Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Siasat licik Kenari


__ADS_3

Sebelum Adzan Maghrib, mereka baru pulang.


Dari kejauhan sudah terdengar cekikikan nya, mereka nampak bahagia, padahal ada satu hati yang menderita karena ulah mereka.


"Assalamualaikum... " Salamnya sebelum mereka masuk.


"Waalaikumsalam..." Seruni yang menjawab dan membukakan pintunya.


Bu Sekar berada di kamarnya, tengah siap-siap mau sholat Maghrib. Sedangkan pak Jati dan Kilat sudah berangkat ke Masjid.


Cempaka sedang bersiap-siap hendak mengambil wudhu, mau sholat Maghrib.


"Pada ke mana, kok! Sepi?" Kenari mencari-cari.


"Bapak sama kak Kilat berangkat ke Masjid, ibu di kamarnya, kak Cempaka di kamar mandi. Kalian dari mana? Kok! Sudah sore begini baru pulang?" Seruni bertanya tak mengerti.


" Ini urusan orang dewasa, anak kecil enggak boleh tahu!" Bentak Kenari ketus.


Mereka bertiga lalu masuk tanpa mengindahkan Seruni yang berdiri tak mengerti.


" Di tanya malah sewot!" Gerutunya sambil cemberut.


Tak lama berselang, Adzan Maghrib pun terdengar berkumandang dari Masjid di tengah kampung.


" Kalian baru pulang? Dari mana kak?" Cempaka baru keluar dari kamar mandi.


" Iya, emh... Dari rumah neneknya Petir, beliau lagi sakit. Jadi kami menengoknya" Kenari berbohong.


" Ooh..." Sahut Cempaka pendek.


" Tadi kamu enggak kami ajak. Karena, kamu kan kerja pagi. Lagipula kabarnya mendadak" Timpal Bunga sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Anyelir. Memberikan isyarat.


" Iya kak, ma'af ya enggak aku ajak" Perlahan Anyelir berucap dengan menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan wajahnya.


" Sudah enggak apa-apa, aku mau Sholat Maghrib dulu ya" Tanpa curiga, Cempaka menjawabnya dengan tersenyum lembut, lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya.


"Nanti setelah Sholat Maghrib, kakak mau bicara sebentar ya!"Ujar Kenari.


"Iya kak!" Sahut Cempaka sebelum menutup pintu kamarnya.


Setelah Cempaka menutup pintu kamarnya. Ketiga saudaranya saling tatap sambil tertawa agak di tahan, Mereka merasa menang telah mengelabui Cempaka.


Kenari berlari ke belakang, di ikuti oleh ke dua adiknya.


" Ha... Ha... Ha...Ha... Ha!" Mereka tertawa ngakak setelahnya berada di belakang.


Mereka nampak bahagia telah menang mengelabui saudaranya sendiri.


"Sssst!... Jangan terlalu lepas tertawanya! Kalau kedengaran ibu bagaimana hayoh?" Bunga mengingatkan.


" Ayo! Kita siap-siap untuk Sholat Maghrib!" Ajak Kenari sambil berlalu menuju ke kamar mandi.


*


"Cempaka! Kakak mau minta tolong sama kamu. Kamu mau kan menolong kakak?" Kenari memulai percakapan setelahnya dia berada di dalam kamarnya Cempaka.


" Minta tolong apa kak?" Cempaka tidak merasa curiga.


"Kamu pasti akan menolong kakak kan?" Sepertinya Kenari belum yakin.


" InsyaAllah kalau aku bisa kak"


"Kakak mau minta tolong apa? Sepertinya ragu" Tatap Cempaka.


" Emh, kamu masih menyimpan data Guru-guru dan Pegawai yang ada di Sekolah bapak enggak? Kalau ada yang di kantor Dinas dan rekan bapak yang dari Sekolah lainnya" Bisik Kenari perlahan.


" Buat apa kak?' Sebelum menjawab, Cempaka balik bertanya.


"Yaa mau tahu saja. Siapa tahu kakak ada yang kenal, soalnya ada beberapa orang teman kakak yang katanya mengajar di sana. Kakak lagi ada perlu sama mereka" Kenari berbohong.


"Siapa kak namanya?"


"Lupa lagi, makanya kakak mau lihat satu persatu beserta alamatnya. Kakak yakin deh, kalau lihat nama dan alamatnya, pasti kakak langsung ingat deh!"


