
Beberapa bulan kemudian Anyelir mulai berani membawa teman laki-lakinya ke rumah.
Dia kenalkan temannya itu kepada kedua orangtuanya. Karena Katanya dia mau serius membina hubungan dengan Anyelir.
"Bu, ini Petir. Teman kerjanya Anyelir" Ucap Anyelir di suatu siang. Kala itu Anyelir tengah kebagian kerja ship siang. Masuk jam dua siang, pulang jam sepuluh malam.
"Ooh, Saya ibunya Anyelir" Ujar bu Sekar.
Kala itu Petir sengaja berkunjung ke rumahnya bu Sekar, untuk menjemput Anyelir.
Sebelumnya Petir dan Anyelir sudah janjian. Petir akan datang kira-kira jam sepuluhan siang. Karena waktu itu Cempaka sudah berada di tempat kerjanya. Jadi, mereka tidak merasa canggung.
Pertama kali dia bertandang ke rumahnya bu Sekar, ketika tahu Cempaka sedang tidak ada di rumah, yaitu sedang kerja.
Begitulah mereka main kucing-kucingan dengan Cempaka.
Setiap kerja siang, hampir setiap hari Petir menjemput Anyelir di rumahnya.
"Kalian sudah lama saling kenal?" Ucap bu Sekar bertanya.
"Sudah setahunan lebih bu" Sahut Petir.
"Rencananya kami ingin segera meresmikan hubungan ini buu, biar tenang" Ujar Petir.
"Ohek... Ohek..." Bu Sekar tiba-tiba saja tersedak mendengar ucapannya Petir
"Oooh... Emh... Iya, iya itu... Itu memang seharusnya. Tapi...
Bu Sekar menjawabnya dengan gugup dan juga tidak di lanjutkan.
Dia melirik kan sudut matanya kepada Anyelir, seakan minta pendapatnya.
"Tapi, apa bu?" Susul Petir kemudian. Dia menatap bu Sekar
kemudian menatap Anyelir secara bergantian.
Bu Sekar merasa bingung, dia tidak langsung menjawabnya, dia menatap anaknya.
"Emh... Ma'af kalau perkataan saya ini salah" Susul Petir lagi. Dia jadi merasa bersalah.
"Emh... Tidak! Tidak salah. Sebaliknya ma'afkan kami, karena kami tadi tidak bisa langsung menjawabnya." Bu Sekar segera menetralkan suasana.
"Emh... Begini sebenarnya, Anyelir kan masih punya seorang kakak perempuan, dia itu belum punya suami, malahan teman dekat laki-laki juga dia enggak ada. Jadi... Untuk sa'at ini, mungkin kami belum bisa menerima niat baiknya nak Petir,
karena, kami merasa tidak tega
kalau kakaknya harus di langkahi," Bu Sekar menjelaskannya perlahan.
"Maksudnya?" Tanya Petir, sejurus kemudian.
"Iya, maksudnya untuk waktu dekat ini ma'afkan kami, karena kami belum bisa menerima niat baiknya nak Petir. Kecuali, nanti kalau kakaknya Cempaka minimal sudah punya calon" Susul bu Sekar, mencoba menjelaskan alasannya.
"Kenapa bisa begitu buu? Mungkin kakaknya Anyelir belum ketemu dengan jodohnya saja. Sedangkan Anyelir sudah dipertemukan dengan jodohnya,
__ADS_1
yaitu saya. Apa tidak lebih baik untuk menerima siapa dulu saja yang duluan mendapatkan jodoh, walaupun dia itu bukan anak yang paling besar. Tapi, ini ma'af ya buu, bukannya saya ngajarin"
Ujar Petir mengungkapkan pendapatnya.
"Dia itu sudah banyak menderita,
sudah sering di kecewakan, sudah berulangkali hatinya sakit gara-gara kami. Sudah dua kali kakaknya Anyelir itu mau tunangan. Tapi, dari pihak kami adaaa saja kendalanya hingga batal tunangannya. Akhirnya, calonnya itu menikah dengan orang lain. Setelah kejadian itu, dia jadi murung dan mengurung diri di kamar hingga beberapa bulan. Baru beberapa bulan ini dia mau aktivitas lagi" Ujar bu Sekar mencoba untuk menjelaskannya.
Di dalam hatinya, bu Sekar merasa bersalah dengan dua kejadian yang menimpa Cempaka beberapa waktu lalu.
Dua kali kejadian yang menyakiti hati Cempaka, keduanya bu Sekar ikut andil.
Pertama waktu Cempaka mau di lamar oleh Buana, gagal karena dia tidak bisa meyakinkan Bunga, kakaknya Cempaka.
Lalu, waktu Samudera ingin meminang Cempaka. Dirinya tidak mengizinkannya. Karena alasan menunggu Keputusan dari Buana. Padahal akhirnya Buana menikahi perempuan lain.
Karena itu, dia tidak tega kalau harus menambah rentetan derita lagi buat Cempaka.
"Bagaimana kalau di bicarakan dulu secara baik-baik. Mungkin, kak Cempaka akan mengerti dan mengizinkannya" Tutur Petir, dia mencoba menuturkan solusinya.
"Tapi, ibu tidak berani untuk membicarakannya. Ibu takut nanti dia akan sakit hati lagi. Ibu tidak sanggup melihatnya kalau sampai dia menderita lagi" Bulir bening mulai memenuhi kelopak matanya bu Sekar.
Dia merasa sedih ketika membayangkan Cempaka bila harus sakit hati lagi, menderita lagi dan kecewa lagi.
Tetes bulir bening itu akhirnya luruh juga membasahi kedua pipinya.
