Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Kena tipu muslihat Kenari


__ADS_3

Setelah kedatangan Amran ke rumah Cempaka, kehidupan Cempaka mulai menggeliat lagi.


Awan mendung sedikit demi sedikit, di terbangkan angin yang berhembus menerpanya.


Kesehatan pak Jati semakin membaik. Tangan dan kakinya kini sudah bisa di gerakan kembali, walaupun tidak setangkas dulu, sebelum kena strok.


"Anak - anak sudah mulai dekat, sepertinya mereka sudah mulai saling tertarik satu sama lain" Ujar bu Purnama, ibunya Amran.


Sa'at itu, keluarganya Amran tengah bertandang ke rumahnya bu Sekar.


Keluarganya Amran ingin memastikan hubungan antara Amran dan Cempaka.


"Iya bu, semoga saja mereka saling berjodoh" Ujar bu Sekar.


"Aamiin ya rabbal alamin" Ibu Purnama mengaminkannya.


"Sebaiknya kita tentukan saja hari pertunangan mereka. Saya harap, jangan terlalu lama menunggu. Kami ingin segera melihat mereka bersanding di pelaminan" Ujar bu Purnama sambil tersenyum penuh harap.


"Baiklah kalau begitu, kamipun sama, bu. Ingin segera melihat Cempaka bersanding dengan pria impiannya" Bu Sekar pun tak kalah bahagia dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


"Hem" Kedua calon besan itu saling menatap satu sama lain. Bibir mereka menyunggingkan senyuman bahagia.


Dalam angannya, mereka tengah membayangkan kedua anaknya yang tengah bersanding di pelaminan indah.


"Semoga saja tidak ada halangan yang merintanginya seperti yang sudah-sudah" Gumam bu Sekar.


"Semoga saja" Sahut bu Purnama pula.


Mereka berdua begitu akrab berbincang-bincang.


Hingga tidak mereka sadari, ada sepasang mata ****** yang sedari tadi telah mengintainya.


"Kalau si jomblo itu bisa menikah dengan Amran, berarti dia akan mendapatkan suami seorang Guru, sedangkan aku, suamiku hanya seorang sopir! Dan, kini sudah jadi mantan pula. Aku tidak boleh tinggal diam, aku tidak suka kalau si jomblo itu bisa mendapatkan suami yang pekerjaannya melebihi derajat seorang sopir"


Gumamnya.


"Bagaimana kalau bulan depan saja, bu? Tanggal Lima, dan kebetulan pula, hari itu adalah hari libur. Amran dan Cempaka juga libur, jadi waktunya panjang" Bu Purnama mengusulkan.


"Kalau bu Purnama dan keluarga sudah menemukan waktu yang tepat buat acara pertunangannya anak kita, kami ngikut saja. Kami yakin, pasti itu hari dan waktu yang terbaik untuk kita semua" Bu Sekar menyetujui usulan dari bu Purnama, calon besannya itu.


"Tanggal Lima, bulan depan! Berarti tinggal sepuluh hari lagi dari sekarang, kita harus segera siap - siap"


"Saya ingin tahu dulu dari neng Cempaka nya langsung, apakah dia bersedia menerima lamarannya Amran atau bagaimana? Kalau Amran kan sudah pasti bersedia melamar Cempaka"


"Baiklah bu, memang harus begitu. Sepertinya sebentar lagi juga Cempaka datang" Ujar bu Sekar, dia melirik ke arah jam dinding yang tergantung di tembok.


"Sepuluh hari lagi si jomblo mau


di lamar oleh si Amran, bagaimana caranya agar lamarannya tidak jadi" Gumamnya lagi.


"Enak saja si jomblo, enggak jadi sama si Buana yang Polisi, eh sekarang malah dapat si Amran, guru lagi. Dasar, sialan!"


Kini bukan bergumam. Tapi, menggerutu kesal.


"Assalamualaikum" Cempaka mengucapkan salam, sambil mencoba membuka pintu samping. Rupanya dia baru pulang dari tempat kerjanya.


"Waalaikumsalam" Sahut Kenari. Dia segera keluar dari tempat persembunyiannya.


"Cempaka! Kamu sudah pulang?" Tanyanya di buat se ramah mungkin.


"Iya kak! Ibu kemana? Sepertinya enggak ada di rumah" Cempaka menatap sekeliling yang nampak sepi.


