Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Persiapan pernikahannya Cempaka


__ADS_3

" Ini maksudnya bagaimana, kok sudah belanja dan mau mulai masak-masak begini?" Pak Jati terkejut setelah melihat istrinya belanja makanan begitu banyak sekali.


"Iya pak, kan rencananya Kenari, anak kita Cempaka mau melangsungkan akad nikahnya ya hari ini, nanti jam sembilan. Kenari kan yang telah memberi tahukan ini kepada pihak kua, ya berarti kita harus siap-siap dari sekarang juga" Bu Sekar menyahut. Namun, pikirannya seperti yang tidak menentu.


" Lalu, bagaimana dengan seuseurahan nya? Laki-lakinya sudah di sini" Protes pak Jati.


"Enggak tahu ibu juga kalau masalah itu, Semuanya Kenari yang mengaturnya" Ujar bu Sekar lagi.


"Ada apa ini?" Kenari sepertinya sudah tersadar dari lamunannya.


Tak ada yang menjawabnya, hanya saling tatap satu dengan yang lainnya.


"Aku dengar namaku disebut- sebut, ada apa?" Kenari mengulangi pertanyaannya.


"Iya, kamu kan yang merencanakan dan mengatur semua ini?" Sahut bu Sekar.


"Ini semua buat kebaikan adikku, bu. Aku tidak tega bila harus melihat Cempaka sendirian terus" Ucap Kenari dibuat selembut mungkin.


Itu semua dia lakukan supaya semua yang berada di rumah itu, menaruh simpati dan percaya dengan ucapannya.


Kenari berusaha menutupi kelakuannya.


"Ya sudah, mungkin ini semua sudah menjadi takdirku. Aku sudah kebal dengan pengkhianatan dan kekecewaan serta penghinaan.Sekarang, sudahlah tidak usah memperdulikan perasaan aku lagi, silahkan bertindaklah sesuka hati kalian. Aku sudah kadung menderita, hatiku sudah kadung sakit, hidupku seakan sudah di atur oleh kalian. Ku akui Ini semua karena kesalahanku, yaitu karena aku terlalu lemah, terlalu penurut dan terlalu meraba perasaan orang lain. Hingga orang lain seenaknya saja mempermainkan, mempermalukan, menyakiti dan


mengkhianati diriku ini. Silahkan semuanya kalian urus, aku tahu semuanya kalian anggap benar. Percuma kan kalau gagal" Entah kekuatan apa yang mendorong Cempaka untuk bisa mengutarakan semua kekesalan yang ada di hatinya kala itu.


"Nak, ma'afkan ibu dan juga bapakmu. Karena, kami tidak bisa berbuat apa-apa dalam hal ini, kami begitu sulit untuk bisa mencegahnya, kami tidak berdaya, nak" Bu Sekar berucap dengan nada yang memelas menatap kepergian anaknya.


"Tak mengapa bu, aku mengerti, aku sudah faham seperti waktu yang lalu selalu begini dan begini. Biarlah aku terima semua ini mungkin sudah jadi suratan tanganku, terimakasih"


Cempaka berlalu menuju ke kamarnya dengan sejuta kecewa di dalam dadanya.


"Neng Cempaka, tunggu!" Bi Nani berusaha menghentikan langkahnya.


"Iya bi, ada apa?" Cempaka menghentikan langkahnya, tubuhnya berbalik menghadap ke arah bi Nani yang sudah berdiri di belakangnya, tepat di depan pintu kamarnya.


"Neng, ma'afkan bibi ya. Bibi tidak bisa menghentikan perjodohan yang terasa ganjil ini, bibi juga tidak tahu kenapa bapak dan Ibumu seperti yang tidak berdaya, sepertinya ada kekuatan lain yang ikut campur dalam hal ini" Ucap bi Nani.


"Tidak apa-apa bi, aku sudah tahu biang keroknya, aku sudah tahu siapa di balik dalang dari semua ini. Seperti waktu pernikahannya Anyelir dan Sakti, sekarang juga masih orang yang sama yang menjadi dalangnya. Biarkan saja bi, nanti juga semua perbuatan dzolim nya pasti akan kembali lagi ke pada dirinya sendiri, kita tinggal menunggu waktunya saja, aku yakin Allah SWT pasti mengetahui segalanya" Cempaka berusaha untuk tegar dalam mengungkapkan semua nya.


