Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Cincin yang hilang


__ADS_3

Setelah di cari di kamar tamu, dan juga baju yang di kenakan oleh Karmin pun tak luput dari geledahan tangannya Kenari.


Namun, apa yang di cari tidak di temukannya.


"Kita sudah mencarinya, namun kita tidak dapat menemukan apa yang kita cari. Sepertinya memang benar Karmin tidak mencurinya"


Ujar pak Jati dengan mimik wajah yang kecewa.


Dia merasa kecewa karena dia yakin pasti anak sulungnya yang membuat beberapa kesalahan.


Pertama, dia sudah berani dengan sengaja mencuri perhiasan itu dari kamarnya.


Kedua dia berani melemparkan tuduhan kepada Karmin, dengan kata lain dia telah berani memfitnah orang lain demi keuntungan pribadi.


Selain itu kesalahan-kesalahan lain juga begitu beruntun ada pada dirinya Kenari, di mulai dari menjodohkan Cempaka dengan secara paksa.


"Kita tidak berhasil menemukannya"


Ujar bu Sekar, lemas.


Dia duduk selonjoran di atas lantai.


Rasa kecewa jelas nampak di raut wajahnya.


"Di kemanain cincinnya, Karmin?"


Kenari bertanya untuk mengalihkan perhatian kedua orangtuanya.


"Wong saya ndak ngambil!" Sahut Karmin dengan logat Indramayu nya yang kental.


"Eeh malah ngeles lagi. Kalau bukan kamu yang ngambil, siapa lagi? Kan hanya kamu yang tahu tentang Cincin itu selain aku?" Kenari kekeh menekan, menyalahkan Karmin.


"Sampai lebaran monyet juga enggak bakalan kelar-kelar. Saling tuduh tidak ada yang mau mengaku, bikin jengkel dan kesal saja, bikin darah tinggi"


Pak Jati melengos pergi meninggalkan ruang tamu dan seluruh anggota keluarganya yang tengah berkumpul di sana.


"Benar pak, bikin emosi saja"


Bu Sekar juga ikut bangun dari duduknya, dia mengikuti langkahnya pak Jati, berjalan menuju ke teras belakang rumahnya.


Keduanya ingin melepaskan rasa jengkel dan kesal yang sudah memenuhi dadanya.


Di halaman belakang rumahnya yang penuh di tanami oleh pohon sayuran yang menghijau.

__ADS_1


Sambil memandangi ikan yang berenang-renang di kolam. Sungguh suatu pemandangan yang dapat melegakan hati yang tengah emosi.


***


Setelah melihat kedua orangtuanya pergi ke halaman belakang rumah.


Kenari pun pergi tanpa bicara sepatah katapun. Hanya di dalam hatinya dia bersorak kegirangan.


"Hore! Akhirnya mereka mundur juga. Baguslah bapak dan ibu menghindari aku. Berarti mereka tidak akan menekan ku lagi tentang cincin itu. Besok akan ku tukar dengan bentuk cincin yang lain, biar dia tidak mengetahui kalau cincin yang aku pakai nanti itu, adalah cincin ibu yang aku ambil kemarin.


Sudah tua masih banyak menyimpan perhiasan emas, hilang satu enggak apa-apa bu, kan masih ada perhiasan yang lainnya. Untung bukan kalung yang aku ambil, bu. Terimakasih ya karena sudah tidak mempermasalahkan lagi cincinnya"


Bukannya berpikir atau minta ma'af, dia malah merasa senang melihat kedua orangtuanya berlalu pergi dengan hati yang kesal.


"Dasar muka badak" Bunga mengatai Kenari yang tak tahu malu itu.


" Jangankan bapak sama ibu, kita juga kesal menghadapinya" Timpal Anyelir.


"Semoga saja sikap kita tidak seperti dia" Sakti ikut bicara.


"Ya janganlah! Satu Kenari juga sudah bikin kita kesal dan pusing. Apalagi kalau ada Kenari yang lainnya?" Ujar Bunga.


"Kalian mau bagaimana kelanjutannya?" Bunga bertanya kepada Cempaka dan Karmin.


"Kamu?" Bunga menatap Karmin.


"Besok saya mau pulang, saya sudah meninggalkan kerjaan saya selama satu minggu, sayang takut di pecat"


Sahut Karmin.


"Iya, kita sebagai laki-laki harus punya pekerjaan yang berpenghasilan buat mencukupi kebutuhan keluarga kita.


Jangan sampai kita menikahi anak perempuan orang, tapi kebutuhannya kita telantarkan. Dengan menikahinya berarti kita sudah sanggup untuk menafkahinya, begitu kan?" Sakti menasihati Karmin yang sepertinya merasa tersindir dengan ucapan itu.