"Bagaimana nasib hubungan cinta kita, kalau seperti begini?"
"Itulah, makanya aku enggak mau kamu menemui orangtuaku.
Sekarang sudah tahu kan, kenapa selama ini aku melarang mu! Kata aku juga, nanti, nanti!"
Sahut Anyelir ngedumel jadinya.
"Aku kan enggak tahu begini alasannya. Memangnya kenapa sih? Kakakmu itu sampai tidak mau nyari pendamping." Susul Petir sepertinya dia penasaran.
"Begini ceritanya...
Anyelir lalu membeberkan kejadian demi kejadian yang membuat Cempaka menderita"
Petir mendengarkannya dengan seksama. Sepertinya dia tidak mau ada yang terlewatkan walau hanya satu kata saja.
Bu Sekar merenung karena merasa kebingungan sendiri. Dia tidak berkomentar sedikitpun sa'at Petir dan Anyelir terdengar kasak-kusuk tentang Cempaka.
"Naah! Begitu ceritanya. Memang aku juga sangat kasihan dengan nasibnya itu. Adaaa saja kendalanya" Ucap Anyelir menyudahi cerita tentang apa yang di alami oleh kakaknya itu.
"Emh... Kasihan juga dengarnya.
Tapi, kalau kakakmu itu lama tidak menemukan jodohnya, berarti... Kita juga akan terkatung-katung tidak karuan. Apa kamu mau seperti kakakmu
juga?" Ujar Petir menggoyahkan hatinya Anyelir.
"Yaa enggak! Jangan sampai aku mengalami nasib buruk seperti kak Cempaka." Ujar Anyelir sambil bergidik.
__ADS_1
"Yang membuat ibu tidak tega menyampaikan kabar ini kepada Cempaka, karena hal ini persis seperti yang pernah di alami olehnya. Waktu itu Cempaka akan di lamar oleh Buana, sedangkan Bunga, kakaknya Cempaka belum menikah tapi sudah punya calonnya." Bu Sekar mencoba untuk menjelaskannya.
"Waktu itu, Bunga ngamuk. Kami menganjurkan supaya Bunga meminta Sakti supaya segera melamarnya, sebelum Buana melamar Cempaka. Dia keukeuh tidak mau. Dia malu, dia maunya Sakti yang berniat sendiri. Dan akhirnya Bunga minggat dari rumah, serta mau bunuh diri pula. Ibu sampai ngeri melihatnya" Ujar bu Sekar. Dia terkenang kala itu.
"Kala itu ibu tidak mampu untuk
meyakinkan Bunga. Hingga akhirnya Cempaka mengalah. Dan Buanapun berangkat ke tempat tugasnya. Tak lama kemudian Sakti bertunangan dengan Bunga, sebulan kemudian merekapun menikah.
Tapi, entah kenapa Buana malah nikah dengan perempuan yang baru dia kenal di daerah tempat tugasnya." Lanjut bu Sekar kemudian.
"Kalau sekarang Cempaka di langkahi, coba bayangkan... Bagaimana perasaan hatinya. Dulu dia tidak boleh melangkahi kakaknya. Tapi... Kali ini, dia harus rela di langkahi... Coba bayangkan! Bagaimana hancur hatinya Cempaka" Bu Sekar menangis pelan, dia tidak berani untuk membayangkannya.
"Begitu nak Petir, ibu merasa bingung jadinya. Ibu tidak akan
tega melihatnya menderita. Jadi,
ma'afkan kami. Mungkin lain kali saja, iya maksudnya jangan sekarang! Gimana kalau nunggu
dulu Cempaka punya teman dekat. Siapa tahu besok atau lusa dia sudah mendapatkannya.
Atau... Bagaimana kalau kalian bantu carikan?" Bu Sekar mengajukan sebuah solusi.
"Bagaimana Anye? Masa kamu tidak mau menolong kakakmu?
Masa kamu tidak merasa kasihan sama kakakmu itu? Begini saja, jangan melihat kakakmu! Lihat ibu saja, karena sedikitnya apa yang terjadi pada kakakmu itu adalah akibat ulah ibu juga. Kamu paham kan?"
Bu Sekar mencoba meminta bantuan kepada Anyelir dan Petir.
"Iya bu, baiklah akan aku coba. Semoga saja aku menemukan orang yang cocok dengan kak Cempaka" Akhirnya setelah berdiam diri sebentar, Anyelir menjawabnya.
"Sudah jam setengah dua bu, aku harus segera berangkat kerja" Anyelir melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oh iya buu, saya juga mau permisi, saya mau kerja dulu" Ujar Petir, dia juga berpamitan untuk berangkat kerja.
"Oh iya... Kalian hati-hati ya!" Bu Sekar mewanti-wanti.
"Iya buu, Assalamualaikuum..."
"Waalaikumsalam..." Sahut bu Sekar menjawab salamnya Petir dan Anyelir.
Keduanya pun lalu berangkat ke tempat kerjanya.
Sedangkan bu Sekar menjadi bingung sendiri.
"Aku tidak mungkin membiarkan
Cempaka menderita lagi. Aku tidak mungkin rela kalau Anyelir melangkahinya. Sedangkan dulu Cempaka mengalah kepada Bunga, dia rela tidak jadi bertunangan dengan Buana, hanya karena Bunga belum nikah. Masa, sekarang Cempaka harus di langkahi oleh adiknya?"
Gumam bu Sekar.
Pikiran bu Sekar yang belum tenang, kini harus di tambah lagi dengan masalah yang baru.
Masalah yang dulu juga belum bisa dia pecahkan, kini masalah baru yang lebih rumit sudah menyapanya lagi.
__ADS_1