
Tiga hari setelah kedatangan Kenari dan Karmin ke rumahnya bu Sekar. Kenari sudah bersiap-siap hendak datang kembali ke rumah ibunya. Dia akan datang dengan membawa sebuah kejutan!
"Cempaka, aku tidak akan tinggal diam adikku yang manis" Gumamnya.
Sa'at itu hari minggu, Kenari ada di rumah, dia sedang libur kerja.
Dia tengah merencanakan akan menemui adiknya itu, jam berapa baiknya.
"Kalau pagi-pagi begini, biasanya si jomblo itu suka ke Kampus. Kalau tidak ada kuliah, biasanya di hari minggu pagi dia suka lari bersama kedua adiknya. Berarti harus agak siangan aku ke sananya, biar langsung bertemu dengan si putri jomblo itu" Gumamnya.
"Mah! Emam lagi, mamah! Emam lagi!" Karena lagi asyik melamun, anaknya yang minta di siapapun tak di dengarnya.
"Mamah!" Cemara berteriak memanggil Kenari.
"Apa sih? Teriak-teriak begitu" Kenari membentaknya karena dia merasa terganggu.
Lamunannya jadi buyar tak karuan.
"Emam lagi" Ujar Cemara.
"Nih emam, nih!" Kenari menyuapi anaknya dengan kesal. Dia emosi karena merasa terganggu oleh anaknya sendiri. Biasanya kan seharian di asuh oleh orang lain karena Kenari harus kerja.
Hanya bila libur saja Kenari mengasuh anaknya itu, seperti sekarang ini, dia tengah menyuapi anaknya.
"Emamnya cepetan! Nanti sudah emam kita ke rumahnya nenek ya" Ujar Kenari.
"Asyik ke rumah nenek" Cemara kecil itu sangat girang hatinya mengetahui dia akan di ajak ke rumah neneknya.
"Baru jam delapan, masih pagi" Gumam Kenari lagi. Dia sudah tidak sabar ingin segera memberikan surat itu kepada adiknya, dia ingin segera menyalahkan adiknya, supaya merasa bersalah dan harus bertanggung jawab dengan sakitnya si Karmin itu. Yang sebenarnya itu hanyalah bohong belaka.
Cempaka waktu itu tengah jalan-jalan santai bersama kedua adiknya, pak Jati dan bu Sekar pun ikut serta.
Mereka berangkat tadi pagi selepas waktu sholat subuh. Mereka sengaja berangkat pagi-pagi supaya tidak kepanasan di jalannya.
Yang di tujuannya yaitu taman kota yang rindang dan teduh dengan pepohonan yang berjejer menaunginya.
"Alhamdulillah, kita sudah sampai" Karena letaknya tidak begitu jauh, hanya sepuluh menit naik angkutan umum.
"Iya Alhamdulillah, seger rasanya udara di sini!" Ucap pak Jati sambil menggerak-gerakkan tangannya.
"Asyik ada jungkat-jungkit" Kilat berlari mendekati jungkat-jungkit yang kebetulan masih kosong.
"Kakak, tunggu!" Seruni berteriak memanggil kakaknya, dia juga tidak mau ketinggalan. Seruni pun berlari mengejarnya, mereka nampak bahagia berlari berkejaran di taman kota.
Sedangkan Cempaka dan ibunya, melakukan peregangan otot-otot badannya yang terasa kaku karena selama seminggu bekerja.
Mereka nampak bahagia menikmati hari liburnya, walaupun hanya di taman kota yang dekat dengan rumahnya.
Tak sedikitpun mereka curiga kepada Kenari, bahaya yang tengah mengintainya.
Bahaya yang akan merenggut semua kebahagiaan yang Tengah mereka nikmati sa'at itu. Bahaya yang akan sanggup mencampakkan kebahagiaan untuk selama-lamanya.
Hingga jam sepuluh mereka larut dalam suasana yang nyaman dan hati yang tenang.
__ADS_1
"Sudah jam sepuluh, kita pulang sekarang yu! Ibu sudah gerah nih" Ujar bu Sekar, tangannya sibuk mengelap keringat yang mengucur membasahi seluruh tubuhnya. Karena, tadi mereka ikut senam bersama seluruh pengunjung taman kota itu.
"Ayo pulang anak-anak, bapak juga gerah nih. Tapi, segar rasanya di bada." Ujar pak Jati.
"Coba kalau setiap hari minggu kak Cempaka mengajak kita ke sini, ya bu!" Seruni berkata manja.
"Iya, kalau kakak lagi libur ya" Di cubit nya hidung seruni dengan gemas.
"Kakak!" Seruni teriak manja.
"Ayo semuanya! Kita pulang" Bu Sekar berjalan menuju gerbang taman kota di ikuti oleh pak Jati dan ketiga anaknya.
*
Sementara itu Kenari bersama anaknya, Cemara, sudah keluar dari rumahnya untuk menuju ke rumah ibunya.
"Semoga saja si Cempaka nya ada di rumah, biar bisa langsung di terima suratnya oleh dia. Supaya aku tidak bolak-balik dan rencanaku bisa segera berhasil" Gumamnya.
"Cempaka! Kamu ada di rumah?" Teriak Kenari dari teras samping.
Enggak ada yang nyahut.
"Pada kemana? Kok! Enggak ada siapa-siapa sepertinya" Kenari bergumam sendirian.
"Tok! Tok! Tok! Cempaka! Bukain pintunya" Teriak Kenari lagi, dia memanggil Cempaka sambil mengetuk pintunya.
"Sepertinya bapak sama ibu juga tidak ada di rumah" Gumamnya lagi.
"Neneknya enggak ada?" Tanya Cemara dengan logat cadelnya.
