Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Cibiran Bunga


__ADS_3

"Katakan sejelas-jelasnya, jangan ada yang di tutupi! Tadi kakak tidak bicara begitu! Coba ulangi perkataan kakak yang berteriak memaki - maki aku dengan kata-kata jomblo tadi!" Perintah Cempaka.


"Memangnya kak Kenari bicara apa? Hingga Cempaka marah seperti itu ?" Bunga sepertinya merasa penasaran.


Cempaka menatap Kenari dengan tajam.


"Tadi kakak berkata begini kak Bunga, Jomblo keluar kamu! Ini semua pasti gara-gara kamu belum punya suami. Jadi, bapak memikirkan terus hingga akhirnya bapak kena strok. Dasar Jomblo! Awas! Enggak akan aku biarkan jomblo! Begitu kak Bunga" Cempaka mengadu kepada kakaknya yang satu lagi.


" Kenapa kamu marah? Kamu kan memang Jomblo! Kalau kamu tidak Jomblo, tidak mungkin sekarang belum punya suami. Kalau tidak Jomblo, pasti sa'at ini kamu tidak sendiri. Jadi, kenapa mesti marah kalau ada yang menyebut si Jomblo? He!" Bunga mencibir sinis.


Cempaka begitu marah mendengar perkataan Bunga, yang tidak kalah pedas! Dan menyakitkan hati daripada ucapannya Kenari.


"Cempaka, Cempaka, sudah Jomblo ya jomblo saja! Kenapa mesti sewot? Ha! Ha! Ha!" Kenari tertawa puas.


"Sungguh aneh adik kita yang satu ini kak. Jelas - jelas dia jomblo, eh malah marah tahu ada yang menyebutnya jomblo.


Aku juga yakin kak, bukan karena melihat ayam mati mendadak saja. Tapi, bapak itu mencemaskan dan memikirkan adik kita yang jomblo ini. Masa iya, perkara ayam mati saja sampai kaget, hingga strok lagi"


Bunga juga menyalahkan Cempaka.


"Huh!" Cempaka menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Nasibku seperti ini bukan keinginan aku! Kalian juga tahu kan, aku ini sudah mau nikah. Hanya karena aku punya kakak yang egois, makanya aku jadi begini! Perlu kalian ketahui, keadaan aku seperti ini adalah keinginan kalian kan? Kenapa sekarang jadi menyalahkan aku? Semua yang aku alami sa'at ini adalah ulah kalian, yang tidak suka punya saudara berjodoh kan seorang abdi negara, seorang Polisi! Kalian takut kan, kalau punya adik berjodoh kan pegawai negeri, polisi lagi! Kalian takut tersaingi kan?" Cempaka sudah tidak bisa lagi membendung emosinya.


"Kamu berani menyalahkan kami?" Kenari melotot, matanya seperti hendak loncat dari tempatnya.


"Cempaka, jadi adik jangan kurang ajar tahu!" Bunga bangun dari duduknya, tangannya sudah dia angkat, sepertinya hendak menampar pipinya Cempaka.


"Bunga!" Suara suaminya menghentikan gerakan tangannya. Dia menoleh ke arah datangnya suara.


"Kamu masih beruntung! Kalau saja suamiku enggak kesini, habis kamu jomblo!" Ujar Bunga perlahan, di telinganya Cempaka.


"Iya Mas, ada apa? Bunga menoleh dan menjawabnya dengan suara lembut.


" Aku mau ke kandang ayam, mau membantu menguburkan bangkai ayam - ayam itu" Rupanya Sakti tidak mengetahui


niat istrinya yang akan menampar Cempaka.


"Kenari, tolong panggilkan mang Diman, biar segera di bereskan bangkai-bangkai ayamnya" Perintah bu Sekar yang menghampiri mereka.


"Iya bu, aku pergi dulu" Kali ini kenari langsung beranjak dari tempatnya, menuju ke rumahnya mang Diman. Tak seperti biasanya yang selalu melimpahkan kepada Cempaka.


"Ayo mas! Kita ke kandang ayam, aku penasaran" Ujar Bunga, menggamit lengannya Sakti.


Cempaka segera berlalu ke kamarnya pak Jati, melihat keadaannya pak Jati.


"Itu mang bangkai-bangkai ayamnya!" Tak lama, terdengar suara Kenari di samping rumah.


Kedengarannya dia datang bersama mang Diman.


