
"Assalamualaikum..." Cempaka mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumahnya.
"Waalaikumsalam..." Sahut semua yang berada di sana.
Cempaka masuk dan salim kepada ibu dan bapaknya. Tak lupa kepada kakak-kakaknya.
"Baru pulang?" Tanya Bunga yang beberapa bulan tak bertemu dengan adiknya itu.
"Iya kak" Sahut Cempaka.
"Aku masuk ke kamar ya kak"
"Nanti ngumpul sini yaa!" Ajak Bunga.
"Enggak kak, aku cape banget. Aku mau istirahat, ma'af ya kak.
Ma'af semuanya" Cempaka tidak akan mau di ajak ngumpul di sana. Karena dia sudah tahu acara apa yang akan mereka buat di ruang tengah itu.
Waktu dia pulang, di ruang tengah nampak seluruh keluarganya sedang berkumpul.
Kak Bunga dan suaminya, juga kak Kenari dan anak-anaknya.
Adik-adiknya pun semua berkumpul di sana.
"Ngumpul sebentar saja, aku kangen sama kamu!" Bunga menyusulnya.
"Baiklah" Cempaka lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Buat apa aku ngumpul sama mereka? Paling-paling mau membicarakan tentang rencana pertunangannya Anyelir tanpa mempedulikan perasaanku sebagai kakaknya!" Gumamnya
sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Tiga puluh menit Cempaka berada di dalam kamarnya.
"Mana Cempaka? Kenapa dia belum keluar juga dari dalam kamarnya." Bunga menatap ke arah pintu kamarnya Cempaka.
"Apa dia tidur gitu?" Ucapnya lagi.
"Dia sudah tahu belum akan ada acara ini" Kenari bertanya kepada bu Sekar.
" Belum, enggak ada yang ngasih tahu tentang hal ini" Sahut bu Sekar.
"Kalau tidak di kasih tahu, bagaimana? Dan kalau di kasih tahu juga bagaimana lagi? Ibu tak sanggup melihat dia menderita lagi" Ujar Bu Sekar perlahan, setengah berbisik.
"Ya habis, harus bagaimana? Masa Anyelir harus jadi perawan tua juga?" Anyelir berkata dengan nada khawatir.
"Bukan begitu, tapi apakah tidak bisa menunggu sebentar lagi, siapa tahu minggu depan dia punya calon, kasihan kakakmu itu kalau harus di langkahi. Sedangkan dulu, dia enggak boleh melangkahi Bunga. Ibu yakin dia enggak akan suka. Dia pasti marah dan sakit hati bahkan kecewa pastinya" Ujar bu Sekar lagi.
"Kalau begitu tidak akan ada ujungnya buu, nanti sebentar lagi Seruni dewasa, dia harus nunggu aku dengan kak Cempaka. Berarti..., ada tiga orang anak ibu yang jomblo. Apa, ibu sama bapak ingin punya anak seperti itu? Jomblo semua!" Anyelir nyerocos.
"Jadi ibu harus bagaimana?" Bu Sekar bertanya kesal.
__ADS_1
"Ibu harus mengizinkan Anyelir menikah duluan, melangkahi kak Cempaka" Anyelir terdengar memaksa.
"Iya buu, daripada nanti anak ibu jomblo semua" Ucap Bunga dengan entengnya.
"Biarkanlah Cempaka jomblo sendiri, enggak usahlah anak yang lainnya di bawa-bawa. Salah sendiri, kenapa dia jomblo?" Kenari menimbrung dengan perkataannya yang tidak
enak di dengar.
"Kalau ada cara yang lain, tidak ada salahnya kita bicarakan dulu" Pak Jati ikutan nimbrung.
"Iya pak, ibu juga lagi bingung ini.
Harus bagaimana? Supaya Cempaka tidak sakit hati, tidak di langkahi oleh Anyelir" Bu Sekar meminta pendapat suaminya.
"Kalau bapak mau nya sih jangan sampai Cempaka di langkahi oleh Anyelir. Kasihan dia" Ujar pak Jati mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Kalau begitu, berarti acara pertunangannya Anyelir harus di tunda dong!" Kenari nyamber.
"Iya... Sementara. Siapa tahu besok atau lusa Cempaka bisa menemukan jodohnya"Pak Jati menyahutnya dengan santai.
"Bapak ini bagaimana siih? Itu sama artinya dengan menyuruhku untuk jadi jomblo juga. Mending kalau Kak Cempaka besok atau lusa dapat jodohnya. Kalau enggak? Bagaimana nasibku? Aku enggak mau seperti kak Cempaka dulu. Gara-gara mengalah, kasihan sama kak Bunga. Akhirnya, kak Cempaka yang menderita sendiri" Ujar Cempaka.
