Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Keyakinan berbuah perih


__ADS_3

"Barangkali belum, kita tunggu saja sampai besok. Ya sudah, kita sarapan dulu, takut telat sampai ke sekolah. Eh..., Cempaka! Kapan kamu mau ke sekolah lagi? Kasihan anak-anak murid kelas tiga, enggak ada gurunya." ujar pak Jati sambil beranjak ke ruang makan.


"Ayo, kita sarapan dulu!" bu Sekar pun beranjak mengikuti suaminya ke ruang makan.


Setelah selesai sarapan, pak Jati berangkat ke sekolah seperti biasanya. Seruni dan Kilatpun berangkat bersama ke Sekolah nya, mereka baru duduk di bangku SMP, mereka satu sekolahan, tapi beda kelas.


Sedangkan Anyelir sudah duduk di kelas satu SMA.


Bunga dan suaminya, berangkat ke perusahaan tempatnya mereka bekerja.


Di rumah, tinggal bu Sekar dan Cempaka, yang masih malas beraktifitas. Dia belum mau ngehonor lagi, sakit hatinya masih dirasakannya.


Selesai sarapan, semua orang pada berangkat ke tempat aktivitasnya masing-masing. Sedangkan Cempaka, beranjak ke belakang rumahnya, di sana ada saung kecil yang biasa di pakai untuk menjaga padi yang tengah menguning di sawah.


Dia duduk di sana sendiri, dia tatap langit biru dengan sorot matanya yang hampa, menerawang entah kemana.


"Cempaka, kau lagi apa di sini?"


bu Sekar menghampirinya, lalu duduk di depan anaknya.


"Eh..., ibu!" Cempaka melirik kepada ibunya.


"Kita tunggu sampai besok sore ya neng!" bu Sekar mencoba menyakinkan anaknya.


Cempaka hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia tetap merasa tidak yakin dengan ucapan ibunya itu.


"Bu, kenapa ibu begitu yakin kalau Buana akan melamarku? Sedangkan akhir-akhir ini bu Seroja nampaknya menghindar dari ibu, apalagi Buana?" Cempaka mengingatkan ibunya.


" Itu mungkin perasaan kamu saja. Sudah ah, kita jangan berburuk sangka dulu" bu Sekar berkilah.


"Kalau Buana bukan melamar aku, ibu mau bagaimana?" Cempaka ingin tahu sikap ibunya


kalau itu terjadi.


"Enggak mungkin itu terjadi!" bu Sekar tetap yakin, walau di dalam hatinya yang paling dalam, dia mulai merasakan was-was juga.


"Iya bu, kita lihat saja besok," ujar Cempaka.


Mereka pun diam tak berkomentar lagi.Mereka


terbawa lamunannya masing-masing.


*


Sampai hari Jum'at sore, Keluarga bu Sekar setia menunggu kabar dari keluarga Buana, dengan harap-harap cemas.


"Sudah jam enam kurang sepuluh menit, sebentar lagi juga waktunya shalat Maghrib, tapi kenapa ya belum ada tanda-tanda ada yang mau datang dari keluarganya Buana?," bu Sekar berjalan mondar-mandir


sambil sesekali matanya mengarah ke rumahnya bu Seroja.

__ADS_1


Tidak ada yang berkomentar, Bunga dan Kenari yang juga menunggu, hanya saling tatap sambil menggelengkan kepalanya.


Pak Jati dan Kilat juga Sakti, sudah berangkat ke masjid untuk


melaksanakan shalat Maghrib berjamaah.


Anyelir dan Seruni asyik mengerjakan tugas dari sekolahnya.


Sedangkan Cempaka, duduk sendiri di sudut tempat tidurnya.


Dua kejadian yang telah mengiris hatinya, selalu tersimpan di dalam memori otaknya. Yang terus membayangi kesehariannya. Hingga dia terasa susah untuk bangkit dari derita itu. Tragis memang.


"Allahuakbar..., Allahuakbar!" Gema Adzan Maghrib Terdengar berkumandang.


"Anak-anak!Ayo kita shalat Maghrib dulu! Kenari, kau jadi imam ya, Cempaka ayo nak! Shalat Maghrib dulu!" bu Sekar mengingatkan anak-anaknya.


Ba'da Maghrib, ba'da Isya..., tamu istimewa yang dinantikan tak kunjung datang juga.


"Apa..., bi Rora telah berbohong?"


Bu Sekar bergumam, matanya menatap anak-anaknya satu persatu.


"Harusnya ibu tanyain dulu, jangan terlalu yakin dia akan melamar Cempaka." Kenari seperti yang marah.


"Sudah ah, jangan ngebahas soal


"Maksud kamu?,"bu Sekar mendelikkan matanya kepada Cempaka.