"Kamu memang anak yang baik, bibi salut dengan ketegaran mu"


Bi Nani memeluk Cempaka dengan berurai air mata di pipinya.


Pemandangan yang sangat mengharukan terjadi di sana.


"Bi" Cempaka mencoba melonggarkan pelukan bibinya, perlahan dia melepaskan tangan bibinya yang tengah erat memeluknya.

__ADS_1


"Iya neng, ma'af bibi terbawa oleh perasaan" Ucapnya sambil mengusap air mata yang masih menetes membasahi kedua pipinya.


"Sudah bi, tidak usah menangis lagi, tidak ada yang perlu di tangisi, simpanlah air matanya"


Tangan Cempaka mengusap air matanya bi Nani dengan jarinya.


"Hemh, huuh" Bi Nani mengendus kan nafasnya, seakan ingin membuang semua beban yang tengah menghimpit di dadanya.


Cempaka mencoba tersenyum untuk memperlihatkan ketegaran hatinya kepada bibinya. Walau senyum itu nampak seperti yang di paksakan nya.


Kepedihan, kesedihan, duka dan lara juga derita yang kesekian kalinya, kini akan menyapanya kembali. Semua itu telah menari-nari di pelupuk matanya.


Berbeda jauh dengan suasana hatinya Kenari. Di dapur dia tengah sibuk mengatur masakan apa saja yang harus di hidangkan untuk para tamunya nanti.


Anehnya, semua perintahnya tak ada yang berani membantahnya. Hanya berani menggerutu di belakangnya saja, itu juga dengan suara yang berbisik pelan.


"Ayo segera siapkan semua menu makanan yang telah aku pesan tadi. Ibu, coba bikin ayam suir dan sambal goreng kentang nya secara bersamaan, biar semuanya segera selesai! Kamu, Bunga! Jangan diam saja ayo tanganmu bergerak! Lihatlah masih banyak menu makanan yang belum selesai di masak" Perintah Kenari dengan telunjuk yang mengacung ke sana-sini.


"Kakak sendiri kenapa hanya memerintah saja? Bukannya ikut bantuin kami, ini semua kan kakak yang punya hajatnya" Bunga tidak suka dengan cara kakaknya.


"Aku mau mendandani calon pengantinnya, bu ayo itu ayam suir dan sambal goreng kentang nya jangan sampai telat mateng!" Ujarnya sambil mengarahkan telunjuknya kepada bu Sekar yang tengah mengupas kentang.


Seperti sa'at itu, Bu Sekar di perintahkan untuk membuat menu ayam suir dan sambal goreng kentang secara bersamaan.


"Tangannya juga cuma dua, di suruh ini itu, sedangkan dia hanya bisa memerintah saja" Rutuk nya kesal.


"Anyelir! Kamu baru datang? Bukannya dari kemarin, sudah mau mulai acaranya baru nongol. Cepat bantuin di dapur! Aku mau merias calon pengantinnya dulu" Anyelir dan Sakti serta ibu mertuanya yang baru datang, habis kena semprot nya Kenari.


"Sudah jangan membantahku!"


Kenari balik membentak Anyelir.


Setelah itu dia berlalu menuju ke kamarnya Cempaka.


Dengan sekejap mata, Kenari jadi penguasa di rumah ibunya.


Semuanya dia yang mengaturnya, dan semuanya harus tunduk dan patuh kepadanya.


"Bi Nani, ngapain bibi di sini? Pantesan di dapur tidak kelihatan batang hidungnya. Ternyata malah mengompori Cempaka di sini, bukannya bantuin menyiapkan makanan di dapur. Sudah sana bi! Cempaka nya mau saya rias, biar cantik" Bi Nani pun kena semprot dan di usirnya dari kamarnya Cempaka.


"Neng Cempaka memang sudah cantik dari lahir walaupun tanpa riasan juga. Itu kan yang membuatmu iri kepadanya? Ma'af ya, bibi bukan mengompori neng Cempaka, tapi bibi tengah memastikan apakah dia benar-benar mau menerima calon suaminya itu atau tidak? Lagipula kalau setengah- setengah lebih baik tidak usah sama sekali, kasihan nantinya. Pernikahan itu bukan main-main! Rumah tangga itu perlu adanya rasa saling, bukan karena nafsu dan keserakahan"


Dengan lantangnya bi Nani mengutarakan pendapatnya.


