
Hingga berbulan-bulan Buana tidak ada kabar beritanya lagi.
Cempaka jadi terombang-ambing tak menentu.
Mau mencari tahu untuk bertanya kepada keluarganya, bapaknya sama sekali tidak mengizinkannya, seperti waktu itu Cempaka bermaksud untuk pergi ke rumahnya bu Seroja bersama Kenari.
"Bapak sudah bilang dari beberapa bulan yang lalu, kita tidak perlu ke sana!... Seperti yang mengemis saja, bapak tidak suka itu!... Dia yang harus datang ke sini!... Mereka yang harus menjelaskan semuanya, bukan kita yang menghiba mencari tahu hingga pergi ke sana!"Pak Jati,menghentikan langkah kedua kakak beradik itu.
Nampak sekali amarah di wajahnya.
"Iya pak" Sahut Cempaka dengan pelan.
"Jangan sampai bapak dengar kamu menemuinya, sebelum dia menemui kita, meminta ma'af kepada kita" Ucap pak Jati sambil beranjak menuju ke teras samping.
Pak Jati selalu pergi ke teras samping, setiap ada masalah yang menderanya. Di sana dia suka menenangkan dirinya dengan menatap ikan-ikan yang ada di kolam kecilnya.
"Kenapa sih kamu nyari-nyari masalah saja?" Bunga yang waktu itu tengah berada di rumah, karena sedang libur kerjanya tiba-tiba berkomentar, menyalahkan adiknya.
"Heh!... Jangan asal bicara!... Coba telusuri dengan baik, siapa yang pertama kali nyari masalah?" Kenari membentaknya.
"Serasa punya pahlawan kesiangan saja tuh si Cempaka!"
Gumamnya sambil mendelikkan sudut matanya kepada Cempaka.
Cempaka pura-pura tidak melihatnya.
Karena dilarang oleh bapaknya,
Cempaka dan Kenari tidak jadi pergi ke rumahnya bu Seroja, ibunya Buana.
Kenari beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Di ruang makan, dia membalikkan badannya dan memberi isyarat kepada Cempaka, supaya adiknya itu menghampirinya.
Cempaka segera menghampiri kakak sulungnya itu.
"Ke atas yu!...Kita bicara di sana"
Kenari menarik tangannya Cempaka.
Cempaka tidak banyak komentar, dia manut saja.
Sesampainya di atas, Kenari lalu
__ADS_1
menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada adiknya itu.
Cempaka pun menceritakan kejadian waktu Buana tidak mempedulikannya waktu dia panggil.
"Kalau begitu, menurut kakak pasti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Buana dan keluarganya. Ini harus di cari tahu" Ujar Kenari sambil menatap wajah adiknya.
"Nanti bapak marah kak, aku takut, aku enggak mau " Cempaka menggelengkan kepalanya, dia menolak usulannya Kenari.
"Kita perginya secara diam-diam, jangan sampai ketahuan sama bapak dan ibu, kau pura-pura mau ke rumah nenek, mau ketemu kakak, nanti dari sana kita berangkat bareng ke rumahnya bibi Kejora, adiknya bu Seroja itu. Aku yakin pasti dia tahu" Kenari membisikkan rencananya di telinga adiknya itu.
"Berarti... Aku berbohong sama Bapak dan ibu, aku enggak mau, aku takut dosa kak"Cempaka menggelengkan kepalanya lagi.
"Enggak apa-apa bohong juga kalau demi kebenaran, kalau enggak mencari tahu, mana mungkin kita tahu ada apa sebenarnya dalam hubungan kamu itu?... Sudah menanti sekian lama, sudah jadi orang malah jadi milik orang lain. Masa
mau dibiarkan begitu saja, kita yang rugi adikku!" Ujar Kenari meyakinkan adiknya.
"Aku bingung kak!... Aku takut!"
Cempaka tetap tidak mau mengikuti ajakan kakaknya.
"Emh... Kalau begitu, baiklah kakak sendiri yang akan mencoba untuk mencari tahu" Akhirnya Kenari memutuskan bahwa dia sendiri lah yang akan mencari tahu.
"Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya!... Apalagi sama bapak" Kenari memperingatkan adiknya.
"Iya kak" Sahut Cempaka singkat.
Lagipula, dia sudah tidak mengharapkan Buana kembali, yang di nantinya sekarang ini adalah Samudera, yang kini tengah mengikuti pendidikan tentaranya.
"Mau kembali mau tidak itu si Buana, aku tidak peduli!" Bathinnya Cempaka.
"Kita turun yu!..."Ajak Kenari kepada Cempaka.
"Ayo kak!"Cempaka segera mengikuti kakaknya turun dari lantai dua.
*
Keesokkan harinya Kenari diam-diam menemui Bibinya Buana, kebetulan waktu itu di rumah bi Kejora sedang sepi.
"Ma'af bi, aku ganggu waktunya"
Kenari berbasa-basi.
"Tidak apa-apa, ini anakmu?... Sudah besar lagi. Berapa tahun?"