"I, iya" Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya Karmin.


***


Menjelang malam, setelah selesai shalat Isya, Karmin masuk ke kamarnya Cempaka. Waktu itu Cempaka tengah berada di kamarnya Seruni, dia tengah menemani adik bungsunya itu belajar.


"Sudah beberapa hari menikah, tapi saya masih di perlakukan seperti seorang tamu saja, keterlaluan! Mentang-mentang saya tidak bawa apa-apa. Bukan salah saya, wong saya juga di rayu sama kakaknya sendiri" Karmin duduk di tepi tempat tidurnya Cempaka.


Dia menatap sekeliling kamar dengan tatapan yang takjub.

__ADS_1


"Kamar yang indah dan wangi juga. Benar-benar Cempaka itu perempuan yang ta'at beribadah. Asmaul Husna yang indah di jadikan nya sebagai hiasan dinding" Ucapnya.


Matanya tertuju kepada pajangan yang ada di atas meja, di samping tempat tidurnya.


Sebuah photo laki-laki lengkap dengan seragam militernya. Karmin mengambilnya dengan tangan yang bergetar.


"Gagah dan ganteng sekali. Dia seorang yang berpangkat, sangat jauh bila di bandingkan dengan saya yang hanya pekerja honorer di bank perkreditan rakyat, yang gajinya tidak seberapa. Pantesan saja dia tidak mau menerima saya, wong calonnya ganteng begini" Ujar Karmin.


Setelah merasa puas menatap photo itu, dia membalikkan photonya dia ingin mengetahui ada apa di balik photo itu.


Di sana terlihat sebuah photo lagi, seorang laki-laki yang tidak kalah gagah dan gantengnya dari photo yang di depannya.


"Ini siapa lagi? Pacarnya dua? Mana abri dua-duanya, gagah-gagah lagi"


Ujar Karmin lagi.


"Samudera, cintaku yang hilang 1986.


Ma'afkan aku, bukan aku tak mencintaimu. Namun, jurang pemisah itu terlalu dalam untuk kita lewati. Sampai detik ini aku masih mencintaimu" Karmin membaca tulisan yang ada di sudut bawah photo.


"Ooh ini rupanya kekasihnya yang dulu, tapi kenapa mereka tidak jadi menikah? Jurang itu terlalu dalam. Jurang apa ya?" Karmin jadi berpikir.


"Eh, ini photo seorang polisi. Apa ini juga mantan kekasihnya Cempaka?" Karmin meraih sebuah photo Buana dengan seragam polisi nya.


Dia membalikkan photonya, dia juga mendapatkan tulisan yang rapi di sana.


" Cinta pertamaku, kita berpisah karena keegoisan kakakku. Demi kakak tercinta, ku relakan cintaku kandas, demi saudara, ku relakan hatiku merana. Walau menderita ku paksakan tuk ceria, terimakasih kak karena engkau aku bisa merasakan hancurnya sekeping hati untuk yang pertama kalinya. Ini akan aku kenang selama hidupku"


"Apa maksudnya ya? Apa dia sakit hati karena kakaknya, apa itu Kenari yang di maksud? Kasihan sekali ternyata kisah cintanya Cempaka"


Karmin bergumam sendiri. Matanya tak lepas menatapi ketiga photo yang dia genggam di tangannya.


"Cinta pertamanya ternyata seorang polisi, lalu ini abri dan ini polisi militer.


Apa ini yang di katakan oleh bu Kenari waktu itu? Dia ingat akan perkataan Kenari waktu menawarkan Cempaka untuk di nikahinya. Pokoknya saya tidak mau si Cempaka jomblo itu menikah dengan si polisi militer itu. Saya tidak mau melihat dia punya suami yang punya pangkat, hidup senang tak kekurangan. Saya mau dia hidup menderita, semenderita-menderitanya, susah dan melarat. Karena itu, nikahi dia secepatnya! Sebelum cpm itu datang melamarnya" Perkataan Kenari itu masih di ingat oleh Karmin.


"Menurutku, Cempaka sangat cocok dengan salah satu dari ketiga pria ini.


Karena bukan jodoh, atau karena ulah jahil sang kakak yang tidak mau melihat sang adik bahagia? Yang jelas, begitu besar kebencian yang tertanam di hatinya Kenari. Saya juga malah ikut-ikutan membuatnya jadi semakin menderita" Gumamnya lagi.


Karmin tidak mengetahuinya kalau keberadaannya di kamar itu sudah di ketahui oleh si empunya.


Cempaka sudah berdiri di lawang pintu kamarnya bersama Seruni sejak beberapa menit yang lalu, tanpa di ketahui oleh Karmin.

__ADS_1


***


__ADS_2