Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Kedatangannya membuat Cempaka merindukan dia


__ADS_3

"Assalamualaikum" Keesokan harinya, pagi - pagi sekali Kenari sudah berada di depan rumah ibunya.


Dia merasa tidak sabar ingin segera mendengar kabar tentang Karmin. Dia ingin Karmin segera datang kembali ke rumah ibunya dan dengan segera pula Karmin menikahi Cempaka.


"Waalaikumsalam, kakak. Bentar kak, lantainya masih basah baru aku pel" Jawab Cempaka yang waktu itu baru saja mengepel lantai nya.


"Lewat belakang saja kak, di sini lantainya sudah kering" Ujar Cempaka lagi.


Kenaripun lalu memutar ke belakang, lalu bdia duduk di teras belakang.


"Karmin sudah datang belum?"Kenari celingukan mencari-cari Karmin.


"Belum kakak, memangnya ada apa?" Cempaka mengerutkan keningnya.


"Kakak takut dia tidak datang lagi. Mana kakak sudah mengundang pak Lebe lagi, ngundang pak Ustadz dan semua orang yang ada di kampung ini" Ujar Kenari gusar.


"Kenapa sudah mengundang semua orang? Nikahnya juga belum pasti!" Cempaka merengut.


"Mungkin dia lagi di jalan gitu?"


Gumamnya.


"Ya tunggu saja kak! Enggak sabaran, kayak cacing kepanasan saja nampaknya" Ujar Cempaka lagi. Dia beranjak meninggalkan Kenari.Karena halaman rumah belum dia bersihkan.


"Kakak khawatir tahu? Kalau dia tidak datang lagi, bagaimana?" Kenari tidak suka mendengar Cempaka berucap begitu.


"Kalau tidak balik lagi ya sudah! Mungkin dia punya alasan lain, dan siapa tahu jodohku bukan dia" Ujar Cempaka sambil berlalu.


"Jangan sembarangan bicara! Mau gagal nikah lagi? Mau jadi jomblo lagi?" Bentak Kenari.


Cempaka berlalu tidak bicara apapun.


"Ngomong sembarangan!" Kenari ngedumel kesal.


"Mau jadi mau tidak dengan si Karmin, memang gue pikirin!" Rutuk Cempaka di dalam hatinya.


"Benar kata Seruni, kenapa aku mau sama si Karmin itu?" Gumamnya.


"Cempaka, cepat bereskan pekerjaan nya! Kita harus segera siap-siap untuk acara pernikahan kamu!" Teriak Kenari.


Cempaka pura - pura tidak mendengarnya. Dia sibuk dengan pekerjaannya yang belum dia selesaikan.


"Kakak enggak kerja?" Cempaka bertanya iseng.


"Ya tentu saja tidak kerja, masa adik sendiri mau nikahan kakaknya kerja. Kamu ini gimana sih?" Kenari menjawab sewot.


"Ya, enggak gimana-gimana, cuma nanya saja" Sahut Cempaka lagi.


"Bu, mau belanja kapan buat nyiapin hidangannya? Biar aku yang ke pasar nya" Kenari menanyakan persiapan konsumsi kepada ibunya sekalian menawarkan diri.


"Nanti saja, ini kan belum tentu"


Sahut bu Sekar.

__ADS_1


"Berarti jampi-jampi dari Eyang belum menjalar semuanya ke dalam tubuh dan sanubarinya mereka. Bagaimana ini? Mana si Karmin belum nongol juga" Gumam Kenari.


"Aku takut dia tidak datang tepat waktu. Kacau ini! Aduh sudah jam delapan lebih, dia belum datang juga. Aku sudah tidak sabar ini" Gumamnya lagi.


"Kenapa? Seperti yang banyak pikiran, gelisah begitu!" Ujar bu Sekar, dia memperhatikan anak sulungnya yang dari tadi nampak sangat gelisah.


"Aku sangat khawatir, bu. Takut Karmin enggak datang lagi" Kenari berujar perlahan sambil menatap bu Sekar dengan perasaan khawatir.


"Tidak perlu di pikirkan terlalu kuat, bagaimana nanti saja. Tuh yang mau jadi pengantinnya juga santai saja, kenapa kamu yang risau?"


"Aku kasihan sama Cempaka, bu. Masa harus gagal lagi"


"Hemh!" Ujar bu Sekar.


"Assalamualaikum" Suara seorang perempuan terdengar dari pintu depan.


"Waalaikumsalam" Sahut mereka.


"Siapa bu? Seperti suara bi Nani" Ujar Cempaka.


"Coba kau lihat, nak! Takutnya dia ada perlu penting"


"Baik, bu"


Cempaka beranjak menuju ke ruang tamu, untuk membukakan pintunya.


"Eeh, bi Nani, apa kabar, bi?" Cempaka setengah kaget melihat adik bungsu ibunya datang tiba-tiba, mana masih pagi lagi. Pasti dia sehabis subuh berangkat dari rumahnya. Karena rumahnya lumayan agak jauh di Desa lain, satu desa dengan Samudera.


cantik, baik pintar dan Solehah lagi. Sayang ya dulu Samudera tidak berjodoh dengan kamu. Padahal, Samudera juga pemuda yang baik dan Soleh, ganteng lagi, sangat cocok dengan kamu yang cantik ini" Bi Nani nyerocos memuji kecantikan Cempaka dan mengingatkan Cempaka kepada Samudera juga.