__ADS_1
Tanya bibinya Buana, dia menjawil pipinya Cemara yang lucu itu, kemudian dia menggendongnya.
"Iya bi, hampir dua tahun. Tepatnya dua bulan lagi dia dua tahun" Sahut Kenari.
"Bi, aku sengaja ke sini, ada sesuatu yang hendak aku tanyakan kepada bibi" Kenari menyampaikan maksudnya dengan hati-hati sekali.
"Kau mau bertanya tentang apa?
Tentang Buana bukan?" Bi Rora ( biasa dia di panggil) menebaknya, dan tebakannya sangat tepat sasaran.
"Iya bi, bibi memang pintar" Kenari tersipu.
"Bibi juga bingung sebenarnya. Apa maunya si Buana itu?... Dulu dia ngotot ingin mendapatkan neng Cempaka, sampai dia ngancam-ngancam sama setiap pemuda yang berusaha mendekatinya. Jelas saja dia menang, dan yang lain bukannya kalah. Tapi,mengalah karena Buana anak orang kaya" Bi Rora
mengatakan apa yang belum pernah di dengar oleh Kenari.
"Apa bi?... Buana ngancam-ngancam?" Terang saja Kenari merasa kaget mendengarnya.
"Iya neng, dia itu sangat tergila-gila oleh adikmu itu. Bibi juga tidak menyalahkannya kalau dia bersikap begitu, dia ketakutan sekali kalau neng Cempaka, kembang desa, gadis yang paling cantik di kampung ini menjadi milik orang lain" Lanjut bi Rora sambil tersenyum.
"Yang bikin bibi kesal yaitu, kenapa dia sekarang bisa terpedaya oleh perempuan yang baru di kenalnya. Dia tidak berkutik saat dia kena penahanan ktp waktu dia tengah mengobrol berduaan di sebuah warung, padahal bukan di dalam, dia ngobrol di luar, di bangku yang suka di sediakan oleh yang punya warung. Dasar kebiasaan yang aneh" Lanjut bi Rora kesal.
"Apa mereka sekarang sudah nikah bi?" Susul Kenari.
"Kalau menikah sih belum, cuma waktu mereka datang ke sini, mereka itu menekankan supaya Buana segera melamarnya!... Baru ktp di balikkan lagi kepada Buana. Kalau tidak, ya ktp nya terus di tahan, begitu katanya" Lanjut bi Rora lagi.
"Lalu, adikku bagaimana bi?... Tidak ada alasan yang tepat dia menjauhi Cempaka, menghindar darinya, harusnya jangan begitu!... Dia dulu yang mengejar-
ngejar adikku, dia yang memberi janji, harusnya dia itu datang ke sana, temui adik saya, bicara baik-baik jangan seperti ini!" Kenari naik darah.
"Itu dia!... Bibi berkali-kali menyarankan, tapi tidak ada yang menggubrisnya. Semuanya bilang malu, harus ngomong apa di depan Cempaka dan keluarganya?... Begitu neng" Ujar bi Rora selanjutnya.
"Jadi bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka?... Yang telah di bina dengan susah payah selama lima tahun itu. Adikku yang setengah mati mencoba untuk dapat mencintai dia, dan kini rasa cinta itu sudah timbul ke permukaan, kenapa Buana mengkhianatinya?... Kenapa dia tidak bicara terus terang?... Kenapa dia malah menghindar dan tidak peduli waktu Cempaka memanggilnya?...Kenapa bi?... Kenapa?... Dia sama sekali tidak menghargainya!" Kenari berkata dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Iya neng, karena neng Kenari sudah ke rumah bibi, ada satu permintaan dari Buana untuk Cempaka" Bi Rora berusaha untuk tetap tenang.
"Apa itu bi?" Kenari segera menyambarnya dengan pertanyaan.
"Dia meminta supaya neng Cempaka menunggunya, dia akan menikahi perempuan itu walau dengan terpaksa. Dia tidak akan nikah kantor, nanti setelah dia melahirkan, dia akan menceraikannya dan menikah dengan neng Cempaka. Begitu katanya. Sebenarnya Buana ingin menyampaikan hal ini langsung kepada Cempaka. Namun, dia merasa tidak punya nyali untuk itu. Dia tidak berani" Perkataan bi Rora sangat mengagetkan Kenari.
"Apa?... Dia sudah hamil?... Kurang ajar si Buana itu, bedebah!" Kenari sangat emosi.
"Dia sudah hamil enam bulan, sedangkan bertemu dengan Buana baru empat bulan ini, entah oleh siapa! Jadi, sebenarnya Buana itu kena getahnya" Lanjut bi Rora lagi.
__ADS_1
"Dia tidak berani bicara masalah itu kepada neng Cempaka, dia merasa takut dan bingung serta tidak punya keberanian" Lanjutnya.
"Aku tidak bisa langsung percaya bi, ma'afkan aku. Terimakasih atas kabarnya, kalau benar yang bibi katakan barusan, kami tunggu Buana atau ibunya untuk menceritakan semuanya langsung kepada Cempaka. Aku pulang dulu bi, Assalamualaikum" Kenari langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari bi Rora.