.


"Tidak usah, kak! Biarkan sama aku saja" Anyelir mundur beberapa centi dari tangan kakaknya.


" Memangnya kenapa? Aku kan kakakmu? Kenapa aku tidak boleh mengeringkan keringat adiknya yang bercucuran di pelipis mu itu, kenapa? Memangnya salah, kalau aku melakukannya?" Tanya Cempaka lagi, dia berusaha untuk mendekati adiknya lagi.


Anyelir menjadi panik di buatnya, dia segera bangkit dari tempat duduknya, dan berdiri agak menjauh dari kakaknya.


"Kenapa? Kenapa kamu menghindar dariku? Kenapa kamu seperti yang ketakutan?" Cempaka menanyai Anyelir dengan rasa heran.


"Aku, aku, aku tidak apa-apa kak! Aku mau ke belakang dulu"


Anyelir mengalihkan pembicaraan, untuk menghindari pertanyaan Cempaka yang lainnya.


Cempaka menganggukkan kepalanya, tandanya dia mengizinkan adiknya untuk pergi ke belakang.


"Ya Allah, aku takut sekali. Aku takut kebohongan ku akan di ketahui oleh kakakku" Gumam Anyelir dengan nafasnya yang terengah-engah, setelahnya dia berada di kamar mandi.

__ADS_1


***


__ADS_2