Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Ziarah kubur


__ADS_3

Satu bulan sudah Cempaka mengurung diri kembali di kamarnya. Sejak pertemuan dengan Samudera waktu itu.


Cempaka yang mulai terlihat ceria, kini bermuram durja lagi.


Kedua Orangtuanya mulai bingung lagi. Lebih-lebih bu Sekar yang merasa bersalah, atas apa yang di derita oleh Cempaka.


"Coba di bawa ziarah ke ci anjur bu, di sana ada makam Kramat di atas gunung. Itu adalah makam seorang pemuka agama.


Yaitu orang yang pertama kalinya mengenalkan agama Islam di wilayah ci anjur. Banyak lho buu, yang berziarah ke sana. Kita berdo'a di sana" Besan bu Sekar menyarankan.


"Kasihan Cempaka, masaaa anak secantik dia susah jodohnya. Mending kalau judes atau sombong, dia kan ramah, ayo bu, nanti saya antar." Ucap besannya bu Sekar.


"Baiklah besan, akan saya bicarakan dulu dengan bapaknya anak-anak. Nanti kalau bapaknya setuju, saya akan kabari. Saya ucapkan terimakasih banyak besan." Bu Sekar sangat senang menerima informasi itu.


"Kalau begitu, saya pamit dulu ya besan, Assalamualaikuum" Ibunya Sakti berpamitan.


"Waalaikumsalam... Hati-hati di jalannya ya bu" jawab bu Sekar.


Setelah pak Jati pulang kerja, bu Sekar segera menceritakan apa yang di dengar dari besannya itu.


"Kita coba yu pak!..., sambil mengajak Cempaka jalan-jalan, biar dia tidak ngurung diri terus di kamar. Semua penderitaannya setidaknya kita ikut andil pak" Bu Sekar memohon kepada suaminya biar membawa Cempaka berziarah ke tempat itu


"Iya kita coba, bapak juga tidak tega melihat anak kita seperti itu"


"Bagaimana kalau hari kamis besok?..., kebetulan hari Jum'at nya kan tanggal merah. Jangan sia-siakan kesempatan ini" Ucap pak Jati.


"Iya pak!..., ibu setuju!..., sebaiknya kita siap-siap dari sekarang. Kita beri tahu dulu anak kita sekarang" bu Sekar segera menghampiri pintu kamarnya Cempaka.


"Nak!..., buka pintunya sebentar, ada kabar baik, ibu perlu bicara nak. Sebentar saja kau keluar Cempaka." pinta bu Sekar sambil berdiri di depan pintu kamar Cempaka.


"Iya bu, masuk saja bu. Pintunya tidak aku kunci" Cempaka bangun dari tidurannya, lalu duduk di tepi tempat tidur.


"Sayang, makin hari kamu makin kurus nak!..., ibu minta agar kamu bisa melupakan deritamu sedikit-demi sedikit nak. Tadi ibu punya berita bagus buat kamu, kita harus ke sana untuk berziarah, berdo'a dengan khusyuk di sana. Semoga saja dengan cara ini kamu bisa melupakan pebderitaanmu nak. Sekalian kita jalan-jalan." Ucap bu Sekar sambil membelai rambutnya Cempaka.


"Kamu mau ya?... Besok pagi kita berangkat. Sekarang kamu siap-siap dulu, jangan lupa bawa handuk dan peralatan mandi, baju ganti juga ya nak. Kita nginap di sana." lanjut bu Sekar.


"Iya buu, aku siap-siap sekarang"


Cempaka tidak pernah menolak permintaan ibunya. Apalagi ini untuk kebaikannya.


Cempaka segera mengambil tas besar, dia lalu mengambil beberapa pakaian dan handuk, kemudian di masukkan ke dalam tas yang agak besar.


"Sudah bu, tinggal masukin sabun mandi, odol dan sikat giginya bu. Besok ibu ikut kan?


Mari kita satuin saja baju gantinya"


"Ibu enggak ikut nak, ibu di rumah saja. Kamu perginya sama bapak dan sama adikmu saja. Kalau ibu ikut, di rumah enggak ada Siapa-siapa. Nanti di anterin sama ibunya kak Sakti, beliau kan yang tahu tempatnya"


"Ooh... Ibu enggak ikut?..., kalau begitu, ibu hati-hati di rumah ya bu, semoga Kilat enggak nakal."


Ucap Cempaka. Dia mencoba untuk ceria di hadapan ibunya.

__ADS_1


"Ibu ke dapur dulu ya, mau masak buat bekal besok.Biar besok subuh tinggal ngangetin."


Bu Sekar berlalu meninggalkan kamarnya Cempaka. Dia pergi ke dapur untuk memasak.


"Buu..., ibu mau masak apa?... Aku bantuin ya."


"Kamu mau bantuin ibu?... Ya Allah..., terimakasih ya Allah, ayo nak! Ibu senang mendengarnya."


Bu Sekar membalikkan badannya kembali, dia meraih tangannya Cempaka, menuntunnya ke dapur.


*


Keesokkan harinya, setelah selesai shalat subuh, pak Jati dan tiga orang anak perempuannya berangkat ke statsiun kereta api yang berada paling dekat dengan tempat tinggalnya. Menuju ke statsiun ci anjur, di sana ibunya Sakti akan menunggunya.


