
Petir dan Sakti yang duduk di bangku belakangpun turut merasakan kesedihan yang tengah di rasakan oleh Cempaka, saudara iparnya.
"Karmin memang kurang ajar!" Ujar Petir dengan penekanan. Dia nampak sangat membenci mantu barunya bu Sekar dan pak Jati itu.
"Kenapa pula, Cempaka mau menikah sama si Karmin itu?"Ujar Sakti.
"Kakak ipar kita yang tidak punya perasaan" Kilah Petir dengan kesal.
"Aneh, seorang kakak bisa begitu kejam sama adiknya sendiri, melebihi ibu tiri" Sakti begitu geram sekali.
Mereka berdua menyalahkan Kenari yang jadi penyebab semua penderitaan yang dialami oleh Cempaka.
Isak tangis Cempaka masih sesekali terdengar di antara deru nya suara mesin mobil.
******
"Saya turun di Ci logog saja ya neng. Ma'af enggak bisa nganterin sampai ke rumahnya wak Iyem, ini anak saya tidur" Ujar mbak Siti ketika mobil yang mereka tumpangi mau memasuki wilayah Jangga.
"Kalian mampir saja dulu ke rumah saya, biar tahu. Atau nginep saja semalam di rumah saya, besok pagi baru ke rumahnya wak Iyem" Susulnya beberapa detik kemudian.
"Bagaimana baiknya saja" Sahut Bunga.
Sedangkan Cempaka masih dengan sisa tangisannya. Dia tak memberikan komentar apapun.
"Kita langsung saja ke rumahnya wak Iyem, biarin mbak Siti turun di sini!" Karmin seperti yang marah, dia tidak suka dengan perkataan kakaknya.
Karmin mendelikan matanya kepada mbak Siti, memberi isyarat.
Dia merasa takut kalau Cempaka dan keluarganya mau nginap di rumahnya mbak Siti. Sedangkan rumahnya mbak Siti berdekatan dengan rumah orangtuanya.
Karmin belum memberi tahukan semuanya kepada kedua orangtuanya.
"Di depan saja pir! Saya turun di sini saja!" Ujar mbak Siti tak lama kemudian.
"Neng Cempaka, mbak sama mas Kunto turun di sini saja ya. InsyaAllah besok mbak ke rumahnya wak Iyem"
Ujar mbak Siti sebelum mobil berhenti di depan rumahnya.
Cempaka hanya menganggukkan kepalanya saja, dia tidak memberikan Jawaban.
"Teh Bunga, neng Anyelir dan semuanya, kami pamit turun duluan ya!" Ujar mbak Siti lagi.
"Iya mbak, silahkan!"
"Neng Cempaka, hati-hati ya! Karmin! Jagain neng Cempaka! Awas kalau sampai neng Cempaka sakit hati!"
Ujarnya lagi dengan mata yang melotot kepada Karmin.
"Iya, iya mbak" Jawab Karmin dengan seringai liciknya.
"Ayo pir, jalan lagi!"
Mobil pun melaju meninggalkan keluarga mas Kunto yang sudah turun dari mobil. Mereka berdiri di depan rumahnya sambil melambaikan tangan.
*
Jam sembilan malam mereka baru sampai di rumahnya wa Iyem.
Setelah mobil berhenti, Karmin bergegas turun dari mobil.
"Tunggu dulu sebentar! Jangan dulu turun saya mau lihat dulu wak Iyem nya, barangkali sudah tidur" Ujar Karmin. Dia berlari menuju ke dalam rumahnya wa Iyem.
"Kenapa dia?" Bunga bertanya heran.
"Sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan" Gumam Sakti perlahan.
"Semoga saja Karmin benar-benar sayang pada neng Cempaka" Ujar pak Sopir yang sudah mengetahui siapa Karmin yang sebenarnya.
__ADS_1
"Iya pak Sopir, itu harapan kami semua" Ucap Bunga.
"Apa pak Sopir sudah kenal dekat dengan Karmin?" Sakti mencoba untuk mencari tahu tentang Karmin.
"Emh, cuma kenal saja" Pak Sopir menjawab ragu.
"Apa kita tega membiarkan Cempaka di sini bersama Karmin? Sedangkan kita semua belum tahu siapa dia sebenarnya?" Sakti khawatir.
"Lalu kita harus bagaimana?" Bunga bingung.
"Ini bukan rumah orangtuanya kan?"
Tanya Petir tiba-tiba.
"Bukan, ini rumah uwa nya" Jawab pak Sopir.
