
Karena sudah hampir Maghrib, Kenaripun lalu pulang ke rumahnya.
Dia berharap di keesokan harinya Cempaka akan berubah pikiran dan menerima ajakannya untuk menengok Karmin di Indramayu.
"Biarlah aku tunggu malam ini di rumahku saja, kalau hari ini aku tetap memaksanya, yang ada malah jadi ribut, bukannya ngikut" Gumam Kenari.
*
Sementara itu setelah Kenari pulang, Cempaka merenung sendiri di dalam kamarnya.
Mukena masih dia pakai, dia masih duduk di atas sajadahnya.
"Apa benar gitu semua perkataannya kak Kenari itu? Kalau benar si Karmin itu kena musibah, kecelakaan tertabrak mobil karena melamun memikirkan aku yang waktu itu acuh kepadanya. Berarti, aku salah. Benar kata kak Kenari" Cempaka bergumam sendirian.
"Kalau aku nengokin dia, seperti yang memohon padanya. Tapi, kalau tidak ke sana, kalau benar dia mengalami kecelakaan bagaimana? Apalagi kalau sampai dia meninggal, pastinya aku akan terus merasa bersalah di dalam kehidupanku. Jadi, aku harus bagaimana?" Cempaka mulai memikirkan perkataan kakak sulungnya itu.
"Apa aku bicarakan dulu sama ibu dan bapak, bagaimana baiknya? Iya, ah! Aku bicarakan dulu sama ibu dan bapak, bagaimana pendapat mereka?" Cempaka segera beranjak untuk membukakan pintu kamarnya dan segera keluar mencari ibunya.
"Ibu! Ibu di mana ya? Pak! Bapak di mana?" Ujar Cempaka sambil berjalan ke arah ruang makan.
"Ada apa? Ibu di sini!" Sahut bu Sekar dari dapur.
"Ibu, aku mau bicara sama ibu, kalau bisa sekalian sama bapak"
Cempaka duduk di bale-bale yang suka di pake bersantai oleh ibunya.
"Ada apa?" Bu Sekar menghampiri nya, diapun lalu duduk di sampingnya.
"Menurut ibu perkataannya kak Kenari itu benar tidak ya?" Cempaka memulai pembicaraan.
"Enggak tahu ibu juga. Cuma yang jadi herannya, kenapa waktu ibu minta amplopnya dia tidak mau memberikannya, seperti ada sesuatu yang sengaja dia sembunyikan dari kita. Tapi, enggak tahu apa yang di sembunyikannya itu"
"Iya juga ya bu, tapi kalau benar dia kecelakaan, apa kita harus menengoknya?" Cempaka mengerutkan keningnya.
"Ibu jadi bingung,nak! Ibu juga merasa heran sekarang ini jadi sedikit penasaran dengan perkataannya Kenari, siapa tahu dia benar? Tapi, dia kan sering berbohong untuk mengelabui dan memperdaya kamu, dia itu kan membencimu. Tapi, masa iya terus- terusan benci sama kami. Ah, ibu jadi bingung"
"Coba tanyakan sama bapakmu, siapa tahu bapakmu punya pendapat yang baik akan hal ini" Akhirnya bu Sekar menyarankan untuk meminta pendapat Bapaknya.
"Ada apa?" Pak Jati langsung nongol dari pintu belakang.
"Eh, bapak. Ini bagaimana tentang perkataannya Kenari tadi itu, apa kita turuti atau kita biarkan saja? Barangkali bapak punya pendapat yang bagus tentang masalah ini"
"Bapak juga masih bimbang dengan semua ucapannya Kenari itu, apa benar atau tidak. Kalau mau tahu kebenarannya ya harus di pastikan saja ke sana, baru ketahuan kakakmu itu bohong atau tidak?" Ujar pak Jati. Yang tadi pagi begitu kerasnya menentang supaya Cempaka tidak pergi ke tempatnya Karmin, sekarang sepertinya mulai berubah.
"Lalu bagaimana pak?" Cempaka jadi penasaran.