"Iyaa, makanya dia berani membawa perempuan lain juga. Apa itu bukan menyakiti? Kitanya tidak peka kalau itu pertanda dia sudah tidak perduli lagi sama kita. Khususnya sama aku. Kalau dari dulu peka, ada yang berniat baik tidak mungkin di tolak dan di usir," mulut Cempaka entah kenapa berani nyerocos begitu.


Bu Sekar diam, hanya matanya mendelik sewot kepada Cempaka.


Cempaka segera beranjak meninggalkan ruang tengah, dia segera masuk ke dalam kamarnya.


Ibunya pasti tidak akan menerima kalau di salahkan. Walaupun ibu memang salah.


Keesokkan harinya, hari sabtu pagi di rumahnya bu Sekar nampak ramai dipenuhi orang-orang, saudaranya semua terlihat ngumpul di sana.


Itu jelas terlihat dari atas, dari tempat Keluarga bu Sekar menjemur pakaian.


"Kak, seperti ada acara ya ka!" Anyelir menunjuk ke rumahnya bu Seroja dengan telunjuknya.


Waktu itu Anyelir dan Bunga tengah berada di atas.


"Eh iya, ya. Ada apa rupanya?" Bunga mengerutkan keningnya.


"Ada kak Buana juga, jangan-jangan..., acara lamarannya kak Buana kak!" tebak Anyelir, dia menatap wajah kakaknya.


"Iya benar, ada Buana juga. Sepertinya benar dia mau melamar seseorang..., tapi, kayak yang mau seuseurahan ," Bunga balik menatap wajah adiknya.

__ADS_1


"Cempaka! Cempaka!"Bunga turun sambil berteriak memanggil adiknya.


"Kakak!Kakak!Bangun kak!"Anyelir berteriak sambil berlari menuju ke kamar kakaknya.


"Ada apa sih? Kok! Heboh banget!" bu Sekar keluar dari kamarnya.


"Bu, lihat di rumahnya bu Seroja. Banyak orang, sepertinya mau berangkat seuseurahan." dengan hebohnya Anyelir memberitahu ibunya.


"Siapa yang mau nikahan?" tanya bu Sekar panik.


"Sepertinya..., Buana bu."ucap Bunga, dia berkata dengan lemas.


"Darimana kalian tahu?" bu Sekar bertanya lagi.


"Ibu lihat sendiri saja! Dari atas, tempat kita jemur baju" ucap Bunga sambil menuntun ibunya dan di bawa ke atas.


"Itu bu, lihat!, Bunga menunjukkan tangannya ke arah rumahnya bu Seroja, yang hanya terhalang Beberapa rumah saja dari rumahnya.


Bu Sekar mengarahkan penglihatannya ke rumahnya bu Sekar. Di sana dia melihat banyak orang yang sudah siap berangkat, setiap orang membawa satu bingkisan seperti untuk hantaran pernikahan.


"Semuanya sudah siap? Kita berangkat sekarang saja, biar tidak panas di jalannya. Mana Buana? Sudah siap belum?" Suara lantang kakak laki-laki nya Buana terdengar sangat jelas di telinganya bu Sekar dan Bunga.


"Bunga, adikmu!" lirih suaranya bu Sekar hampir tak terdengar.


"Iya bu," sudut matanya sudah terasa menghangat.


Tak lama kemudian, tampak Buana keluar dengan memakai jas lengkap, layaknya mau menghadiri resepsi pernikahan atau lamaran.


"Ibu, apa kita berangkat sekarang?"terdengar seseorang bertanya.


"Iya sekarang saja" sahut bu Seroja, terlihat dia menatap ke arah dimana bu Sekar dan Bunga berada, dan tengah mperhatika nya.


Bu Seroja langsung menunduk saat matanya bersirobok dengan matanya bu Sekar, entah apa yang ada di dalam pikirannya.


Namun yang jelas, di dalam hatinya bu Sekar, terasa berdesir perih. Sukmanya terasa di iris sembilu tipis, perih menyayat hati.


"Bungaaa! Kalau begini..., tak mungkin mereka akan ke rumah kita untuk melamar Cempaka"


bibirnya bergetar menahan pilu,


jiwanya hampir roboh, melihat iring-iringan Keluarganya bu Seroja. Yang berjalan tepat di samping rumahnya.


Bu Sekar jatuh terduduk, tulang sendinya tak kuat lagi menopang


tubuhnya. Sudut matanya yang sudah terasa memanas dari tadi,


kini meneteskan buliran-buliran bening airmata duka.


Segala rasa beraduk, bergejolak di dalam dadanya, kecewa, sakit hati, penyesalan, perih dan pedih bercampur jadi satu, bertumpuk di dalam kalbunya.

__ADS_1


__ADS_2