"Kenapa kita di bawa ke sini? Kenapa tidak di bawa ke rumah orangtuanya?" Anyelir merasa heran.
"Iya juga ya, saya kira mau di bawa ke rumah orangtuanya" Semua baru kepikiran sekarang. Mereka saling pandang satu sama lainnya, bingung.
"Ayo kita masuk! Wa Iyem sudah menunggu dari tadi, cuma barusan dia ketiduran katanya" Tiba-tiba Karmin sudah berada di samping mobil.
Dia membukakan pintu untuk Cempaka.
"Ayo dek! Kita sudah di tunggu sama wa Iyem" Karmin mengulurkan tangannya kepada Cempaka.
Cempaka tak meresponnya, dia malah turun sendiri.
"Dia benar-benar tidak suka sama Karmin, dia benar-benar di jebak oleh Kenari yang jahat itu" Gumam Petir kesal sendiri.
"Neng Cempaka, akhirnya kalian datang juga. Uwak sudah menunggu dari tadi, sampai ketiduran di kursi " Ujar wak Iyem dari ujung teras rumahnya.
Cempaka menghampiri perempuan setengah baya itu, lalu mencium punggung tangannya.
Bunga dan Anyelir serta para suaminya pun mengikuti apa yang di lakukan oleh Cempaka.
"Min! Dan semuanya, saya langsung pamit pulang ya" Pak Sopir berpamitan kepada kami semua.
"Ngopi dulu!" Seru wak Iyem.
"Enggak wak, terimakasih, saya sudah ngantuk, Assalamualaikum" Ujarnya berbohong, dia langsung masuk ke dalam mobil. Kemudian dia menstater mobilnya dan mobilpun melaju perlahan meninggalkan rumahnya wak Iyem menuju ke rumahnya.
Pak Sopir sejak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Cempaka, dia sudah merasa muak melihat wajah Karmin yang ada di sampingnya, selama di perjalanan.
Dia buru-buru berpamitan pulang, karena dia tidak mau lagi mendengar kebusukan Karmin yang selanjutnya.
"Seorang tokoh masyarakat, kepala sekolah lagi. Kok! Bisa di kadalin sama si Kampret Karmin itu. Kasihan sekali keluarganya neng Cempaka yang baik itu. Anehnya yang jadi dalang dari semua itu adalah anak sulungnya sendiri, dunia memang sungguh aneh. Banyak hal yang terjadi di luar logika, seorang anak sulung yang seharusnya menjadi panutan adik-adiknya ini malah jadi perusak hidup adiknya" Pak Sopir merasa tak habis pikir, dia berujar sendiri sambil geleng-geleng kepala.
"Semoga saja neng Cempaka segera terlepas dari jeratan si Karmin yang kurang ajar itu, dan segera mendapatkan laki-laki yang benar-benar sayang dan tanggung jawab kepadanya" Do'anya.
Mobilpun melaju perlahan menuju ke garasi yang ada di samping rumahnya.
*
"Ayo minum kopi atau teh hangat dulu! Biar perutnya tidak kedinginan" Wak Iyem jadi sibuk dengan kedatangan rombongan yang di bawa oleh Karmin secara tiba-tiba itu.
"Tidak usah merepotkan wak, terimakasih" Bunga berbasa-basi.
"Aku bantu nyiapin airnya wak" Cempaka yang baik itu tak bisa tinggal diam melihat wak Iyem sibuk sendiri, Walaupun hatinya tengah menderita.
Tak menunggu jawaban dari wak Iyem, Cempaka segera bergegas menuju ke dapurnya wak Iyem.
Dengan cekatan dia menuangkan air panas ke dalam beberapa buah cangkir.
Setelah siap semuanya, diapun menatanya di atas nampan besar dan membawanya ke ruang tamu.
Wak Iyem tersenyum menyaksikan tingkah Cempaka yang gesit dan peduli itu, dia sangat senang sekali kelihatannya.
__ADS_1
"Ayo silahkan diminum airnya!" Ujar Cempaka setelah meletakkan semua cangkir di atas meja.
"Cempaka? Apa itu ibunya Karmin?" Tanya Bunga berbisik.
"Bukan, itu adalah wak Iyem. Beberapa hari yang lalu waktu Karmin berbohong sakit juga dia memberikan alamat rumah ini kepada kak Kenari. Kalau orangtuanya Karmin, aku juga belum tahu" Sahut Cempaka.
"Apa? Jadi kamu belum tahu siapa mertuamu? Ini bagaimana?" Bunga terkejut di buatnya.