"Anyelir!" Bunga membentaknya.
Dia tidak terima kalau peristiwa itu di perbincangkan terus.
"Kenapa mesti nyolot begitu? Kan memang benar semua yang telah menimpa Cempaka itu, awalnya dari keegoisan kamu."
Bunga terdiam tak mampu berkomentar lagi.
Memang benar adanya, semua penderitaan yang di alami oleh Cempaka berawal dari keegoisan dirinya.
"Bagaimana kalau begini, jangan
sampai Cempaka tahu saja. Jadi tahu-tahu Anyelir sudah tunangan dengan Petir, sudah! Beres kan? Daripada ribet begini"
Kenari memberikan usulan.
"Iya buu, begitu saja bu! Aku setuju sekali" Anyelir berbinar, seakan mendapatkan durian runtuh.
Mereka semua tidak tahu kalau semua perbincangan mereka itu sudah di dengar oleh Cempaka.
Karena mereka serius, hingga Cempaka yang berdiri di pintu kamarnya pun tidak mereka ketahui.
"Eh... Cempaka?" Kenari terperanjat setelah sudut matanya menangkap ada Cempaka tengah menyender di pintu kamarnya.
"Itu, dia keluar" Bisik Kenari kepada Bunga.
Semua mata tertuju kepadanya.
Cempaka diam saja di pintu kamarnya.
__ADS_1
"Cempaka, sini nak! Ada sesuatu yang perlu kami sampaikan" Bu Sekar mendekatinya, menggandeng tangannya Cempaka dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.
Cempaka tidak berkata apa-apa, dia menurut saja ketika ibunya menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.
"Bagaimana Cempaka? Mungkin kamu sudah dengar semuanya"
Bu Sekar begitu berhati-hati bertanya kepada Cempaka.
Cempaka diam tak memberikan komentar, hanya air matanya yang membayang di pelupuk matanya.
Dengan sekali kedipan, buliran bening itu langsung bergulir di pipinya.
Semua mata tertuju kepada Cempaka.
Mereka semua saling pandang satu sama lain. Tak ada yang berbicara.
"Cempaka, sabar ya nak!" Bu Sekar mengelus rambutnya Cempaka.
"Tuh lihat! Kalian harus mengerti
keadaan hatinya Cempaka yang terus-terusan di rong-rong oleh duka dan derita, apa kalian tega mau menambah penderitaannya lagi? Coba bayangkan kalau kalian berada di posisi Cempaka." Ujar pak Jati sambil
memandangi anak-anaknya satu persatu.
Di pandangi seperti itu, semuanya pada menundukkan kepalanya, tak ada yang bicara.
Tapi, rupanya itu hanya sementara.
"Tapi pak, kalau Anyelir harus menunggu Cempaka dulu, apaaa
nasibnya Anyelir tidak akan seperti nasibnya Cempaka?" Kenari Sepertinya ingin memojokkan Cempaka.
"Iya paak, nanti yang jomblo bertambah di rumah ini" Lanjut Kenari lagi. Matanya melirik ke arah Cempaka dengan senyuman yang mencibir.
"Jaga mulutmu itu Kenari! Ternyata kamu itu belum berubah sama sekali. Ada dendam apa sih kamu sama adikmu itu?"Pak Jati membentaknya.
"Anyelir, apa kamu tidak tahu atau kamu sudah lupa? Kenapa aku menjadi seperti sekarang ini? Kenapa Buana meninggalkan aku? Semua itu karena kak Bunga. Kenapa sekarang aku yang di salahkan? Kenapaaa?"
Cempaka mengutarakan semua kekecewaan yang ada di dalam hatinya.
"Aku jadi jomblo, jadi perawan tua, bukan keinginan aku. lagi pula kalau waktu itu kak Bunga tidak egois, ka Bunga mau meminta kak Sakti untuk mempercepat pertunangannya, tidak mungkin aku seperti ini. Kenapa sekarang aku yang di salahkan? Ayo jawab! Kenapa?'
Cempaka bertanya lagi dengan berapi-api.
"Ternyata benar apa yang kudengar tempo hari itu. Kalian sudah membohongi aku. Kalian menginginkan aku supaya aku menderita lagi. Apakah kurang puas selama ini sudah beberapa kali kalian sakiti hati dan perasaan ku?" Cempaka melanjutkan perkataannya.
Emosi Cempaka sudah naik ke ubun-ubun.
Darahnya sudah mendidih, dia tidak mampu lagi mengendalikan
amarahnya.
__ADS_1