"Asyiik..., kita naik kereta apinya


lumayan lama." Seruni berceloteh


sambil memandangi pemandangan dari jendela kereta api.


"Aku juga baru kali ini naik kereta api lama gini." sahut Anyelir.


Cempaka hanya diam saja, dia masih belum bisa menghapus semua penderitaannya yang datang dengan bertubi-tubi itu.


Rasanya, hanya dirinya sendiri yang paling menderita di atas dunia ini.


Pemandangan yang begitu indah,


tak mampu mengusir pedih dan perihnya luka yang menggores lubuk hatinya.


Pak Jati dan ketiga anaknya lalu bergegas turun.


"Ibunya kak Sakti nya mana pak?"


Cempaka baru bersuara, karena sejak tadi dia diam saja.


"Katanya akan menunggu di sini.


Tapi, di sebelah mana ya?" pak Jati mengitari seluruh halaman statsiun dengan matanya.


"Mungkin dia belum kesini, dari rumahnya kan harus naik angkutan dulu. Kira tunggu saja si sini, mungkin dia masih di jalan" Pak Jati duduk di kursi yang berjejer di sana.


Kurang lebih lima menitan kami menunggu, dari gerbang statsiun


terlihat ibunya Sakti berjalan melewati pintu gerbang itu. Diapun nampak celingak-celinguk melihat ke sekeliling halaman statsiun.


"Kak!..., itu ibunya kak Sakti." Ujar


Seruni setengah berteriak. Ketika matanya menangkap sosok mertuanya Bunga.


"Aku panggil ya pak?" Seruni meminta izin dulu kepada pak Jati.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban, dia langsung bergegas menjemput ibunya Sakti, yang masih berdiri di dekat pintu gerbang, bersama seorang anak perempuan sepantaran Kilat.


"Ibuu!..., buu!" Seruni berteriak memanggilnya.


" Neng Seruni."


"Ibu, itu bapak sama kakak lagi nungguin di sana, ayo buu!" Seruni menggandeng tangan ibunya Sakti, sedangkan tangan yang satunya menggandeng bayangan adiknya Sakti. Mereka berjalan menuju ke tempat pak Jati dan kedua anaknya menunggu.


"Assalamualaikum..., pak, sudah lama nungguin?" ucap ibunya Sakti.


"Waalaikumsalam..., eh buu!..., sudah datang rupanya? Lumayan" Sahut pak Jati.


"Kita berangkat sekarang saja, mungpung belum panas. Kalau siang suka susah nyari kendaraannya."


"Ooh begitu ya? Baiklah kita berangkat sekarang. Ayo nak! kita berangkat sekarang." Pak Jati mengajak anak-anaknya.


"Kita kesana pak, itu tempat pengeteman mobilnya di sana. Kebetulan tuh ada yang sudah hampir penuh, jadi tidak akan lama nunggu." Ujar ibunya Sakti


sambil bergegas menuju ke terminal, yang tak jauh dari statsiun kereta api.


"Kalau belum penuh, enggak akan berangkat." ujarnya lagi.


Satu persatu, mereka menaiki kendaraan yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.


"Penuh pir, berangkat!" Keneknya berteriak memberitahukan bahwa mobilnya sudah penuh oleh penumpang.


"Siaaap!" Jawab sopir berteriak.


Kendaraanpun bergerak perlahan


menuju ke puncak gunung, di mana makam yang akan di ziarahi berada.


Jalanan yang menanjak, membuat laju kendaraan itu tidak bisa kencang melaju.


Kendaraan itu melaju perlahan


ke tempat tujuan.


Dari kejauhan nampak di atas puncak bukit itu, sebuah bangunan putih seperti sebuah gedung yang megah.


Katanya, itulah tempat yang akan dituju. Yaitu sebuah makam orang soleh yang pertama menyebarkan agama Islam di daerah Cianjur.


" Nanti di sana sebelum naik ke pemakaman, kita di haruskan mandi, membersihkan badan terlebih dahulu di pancuran yang ada di dekat tangga yang akan menuju ke makam tersebut." ujar ibunya Sakti.


"Pancuran?..., tertutup enggak bu?" Cempaka bertanya, dia merasa takut kalau tempatnya itu terbuka.


"Tertutup Neng, di sana ada bak yang lumayan panjang, ada beberapa pancuran, jadi satu tempat itu bisa untuk tiga atau empat orang mandi di sana. Mandinya pakai kain saja, kain basahan." lanjut ibunya Sakti.


"Selesai mandi, kita harus berwudhu dulu, setelah itu baru kita boleh menaiki tangga tanpa alas kaki. Sendal dan sepatunya di masukkan ke kantong kresek saja, bawa ke atas biar tidak hilang." lanjutnya lagi.


Iya baik buu, terimakasih ibu sudah mau mengantarkan kami ke sana, memberitahu apa yang mesti kami lakukan" ujar pak Jati.

__ADS_1


"Sama-sama pak, kita itu harus saling tolong, saling bantu. Apalagi ini bukan dengan orang lain. Dengan orang lain juga kita harus saling tolong menolong." sahut ibunya Sakti.


Merekapun tidak berbicara lagi, masing-masing menatap indahnya pemandangan alam yang mereka lewati di sepanjang perjalanan.


__ADS_2