"Bagaimana besok saja, nak. Apa besok kakakmu itu mengajakmu untuk menengoknya atau bagaimana?
Kita lihat saja nanti!" Ujar pak Jati belum bisa mengatakan yang pasti.
__ADS_1
"Iya pak, kalau begitu aku mau ke kamar lagi pak, tugasku masih ada yang belum selesai"
Cempaka segera beranjak ke kamarnya.
"Iya nak!"
*
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kenari sudah bersiap-siap hendak pergi ke rumah ibunya, dia hendak menemui Cempaka, hendak merayunya supaya mau di ajak menengok Karmin di Indramayu.
"Cemara cantik, emam dulu ya. Setelah emam, kita ke rumahnya nenek lagi, kita bujuk bibi Cempaka biar dia luluh hatinya dan mau mendengarkan semua perkataan ibumu ini" Kenari mengajak bicara kepada gadis kecilnya itu, yang pastinya tidak mengerti apa-apa.
"Ayo nak! Tinggal sedikit lagi juga habis, anak pintar" Ujarnya lagi.
"Alhamdulillah, emamnya sudah selesai, sebentar lagi kita akan pergi ke rumahnya nenek" Kenari membersihkan mulutnya Cemara yang belepotan kena makanan.
"Minum dulu ya sayang"
"Nah, sekarang baru kita berangkat! Karena, semuanya sudah selesai. Tinggal kita membujuk bibi Cempaka supaya dia mau menuruti semua perkataan ibumu ini ya nak, ya. Supaya bibimu itu segera bisa menikah" Ujar Kenari lagi, dia lalu menggendong Cemara dan membawanya ke luar dari rumahnya untuk pergi ke rumah bu Sekar untuk membujuk Cempaka.
"Sekarang tidak boleh gagal! Aku harus membujuknya dengan lembut, Cempaka kan orangnya tidak suka di kerasin"
Kenari bergumam sambil berjalan menuju ke rumahnya bu Sekar.
"Assalamualaikum" Ucap Kenari di buat selembut mungkin.
"Waalaikumsalam" Sahut bu Sekar.
"Ada, tuh di belakang! Lagi bantuin bapak"
"Eh, cucu nenek mau salim ya?" Bu Sekar membelai rambut cucunya, yang ketahuan tengah memegangi tangannya bu Sekar.
"Iya, nek" Ujarnya pelan.
"Mamah mau nyari bibi Cempaka dulu, ya. Cemara sama nenek di sini ya" Kenari menurunkan Cemara dari gendongannya.
"Cempaka, kau di sana?" Teriak Kenari dari dapur.
"Iya kak, aku di sini" Jawab Cempaka.
"Kakakmu pasti akan mengajak kamu ke tempatnya Karmin lagi, dia kan tidak akan berhenti kalau keinginannya belum tercapai" Ujar pak Jati berbisik pada Cempaka yang berada di sampingnya.
"Iya pak, aku juga bingung" Cempaka bimbang.
"Bagaimana, sudah di pikirkan ucapan kakak kemarin itu?" Tanyanya sambil duduk di samping Cempaka.
"Aku masih bimbang, kak" Sahut Cempaka.
"Kenapa mesti bimbang?" Tanya Kenari lagi.
__ADS_1
"Antara percaya dan tidak, kak"
"Maksudnya?" Kenari bertanya sambil tersenyum, dia mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi di dalam hatinya Cempaka.
"Kiranya jampi-jampi Eyang itu sudah merasuki hati dan pikirannya Cempaka" Bathinnya.
"Iya kadang percaya kalau dia kena musibah, kecelakaan. Tapi, separuh hatiku mengatakan tidak, dan ini membuat aku jadi merasa penasaran ingin membuktikannya ke sana" Ujar Cempaka.
"Yap! Ternyata benar, Cempaka sudah kena jampi-jampi nya Eyang. Benar kata Eyang, jangan di bawa mampir dulu. Tapi, harus langsung di berikan kepada orang yang kita tuju, memang hebat Eyang itu" Bathin Kenari.