"Ibu lagi kontrol bapak ke Rumah sakit" Sahutnya.


"Ooh, pantesan sepi. Aku masuk dulu ya kak!"


"Jangan dulu masuk Ke rumah! Kamu pulang ke rumah kakak saja, kakak juga ini lagi nungguin ibu sama bapak pulang. Pintunya di kunci! Jadi enggak bisa masuk" Kenari mengajak adiknya untuk pulang ke rumahnya.


"Ooh begitu kak? Emh, baiklah kalau begitu, aku ikut ke rumah kakak saja. Aku gerah nih, pingin mandi" Tanpa curiga, Cempaka langsung mengikuti saran Kenari untuk pulang ke rumahnya.


Cempaka tidak tahu kalau ibunya ada di rumah bersama bu Purnama, ibunya Amran.


Kenari sengaja membawa Cempaka ke rumahnya, biar dia tidak bertemu dengan ibunya Amran.


"Kalau mau makan, tuh kakak masak sayur gudeg nangka. Itu kesukaan kamu kan?"


"Iya kak, tapi aku mau mandi dulu, gerah. Aku pinjam handuk ya!"


"Ini handuk yang ini saja, handuk yang masih bersih! Yang itu kan sudah di pakai sama kakak" Kenari menyodorkan handuk yang dia ambil dari dalam lemari.


"Terimakasih kak, aku mandi dulu" Cempaka segera masuk ke kamar mandi.


"Kalau mau makan, ngambil saja sendiri di meja makan! Kakak mau keluar dulu sebentar!" Teriak Kenari, dia bergegas keluar dari rumahnya, entah mau pergi ke mana.

__ADS_1


Selesai mandi, Cempaka langsung makan dengan lahapnya.


Sama sekali dia tidak tahu apa yang tengah di rencanakan oleh Kenari, kakak sulungnya itu.


Kenari sengaja meninggalkan Cempaka di rumahnya. Dia sengaja pergi ke warung yang agak jauh dari rumahnya.


"Kemana Cempaka ya? Sudah sore begini, kok! belum pulang juga" Bu Sekar mulai khawatir.


"Biasanya pulang jam berapa, bu?"


"Jam lima juga biasanya sudah di rumah" Sahut bu Sekar gundah.


"Kalau sampai lewat Maghrib, belum pulang juga. Saya mau pulang saja bu!" Bu Purnama mulai resah.


"Cempaka, kamu kemana? Bikin ibu khawatir saja, biasanya juga enggak pernah seperti ini, pulang telat"Bu Sekar menatap ke luar pintu, dia berharap yang di tunggu akan nongol di sana.


"Kak Kenari kemana ya? Sudah mau Maghrib, pasti ibu sama bapak sudah pulang. Aku harus segera pulang ke rumah, ibu sama bapak takutnya khawatir. Tapi, masa aku pergi tanpa pamit sama kak Kenari" Cempaka juga tidak kalah risau dan gelisah.


Sementara itu, Kenari asyik di warung bakso. Setelah selesai makan bakso, bukannya pulang. Tapi, dia malah pura - pura ngebantuin nyuci mangkuk sambil ngobrol ngaler - ngidul.


Dia sengaja melakukan hal itu, supaya Cempaka telat pulang ke rumah, jadi tidak akan bertemu dengan ibunya Amran. Karena, mereka sudah pulang.


Jadi, rencana penentuan waktu acara tunangannya pasti gagal!


Dia tersenyum sambil mengeringkan tangannya.


"Mbak! Saya pamit ya! sudah mau Maghrib" Kenari pamitan kepada penjual baksonya.


"Terimakasih ya mbak! Sudah bantuin saya"


"Sama - sama mbak" Kenari pun berlalu dengan senyuman tanda kemenangan di bibirnya.


"Allahu Akbar Allahu Akbar"


Kumandang adzan Maghrib sudah terdengar dari Masjid, pertanda waktu sholat Maghrib telah tiba.


"Alhamdulillah, waktu sholat Maghrib telah tiba. Tapi, kenapa Cempaka belum pulang juga?" Bu Sekar semakin khawatir saja.


"Selesai shalat Maghrib, kami mau pamit dulu. Sepertinya acara tunangannya kita atur lagi saja lain kali, sepertinya tidak akan bisa di laksanakan tanggal Lima di bulan depan" Bu Purnama sepertinya kecewa, karena Cempaka yang di tunggu nya belum juga datang.


