Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Tak sengaja bertemu


__ADS_3

Setelah beberapa kali berkunjung ke rumahnya bu Ustadzah Fatimah untuk berkonsultasi dan meminta saran darinya, keadaan Cempaka lumayan agak membaik.


Dia mulai mau keluar dari dalam kamarnya, bergabung sama adik-adiknya nonton TV barengan, tidak mengurung diri terus di dalam kamar.


Kadang dia menjahit, menjalankan kembali hobinya.


"Alhamdulillah pak, ada perubahan pada anak kita, dia tidak murung lagi seperti waktu kemarin."bu Sekar nampak bahagia waktu melihat Cempaka tengah menjahit baju.


"Mudah-mudahan saja anak kita bisa melupakan penderitaannya.


Nanti lagi, bapak tidak akan membuatnya menderita lagi, bapak menyesal telah memisahkannya dengan Samudera." ujar pak Jati, dia menatap anaknya penuh dengan penyesalan.


"Semoga saja pak," sahut bu Sekar.


"Ayo ah! Jangan perhatikan dia terus, nanti takutnya dia merasa enggak enak." bu Sekar beranjak dari tempat yang biasa suka di pakai menjahit.


"Tinggal ngobras dan ngelobang kancing." gumam Cempaka, sambil membeberkan bahan yang baru saja dia potong, untuk di jahit menjadi sebuah baju.


Kemudian dia melipatnya, dan di masukkan ke dalam sebuah tas kain yang juga dia buat sendiri.


"Berarti, aku harus ke pasar nih. Ke toko obrasnya si enci" gumamnya lagi.


Sejak dia down, merasa terpuruk, kecewa, menderita dan sebagainya itu. Baru kali ini dia berniat ingin ke pasar, ke luar rumah.


"pak, kau dengar gumamannya


dia...,? dia mau ke pasar!" bu Sekar terlonjak kegirangan, setelah mengetahui bahwa Cempaka ingin ke pasar.


"Sssst! Takutnya dia dengar!" pak Jati memberi isyarat kepada istrinya.


Bu Sekar pun menganggukkan kepalanya, lalu pura-pura tidak memperhatikannya.


"Bu,pak, aku mau ke pasar dulu. boleh kan bu?" serasa air sejuk yang mengguyur membasahi tenggorokan, bu Sekar mendengar perkataannya Cempaka yang meminta izin untuk ke pasar.


"Alhamdulillah... Kamu mau ke pasar nak? Ibu bahagia mendengarnya. Kamu hati-hati ya! Semoga di luar sana kamu menemukan kebahagiaan." do'a bu Sekar


"Amiin..., terimakasih bu, ibu telah mengizinkan dan juga mendo'akan aku. Kalau begitu, aku pergi dulu ya bu, pak. Assalamualaikum." setelah salim kepada kedua orangtuanya, Cempakapun berlalu, pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang mengantarkannya dengan senyuman.


"Ya Allah!..., terasa segar sekali udaranya, betapa indah sawah yang terbentang di hadapanku ini, ampuni aku ya Allah..., karena telah mengurung diri karena kezaliman seseorang, aku telah mengabaikan keindahan ciptaanMu." Cempaka berdiri terpaku memandangi alam yang begitu indahnya.


Biasanya dia menatap pemandangan sawah yang hijau


dan luas membentang itu setiap hari, setiap sa'at.


Tapi, setelah dia terpuruk dalam pedihnya penderitaan, baru kali ini dia menatap pemandangan yang sangat menyejukkan mata itu, membuat pikiran jadi tenang.


Beberapa sa'at dia menatap pemandangan alam yang sangat indah itu, dia menarik nafasnya dalam-dalam. Udara segar merambah ke dalam pori-pori kulitnya.


"Bismillahirrahmanirrahim..., lindungi aku ya Allah, Amiin." ucapnya sambil melangkahkan kaki kanannya, dia memulai perjalanannya menuju ke pasar.


Karena belum ada angkutan umum yang masuk ke jalan di kampungnya, Cempaka berjalan kaki dengan tenang, sambil menikmati pemandangan indah dari sawah yang luas hijau terbentang, berselang dengan rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan.


"Sudah lama aku tidak menginjakkan kaki ke jalan ini,"


gumamnya.

__ADS_1


"Neng!..., mau kemana?" seorang ibu-ibu yang kebetulan tengah berjemur di pinggir jalan menyapanya.


Sudah menjadi kebiasaan di daerah itu, walaupun tidak kenal.


Kalau berpapasan dengan orang, selalu menyapanya dengan ramah.


"Saya mau ke pasar ,bu..., punten!" sahut Cempaka sambil tersenyum.


"Mangga, neng. Hati-hati di jalannya ya" Ucapnya lagi.


"Terimakasih bu, mangga"ucap Cempaka lagi sebelum dia berlalu dari hadapan ibu-ibu itu.


"Sama-sama neng" sahut ibu itu.


Setelah mendengar jawaban dari ibu-ibu yang menyapanya tadi, barulah Cempaka berlalu meninggalkan tempat itu, menuju ke pasar.


