Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Sebuah Dilema


__ADS_3

Bu Sekar nampak berseri-seri wajahnya ketika melihat Bunga, anaknya itu turun dari motor suaminya.


Bu Sekar langsung bangkit dari tempat duduknya sambil menyeka airmata yang masih menetes membasahi kedua pipinya.


"Bunga!... Anakku..." Serunya sambil berlari menyambut kedatangan anaknya.


"Alhamdulillah... Terimakasih ya Allah... Kau kembalikan anakku" Dipeluknya anaknya itu dengan erat, seakan tak akan di lepaskan lagi.


"Sini sayang, ibu enggak mau kehilangan kamu" Ucapnya lagi sambil menuntun anaknya itu dengan penuh kasih.


Bunga hanya diam saja tak sedikitpun menyahut perkataan ibunya.


Matanya mendelik ke arah Cempaka, seakan-akan adiknya itu adalah musuh baginya.


"Kakak... Jangan pergi lagi ya!" Ucap Cempaka sambil mendekati kakaknya itu. Dia hendak memeluknya.


Bunga bergeser, menjauhi tangan Cempaka yang hendak meraihnya sambil mencibir.


"Kaka, kenapa kak?... Kakak marah kepadaku?" Dengan polosnya Cempaka bertanya. Di kedua bola matanya nampak airmata tergenang, yang di paksa di tahan supaya tidak luruh jatuh membasahi pipinya.


"Pikir saja sendiri!... Jangan sok pura-pura perhatian!... Sana!... Menjauh dariku" Bunga mengusir Cempaka dari hadapannya. Gerakan tangannya seperti yang tengah mengusir ayam yang tengah mematuki padi waktu di jemur.


Genangan airmata itu langsung luruh seketika. Cempaka menangis tak tahan dengan perlakuan kakaknya itu.


"Bunga..." Bu Sekar menegurnya dengan lembut.


Dia belai rambut anaknya itu dengan lembut. Kemudian mengecupnya.


Perlakuan ibunya semakin membuat Bunga jadi besar kepala. Dia nampak makin keki melihat Cempaka yang tengah meneteskan air matanya.


Tak tahan dengan perlakuan kakaknya, Cempaka langsung bangkit dari tempat duduknya. Kemudian dia berlari menuju ke kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, dia menelungkupkan tubuhnya. Membenamkan wajahnya ke atas bantal sambil menangis terisak-isak.


"Cempaka!... " Bu Sekar memanggilnya sambil menatap pintu kamarnya Cempaka yang tertutup dengan rapat.


"Ya Allah... Kenapa anak-anakku jadi begini?" Gumamnya kemudian.


"Itu karena ibu suka memanjakan dia. Mentang-mentang dia sudah punya calon suami seorang polisi, ibu jadi lupa sama anak ibu yang masih ngejomblo ini, ibu main iyain saja apa yang di mau nya. Jadi begitu tuh jadinya tuh anak, jadi ngelunjak, sombong, angkuh besar kepala, ingin menyaingi kakaknya sendiri" Bunga mengomel tak karuan, mengeluarkan kekesalannya.


"Maksud kamu ibu memanjakan bagaimana?... Ibu perlakukan sama semua anak-anak ibu, tidak ada yang ibu manja. Kalau kamu ingin tahu, diantara anak-anak ibu yang paling rajin membantu pekerjaan ibu, ya... Adikmu itu, Cempaka. Ibu menyambut baik niatnya Buana untuk melamar Cempaka, apakah itu yang menurutmu ibu memanjakannya?

__ADS_1


Bunga, itu kewajiban Orangtua merestui hubungan anaknya, bukan berarti memanjakannya"


Bu Sekar mencoba menjelaskan.


"Ibu juga akan langsung mengiyakan, langsung merestui kalau Sakti berniat melamarmu. Makanya ibu sama bapak menyarankan supaya kau mengundang Sakti untuk datang ke sini bertemu sama kita di sini.


Nanti akan ibu tanya keseriusannya kepadamu, dan akan ibu minta supaya segera melamarmu sebelum Buana melamar Cempaka" Lanjut bu Sekar.


Sepertinya dia sudah cape menjelaskannya kepada anaknya yang tidak mau mengerti itu.


"Ibu, aku pulang ke rumah ibu ini dengan satu syarat. Bapak tahu apa itu syaratnya. Dan, tadi bapak sudah menyetujui persyaratan itu. Makanya aku mau di ajak pulang lagi ke sini. Lebih baik ibu tanyakan saja ke Bapak, aku mau ke kamarku dulu, mau membereskan baju-bajuku" Dengan santainya Bunga mengatakan semua itu.


Tak menunggu jawaban dari ibunya, diapun langsung melenggang menuju ke dalam kamarnya sambil menyeret kopernya.


"Bunga!..." Pak Jati dan bu Sekar memanggilnya dengan kesal.


Bunga hanya menoleh sebentar dan tersenyum. Lalu dia melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, dia tidak mengindahkan sedikitpun perasaan kedua Orangtuanya.


"Pak... