
Keesokkan harinya, sebelum Adzan subuh terdengar berkumandang. Samudera sudah bangun dari tidurnya.
Dia ingin segera berangkat mencari sd Jangkurang, untuk menemui Cempaka.
"Saya berangkat sekarang ya pak, sekali lagi saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada bapak yang telah menolong saya" Ucap Samudera setelahnya memberikan sejumlah uang untuk bayar sewa kamarnya.
"Sama-sama pak, semoga calon isterinya segera ketemu, dan selamat sampai tujuan" Ucap yang punya warung, dia mendo'akan Samudera.
"Mari pak!... Assalamualaikum..."
Samuderapun beranjak dari warung itu menuju angkutan pedesaan yang berwarna kuning, yang menuju ke arah desa Jangkurang. Dia akan melanjutkan perjalanannya.
Waktu itu mobil angkutan pedesaan yang menuju ke desa Jangkurang masih pada kosong.
Samudera mendekati salah satu mobil yang berada paling depan.
Tapi belum ada sopirnya, mobil masih kosong belum ada satu orang penumpangpun di dalamnya.
"Nanti jam setengah tujuh pak yang pertama berangkat. Nunggu yang belanja dulu" Tiba-tiba seorang pria memberitahu Samudera.
"Desa Jangkurang pak?" Samudera bertanya dulu sebelum dia menaiki kendaraan itu.
"Iya pak!... Ayo sebentar lagi berangkat!" Ujar sopirnya.
"Saya mau ke SD Jangkurang, apa angkutan ini melewatinya?"
Tanya Samudera lagi, dia tidak mau nyasar.
"Ooh... Bapak mau ke SD Jangkurang?" Tanya seorang penumpang.
"Terimakasih pak" Samudera tak lupa untuk mengucapkan terimakasih.
Jam enam tepat, mobil sudah penuh sesak.
Tapi, pak Sopir belum juga menghidupkan mesinnya.
"Masih lama pak...?" Samudera bertanya tak sabar. Karena menurutnya isi mobil itu sudah penuh sesak berikut dengan barang belanjaannya.
"Sebentar lagi pak!... Dua orang lagi!" Sahut sang sopir.
"Memangnya tiap hari begini pak?" Samudera mencoba bertanya kepada penumpang di sampingnya.
"Iya pak, soalnya cuma beberapa mobil yang arah kesana" Katanya.
"Beberapa mobil...? Lalu, nanti kalau mau balik lagi ke sini, bagaimana...?" Samudera tersentak kaget.
__ADS_1
"Yaa... Pakai mobil ini lagi, asalkan kita tahu waktu keberangkatannya" Ucap seorang penumpang.
Satu orang penumpang dengan sekarung belanjaannya masuk ke dalam mobil angkutan pedesaan itu. Karung belanjaannya di simpan di atas mobil dengan cara di ikat kuat-kuat.
"Hayu mangkat pir!... Pinuh yeuh!"penumpang yang baru naik berteriak kencang.
"Hiji deui!"Kata si sopir.
"Hayu hiji deui!... Hiji deui!" Teriak sopir dan kernetnya berteriak memanggil seorang penumpang lagi.
"Hayu, mangkaaat!" Seorang penumpang mendekati mobil angkutan pedesaan itu. Dia berteriak sambil naik dan masuk ke dalam angkutan pedesaan itu.
Sopirpun akhirnya menyalakan mesinnya, tak lama kemudian mobilpun berangkat dengan perlahan-lahan menuju desa Jangkurang.
"Alhamdulillah... Akhirnya berangkat juga"Gumam Samudera sambil tersenyum senang, walaupun dia terhimpit
oleh karung belanjaan.
Angannya sudah melayang ke desa Jangkurang, sebelum kendaraan yang di tumpangi nya
sampai.
Jalanan yang menanjak dengan pemandangan yang sangat indah di kiri dan kanan jalan, sungguh memanjakan mata yang melihatnya.
Namun, jalanan yang jelek penuh dengan lubang, membuat seluruh badan pada sakit semua.
Tapi, semua itu tidak jadi penghalang bagi Samudera. Dia tetap semangat untuk menemui cintanya. Menjemput sang pujaan hati.
Sementara itu, Cempaka merasa tidak tenang hatinya. Dia begitu
mencemaskan Samudera. Karena, diapun sama punya perasaan cinta dan sayang terhadap Samudera.
"Ya Allah... Lindungilah dia, selamatkanlah dia ya Allah"Do'a
Cempaka selalu di setiap sa'at.
Dalam do'anya, Nama Samudera sang pujaan hati selalu dia selipkan. Dia tak mau terjadi hal-hal yang tidak di inginkan pada Samudera.
"Ya Allah... Semoga dengan kejadian ini kedua orangtuaku berubah pikirannya. Jangan biarkan dia kecewa dan sakit hati dengan kebohongan ini. Aku mencintainya ya Allah, satukanlah kami dengan ridhomu ya Allah... Dengarlah do'aku, Amiin ya RobbalAlamiin" Ucap Cempaka di dalam setiap do'anya.
