
Semakin terisak tangisnya Cempaka di dalam kamarnya, setelah dia mendengar semua yang dikatakan oleh Bunga, kakaknya.
"Kenapa kak Bunga tidak mau mengerti... Uhk... Apa susahnya dia meminta kak Sakti agar segera melamarnya?... Uhk... Uhk... Ya Allah... Kenapa kau berikan cobaan ini padaku?..." Cempaka meratap pilu.
"Aku ingin mendengar langsung dari bapak dan ibu, bahwa ibu dan bapak setuju dengan syarat yang aku ajukan tadi. Sekalian Cempaka kasih tahu supaya dia tidak berharap banyak tentang
mimpi indahnya itu" Ujar Bunga.
"Cobalah mengerti nak!... Kalau begini caranya berarti kamu membuat luka di hati adikmu sendiri. Bagaimana kalau di kota " S" ada yang menjebaknya?. Pasti Cempaka akan sakit hatinya" Bu Sekar masih mencoba untuk menjelaskannya,
"Ya kalau sampai Buana mengalami hal seperti Angkasa di kota 'S' itu... Ya itu sudah takdir
mungkin. Itu masalahnya dia bukan masalah aku" Dengan cueknya Bunga menjawab seenaknya. Tak memikirkan perasaan sang adik yang tengah meratap di kamarnya.
"Sekali lagi aku tegaskan bu, pak. Aku tidak mau kalau Cempaka ada yang melamar duluan. Harus aku dulu, karena aku kakaknya yang lahir duluan. Kalau bapak sama ibu tidak suka dengan permintaanku ini, ya sudah jangan anggap aku anak kalian, aku mau keluar dari keluarga ini"
Dengan berapi-api Bunga mengatakan itu.
Jelas perkataannya itu membuat luka di hati kedua Orangtuanya, juga di hati adiknya, Cempaka.
Pak Jati dan isterinya saling tatap bingung, tak mengerti dengan sikap anaknya.
"Kalau ibu sama bapak diam saja, berarti kalian berdua tidak sayang lagi sama aku... Ya sudah selamat tinggal!!!" Ucapnya sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong bajunya.
Sebuah botol kecil yang berisi racun tikus!
Perlahan Bunga membuka tutupnya.
Melihat itu semua, pak Jati langsung berdiri dan mengibaskan tangannya ke arah tangannya Bunga, tepat sa'at mulut botol yang berisi racun tikus itu berada di dekat bibirnya Bunga.
"Prak!!!..." Suara botol pecah menimpa lantai.
"Apa-apaan kamu?" Bentak pak Jati sambil melotot kepada Bunga yang sudah dirasuki syetan.
Bunga hendak meminum racun tikus itu di depan kedua Orangtuanya.
"Jangan pedulikan aku!!!... Aku mau mati saja, daripada harus melihat adikku di lamar duluan!!!"
Teriaknya histeris.
Cempaka segera keluar dari kamarnya, dia kaget mendengar barang yang pecah. Dan lebih kaget lagi karena barang yang pecah itu tepat berada di depan pintu kamarnya.
"Ini apa bu?... Apa yang jatuh?"
Cempaka bertanya sambil berjongkok hendak memunguti serpihan kaca yang berserakan di hadapannya.
__ADS_1
"Biarkan Cempaka, jangan kau punguti! biar kakakmu sendiri yang membersihkan nya!" Pak Jati melarangnya.
"Kenapa pak?... " Tanyanya lagi tak mengerti.
"Aku mau bunuh diri dengan racun tikus itu, biar kamu leluasa tidak ada yang menghalangi walau mau nikah besok juga kalau aku sudah mati!... Biar kamu puas!" Teriak Bunga kalap.
"Apa?... Kak Bunga mau bunuh diri?... Sadar kak sadar!... Kenapa harus melakukan ini? Kita bisa bicara baik-baik dengan kepala dingin, bukan begini caranya" Cempaka begitu kaget setelah tahu apa yang akan diperbuat oleh kakaknya itu.
"Tuh dengar adikmu!... Dia bisa berpikir jernih tidak mengikuti hawa nafsu" Ujar bu Sekar kesal.
"Iya terus saja sanjung, puji adikku itu, dia kan mau punya suami polisi, jadi semua perkataannya, sikapnya selalu benar" Ucap Bunga iri.
"Apa yang merasuki otakmu itu Bunga?... Kenapa enggak ngerti juga?" Bentak pak Jati jengkel.
"Kalau benar bapak sama ibu mau aku tetap hidup, ayo sekarang katakan permintaanku kepada Cempaka!... Kalau tidak berani, berarti kalian menginginkan aku mati" Ucapnya lagi mengancam.
Bu Sekar sudah menangis sejak tadi, di tambah kini dengan perkataannya Bunga, makin kencang saja tangisnya.
Pak Jati kebingungan sendiri di hadapkan dua pilihan yang sama-sama berat rasanya.
"Ada apa sebenarnya bu?" Dengan lembut Cempaka menanyakan pada ibunya.
Bu Sekar tidak menjawabnya. Dia hanya menangis makin menjadi.
