Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Rahasia Anyelir


__ADS_3

Selama beberapa bulan Petir dan Anyelir main kucing-kucingan dengan Cempaka.


Di kala Cempaka tak ada di rumah, barulah Petir di perbolehkan datang berkunjung, berbincang-bincang dengan kedua orangtuanya.


Tapi, di kala Cempaka berada di rumah, semua orang yang berada di rumah itu terdiam. Seakan-akan tidak ada apa-apa.


Seperti waktu itu, Cempaka berada di rumah karena sedang cuti tahunan. Mereka berbincang semua hal yang tidak berhubungan dengan Anyelir.


"Enggak kerja kak! " Tanya Anyelir ketika mereka berpapasan di depan pintu kamarnya Cempaka.


"Enggak, kakak ngambil cuti tahunan, kamu sendiri?" Cempaka balik bertanya.


"Aku kerja siang, sebentar lagi juga berangkat" Sahutnya.


"Kak Anye...


Seruni tidak melanjutkan perkataannya. Dia segera tersadar karena kala itu ada Cempaka. Tadinya dia mau menanyakan " Kenapa kak Petir belum datang menjemputnya"


"Kal Anye kenapa?" Cempaka bertanya penasaran.


"Biasa, kalau Anyelir kerja siang dia kan suka minta di bawain sesuatu pulangnya" Bu Sekar segera menimpali. Sepertinya dia takut Seruni akan keceplosan bicaranya.


"Di bawain apa siih?" Ujar Cempaka penasaran.


"Ituu, kain bs buat bikin boneka katanya" Bu Sekar mengedipkan sebelah matanya kepada Seruni.


"Iya kak, yang seperti ini. Sebentar ya aku ambilkan" Seruni


segera bangkit dari tempat duduknya, dan beranjak ke kamarnya.


"Ini ka, bagus ya?" Tak lama kemudian Seruni sudah kembali lagi sambil membawa beberapa lembar kain. Dia tunjukkan kepada Cempaka.


"Wooow! Bagus sekali. Tapi, ini bagaimana ko! Kamu bisa bawa ini. Kalau ketahuan nanti gimana?" Cempaka khawatir.


"Enggak apa-apa kak, itu kan kain bs, buat lap mesin sudah tidak terpakai. Lagipula aku minta dulu sama kepala gudangnya, enggak asal ngambil" Ujar Anyelir.


"Syukurlah kalau begitu, kakak cuma khawatir saja" Ujar Cempaka.


"Sudah jam setengah satu, aku mandi dulu ya" Sebelum Anyelir beranjak menuju ke kamar mandi, dia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum kepada ibunya.


"Ya sana! Mandi dulu, biar enggak kesiangan." Bu Sekar balik tersenyum kepada Anyelir.


"Amaaan..." Guman Anyelir sambil berlalu menuju ke kamar mandi.


Tak lama Anyelir pun berangkat ke tempat kerjanya. Dia berangkat sendirian dari rumahnya. Di ujung gang, di pinggir jalan raya, ada seseorang yang sudah menunggunya. Dia duduk santai di atas motornya.

__ADS_1


Dia adalah Petir, calon tunangannya.


Rupanya kucing-kucingan itu tidak berlangsung lama. Karena di suatu hari tiba-tiba Bunga dan Sakti, suaminya. Datang berkunjung ke rumahnya bu Sekar.


Waktu itu Cempaka baru saja pulang kerja. Dia baru selesai mandi dan masuk ke kamarnya.


"Assalamualaikum..." Ucap Bunga Sebelum dia masuk ke dalam rumah ibunya.


"Waalaikumsalam..." Sahut bu Sekar dari ruang tengah.


"Pada kemana buu, kok! Sepi"


Bunga celingukan nengok sekeliling ruangan yang nampak sepi.


"Ada di dalam kamarnya masing-masing, ayo masuk!" Ujar bu Sekar.


"Aku dengar Anyelir sudah punya calon tunangan, orang mana dia?" Bunga bertanya sambil menuangkan air minum ke cangkir. Kemudian dia meminumnya.


"Katanya dia sering ke sini ya? Bagaimana orangnya buu?" Tanya Bunga lagi sebelum bu Sekar menjawabnya.


"Dia teman kerjanya Anyelir kan buu? Kapan dia ke sini lagi?... Ooh iya... Dengar-dengar dia suka ke sini kalau setiap mereka kerja siang ya? Mereka kan teman satu kerjaan?" Bunga nyerocos tak berhenti.


Walaupun bu Sekar sudah memberikan isyarat supaya diam.


Perkataan Bunga, sangat jelas terdengar oleh Cempaka yang kala itu mau membuka pintu kamarnya. Tadinya dia mau keluar dari kamarnya, dia mau makan.