Sejak keberangkatan Samudera,
Cempaka jadi serba salah. Dia merasa sangat berdosa karena telah membohonginya.
Sikap periangnya hilang entah kemana, setiap waktu hanya melamunkan Samudera. Dia ingin segera bertemu dengannya.
__ADS_1
Dia ingin meminta ma'af dengan tulus.
"Cempaka, keluar nak! jangan diam di kamar terus. Sejak pulang dari sekolah, kamu belum makan, makan dulu nak! Nanti kamu sakit nak kalau begitu terus"Seru bu Sekar dari balik pintu kamarnya Cempaka.
Cempaka yang tengah terisak menangis, diam tak menjawabnya. Hatinya terasa hancur sehancur-hancurnya, dia enggan untuk menjawabnya.
"Tok!... Tok!...Tok!... Nak!... Buka pintunya, makan dulu" kini terdengar suara bapaknya yang mengetuk pintu dan menyuruhnya untuk makan.
Hati Cempaka makin terpaut kepada Samudera yang tengah jauh di sana, mencari dirinya.
"Mungkin Cempakanya tidur" Ujar Bunga yang lagi asyik nonton TV di ruang tengah.
"Dia belum makan dari kemarin, sejak Samudera berangkat. Ibu sama bapak merasa khawatir" sahut bu Sekar dengan muka yang terlihat cemas.
"Kenapa ibu ngebohongin dia? aku rasa pasti dia pergi ke sana untuk mencari Cempaka. Buktinya, tahu Cempaka ingin punya suami seorang anggota ABRI, begitu ada kesempatan langsung dia daftar. Lalu, kemarin waktu dia sudah selesai mengikuti pendidikan tentaranya, sebelum pulang ke rumahnya, dia malah ke sini dulu untuk menemui Cempaka, mengabarkan berita bahagia itu. Bukannya menemui orangtuanya dulu. Itu tandanya dia begitu sayang dan cintanya kepada Cempaka"Bunga menjelaskan dengan semangat.
"Iya nak, ibu mengaku salah. Tapi bagaimana lagi? waktu itu ibu merasa bingung, takut ada yang melihat Samudera menemui Cempaka, jadi ibu memberikan alasan seceplosnya"bu Sekar jadi merasa bersalah.
"Kalau nanti dia pulang dari Garut, terus menyalahkan kita bagaimana?"Bunga bertanya lagi dengan kesal.
"Entahlah... Ibu bingung, paling ibu mau berkata jujur saja"ucap bu Sekar sambil menatap kepada anak keduanya itu.
"Harusnya dari kemarin saja ibu berkata jujurnya, jadi Samudera
tidak akan cape-cape pergi ke Garut sana" Ucap Bunga lagi.
Bu Sekar dan pak Jati hanya diam sambil saling tatap.
Begitulah Cempaka yang tengah gundah gulana. Dia ingin merasakan yang namanya bahagia. Namun, dia merasa kalau bahagia itu seakan susah untuk di raihnya. Bahagia itu seakan hanya perkataan saja, namun susah untuk menggapainya walaupun dia sudah berada di depan mata. Ada saja rintangannya.
Dengan perasaan yang berat, Cempaka melewatinya sudah satu minggu.
"Kenapa Samudera belum datang juga?"keluhnya sambil tiduran menatap ke luar lewat jendela kamarnya.
"Sudah enam hari dia pergi, tapi belum ada kabar darinya. Kemana perginya dia ya Allah?"Cempaka menatap langit yang biru dari balik jendela kamarnya.
Angannya jauh melayang menembus awan, menggapai langit, menyusul Samudera yang waktu itu tengah berada di perjalanan pulang dari desa Jangkurang, Garut.
Dengan baju yang lusuh dan wajah yang kusut masai, Samudera berada di dalam bis itu, di antara para penumpang yang lainnya.
Dia terlihat sangat letih sekali. Dia tidak menemukan Cempaka di sana, dia pulang dengan tangan hampa dan perasaan yang kesal dan kecewa yang luar biasa.
"Cempaka!... Kamu itu di mana sebenarnya...?Kenapa aku keliling-keliling kota Garut sampai satu minggu, tapi dia tidak aku temui"Gumam Samudera sambil memejamkan matanya dan menyenderkan punggungnya di sandaran kursi.
Dia memejamkan matanya hingga bis yang ditumpanginya itu sampai di kota Bandung.
__ADS_1
"Alhamdulilahirabilalamin..."Ucap Samudera. Dia segera turun dari bis yang ditumpanginya, dengan langkah yang tergesa-gesa dia menaiki angkot yang menuju ke kota Cimahi.
Dia ingin segera sampai di rumahnya Cempaka. Dia ingin segera menemui orangtuanya Cempaka. Dia ingin segera mengungkapkan segala kekecewaannya.