"Astaghfirullahaladzim, ya Allah ya Rabbi, apa tidak salah lihat mataku ini?" Mang Diman mengucek matanya hingga beberapa kali. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang di lihat oleh kedua kelopak matanya sa'at itu.


"Iya mang Diman, saya juga tidak tahu. Tiba-tiba begitu" Ujar bu Sekar sedih.


"Seperti yang keracunan ya bu"


Ujar mang Diman sambil mengambil seekor bangkai ayam, kemudian dia menelitinya.


" Benar bu, ini keracunan!" Ujarnya lagi.


"Ini, segunung ini ayam yang matinya?" Bunga terperangah kaget! Demi melihat segunung bangkai ayam di pelataran kandang ayam punya bapaknya itu.


"Ini yang membuat bapakmu seperti sekarang ini, jadi bukan karena adikmu yang belum punya jodoh" Seru bu Sekar, matanya menatap wajahnya Bunga.


"Aku kira" Ucapnya tersipu malu.


"Mau di kuburkan di mana ini bu? Biar saya gali tanahnya" Tanya Mang Diman.


"Di sana saja mang, di pojokan sana!" Bu Sekar menunjukkan tempat yang mau di pakai untuk menimbun bangkai - bangkai ayam yang menumpuk itu.


*


"Siapa bu, kira-kira yang tega meracuninya?" Mertuanya Bunga mencoba bertanya kepada besannya.


"Enggak tahu bu, kami belum mencari tahu. Kami khawatir dengan kondisi bapak sekarang" Sahut bu Sekar.


"Kenapa ya bisa setega itu? Seperti yang punya dendam sama bapak atau ibu"


"Entahlah, saya juga tidak tahu"


"Bapak kapan mau di bawa ke Rumah sakit? Kalau menurut saya, secepatnya saja bu, biar segera sehat kembali. Kalau strok di biarkan, bisa - bisa lama sembuhnya" Ujar mertuanya Bunga lagi memberi saran.


"Iya besan, nanti setelah membereskan ayam - ayam mati ini, saya akan membawa bapak ke Rumah sakit secepatnya" Sahut bu Sekar.


"Semoga saja bisa segera ketemu racunnya, biar tidak kena ayam - ayam yang lainnya"


"Amiin, semoga saja! Dan, yang berbuat nya juga semoga segera ketemu serta menyesali semua perbuatannya" Timpal bu Sekar.


Setengah jam mang Diman menggali lobang untuk menimbun bangkai ayam yang menumpuk itu.


"Sepertinya sudah cukup mang!" Sakti yang ikut membantu, menghentikannya.

__ADS_1


"Sepertinya begitu, mas! Ayo kita pindahkan ke sini bangkai ayamnya" Mang Dimam segera naik dari dalam lobang galiannya.


Satu persatu, bangkai-bangkai ayam itu di lemparkan ke dalam lubang yang lumayan dalam.


Bu Sekar, dan anak - anaknya menyaksikannya dengan perasaan sedih dan kesal, berkecamuk menjadi satu.


"Yang sabar ya bu! InsyaAllah pasti ada hikmahnya. Semoga yang berbuat jahat kepada keluarga besan, akan segera menuai hasilnya" Ibu mertua Bunga, mencoba menenangkan besannya.


"Terimakasih besan" Lirih terdengar jawabannya bu Sekar.


Hampir dua jam, penimbunan baru selesai di kerjakan.


"Bu, itu bapak!" Cempaka memanggil ibunya. Karena, dia tidak mengerti.


"Uh! Uh!" Tangannya memegangi baju, lalu menunjuk ke arah lemari.


"Lemari?" Tanya Cempaka. Di sahut dengan anggukan kepala oleh pak Jati.


"Baju, pak?" Ujar bu Sekar yang baru saja tiba di sana.


Pop pak Jati pun mengangguk.


"Oooh, bapakmu minta ganti baju" Bu Sekar berseru.


"Sebentar ya pak!" Bu Sekar mengambilkan baju dari dalam lemari. Kemudian, mengganti bajunya pak Jati dengan lemah lembut.


"Bu, kapan bapak mau di bawa ke Rumah sakit?" Cempaka mendekati ibunya.


"Entahlah, ibu tanyakan dulu ke bapaknya" Bu Sekar belum bisa memutuskan.


"Pak, kita ke Rumah sakit sekarang yu!" Ujar bu Sekar sambil merapikan baju suaminya.


