Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Kelicikan Karmin


__ADS_3

"Kamu kasih tahu kedua orangtuamu saja !" Usul wak Iyem setelah mereka kembali sampai di rumah.


"Uhuk... Jangan wak! Jangan sampai mereka tahu masalah ini!" Karmin yang tengah minum teh manis yang di buatkan oleh Cempaka, langsung tersedak ketika mendengar apa yang di usulkan oleh wak Iyem.


"Bisa fatal akibatnya kalau saja mereka tahu rencana busuk ini" Batinnya.


"Kenapa tidak boleh? " Cempaka merasa heran.


Karmin menggelengkan kepalanya, dia simpan kembali cangkir yang isinya tinggal separuhnya.


"Mereka kan sawahnya luas, hasil panennya juga melimpah ruah. Sekali panen bisa menghasilkan ratusan kuintal hingga satu ton gabah, uwak rasa demi masa depan anak lanang satu-satunya mereka tidak akan merasa keberatan kalau harus menjual padinya" Wak Iyem melanjutkan perkataannya yang tadi sempat terpotong.


"Bisa gawat akibatnya kalau sampai mereka tahu. Darah tinggi mereka pasti akan kambuh, saya tidak mau itu terjadi kepada bapak dan Ema"


Ujar Karmin seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Ya bicaranya pelan-pelan jangan grasak-grusuk, biar uwak yang bicara"


"Jamgan wak! Saya mohon uwak simpan masalah ini jangan sampai mereka tahu, saya tak berani menanggung akibatnya" Karmin memohon kepada wak Iyem dengan berlutut di hadapan nya wak Iyem.


"Kenapa sampai segitunya dia memohon-mohon kepada wak Iyem? Apa memang benar dia begitu sayangnya sama kedua orangtuanya, ataukah... Ada sesuatu yang dia coba sembunyikan, seperti halnya pernikahan ku dengannya sampai detik ini aku belum bertandang ke rumahnya mertuaku, belum mengenal siapa bapak mertuaku?" Cempaka membatin, netranya tak lepas menatap kelakuan Karmin yang seperti ketakutan itu.


"Kenapa kamu segitunya? Seperti yang sangat ketakutan. Ada apa sebenarnya?" Tanya wak Iyem pula.


"Enggak... Enggak apa-apa, cuma itu saja, takut tensi darahnya naik lagi" Ujar Karmin, diapun kembali mendaratkan bokongnya di tempatnya semula.


"Kalau berupaya pada kedua orangtuamu tidak boleh, lalu rencana kamu bagaimana? Apa kamu punya uang segitu?" Pancing wak Iyem.


Cempaka dari tadi hanya memperhatikan tingkah Karmin, di dalam hatinya ada suatu kecurigaan yang mencuat, dia mencoba untuk mengenyahkan kecurigaan itu.


"Sa- saya emh, mau minta bantuan istri saya ini. Barangkali dia punya simpanan" Karmin melirik kepada Cempaka, dengan harapan Cempaka punya simpanan uang hasil kerjanya dulu sebelum menikah dengannya.


"Huuuh!" Cempaka menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia tidak berkomentar apapun.


"Dek! Tolong saya ya! Buat masa depan kita, biar saya tidak jadi pengangguran" Hibanya minta di belas kasihan.


"Aku tidak punya" Sahut Cempaka singkat.


"Lalu, pekerjaan saya bagaimana?"


"Kalau dari sana di keluarkan, ya nyari lagi kerjaan lain" Sahutnya.


" Bener itu kata si Nok! Seorang laki-laki jangan cengeng! Jangan bergantung pada belas kasihan istri"

__ADS_1


Wak Iyem setuju dengan penuturannya Cempaka.


"Tapi wak, kerja di sana itu enak tidak terlalu cape, hasilnya juga lumayan kalau saya sudah di angkat jadi pegawai tetap, banyak bonusnya lagi"


Karmin berkilah.


"Kalau uwak terus terang tidak bisa membantu, uang pensiunnya uwak hanya cukup untuk makan. Kalau uwak menjual sawah atau kebun..."


"Jangan wak! Tidak perlu uwak melakukan semua itu! Biarlah kami yang akan mencari solusinya, iya kan dek?" Karmin mengerling kan matanya memberi isyarat kepada Cempaka.


"Iya wak, enggak usah ikut-ikutan repot dengan masalahnya Karmin! Apalagi sampai menjual sawah atau kebun segala. Di kasih tumpangan untuk tinggal di sini saja sudah bersyukur" Cempaka mengerti isyarat dari Karmin.


"Untuk membantu suaminya seorang istri pasti punya suatu cara yang jitu, iya kan dek?" Karmin menatap jari jemarinya Cempaka, di mana di sana terselip dua buah cin-cin emas putih yang lumayan bila di jual. Itu adalah cin-cin hasil kerja Cempaka sebelum dia mengenal Karmin.


Mengetahui Karmin punya niat untuk menjual cin-cinnya. Cempaka jadi teringat akan kakak sulungnya, yaitu Kenari yang selalu ingin meminjam cin-cin yang di pakainya itu dengan berbagai alasan.