"Sebentar ya kak, aku minta ke bapak dulu. Semua berkas-berkasnya kan ada di bapak" Cempaka bangun dari duduknya.


"Emangnya di kamu enggak ada?


Cari dulu gih!" Kenari segera memegangi tangannya Cempaka. Dia takut adiknya itu menemui pak Jati.


Apalagi sa'at itu Bapaknya tengah kesal karena ulah sang besan.


"Rasanya enggak ada kak, aku kan sudah lama enggak ngajar"


"Emh... Bagaimana kalau ngambil yang tidak kepakai saja?"


"Iya kak, aku ke ruang kerja bapak dulu" Cempaka yang lugu segera beranjak ke ruang kerjanya pak Jati.


Kenari harap-harap cemas sepeninggalnya Cempaka.


"Bagaimana kak, sudah?" Anyelir nongol di lawang pintu. Dia sudah tidak sabar.


"Ssst! Belum dapat. Cempaka nya lagi ke ruang kerja bapak dulu" Sahutnya berbisik.


"Oooh..." Anyelir langsung mundur lagi ke tempatnya semula, dia takut ketahuan kakaknya.


"Anyelir, lagi apa? Kenapa balik lagi?" Cempaka memergoki adiknya yang mau balik lagi.

__ADS_1


Cempaka baru saja kembali dari ruang kerja pak Jati dengan menenteng map arsip di tangannya.


"Apa itu kak?" Anyelir terbelalak menatap map yang di tangannya Cempaka.


"Ini arsip data Guru-guru, tadi kak Kenari menyuruh kakak mengambilnya dari ruang kerjanya bapak" Jujur Cempaka.


"Buat apa?" Anyelir pura-pura tidak tahu.


Dasar licik!


"Katanya mau nyari nama temannya yang mengajar di sana" Polos jawaban Cempaka.


"Sudah dapat arsipnya?" Kenari segera keluar dari kamarnya Cempaka, karena mendengar pembicaraan Cempaka dan Anyelir. Dia buru-buru keluar karena takut pak Jati keburu pulang dari Masjid.


Dan, takut ibunya keluar dari kamarnya.


"Bisa berabe ini!" Pikirnya.


"Ini kak! Tapi, jangan lama-lama takut bapak nyariin. Soalnya aku tadi tidak minta izin sama bapak. Bapaknya kan belum pulang" Cempaka menyodorkan map arsip kepada kakak sulungnya.


"Makasih ya, kamu memang adik yang baik dan bisa di andalkan. Tenang saja, enggak akan lama kok!" Dengan senyuman kemenangan, Kenari menerima map arsip data Guru-guru dari tangannya Cempaka.


"Iya kak, sama-sama" Tersenyum Cempaka merasa senang karena sudah bisa membantu kakaknya.


"Kakak bawa dulu map nya ya! Ayo Anye!" Kenari berlalu dari hadapannya Cempaka dengan senyum penuh kemenangan.


Cempaka hanya tersenyum kecil melihat tingkah kakak dan adiknya itu. Tak sedikitpun dia merasa curiga.


Dia pun melangkahkan kakinya ke arah pintu kamarnya.


"Cempaka, ada apa?" Bu Sekar baru keluar dari kamarnya, hendak menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


" Eh ibu, itu kak Kenari meminta aku untuk mengambil map arsip data Guru-guru, katanya mau melihat nama-namanya. Dia merasa ada temannya yang mengajar di sana, dia lagi ada perlu penting katanya" Cempaka menjelaskannya.


"Tidak seperti biasanya" Bu Sekar mengernyitkan keningnya


karena merasa heran.


"Bantu ibu siapin makan malam yuk!" Bu Sekar mencoba mengalihkan perasaannya. Walau tanda tanya masih menggulung di benaknya.


"Assalamualaikum..." Ucap pak Jati dan Kilat yang baru pulang dari Masjid.


"Waalaikumsalam..." Sahut bu Sekar dan Cempaka dari ruang makan.


"Langsung makan yuk pak, Kilat! Panggilkan Seruni ajak makan gih!" Suruh bu Sekar.


"Iya bu" Kilat beranjak mencari Seruni untuk mengajaknya makan.


Bu Sekar, pak Jati, Seruni dan Cempaka sudah berkumpul di meja makan.


Mereka mau makan malam bersama, seperti biasanya.


Perasaan kesal dan jengkel masih membekas di hati mereka.


