
"Kalian menginap saja di sini, pasti kalian cape kan? Di rumah ibuku ini kamarnya ada tiga yang kosong. Satu kamar buat tamu, dan yang dua lagi kamar adik-adikku, kakak dan adiknya Cempaka yang sudah menikah, mereka ikut bersama suaminya. Kan Cempaka ini di langkahi oleh adiknya karena dia susah dapat jodoh, adiknya sekarang sudah mau punya anak. Makanya segera saya nikahkan Cempaka dengan Karmin, biar dia tidak di langkahi lagi oleh adiknya yang lain, kasihan kan masa jom...
"Kenari! Cukup! Apa kamu belum puas menyakiti dan melukai perasaan adikmu itu?" Pak Jati menghentikan ucapannya Kenari dengan emosi yang meluap-luap.
"Iya mbak, tidak baik membeberkan kekurangan orang lain, apalagi di depan mata kepalanya sendiri. Neng Cempaka telat menikah, itu bukan keinginannya, pasti banyak yang mau untuk jadi suaminya, kata Karmin, calonnya neng Cempaka itu seorang abri dan ganteng lagi, Tapi, entah kenapa kakak sulungnya kekeh menjodohkannya dengan saya, Terus terang saya heran dengan semua ini. Padahal dia begitu cantik dan anggun. Saya juga sampai terpana melihatnya" Ujar mbak Siti.
"Iya, makanya saya paksa dia untuk mau menikah dengan Parmin, biar segera lepas titel jomblo nya" Di akhiri dengan senyuman sinis.
"Astagfirullahaladzim, mbak!" Mbak Siti menegurnya lagi sambil geleng-geleng kepala tak habis pikir.
"Ya sudah, aku mau pulang saja. Kehadiranku di sini tidak di harapkan rupanya" Ujarnya sambil bangkit dari tempat duduknya.
Sebelum berlalu, dia menyalami para tamunya, termasuk Karmin.
Dia menyelipkan sebuah kertas yang di lipat-lipat kecil ke tangannya Karmin, sa'at dia bersalaman dengan Karmin, ada suatu pesan rahasia di sana.
Dengan sigap Karmin langsung mengempitnya di sela jari-jari tangannya, takut kertasnya jatuh dan ketahuan sama orang lain.
Kenari pun pulang ke rumahnya dengan membawa harapan indah.
Niat yang sebenarnya bukan ingin pulang, tapi ingin salaman dengan Karmin, supaya dia bisa memberikan sesuatu yang berisi pesan singkat untuk Karmin.
Karena sudah sore, merekapun tidak jadi pulang sa'at itu. Mbak Siti dan suami serta anaknya tidur di kamarnya Anyelir.
Karmin tidur di ruang tamu seperti biasanya. Sedangkan si Sopir tidur di kamarnya Kilat, Karmin tidak mau tidur berdua bersama sopir, karena ada satu misi yang harus dia selesaikan nanti malam. Seruni tidur bersama Cempaka karena kamarnya di pake oleh Kilat.
Malampun perlahan merayap, setelah jam sepuluh, semua penghuni rumah besar itu masuk ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Karmin sudah masuk ke dalam kamar tamu, sejak jam sembilan tadi. Dia sudah merasa tidak sabar ingin segera membaca pesan dari Kenari. Dia ingin segera mengetahui isinya.
"Ku tunggu kau di rumahku tengah malam nanti, kau harus tidur di kamar tamu. Kunci pintunya dari dalam dan bawa kuncinya di kantong celanamu, biar tak ada yang tahu, kamu keluar perlahan lewat jendela dan tutup rapat-rapat kembali jendelanya, aku sudah tak sabar"
"Kenari, biarlah sekarang Kenari dulu yang aku sikat. Nanti di sana, di rumahnya wak Iyem, giliran kamu Cempaka! Di sana kau tidak akan bisa berkutik, kau pasti menyerah kalah di pelukanku. Sekarang aku puaskan dulu dengan kakaknya, lumayan sudah punya anak juga masih hot! Tunggu Kenari, aku pasti datang" Gumam Karmin dengan senyumannya yang menyeringai.
Diapun lalu duduk di pinggiran tempat tidur, dia berusaha untuk tidak berbaring karena takut ketiduran. Bisa bahaya kalau ketiduran lalu bangun subuh atau pagi-pagi.
Gawat!
Bisa - bisa Kenari marah habis-habisan sama Karmin. Dan Karmin juga bisa hilang kesempatan berdua dengan Kenari.
__ADS_1
Sementara itu, Kenari juga sudah merasa tidak sabar. Setelah menidurkan anaknya, diapun duduk di ruang tamu di temani secangkir kopi supaya tidak ngantuk.
Dadanya berdebar tak menentu, detak jantungnya berdegup sangat kencang. Dia merasa was-was takut Karmin tidak jadi datang.
"Baru jam sepuluh lewat lima belas menit, masih lama banget. Aku harus ngapain biar waktu cepat berputar menjadi jam dua belas, aku sudah tidak sabar lagi ingin segera berada di pelukannya Karmin. Semoga saja mereka tidak jadi pulang tadi sore, semoga saja Karmin tidak lupa membaca pesanku, dan semoga dia tidak ketiduran" Gumam Kenari dengan perasaan was-was.