"Iya, makanya dari kemarin kakak mengajakmu pergi ke sana itu, apa? Ya biar kita bisa membuktikan benar atau tidak ucapannya itu. Kalau di sini saja, kita tidak menengoknya ke sana, mana kita tahu? Benar enggak?" Ujar Kenari lembut.
"Iya kak"
"Jadi, sekarang bagaimana keputusannya?"
"Kalau aku sih terserah bapak sama ibu saja, bagaimana baiknya" Cempaka menyerahkan keputusannya kepada kedua orangtuanya.
"Bagaimana pak?" Kenari sangat tidak sabar ingin segera mendengar pendapat kedua orangtuanya.
"Ternyata dengan perkataan yang lembut, walaupun itu cuma di luar saja, dan bantuan dari Eyang, tak susah untuk menaklukkan hati mereka. Cempaka, Cempaka! Tunggu tanggal mainnya! Tinggal selangkah lagi kau akan terjebak di dalam perangkap akal bulusku! Kasihan" Bathinnya bersorak kegirangan.
"Kalau mau nengok, ya tengok saja. Asal ada teman, jangan sendirian, tidak baik itu! Seorang perempuan singel mendatangi kediaman laki-laki yang bukan muhrimnya. Sebaiknya ajak saja kakak iparmu untuk menjagamu di dalam perjalanan ke sana" Saran pak Jati yang langsung di tolak oleh Kenari.
"Maksudnya mengajak Sakti atau Petir, begitu?" Kenari bertanya tak suka.
" Iya, dia kan laki-laki. Kalau mengajak Kilat, sepertinya belum pantas karena dia masih anak-anak" Sahut pak Jati.
"Kenapa mesti ngajak mereka? Berangkatnya sama aku saja, kan aku kakak kandungnya, dan lagipula aku yang mengenalkannya kepada Cempaka, ya berarti harus dengan aku ke sananya, tidak perlu mengajak yang lain" Tutur Kenari, dia sama sekali tidak setuju dengan saran dari bapaknya itu.
"Supaya ada yang menjaganya. Atau begini saja, kalian bertiga pergi ke sananya, jadi bapak dan ibu merasa tenang kalau perjalanan jauh ada laki-laki yang ikut serta menemani" Bu Sekar angkat bicara.
"Hambur- hamburin ongkos saja. Sudahlah kita berdua saja, Kita tanya-tanya saja sebelum naik kendaraan nya, sopir atau kernetnya juga pasti mengarahkan kita harus turun di mana? Kalau kita nanya pada mereka, jadi tidak usah khawatir ibu, bapak, kami akan hati-hati "
Kenari menuturkan alasannya.
"Ya sudah, bagaimana baiknya saja. Tapi, bagaimana dengan kamu, Cempaka? Apa kamu setuju dengan apa yang di katakan oleh kakakmu itu?"
"Kalau melihat dari ongkosnya, aku setuju saja. Tapi, kalau melihat dari keselamatan,.aku merasa kurang setuju, aku sedikit ragu pak"
"Makanya, biar tidak merasa ragu, ya sudah yakin saja kita akan sampai ke tempat tujuan dengan selamat, walaupun tanpa ada laki-laki di tengah-tengah kita"
"Kalau sudah pasti mau ke sana menengoknya, ya sana segera siap-siap, kita berangkat hari ini juga, siang ini! Jangan kesorean biar tidak terlalu malam sampai di sana nya. Masa, nengok yang sakit, larut malam?" Kenari mendesak Cempaka yang mulai luluh hatinya.
"Kena kau Cempaka! Kena kalian semua! Makanya jangan macam-macam sama aku! Kenari, di lawan" Bathinnya bersorak gembira.
"Iya kak, aku mau siap-siap dulu" Cempaka akhirnya menuruti semua yang di katakan oleh Kenari.
Kenari mengangguk tanda setuju, sambil tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Di dalam hatinya bersorak-sorai merayakan kemenangannya.
***