Sementara itu, Kenari dan Anyelir tengah sibuk mencatat semua nama Guru-guru, yang datanya ada di map arsip yang di bawain Cempaka dari ruang kerjanya pak Jati.


"Cepat Anyelir! Bapak sepertinya sudah pulang dari Masjid. Kalau nanti Cempaka bicara sama bapak bagaimana?


Bisa habis kita! Apalagi kalau tahu kita mencuri data-data ini untuk kartu undangan pesta pernikahan kamu" Kenari nyerocos sembari tangannya sibuk mencatat nama Guru-guru


yang ada di arsip itu.


"Ini semua nya di undang kak?"


Anyelir bimbang dan juga takut sama bapaknya.


"Ya iya lah di undang semuanya.


Lalu, buat apa kita nyuruh Cempaka untuk nyuri arsip ini?"


Sungut Kenari sepertinya kesal.


"Cepetan tulis semuanya! Besok kamu gabungkan dengan daftar nama yang mau di undang sama keluarganya Petir"


"Iya kak"


Yang makan malam sudah selesai. Bu Sekar dan Cempaka sudah membereskan bekasnya.


"Cempaka, tadi kamu bilang, Kenari minta di ambilkan arsip data Guru-guru dari ruang kerjanya bapak" Bu Sekar bertanya setelah dia duduk di ruang tengah di depan pak Jati.


"Iya bu" Cempaka pun duduk di sebelahnya.


"Buat apa Kenari nyari arsi data Guru-guru?" Pak Jati menatap wajah Cempaka.


"Katanya ada perlu penting sama temannya yang mengajar di sana" Dengan polos Cempaka menjawabnya.


"Ada-ada saja tuh anak, makin tidak jelas saja" Desah pak Jati. Sepertinya pak Jati belum kepikiran kalau Kenari memerlukannya untuk kartu undangan.


"Mana mereka sekarang? Sudah pada pulang kan? Bukannya menemui orang tua dulu, malah sibuk dengan data Guru-guru." Pak Jati menggerutu, kesal.


" Di kamarnya Anyelir pak" Sahut Cempaka.


"Panggil mereka! Bapak mau tahu apa yang di bicarakan tadi di rumahnya bu Tari" Perintah pak Jati sedikit geram.


"Iya pak" Cempaka segera beranjak menuju ke kamarnya Anyelir.


"Kak Kenari, Kak Bunga, Anyelir, tuh di panggil sama bapak!" Panggil Cempaka dari balik pintu kamarnya Anyelir.

__ADS_1


"Kak Cempaka! Kita di panggil sama bapak! Aduh! Bagaimana ini?" Anyelir nampak ketakutan mendengar suara Cempaka.


"Kita harus bagaimana?" Bunga juga tak kalah tegang.


"Anyelir! Tolong bukakan pintunya! Apa kalian tidur?" Teriak Cempaka.


"Iya Cempaka, sebentar" Teriak Kenari sambil celingukan.


Dia juga merasa kebingungan untuk mencari jawaban, bila pak Jati menanyakan tentang arsip data Guru-guru itu.


"Ayo kita keluar! Nanti bapak bisa marah kalau kita diam saja di sini. Bagaimana nanti saja dah, kita hadapi bersama. Awas! Jangan menyalahkan kakak" Kenari mengancam kedua adiknya. Walaupun dia yang punya ide. Tapi, tetap saja tidak mau di salahkan.


Bunga dan Anyelir saling tatap sambil mengangguk perlahan.


"Sebentar katanya pak" Cempaka kembali duduk lagi di tempatnya tadi.


Tak lama kemudian nampak Kenari dan kedua adiknya. Perlahan berjalan menuju ke ruang tengah, dengan kepala yang tertunduk.


"Assalamualaikum..." Ucapnya setengah gemetar.


"Waalaikumsalam... Duduk!" Suruh pak Jati tegas.


Mereka lalu duduk dengan kepala yang masih menunduk.


"Apa yang kalian kerjakan di rumahnya bu Tari? Setelahnya bapak sama Ibu pulang?" Tanya pak Jati.


Mendengar pertanyaan itu, bukan hanya Kenari, Bunga dan Anyelir saja yang terkejut.


Bu Sekar pun terlonjak kaget di buatnya. Dia takut suaminya menyinggung tentang rencana pesta pernikahannya Anyelir dan Petir.


"Emh, emh, kita, kita ke rumah Neneknya Petir. Beliau kan lagi, emh lagi sakit. Iya lagi sakit" Belepotan Kenari menjawabnya.