"Eh, eh!" Pak Jati menggeleng-gelengkan kepalanya, tangan kanannya juga memberikan isyarat kalau dia tidak mau di bawa ke Rumah sakit.


"Bapakmu sepertinya tidak mau di bawa ke Rumah sakit, nak" Bu Sekar menatap Cempaka.


"Biar segera sembuh pak! Di sana kan banyak alat untuk penyembuhan strok nya" Cempaka mencoba membujuknya.


"Ma'af ya bu, gimana kalau saya gendong saja, kalau berjalan hingga ke depan, ke jalan mobil, bapak enggak bakalan kuat" Sakti mengusulkan.


Pak Jati tetap geleng-geleng kepala tanda tidak mau di rawat di Rumah sakit.


"Bapak sudah makan bu?" Tanya Sakti kepada bu Sekar.


"Sudah, nak!"


"Kalau begitu, baiklah saya gendong saja bapaknya. Tolong siapkan semuanya untuk keperluan di Rumah sakit nanti!


Ujar Sakti, dia menghampiri pak Jati yang tengah berbaring di atas kasur.


"Ma'afkan saya ya pak, Bismillahirrahmanirrahim" Sakti menggendong mertuanya, untuk di bawa ke luar, ke jalan raya di mana mobil besannya, yang akan membawanya menuju ke Rumah sakit telah menunggunya.


Bu Sekar segera menyiapkan segalanya, untuk keperluan pak Jati di Rumah sakit.


" Jangan ikut semua! Kilat dan Seruni belum pulang. Kasihin mereka" Perintah bu Sekar sambil berkemas.


"Iya bu! Tapi, aku mau ikut, boleh kan?" Bunga Menyahut.


"Kenari yang di rumah, atau Cempaka?" Bu Sekar bertanya kepada dua anaknya.


"Aku saja bu, yang nungguin adik - adikku. Sambil mengerjakan tugas kuliahku" Ujar Cempaka.


"Eeh, malah mau di rumah! Harusnya kamu yang ke sana, urus bapak sampai sembuh kembali, karena kamu punya andil atas kejadian yang menimpa bapak!" Kenari nyolot.


"Ya Allah, apa sih maunya? Ngajak ribut terus. Menyalahkan aku terus. Aku enggak merasa" Cempaka pergi


meninggalkan Kenari yang terus saja menyalahkan dirinya.


"Kenapa sih? Nyari gara - gara saja." Bu Sekar membentak anak sulungnya.


Kenari diam tak berkomentar.


Cempaka masuk ke kamarnya. Dia enggan meladeni kakak sulungnya yang terus menyalahkan dirinya.


"Cempaka, ibu pergi dulu ya. Hati - hati di rumah! Ayo Kenari! Bawain termos nya!"


"Iya bu, ibu juga hati - hati ya!"


"Iya nak, ibu berangkat dulu ya. Assalamualaikum" Ujar bu Sekar sambil berangkat mengikuti Sakti yang menggendong pak Jati.


"Waalaikumsalam... Hati - hati bu! Bapaknya cepat sembuh" Teriak Cempaka dari teras depan.


Kenari berjalan di belakang bu Sekar, menggendong Cemara sambil menjinjing termos.


Dia tidak mengucapkan apapun kepada adiknya.


Cempaka tidak ambil pusing, dia segera membalikkan badannya untuk masuk kembali ke rumah.


*


Setelah pak Jati di periksa oleh dokter jaga. Pak Jati di sarankan untuk di rawat di Rumah sakit itu.

__ADS_1


"Bagaimana baiknya saja pak!"


Ujar bu Sekar.


" Baiklah, kalau begitu. Sebentar lagi bapak akan di pindahkan ke kamar rawat inap, ma'af! Saya tinggal dulu " Sahut dokter.


"Iya dokter, silahkan!" Sahut bu Sekar.


*


"Assalamualaikum..." Kira-kira satu jam setelah pak Jati di bawa ke Rumah sakit. Terdengar suara Anyelir mengucapkan salam dari pintu samping.


"Waalaikumsalam... Tunggu sebentar!" Cempaka yang tengah di dapur, berteriak supaya dapat di dengar oleh adiknya.


"Iya kak" Sahutnya.


"Ayo silahkan masuk!" Ujar Cempaka setelah membukakan pintunya.


Ternyata, Yang datang bukan hanya Anyelir, tapi bersama Petir , Prima dan kedua orangtuanya Petir. Mereka datang berlima.