"Bibi cuma adik dari ibuku, tidak berhak mengatur, apalagi untuk menggurui aku yang punya hajat, aku yang telah mampu menemukan jodoh untuk Cempaka, bukan bi Nani!" Sahutnya tak kalah emosi.


"Sudah! Tida akan ada yang bisa meluruskan semua ini, bi. Paling juga patah. Sekarang terserah dia saja bi, apa maunya. Biarkan saja bi, Allah SWT tidak akan tinggal diam, bi"

__ADS_1


Cempaka berusaha untuk melerai nya.


Kenari dan bi Nani pun langsung terdiam, setelah mendengar bentakannya Cempaka.


"Neng Cempaka, bi Nani ke dapur dulu ya neng" Bi Nani pamit kepada Cempaka.


"Iya bi,. silahkan" Sahut Cempaka dengan lembut.


"Jam setengah sembilan nanti, petugas dari kua mau datang, jadi kamu harus dari sekarang aku dandani" Ucap Kenari setelah bi Nani pergi dari kamarnya Cempaka.


Cempaka menganggukkan kepalanya, dia tidak menyahutnya.


Kenaripun memulai pekerjaannya, di awali dengan penataan rambutnya Cempaka.


"Sreet! Sreet! Sreet!" Dengan kasar Kenari menyisir rambutnya Cempaka yang panjang itu.


"Sakit kakak! Pelan-pelan, bisa enggak sih!" Cempaka protes. karena Kenari sangat kasar sekali dalam menyisir rambutnya.


"Waktunya sudah mepet" Sahut Kenari memberi alasan.


"Rasakan nih Cempaka!" Bathin Kenari tersenyum mengetahui Cempaka merasa kesakitan kepalanya. Karena, dia sengaja menarik-narik rambutnya Cempaka dengan kasar.


Setelah selesai menata rambutnya Cempaka, Kenari beralih untuk merias wajahnya Cempaka.


Setelah membersihkan wajahnya Cempaka, foundation pun di usapkan ke wajahnya dengan sangat tebal, tidak tanggung-tanggung. Lalu di susul dengan bedak anti airnya di tempelkan dengan tebal juga.


Kemudian di lanjutkan dengan pemberian eye shadow dan mascara, lalu pemasangan bulu mata palsu, eye linear, lipstik dan sebagainya, hingga terciptalah wajah Cempaka yang seperti memakai topeng.


Wajah cantik alaminya jadi tak terlihat sama sekali, tertutupi oleh riasan yang sangat menor.


"Aku mau lihat wajahku" Ucap Cempaka. Diapun menatap cermin yang sedari tadi di halangi oleh tubuhnya Kenari.


"Kakak! Apa-apaan ini?" Teriak Cempaka setelah dia melihat wajahnya di cermin.


"Kenapa emangnya? Itu kan riasan biasa bagi pengantin" Sahutnya santai.


"Ini bukan riasan, tapi ini topeng! Mana wajahku tidak kelihatan karena tertutupi oleh topeng yang menor ini!" Ujar Cempaka emosi.


Cempaka mengambil tissue untuk menghapusnya. Namun, riasan itu sulit untuk di hapus.


"Sudah jangan di hapus! Lihat sudah mau jam setengah sembilan, sebentar lagi juga petugas kua datang. Kasihan kan kalau dia harus menunggu lama lagi" Kenari memperlihatkan jam weker yang ada di atas meja.


"Aku malu tahu!" Sungut Cempaka kesal.


Kekesalan adiknya di tanggapi dengan senyuman kemenangan di bibirnya Kenari. Karena dia telah berhasil merias wajah Cempaka jadi menor bagaikan topeng, wajah cantiknya Cempaka sudah berubah menor.


"Kakak senang kan melihat wajahku menor begini?" Cempaka melotot kepada Kenari.

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu sudah tahu, ini baru awalnya. Nanti akan banyak lagi kejutan-kejutan yang lainnya yang akan bermunculan silih berganti, setelahnya kamu jadi istrinya si Karmin, tunggu saja adikku tersayang, adikku yang malang" Kenari berbisik di telinganya Cempaka.


***


__ADS_2