"Jadi selama ini Anyelir sudah punya calon tunangan?" Gumamnya lirih.


"Dia sudah sering ke sini, ibu dan bapak juga sudah tahu. Berarti...


Selama ini mereka semua sepakat menyembunyikan semua itu dari aku" Sendu wajahnya Cempaka.


"Ibu, kenapa ibu tega sekali menyembunyikan itu semua dari aku?" Cempaka terduduk lemas di lantai, di balik pintu kamarnya.


"Anyelir sudah menemukan jodohnya. Menemukan calon suaminya, berarti aku..., akan di langkahi oleh Anyelir" Titik bening itu menutupi kelopak matanya.


"Ya Allah..., cobaan apa lagi yang akan aku terima?" Bulir-bulir bening itu luruh jatuh satu persatu menyusuri kedua belah pipinya. Sedih, Pedih kini menyapanya kembali.


"Bunga, pelanin bicaranya! Jangan sampai kedengaran sama Cempaka. Dia belum tahu tentang hal ini" Suara bu Sekar terdengar agak berbisik. Namun, tetap jelas terdengar oleh Cempaka.


"Lalu? Bagaimana jadinya, apa Cempaka mau di langkahi?" Bunga bertanya lebih jauh.


"Entahlah, ibu juga sangat bingung ini. Kejadiannya sama persis seperti waktu kamu belum nikah. Kala itu, Cempaka mengalah demi kamu. Tapi, sekarang ibu tidak yakin kalau Anyelir mau mengalah seperti Cempaka dulu. Kalau Cempaka yang mesti mengalah untuk di langkahi oleh Anyelir, ibu tidak tega melihatnya" Isak tangis mengiringi perkataannya bu Sekar.


"Kalau begitu bagaimana buu?"

__ADS_1


Bunga mengernyitkan dahinya.


"Entahlah, ibu juga belum kepikiran ke sana. Semoga saja Sebelum Petir meminang Anyelir,


minimal Cempaka sudah punya calon pendampingnya. Jadi dia tidak di langkahi oleh adiknya" Bu Sekar berangan-angan.


"Tapi bu, kalau Cempaka sampai lama belum juga mendapatkan jodohnya, bagaimana? Apakah Anyelir harus menunggu terus? Ini perlu di pikirkan buu" Bunga sepertinya tidak setuju dengan keinginannya bu Sekar.


Mendengar perkataannya Bunga seperti itu, bu Sekar nampak diam tertegun. Sepertinya dia tengah memikirkannya.


"Begini saja buu, bagaimana kalau kita rundingan dulu tentang hal ini, tapi tanpa di ketahui oleh Cempaka. Coba kita tanyakan sama Bunga, bagaimana menurut dia?" Bunga mengusulkan itu.


"Boleh juga rupanya. Tapi, ibu merasa enggak enak dengan Cempaka. Kalau dia tahu dari orang lain, pasti dia akan sakit hati lagi. Kasihan dia, ibu sungguh tidak tega kalau dia harus menderita lagi" Bu Sekar sepertinya kurang setuju dengan pendapatnya Bunga, anak sulungnya itu.


"Kalau kita sertakan Cempaka dalam perbincangan itu, pasti Cempaka merasa tersudut. Dia pasti menangis, meratapi nasibnya, kita yang melihatnya pasti tidak akan tega. Lalu kita harus bagaimana?" Ujar Bunga.


"Nanti akan ibu bicarakan dengan bapakmu dulu. Semoga saja bapakmu punya solusinya"


Akhirnya bu Sekar mencoba untuk mengakhiri percakapan itu.


Dia takut Cempaka akan mendengarnya.


Dan, semua percakapan antara bu Sekar dan Bunga kala itu. Semuanya jelas terdengar oleh Cempaka.


Rasa lapar yang sedari tadi sudah mengaduk-aduk perutnya.


Kini sirna entah kemana.


Rasa lapar itu sudah berganti dengan kepedihan yang sebentar lagi akan menyapa jiwanya kembali.


"Kenapa kebahagiaan itu seakan-akan enggan singgah dalam diriku, dalam kehidupanku?" Gumam Cempaka di balik isak tangisnya.


Dia menangis dalam diam, meratap dalam kesunyian malam.


Cempaka yang malang, apakah memang kebahagiaan itu enggan menyapamu?


Apakah benar derita selalu bertahta kokoh dalam jiwa dan kehidupanmu?


Entahlah...


Hanya waktulah yang akan mengurai segalanya.


Bunga dan bu Sekar yang asyik berbincang, mereka tidak menyadarinya kalau semua perkataan yang mereka utarakan sa'at itu, sudah di ketahui oleh Cempaka.


Karena Cempaka telah langsung mendengarnya sendiri.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana ya Allah?"


Gumam Cempaka di sela tangis pedihnya.


__ADS_2