Ujar Kenari pada putri kecilnya.
"Iya mah" Sahutnya sambil manggut-manggut.
"Alhamdulillah, kita sudah sampai" Tiba-tiba terdengar suara pak Jati dari halaman depan.
"Iya pak, Alhamdulillah" Suara bu Sekar.
"Nah, itu suara Nenek sama Kakek. Sepertinya mereka baru pulang, dari mana ya?" Kenari segera beranjak menuju ke teras depan.
"Lha! Kalian baru pulang dari mana? Aku dari tadi nungguin di sini. Pantas saja di ketok-ketok, di panggil-panggil enggak ada yang nyahut" Ujar Kenari.
"Kami dari Taman kota, ikut senam biar badan enggak pegal-pegal. Sekalian jalan- jalan cari udara segar" Sahut bu Sekar.
"Ayo! Semuanya masuk, ibu gerah mau mandi dulu" Ujar bu Sekar sambil membuka kunci pintu rumahnya.
"Cempaka, kamu masih ingat sama seseorang yang tiga hari yang lalu datang menemuimu?"
Tanya Kenari.
"Iya, aku ingat" Sahut Cempaka.
"Nih! Dia nitipin surat lagi buat kamu" Kenari memberikan amplop warna putih kepada Cempaka.
__ADS_1
"Ini apa?" Cempaka terperanjat kaget, dia mundur beberapa langkah.
"Enggak usah kaget, buka saja!"
Kenari menyuruhnya.
"Enggak mau!" Cempaka segera menghindar dan bergegas masuk ke dalam rumah.
"Cempaka!" Teriak Kenari, dia segera menyusul langkah adiknya.
"Aku mau mandi, gerah!" Ujar Cempaka.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau menerima nya, kakak yang akan bacain isi suratnya ya" Ujar Kenari.
"Silahkan saja, aku tidak peduli!"
Sahut Cempaka ketus.
"Tapi, kamu nya jangan pergi! Dengerin kakak ya!" Kenari mulai membuka amplopnya dan mengeluarkan isinya. Sepucuk surat dalam kertas berwarna putih.
"Teruntuk adinda Cempaka yang selalu menari-nari di pelupuk mataku" Kenari mulai membacanya.
"Aih! Aih! Aih!, Adinda, romantis sekali awalan suratnya, apalagi isinya. Pasti bikin hati yang beku juga jadi langsung meleleh, mencair, aduh" Kenari kegirangan membaca pembukaan suratnya Karmin.
Cempaka diam, dia tak suka melihat tingkah kakaknya itu.
"Kakak lanjutkan ya! Dengerin semuanya! Adinda, waktu aku bertandang ke rumahmu, aku sangat bahagia sekali. Karena, bisa langsung memandangi wajahmu walau hanya sekejap saja, karena kau malah berlalu meninggalkan aku yang tengah memikul rindu. Sampai aku pulang, kau tak datang kembali untuk menemuiku. Karena, itu aku jadi merasa bersalah karena telah menggaggumu dengan mendatangimu" Kenari berhenti sejenak.
"Karena itu, waktu aku jalan pulang, aku melamun kan hal itu. Aku sangat menyesal karena telah mengganggumu, dan membuat kamu merasa kesal. Adinda, tengah aku melamun kan dirimu dan menyesali ke datangan ku ke rumahmu waktu itu, membuat aku tak fokus waktu aku menyebrangi jalan yang menuju ke rumahku. Hingga ada kendaraan pun aku tak melihatnya. Dan, akhirnya aku pun tersungkur di jalan raya hingga tak sadarkan diri, aku tak tahu apa yang telah terjadi kepada diriku ini" Kenari berhenti membaca suratnya.
"Karmin kecelakaan! Cempaka! Karmin kecelakaan!" Kenari berteriak histeris.
Cempaka masih diam, tak terpancing dengan aktingnya Kenari.
"Dan tahu - tahu aku sudah berada di Rumah sakit. Aku tersadar setelah aku terbaring di ranjang rumah sakit karena tak sadarkan diri selama lima jam lebih! Ternyata aku mengalami kecelakaan, tertabrak oleh kendaraan roda empat. Itu semua karena aku melamunkan dirimu. Untungnya aku tidak lewat, aku bisa tersadar kembali. Semoga saja aku bisa menatap wajahmu kembali. Adinda, sudikah kau kiranya untuk menjengukku barang semenit, mungkin sebagai perjumpaan terakhir kita. Karena, kondisi ku sangat parah" Kenari berhenti membaca suratnya, matanya menatap ke arah Cempaka.
" Karmin kena musibah, dia tertabrak mobil gara-gara melamun. Karena, dia merasa bersalah telah menemui kamu. Dan, waktu itu kamu nya cuek bebek begitu, kamu nya malah melengos waktu Karmin ke sini.
Tuh Cempaka! Dia kepikiran sampai celaka, sudah gini bagaimana?" Kenari bertanya dengan membentaknya.
"Enggak tahu, kenapa bertanya sama aku?" Cempaka balik bertanya.
"Semua sudah terjadi, kini dia meminta kamu untuk datang ke sana, menjenguknya" Ujar Kenari.
"Berarti kita harus ke sana!" Lanjut Kenari.
Cempaka menggelengkan kepalanya, dia tidak setuju dengan usulan dari kakaknya.
Seakan tak terpengaruh sama sekali, dengan isi surat dari Karmin iru.Cempaka berlalu meninggalkan Kenari tanpa sepatah katapun.
"Cempaka! Mau kemana? Ini Karmin kena musibah" Kenari memanggil adiknya sambil berteriak.
Tapi, Cempaka tak menghiraukannya sama sekali membuat Kenari kesal di buatnya.
__ADS_1
**"