"Pak, pak!" Bu Sekar memberi Isyarat kepada suaminya. Dia takut, kalau suaminya ke ceplosan menanyakan kelanjutan perbincangan tadi.


"Tadi, katanya kamu nyuruh Cempaka ngambil arsip data Guru-guru, buat apa?" Untung Pak Jati faham akan Isyarat istrinya. Dia segera mengalihkan pembicaraannya.


"Emh, emh, nyari nama teman saya waktu sekolah dulu" Kenari berbohong.


"Siapa namanya?" Selidik pak Jati.


"Arum, iya Arum namanya" Sahut Kenari asal. Tadi dia sekilas membaca ada yang namanya Arum di Arsipnya.


"Arum? Bu Arum kan tidak seusia kamu. Bu Arum lebih tua dari kamu" Pak Jati keheranan. Karena, yang dia tahu bu Arum itu usianya hampir sama dengan bu Sekar, ibunya Kenari.


"Emh, maksudnya adiknya bu Arum" Kilah Kenari lagi. Dia terus mencari alasan untuk menutupi kesalahannya.


"Adiknya bu Arum, siapa ya? Coba besok bapak tanyakan ke bu Arum ya" Ujar pak Jati.


"Mampus aku!" Bisik Kenari meringis. Kebohongannya pasti terbongkar, mana sama bapaknya langsung lagi.


Kenari mencolek lengannya Bunga, minta bantuan. Sedangkan matanya melirik ke arah Anyelir.


"Ma'af pak, bu, saya mau kebelakang dulu" Kenari mencari alasan supaya bisa pergi dari tempat itu.


Dia sudah tidak bisa lagi untuk mencari alasan.


Setelah pamitan, Kenari langsung berlari ke belakang.


"Alhamdulillah... Akhirnya aku bisa bebas dari pertanyaan bapak" Ucapnya sedikit lega. Dia sender kan punggungnya ke dinding kamar mandi.


"Bunga, Anyelir! Besok bapak mau bicara, ada yang perlu bapak tanyakan" Pak Jati beranjak menuju ke kamarnya.


"Iya pak" Bunga dan Anyelir menyahut pelan.


"Alhamdulillah kita malam ini bebas. Tinggal mikirin buat jawabannya besok" Bisik Bunga sambil nyengir.


"Ada apa kak?" Cempaka rupanya penasaran.


"Enggak tahu kakak juga, aku ke kamar dulu ya" Bunga segera beranjak menuju ke kamarnya, dia menginap di rumah ibunya malam itu.


"Aku juga mau ke kamar ah! Dadah kakak, dadah ibu" Anyelir ikut-ikutan meninggalkan bu Sekar dan Cempaka yang kebingungan sendiri.


"Ada apa ini bu?" Cempaka menatap bu Sekar, meminta jawaban.


"Enggak tahu ibu juga" Bu Sekar mencoba menutupi hal yang sebenarnya terjadi.


"Sudah malam, ibu ke kamar duluan ya. Kamu juga segera istirahat, besok kan kamu kerja pagi, biar tidak kesiangan bangunnya, Assalamualaikum"


Bu Sekar pun berlalu ke kamarnya, meninggalkan Cempaka yang masih menunggu jawaban.


"Waalaikumsalam..." Sahut Cempaka dengan penuh kebingungan.


"Ada apa ini sebenarnya? Sepertinya ada yang di sembunyikan dariku" Pikir Cempaka.


Untuk beberapa saat Cempaka duduk sendiri di ruang tengah, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya sa'at itu.


"Emh, bikin pusing kepala saja. Kenapa tak seorang pun yang memberi tahukannya kepadaku?" Gumam Cempaka sendiri.


Tak lama akhirnya Cempaka pun beranjak ke kamarnya dengan membawa hati yang penuh dengan tanda tanya.


"Alhamdulillah sudah pada bubar, berarti aku sudah terbebas dari masalah ini. Aku ke kamarnya Anyelir saja ah, anakku kan tidur di sana" Ucapnya sumringah.


"Anyelir,. Bunga, kita makan dulu yuk! Kakak lapar nih"


"Cepat! Mumpung lagi enggak ada orang" Kenari menarik tangannya Bunga dan Anyelir.


"Iya, iya, aku juga lapar" Seru keduanya.

__ADS_1


Merekapun nampak makan dengan lahapnya. Tanpa permisi, Tanpa merasa bersalah.


__ADS_2