Tak berapa lama, dia sampailah di pasar. Untuk ke toko obras tujuannya, dia harus menyebrang jalan raya yang di penuhi oleh kendaraan, dan diapun harus berjalan sekitar beberapa menit lagi.


Setelah menengok kanan-kiri, diapun menyebrang jalan raya itu. Kemudian melanjutkan langkahnya hendak menuju toko obras.


Tapi, baru saja kakinya melangkah beberapa langkah, tiba-tiba..., sudut matanya menangkap seseorang yang begitu di rindukannya. Dia tengah berjalan di seberang jalan.


Yaitu, Samudera.


Entah karena perasaan, atau karena hati yang masih terpaut.


Samudera pun melirik ke arah Cempaka, dia segera memanggilnya.


"Neng Cempaka!" panggilnya.


"Samudera!" Cempaka balas memanggilnya.


Tak bisa di pungkiri, mereka memang saling mencinta, dan masih saling merindu.


Tanpa berpikir panjang, keduanya segera bergegas untuk menyebrang dan saling menghampiri.


Tepat! Di tengah jalan mereka


saling bertemu.


Karena terdorong oleh perasaan rindu yang menggelora di dada.


Mereka tak sadar kalau mereka tengah berada di tengah jalan.


Keduanya saling berpegangan tangan, melepas rindu.


Selama beberapa detik mereka berpegangan tangan di tengah jalan, sambil saling pandang.


"Tiiiid! Tiiiid!" terdengar riuh bunyi


klakson dari kendaraan yang sudah mengantri panjang di sana.


Keduanya nampak kaget dan terperanjat. Mereka tidak menyadari kalau keberadaan mereka di sana, telah mengganggu jalannya kendaraan yang melintas di sana.


"Ya Allah..., Samudera, kita di tengah jalan!" Cempaka berteriak karena kaget.

__ADS_1


"Astaghfirulahaladziiim..., ayo neng! Kita ke pinggir" Samudera menuntun Cempaka ke seberang jalan.


"Semuanya..., ma'afkan kami" ucap Samudera.


"Heeh!..., malah pacaran di jalan!"


teriak seorang sopir.


"Huuh!..., dasar anak muda" teriak yang lainnya.


Cempaka dan Samudera tidak


mempedulikannya. Sambil tersenyum malu, keduanya menyingkir dari tengah jalan, menuju ke tepi jalan yang agak sepi.


"Cempaka, aku senang sekali bisa bertemu dengan mu di sini"


ucap Samudera sambil tak melepaskan genggaman tangannya.


"Aku juga tak menyangka akan bertemu lagi sama kamu." sahut Cempaka, tak kalah bahagianya.


"Apa kabarnya neng? Juga ibu dan bapak?"walaupun sudah di acuhkan oleh kedua orangtuanya Cempaka, dia tetap menanyakan


bu Sekar dan pak Jati.


"Kalau aku, seperti yang kamu lihat" sahut Cempaka, dia merasa salut kepada Samudera.


Dia sepertinya tidak menyimpan dendam. pikir Cempaka.


"Ibu dan bapak juga Alhamdulillah, mereka baik-baik saja, kamu sendiri?" Cempaka balik bertanya.


"Emh..., gimana ya? Beginilah. Kalau boleh jujur, Aku sangat kecewa sekali dengan keputusan kedua orang tuamu waktu itu." Samudera berucap dengan suara yang berat, seperti ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokan nya. Sepertinya dia ingin menangis.


"Aku minta ma'af atas nama kedua orangtuaku, bukan hanya kamu saja yang Kecewa dan sakit hati, aku juga merasakan hal yang sama denganmu" Cempaka berkata lirih. Sudut matanya mulai terasa memanas.


"Kenapa kamu tidak mengundangku? Waktu kamu menikah dengan Buana" Samudera menyalahkan Cempaka. Dia merasa tidak di hargai oleh Cempaka.


"Siapa yang menikah? Kapan aku menikah?Siapa yang bilang kalau


aku sudah menikah dengan Buana? Siapa?" Cempaka bertanya bertubi-tubi kepada Samudera. Karena, dia tak merasa kalau sudah menikah. Dengan Buana lagi.


"Lho? Waktu itu bukannya kamu yang menikah? Waktu itu aku dapat kabar dari mang Ramdhan,


waktu mereka mau berangkat ke rumahmu, sehari sebelum hari H"


Samudera mengatakannya dengan serius.


"Samudera, yang waktu itu nikahan itu bukan aku. Tapi, kak Bunga, kakakku itu. Kalau aku...,


masih seperti yang dulu, aku belum menikah dengan siapapun" satu tetes bulir bening jatuh dari sudut matanya.


"Jadiiiiii, kamu..., kamu belum menikah?" Samudera langsung lemas mendapatkan pengakuan dari Cempaka begitu.


Tangannya mengguncangkan bahunya Cempaka, dengan mata yang melotot karena terkejut.


"Iya, aku belum menikah. Buana menikah dengan perempuan lain"

__ADS_1


ucap Cempaka lagi dengan suara yang tercekat.


Semakin bertambah kagetnya Samudera, setelah dia mendengar bahwa Buana nikah dengan perempuan lain.


__ADS_2