Setiap mendengar orang yang pernah di cintai nya itu, Cempaka selalu tergetar hatinya, buliran rindu selalu datang menyelinap ke dalam hati sanubarinya.


Wajah yang cerah pun berubah seketika menjadi muram, bak awan hitam yang tergantung di langit sana, sendu dan pilu.


"Kenapa cantik?" Bi Nani menatap Cempaka terkejut.


"Enggak apa-apa bi" Cempaka mengusap air matanya.


"Ma'afkan bibi ya sayang, bibi sudah mengingatkan kamu akan Samudera" Ujar bi Nani merasa bersalah.


"Tidak apa-apa bi, mungkin sudah takdir aku begini. Setiap laki-laki yang aku sayangi tak mendapatkan restu dari keluargaku tanpa alasan yang pasti, aku sedih bi" Cempaka menangis terisak di pelukan bi Nani yang juga ikut bersedih.


Mereka tidak menyadari kalau bu Sekar tengah menatap mereka dari pintu tengah dengan berlinang air mata.


"Karena aku anakku jadi sengsara, menderita seumur hidupnya. Samudera, seandainya kamu masih sendiri, akan ku nikahkan Cempaka denganmu" Gumam bu Sekar.


"Ternyata dia masih mencintai Samudera. Berarti, dia mau menerima Karmin itu dengan terpaksa. Karena hatinya masih terpaut pada si ganteng Samudera"


"Bi, apa bi Nani suka bertemu dengan Samudera?" Bisik Cempaka perlahan, di sela-sela isak tangisnya.


"Sering neng, dia suka datang ke rumah bibi dan setiap datang, selalu kau yang di tanyakan terlebih dahulu" Sahut bi Nani.


"Dia suka nanyain neng Cempaka sudah nikah belum? Dengan mata yang penuh dengan rasa penyesalan. Apalagi kalau sama bibi di jawab belum, dia suka murung dan enggan berangkat ke kantor. Bibi juga suka kasihan melihatnya. Dia bingung karena dia sudah menikahi perempuan lain dengan terpaksa karena sakit hati" Lanjut bi Nani.

__ADS_1


Perlahan Cempaka melepaskan pelukannya, dia lalu duduk di sofa dan bi Nani pun duduk di sampingnya.


"Neng sudah yakin mau menerima laki-laki yang sekarang ini untuk jadi calon suamimu?" Bi Nani bertanya ragu.


"Entahlah bi, aku hanya menepis ejekan Putri jomblo saja, karena Sedikitpun aku tidak suka dan tidak mencintainya, aku kangen sama Samudera, bi" Ujar Cempaka perlahan. Namun, terdengar oleh bu Sekar yang masih berdiri tertegun di lawang pintu tengah.


"Perkataan mu itu sering di ucapkan oleh Samudera setiap dia bertandang ke rumah bibi"


Ujar bi Nani pula.


Jari tangannya mengusap air mata yang jatuh di pipinya Cempaka.


"Kalau aku menemui dia bagaimana bi? Istrinya pasti marah ya bi. Apa istrinya sudah tahu alasannya dia menikahinya?" Tanya Cempaka dengan suara yang ragu.


"Dia sudah tahu neng, makanya kalau Samudera pulang dari rumah bibi suka murung, dia tak pernah mengganggunya"


"Kasihan juga pernikahan mereka. Mungkinkah pernikahan aku dengan Karmin seandainya terjadi nanti akan seperti itu? Aku dan Samudera saling jatuh cinta, tapi kami tidak bisa bersatu dalam naungan pernikahan. Kenapa bi? Kenapa bisa begini?" Cempaka menangis lagi.


"Ma'afkan ibu, nak!" Tak kuasa menahan perasaannya yang sedari tadi di pendamnya, akhirnya menghambur memeluk Cempaka dengan erat sambil menangis tersedu.


"Ibu, kenapa bu?" Cempaka merasa heran melihat tingkah ibunya.


"Ibu mendengar dan juga menyaksikan semua yang kau ucapkan kepada bibi mu, nak"


Ujar bu Sekar.


"Sudah bu, enggak apa-apa bu. Ini sudah menjadi takdir aku"


Cempaka mencoba menenangkan hati ibunya.


"Kamu tahu darimana kalau Cempaka mau nikah?" Bu Sekar bertanya setelah terdiam selama beberapa sa'at.


"Kenari yang datang ke rumahku. Katanya awas kalau tidak datang! Karena ini pernikahan yang langka terjadi! Begitu kak" Sahut bi Nani.


"Maksudnya apa dia bicara seperti itu?" Bu Sekar tak mengerti.


"Saya juga tidak tahu,kak. Makanya saya datang secepatnya karena penasaran"


"Tapi, sepertinya neng Cempaka tidak suka dengan laki-laki yang akan jadi suaminya itu, lho. Ini bagaimana? Apa mau di paksakan saja?" Lanjutnya lagi.


"Bingung saya juga, nan. Setengah hati mengizinkan nya setengah hati lagi menolaknya"


Ujar bu Sekar.


"Ada apa ini? Apa masih tetap ingin mempertahankan anaknya yang jomblo itu hingga seumur hidup? Masih saja ragu mentang-mentang si Karmin itu aku yang mengenalkannya pada si Cempaka jomblo itu, Heran!"


Tiba-tiba suara Kenari menggelegar memenuhi ruang tamu.


Sontak saja mereka bertiga merasa terkejut, mendengar Kenari berkoar-koar lantang begitu.


Mereka terdiam dengan mata menatap ke pada yang punya suara.


***

__ADS_1


__ADS_2