"Kak, katanya bapak kena strok?" Tanya Anyelir sambil duduk di sofa, di ruang tengah.


"Iya dek, tadi selepas subuh"


"Kok, bisa kak?" Tanya bu Tari.


"Iya bu, bapak terlalu kaget dan shock setelah melihat ayam - ayamnya banyak yang mati mendadak" Ujar Cempaka.


"Gara - gara mendapatkan ayamnya mati mendadak, sampai strok? Sungguh aneh sekali!" Sahut bu Tari.


"Iya kak! Yang benar saja, masa kena strok gara - gara melihat ayam mati mendadak" Anyelir juga tak percaya dengan penjelasan dari kakaknya itu.


"Mikirin kakak yang belum punya jodoh kayaknya. Makanya, cepat nikah kak! Lihat adikmu ini, sudah emh, sudah sudah tunangan maksudku. Sebentar lagi pasti nikah, lha! Kakak, kapan nikahnya?" Lanjut Anyelir setelah berhenti sejenak.


"Jodoh itu urusan Allah, dek! Bukannya kakak tidak mau menikah. Tapi, kamu tahu sendiri kan? Selalu saja ada penghalang. Seandainya waktu itu kak Bunga mengizinkan kakak tunangan dulu dengan Buana, tidak akan begini kejadiannya. Kalau ke kakak, semuanya pada egois! Tapi, waktu kamu tunangan dengan Petir, kakak harus mau mengizinkannya. Sakit hati kakak itu, sekarang bapak terkena strok, kakak lagi yang di salahkan!" Cempaka terisak sedih. Dia merasa di pojokkan oleh semua orang.


"Mungkin, itu sudah waktunya saja bapak kena strok. Sudah, kak Cempaka, jangan di ambil hati" Prima berusaha menenangkan Cempaka.


"Kita itu jangan suka asal nuduh! Lihat dan teliti dulu sebabnya, jadi jangan membuat sakit hati orang lain"


Lanjut Prima lagi.


"Memangnya bagaimana kejadiannya kak?" Tanya Prima, sesa'at kemudian.


"Tadi, sepulang dari Masjid..."


Cempaka menjelaskan semua yang dia saksikan tadi pagi.


"Apa? Tiga ratus dua puluh dua ekor?"


Keluarga pak Andro dan juga Anyelir terperanjat kaget! Setelah mendengar banyaknya ayam yang mati secara mendadak, hingga menyebabkan pak Jati strok.


"Pantas saja pak Jati kaget! Segitu banyaknya. Kita juga yang mendengarnya sangat kaget. Apalagi pak Jati yang melihatnya pertama kali, bergelimpangan bangkai ayam di mana - mana" Ujar pak Andro sambil geleng-geleng kepala, merasa heran.


"Lalu, di kemanain bangkai ayam segitu banyaknya?" Petir baru buka mulut.


"Di timbun di pojok pelataran kandang" Sahut Cempaka.


"Bapak langsung di bawa ke Rumah sakit kak?" Anyelir bertanya tentang pak Jati.


"Baru saja, sekitar satu jaman lah. Itu juga tadinya enggak mau, karena takut di rawat. Di paksa di gendong sama kak Sakti" Tutur Cempaka.


"Apa, kita langsung ke Rumah sakit sekarang?" Tanya Anyelir.


"Sebentar!" Ujar bu Tari.


"Eh kak, itu kondisi ayamnya bagaimana?" Bu Tari sepertinya merasa penasaran.


"Seperti keracunan bu, kebiru - biruan" Ujar Cempaka.


"Aku jadi penasaran, ingin melihatnya" Prima berucap perlahan, seperti kepada dirinya sendiri.


"Boleh, ayo kita ke kandang" Cempaka segera bangkit dari duduknya.


Prima dan yang lainnya, mengikuti dari belakang.


Mereka berenam, beriringan menuju ke kandang ayam.


Cempaka mencari cangkul, lalu di serahkan kepada Petir, biar gundukan tanah yang di pojokan kandang itu di gali kembali.


"Di sini kak?" Petir menggali gundukan tanah yang terlihat baru saja di timbun.


"Iya, ayo gali nya agak dalam!" Ujar Cempaka.


"Nah! Ini sepertinya sudah kena ayamnya" Petir berseru.


"Coba sini dek!" Prima mengambil cangkul dari tangan adiknya.


Seekor bangkai ayam di angkat oleh Prima dan di perlihatkan kepada semuanya.


***

__ADS_1


__ADS_2