"Apa enggak menunggu dulu sebentar lagi bu" Bu Sekar mencoba menahannya.


"Takut kemalaman di jalannya bu, lain kali saja kami ke sini lagi, sekarang kami mau ikut shalat Maghrib dulu"


*


Selesai shalat Maghrib, merekapun beranjak dari rumahnya bu Sekar untuk pulang kembali ke rumahnya.


"Kak Kenari, kemana ya? Aku sudah sholat Maghrib juga, dia masih belum pulang. Memangnya dia itu pergi ke mana sih?" Cempaka mulai risau.


Sedangkan Kenari, dia tersenyum sendiri sambil mengintip adiknya yang tengah gundah.


"Nanti Cempaka, tunggu sebentar lagi! Ba'da Isya, baru aku lepaskan!" Gumamnya sambil menyeringai penuh dendam.


"Kalau aku pulang tanpa pamit dulu kepada kak Kenari, nanti pasti dia akan marah. Tapi, kalau aku tidak pulang sekarang, makin lama hari semakin malam. Aduuuh, gimana ini?" Cempaka gelisah.


Dia mondar-mandir di rumahnya Kenari, dari teras ke belakang dan sebaliknya.


"Sebentar lagi jam tujuh, berarti waktunya sholat Isya sudah tiba. Tapi, kenapa kakak belum pulang juga? Kemana dia sebenarnya?" Cempaka semakin cemas, semakin khawatir dan juga takut di marahi oleh orangtuanya.


"Allahu Akbar Allahu Akbar" Gema Adzan Isya sudah mulai berkumandang.


Cempaka nampak panik sekali. Karena, tak pernah dia sampai telat seperti ini pulang ke rumah.


"Ya Allah, tolong aku" Dia mulai menangis, gelisah kian membuncah.


Dia takut di marahi oleh kedua orangtuanya, dia juga merasa khawatir dengan kakak sulungnya yang masih belum pulang juga. Dia takut terjadi apa-apa terhadap kakak dan keponakannya. Selain itu, dia juga takut nanti pulangnya sendiri, mana harus melewati kebun bambu dan pemakaman lagi, mana belum ada penerangan yang memadai lagi.


"Sebaiknya aku sholat Isya dulu saja, siapa tahu selepas Isya, kak Kenari datang dengan selamat" Cempaka berharap.


Padahal yang di tunggu tunggunya, lagi asyik memantau dirinya yang tengah gelisah dari kejauhan.


"Sepertinya dia lagi sholat Isya,


nanti ah sepuluh menitan lagi aku keluar dari persembunyian ku ini, aku minta ma'af, pura-pura ada ini itu lah. Yang penting, aku bisa menahannya biar dia tidak bertemu dengan Amran dan ibunya hari ini!" Senyumnya mengembang sempurna.


Jam tujuh lewat dua puluh menit, Kenari bangun dari tempat duduknya, dan keluar dari tempat persembunyiannya.


Perlahan dia melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya. Yang hanya beberapa meter jaraknya dari tempatnya bersembunyi.


"Assalamualaikum, Cempaka" Dia mengucapkan salam dengan nafas yang di buat terengah-engah, seakan-akan memang dia baru sampai di sana.


"Waalaikumsalam, kakak! Ada apa kak? Kenapa baru pulang? Kakak tidak apa-apa kan? Cemara, kamu baik - baik saja kan, sayang?" Cempaka bertubi-tubi memberikan pertanyaan kepada kakaknya, dia takut terjadi apa-apa kepada kakak dan juga keponakannya.

__ADS_1


"Hah! Huh! Huuuh!" Kenari bersandiwara, dia mengatur nafasnya yang seakan-akan terengah-engah kecapean.


"Duduk dulu kak! Tarik nafasnya perlahan-lahan. Sebentar, aku ambilkan air putih hangat dulu ya, biar kakak sedikit tenang" Cempaka segera bergegas ke dapur, hendak mengambilkan air hangat untuk kakaknya.


Kenari mengangguk.


Di dalam hatinya dia bersorak sorai, rencananya berhasil! Perangkapnya tepat mengenai sasaran. Tak - tik nya jitu, dan siasatnya sempurna.


"Ini kak, minum dulu airnya kak! Biar perasaan kakak tenang"


Ujar Cempaka dengan lembut.