"Aku mau menyiapkan makanan untuk kita makan siang nanti" Cempaka tak menanggapi perkataannya Karmin, dia pun berlalu menuju ke dapur.


"Iya Nok, hampir lupa" Wak Iyem mengekor di belakang Cempaka.


Tinggallah Karmin sendiri di sana. Dia memutar otaknya mencari cara supaya Cempaka mau menjual cincin nya dan mencarikan pinjaman uang kepada saudaranya untuk menambal kekurangannya.


Tak lama makan siang sudah tersedia di atas meja makan.


Wak Iyem dan Cempaka sengaja tidak memperdulikannya, dia pura-pura tidak melihatnya.


Karmin tidak menghabiskan makanan yang di piringnya. Dia makan hanya beberapa suap saja. Itu dia lakukan hanya untuk menarik perhatiannya Cempaka supaya mau membantu dirinya. Tapi, sepertinya Cempaka tidak meresponnya.


"Sudah makannya, wak?" Cempaka malah bertanya pada wak Iyem yang telah selesai makannya.


"Sudah, Nok! Seperti biasanya masakan mu enak sekali. Ayo kita bereskan bekas makannya!" Wak Iyem membawa piring kotor ke dapur, di ikuti oleh Cempaka yang mem bawa makanan sisa.


"Huuuh!" Karmin mendengus kasar.


Cempaka dan wak Iyem pura-pura tidak mendengarnya.


"Biarkan saja, Nok! Biar dia usaha sendiri! Lagian uwak merasa tidak yakin sama itu aturan"


"Aku juga begitu, wak! Terasa ada yang janggal" Lontar Cempaka.


"Rupanya kamu suka ya kalau saya jadi pengangguran? Silahkan saja kalau kamu mau mencari nafkah buat makan kita selama saya nganggur!"


Tiba-tiba Karmin menyerang mereka dengan kata-kata yang seolah-olah menyalahkan kepada Cempaka.

__ADS_1


Hah...


Cempaka dan wak Iyem kaget, keduanya spontan memutar badannya ke arah datangnya suara.


"Apa kamu bilang? Kenapa menyalahkan aku? Kamu mau menyerahkan tanggung jawab mu sebagai kepala rumah tangga kepadaku? Kamu mau menukar tulang punggung menjadi tulang rusuk? Oke! siapa takut? Aku sudah biasa nyari uang sendiri" Tak di nyana oleh Karmin kalau Cempaka akan menjawab seperti itu.


Bep!


Mulut Karmin terdiam seketika. Dia jadi salah tingkah, merasa bersalah karena telah melontarkan kata-kata yang berbalik jadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Bagaimana tidak?


Dia merasa takut Cempaka minta pisah dan rencana dia dengan Kenari untuk mendapatkan uang dari Cempaka akan gagal total.


Buru-buru Karmin meminta maaf dan memasang muka melas setelah dia terpikirkan hal itu.


"Ma'af dek! Bukan maksud saya begitu, ma'af saya keceplosan asal bicara" Ucapnya menghiba.


Mengharap Cempaka bisa luluh hatinya.


"Kalau ngomong itu ya di pikirkan dulu, jangan asal ceplos!" Cibir wak Iyem.


"Iya wak, saya tidak akan mengulanginya lagi, saya janji! Itu terserah dek Cempaka mau bantu atau tidak, saya akan berusaha sendiri mencari uang untuk membayar denda itu biar saya bisa terap kerja di sana" Tutur katanya Karmin melemah.


Cempaka tak berkomentar, dia hanya melirik ke arah Karmin. Lalu, sibuk lagi dengan piring cuciannya.


"Dek! saya pamit dulu ya, saya mau ngojeg saja nyari uang tambahan, mudah-mudahan saja bisa membayarkan uang dendanya" Karmin bersandiwara dengan suara yang di buat selembut mungkin.


"Bagus itu! Memang harus begitu kalau jadi kepala rumah tangga. Siap menikah berarti siap segalanya! Siap memberi istrinya makan, pakaian dan tempat tinggalnya, jangan hanya siap tidurnya saja!" Wak Iyem nyerocos bagaikan suara petasan.


"Iya wak, saya pamit wak" Sahut Karmin lembut. Setelah mencium punggung tangannya wak Iyem diapun berpamitan.


"Dek! Saya pamit mau ngojeg dulu ya, do'akan biar penumpang nya banyak" Karmin pun mencium punggung tangannya Cempaka, di susul oleh Cempaka yang melakukan hal yang sama.


"Iya, hati-hati!" Ujar Cempaka mengantarkan Karmin hingga di ujung teras.


"Saya baru ingat kata bu Kenari dia itu tak mau kalau dengan cara yang kasar. Cempaka paling tidak tahan kalau melihat dan mendengar kesedihan dan kesusahan orang lain. Saya akan bersandiwara supaya dia tergerak hatinya untuk membantu mencarikan uangnya" Karmin tersenyum dengan akal bulus di benaknya.


Cempaka menatap punggung Karmin hingga menghilang di telan oleh tikungan jalan.


"Kalau benar surat peringatan itu, kasihan juga Karmin. Tapi, aku uang darimana?" Bathin Cempaka mulai goyah.


***

__ADS_1


__ADS_2