Cempaka menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bagaimana Cempaka mau kenal sama kedua orangtuanya Karmin, wong Karmin nya juga enggak ngenalin" Ujar wak Iyem.
Karmin yang baru saja nongol dari pintu belakang, matanya mendelik ke pada wak Iyem. Dia terlihat ketakutan sekali, takut wak Iyem berkata yang sebenarnya kepada saudaranya Cempaka.
"Wak, di dapur ada ubi, biar saya goreng ya?" Karmin mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oh, iya. Uwak lupa! Tadi itu mau goreng ubi, eh malah tidur" Sahutnya.
"Uwaknya sini dulu sebentar, saya tidak tahu nyimpan minyak goreng nya di mana?" Karmin memberi alasan supaya wak Iyem pergi dari ruang tamu.
"Kamu! Cari saja di dapur! Goreng sendiri! Ganggu saja" Bentak wak Iyem dengan mata melotot kepada Karmin. Dia tidak tahu arah perkataan Karmin itu ke mana.
"Uwak!" Karmin menghampiri wak Iyem dan menarik tangannya di ajak ke dapur, supaya tidak keceplosan bicaranya.
"Karmin! Kok! Begitu sih sama orang tua! Enggak sopan sekali" Seru Cempaka. Dia tidak suka melihat tingkah Karmin yang tidak ada sopan santunnya kepada wak Iyem.
"Iya ni, dasar anak kurang ajar!" Wak Iyem menepiskan lengannya dari cengkeraman tangannya Karmin.
"Uwak, jangan keceplosan bicaranya. Saya takut mereka tahu siapa saya ini sebenarnya, tolong saya " Karmin berbisik di telinganya wak Iyem.
"Makanya jadi wong kudu bener!" Sahut Wak Iyem.
"Saya ke belakang dulu, silahkan di minum airnya" Wak Iyem pamit ke belakang.
"Mencurigakan sekali" Gumam Anyelir.
"Memang iya" Sahut Cempaka, sudah kering air matanya, dia sudah tak menangis lagi. Hanya hatinya yang tetap perih teriris.
"Aku ingin ke belakang dulu!" Anyelir berlalu meninggalkan kami di ruang tamu. Entah benar mau ke belakang, entah hanya pura-pura saja.
Kopi dan teh hangat sudah habis di seruput oleh kami. Jarum Jam di dinding terus merangkak , tak terasa sudah hampir tengah malam.
"Aku sudah ngantuk" Bunga menguap lebar-lebar.
"Oh iya sampai lupa, silahkan kalau mau beristirahat. Biar besok bisa ke pantai Eretan dulu lihat laut" Ujar wak Iyem mempersilahkan para tamunya untuk beristirahat.
"Terimakasih wak, memang saya sudah ngantuk sekali,penat lagi" Ujar Bunga sambil meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku.
Ada tiga kamar yang kosong di rumahnya wak Iyem.
Cempaka segera masuk ke kamar tengah, dengan segera pula dia mengunci pintunya dari dalam, dia tak mau Karmin tidur dengannya.
Bunga dan suaminya tersenyum saling pandang. Merekapun lalu masuk ke kamar yang sebelahnya lagi.
Tak lama, Cempaka sudah tertidur lelap. Mungkin karena lelah sudah menempuh perjalanan yang jauh.
Begitu juga Anyelir dan Petir serta Bunga dan Sakti telah pulas juga, apalagi anaknya sudah tertidur sejak masih di mobil tadi.
"Uwak! Ini bagaimana? Kok! Cempaka tidur sendiri? Kenapa tidak ngajak saya? Saya kan suaminya" Karmin mengeluh.
"Pikir saja sendiri! Uwak juga ngantuk" Wak Iyem masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Karmin sendiri di ruang makan.
"Uwak!" Panggil Karmin, tapi wak Iyem tidak menyahutnya. Dia sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur dan menarik selimutnya hingga menutupi lehernya.
"Rasain kau Karmin! Emang enak tidur di kursi? Itu akibatnya main samber saja. Tidak di pikir panjang dulu, jangankan neng Cempaka yang cantiknya gak ada lawan kalau di sini. Saya juga enggak mau kalau harus punya suami si Karmin yang kurang ajar itu, mana kerjaannya juga enggak jelas lagi. Mau di kasih makan apa neng Cempaka nanti? Dia sendirinya juga di kasih makan sama si Mayang" Gumam wak Iyem.
"Huuh! Sial! Dasar sial! Harus tidur di kursi, mana enggak ada bantal dan selimut lagi" Karmin ngedumel sendiri sambil garuk-garuk kepala.
__ADS_1
***