"Iya Cempaka, terimakasih" Kenari memberikan cangkir yang berisi air hangat.


"Kakak dari mana saja? Tolong jawab aku kak!" Cempaka meminta jawaban dari Kenari, setelah Kenari meletakkan kembali cangkir yang airnya telah di minumnya.


"Emh, kakak tadi ke warung hendak membelikan sesuatu untuk kamu. Tapi, sebelum sampai ke warung, kakak ketemu sama teman kakak yang rumahnya di kampung sebelah, katanya dia mau menemui kakak. Ada kabar baik dan, kakak harus ke sana sa'at itu juga. Ya sudah saya ngikut saja. Mau pulang dulu, kelamaan" Jawab Kenari, berdusta.


"Lalu, ada apa di sana kak?" Cempaka penasaran.


" Ada lowongan pekerjaan, di warung nasi yang di belokan dekat Sekolah itu. Kamu tahu kan?"


"Iya tahu kak. Itu kan warung nasi nya lumayan rame dan lumayan besar lagi. Apa kakak mau kerja di sana?" Cempaka ingin mengetahuinya.


"Tadinya mau sih, makanya kakak langsung berangkat juga. Tapi, setelah tahu kerjanya sampai jam delapan malam, ya kakak enggak mau lah. Kasihan Cemara kalau harus di tinggal sampai malam" Ujar Kenari beralasan.


"Iya kak, kasihan Cemara kalau begitu. Emh, syukurlah kalau cuma itu yang membuat kakak telat pulang ke rumah. Ngomong- ngomong sekarang sudah jam delapan, kak. Aku harus pulang kak! Kasihan ibu sama bapak takut khawatir, aku kan tidak biasa pulang setelat ini"


" Kamu berani gitu pulang sendiri?" Tanya Kenari.


"Enggak"


"Kalau kakak nganterin, berarti kakak harus nginap di rumah ibu. Kakak enggak berani kalau harus pulang berdua sama Cemara ke sini"


"Iya kakak nginap saja di sana, ya kak ya!" Cempaka membujuknya supaya mau mengantarkan dirinya pulang.


Kenari diam sesa'at, sepertinya tengah berpikir.


"Bagaimana kalau minta di anterin sama kang Dedi saja, kalau tidak salah dia sekarang kerja malam, masuk jam sepuluh. Biasanya dia suka berangkat jam sembilan lebih, dia kan suka lewat sini, lewat depan rumah kakak" Kenari memberikan usulan.


"Baiklah kak kalau begitu, aku akan bareng saja dengan kang Dedi" Cempaka menyetujuinya.


Kenari tersenyum bahagia. Dan, dia tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya.


"Jebakan ku sudah termakan olehnya! Cempaka! Cempaka! Kau ini sangat lugu sekali" Gumam Kenari, bibirnya tak lepas dari senyuman.


"Baru jam sembilan kurang" Cempaka bergumam resah.


"Sebentar lagi dek! Kamu tunggu saja di depan, biar kalau kang Dedi lewat, kamu bisa melihatnya"


"Sebentar lagi pasti dia lewat"


Kenari keluar menemui Cempaka.


"Tuh, kang Dedi!" Kenari menunjuk seorang lelaki, yang tengah menuju ke arah rumahnya Kenari, dengan sepedanya.


"Kang! Kang Dedi! Sini sebentar!" Kenari memanggil kang Dedi.


"Ada apa teh?"


"Kang Dedi mau berangkat kerja?" Tanya Kenari.


"Iya teh, ada apa?"


"Sekalian anterin Cempaka ya! Kang Dedi melewati rumah ibu, kan? Iya bu Sekar"


"Ooh, neng Cempaka mau bareng sama saya?"


"Iya, dia takut kalau pulang sendiri, sudah malam! Saya tidak bisa nganterin" Ujar Kenari.


"Ooh, boleh. Hayu neng!" Ujar kang Dedi.


"Terimakasih, kang Dedi. Ma'af sudah merepotkan"


"Enggak apa-apa"


"Aku pulang dulu ya kak, Assalamualaikum" Cempaka pamitan.


"Waalaikumsalam, hati-hati ya!"


"Iya kak"


Kang Dedi mengayuh sepedanya perlahan, meninggalkan Kenari yang tersenyum bahagia, karena, siasatnya berhasil.

__ADS_1


"Cempaka! Cempaka!" Kenari tersenyum licik.


__ADS_2