Dan, acara bahagia itu harus pupus, harus punah tak kan menjadi kenyataan, hanya karena keegoisan sang kakak.
"Begini nak, kakakmu itu... Emh...
Kakakmu itu... Emh..." Pak Jati tidak melanjutkan perkataannya.
"Kak Bunga kenapa pak?" Cempaka tidak sabar.
"Aku tidak mau kalau kamu di lamar duluan!... Aku tidak mau dilangkahi!... Aku ingin yang duluan di lamar. Jadi kalau kamu lusa itu menerima lamarannya si Buana, jangan harap kamu bisa bertemu aku lagi!... Camkan itu!... Aku tidak main-main!" Ucap Bunga, jarinya menunjuk ke arah Cempaka dengan penuh emosi.
"Bunga!... Apa cuma itu yang ada di kepalamu itu?... Dia adikmu"
Seru pak Jati menegurnya kesal.
"Kamu ini kakaknya Cempaka, tidak baik kalau punya sifat seperti itu, sekali lagi ibu menyarankan untuk mengundang Sakti biar kamu tidak di langkahi"
Bu Sekar masih mengingatkan.
"Kakak... Cobalah mengerti kak!... Aku mohon... Kasihan Keluarga Buana sudah menyiapkan segalanya sejak kemarin. Lagipula aku tidak akan menikah sebelum kakak menikah duluan. Dan, aku yakin kak Sakti pasti segera melamar kakak kalau kakak menjelaskannya" Cempaka memohon kembali untuk kesekian kalinya.
"Sekali tidak! Ya tidak!... " Sahutnya ketus.
__ADS_1
Bu Sekar menatap wajahnya Cempaka dengan mata yang nanar. Dipeluknya anak ketiganya itu sambil tak berhenti menangis.
"Sudah bu, ibu enggak usah menangis" Ucap Cempaka.
Diusapnya airmata dipipi ibunya.
"Cempaka... " Dengan nada suara yang bergetar karena ragu, bu Sekar menatap wajah anaknya itu seperti ada sesuatu yang mau di sampaikannya.
"Iya bu..." Cempaka balik menatap ibunya.
"Kau sayang kan sama ibu dan bapak?... Kali ini ibu minta tolong untuk ... Uhk... " Bu Sekar tidak melanjutkan perkataannya, dia malah menangis sambil memeluk Cempaka.
"Kenapa bu?... Minta tolong apa?" Cempaka bertanya tak mengerti.
"Iya nak, Bapak juga minta tolong demi keutuhan keluarga kita. Kau tidak mau kan kalau kakakmu itu melakukan aksi nekatnya seperti yang tadi kau lihat?" Pak Jati melanjutkan perkataan Isterinya.
dengan hati-hati. Dia tidak mau menyinggung perasaannya Cempaka.
"Mak... Sud... Nya?..." Cempaka bertanya dengan terbata-bata. Matanya nanar menatap wajah bapaknya.
Dalam hati, dia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan kedua Orangtuanya itu. Pasti dirinya harus menolak
lamarannya Buana seperti yang di inginkan oleh Bunga, kakaknya.
"Kau kan sebagai adik, emh... Itu... Emh... Kami... Kami ingin kau... Menunda... Lamarannya Buana sampai kakakmu punya suami" Pak Jati akhirnya bisa menuntaskan perkataannya walau dengan terputus-putus dan dengan suara yang sangat pelan sekali, hampir tak terdengar.
"Berarti?..." Cempaka tak meneruskan perkataannya. Dia langsung menghambur ke dalam kamarnya, dan menangis sejadi-jadinya.
Dia tak menyangka sedikitpun kalau kebahagiaan yang akan di raihnya dalam dua hari lagi itu, harus kandas hanya karena keegoisan kakaknya.
Melihat Cempaka menghambur ke dalam kamarnya, bu Sekar dan pak Jati segera mengikutinya.
"Cempaka... Boleh ibu sama bapak masuk?..." Bu Sekar minta izin dulu untuk memasuki kamar anaknya.
"Iya bu... Uhk... Uhk..." Sahut Cempaka sambil terus menangis.
Diapun lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil menyeka airmata dengan punggung tangannya.
"Nak!... Ma'afkan ibu sama bapak karena tidak bisa menerima niat baiknya Buana. Kami mohon kau sudi mengalah demi kakakmu. Kau harus rela menunda hari pertunanganmu sampai kakakmu menikah. Semoga saja Sakti segera menikahinya. Dan semoga saja Buana bersedia menunggunya serta semoga saja Buana tidak kena tahan ktp di kota tempat tugasnya itu" Ujar pak Jati sambil membelai rambut anaknya.
"Iya nak, sebagai adik kau harus mengalah demi kakakmu. Biarlah kalah lahir tapi kau menang bathin. Kau bersedia kan menunda pertunangan ini?... Ibu yakin kau anak yang baik, anak yang penurut, tidak apa-apa kan kalau kau menundanya?" Ujar bu Sekar pula.
Cempaka diam tak berkata sepatah katapun. Jawabannya di wakili oleh airmata yang semakin
deras luruh membasahi pipinya.
__ADS_1