Beberapa kali dia menatap ke luar jendela, ke arah jalan kecil di depan rumahnya.
"Kalau sekarang Karmin tidak ke sini, kapan lagi dia akan menyirami lahan ku? Harus menunggu berapa lama? Ah, betapa tersiksanya hatiku"
Gumamnya lagi, kopi sudah tinggal sedikit lagi.
Kenari pun bangkit dari tempat duduknya, dia berjalan mondar-mandir dari ruang tamu ke ruang tengah lalu balik lagi ke ruang tamu. Begitu dan begitu dia lakukan hingga berulang kali. Namun, rasa was-was di dalam hatinya kian membuncah.
Jam sebelas lewat sepuluh menit, dia segera mencuci muka, lalu dandan semenarik mungkin. Baju daster yang dia kenakan tadi, dia ganti dengan blues tanpa lengan, dengan bukaan depan yang sengaja tak di kancingkan, di biarkan terbuka. Pendek hanya setengah paha tipis menerawang.
Jam dua belas kurang dua puluh menit, Karmin perlahan membuka daun jendela kamarnya. Tak sedikitpun terdengar decitan, karena sebelumnya setiap engselnya sudah di lumuri minyak goreng yang dia ambil dari dapur.
Pintu kamarnya sudah dia kunci sejak tadi. Dan kuncinya sudah dia kantongi sesuai perintah Kenari.
Kain sarung sudah di siapkan nya, sandal juga sudah dia keluarkan perlahan hingga tak menimbulkan suara.
"Aman"
Gumamnya, diapun keluar dengan segera. Dia tutup kembali jendelanya rapat - rapat.
Setelah menengok sekeliling halaman, dan merasa tak ada bahaya yang mengancam, dia pun segera keluar dari pintu pagar menuju ke jalan kecil yang berada di depannya.
Lampu senter kecil di pegang nya, kain sarung dia kenakan untuk melawan hawa dingin yang menusuk ke dalam tulang sumsum. Juga untuk menutupi wajahnya supaya di anggap sebagai petugas ronda.
Sengaja dia jalan agak memutar, biar tidak melewati pos ronda. Supaya tidak ketahuan sama petugas ronda.
Dari jauh terlihat ada beberapa orang tengah berada di dalam pos ronda.
"Mesti segera sampai ke rumahnya Kenari ini, dinginnya sampai menusuk tulang sumsum, takut ketahuan sama
petugas ronda lagi" Gumamnya, diapun bergegas mempercepat langkahnya supaya lekas sampai ke rumahnya Kenari.
Rumah Kenari sudah ada di depan mata, tinggal beberapa meter lagi.
__ADS_1
Karmin mencoba mengatur debaran di dadanya. Detak jantungnya yang berdegup kencang berusaha dia kendalikan.
Langkahnya dia percepat ingin segera tiba, karena hasrat yang kian menggelora juga takut ketahuan warga.
Sebelum tiba di teras rumahnya, Kenari sudah membukakan pintu untuknya, dengan baju yang menerawang tembus pandang.
Membuat netranya Karmin melotot tak berkedip, jakunnya naik turun dan Karmin menelan ludahnya sendiri.
Setengah berlari dia memburu Kenari, yang tengah berdiri menyambutnya dengan posisi yang sangat menantang.
Secepat kilat pintu segera di kunci lagi oleh Kenari, setelah Karmin berada di dalam dan memeluknya.
"Tidak ada yang melihat kamu?"
Kenari bertanya khawatir.
"Aman" Ujar Karmin.
Kenari tersenyum lega, malam itupun mereka lalui bersama, hingga menjelang waktu adzan subuh terdengar berkumandang di Masjid yang berada di tengah Kampung.
*
"Sudah mau subuh, ayo segera berkemas dan berangkat ke Masjid untuk shalat subuh berjamaah bersama dengan yang lain, supaya orang lain tidak curiga. Kamu sampai di Masjid nya harus duluan sebelum bapak tiba" Ujar Kenari, sambil menggandeng tangannya Karmin menuju ke kamar mandi.
" Kenapa waktu begitu cepat berlalu? Padahal aku masih ingin bersama denganmu" Sahut Karmin.
Kenari tersenyum, kepalanya dia rebahkan di pundaknya Karmin dengan manja.
*
Selesai mereka bersih-bersih, gema Adzan subuh pun mulai terdengar berkumandang. Suaranya menggema ke seluruh penjuru Kampung, membangunkan seluruh ummat Islam yang tengah terlelap tidur.
"Nanti, kalau di tanya kamu keluar nya lewat mana? Bilang saja lewat jendela karena tidak tahu nyimpan kuncinya di mana, gitu saja ya! Biar mereka tidak curiga" Ujar Kenari, sebelum Karmin keluar dari rumahnya.
"Siap!" Sahut Karmin yang sudah siap dengan pakaian lengkapnya untuk pergi ke Masjid.
Siapa sangka satu jam yang lalu dia berbuat suatu hal yang sangat menjijikkan, bersama Kenari sang kakak ipar, aib bagi seluruh Kampung.
******
__ADS_1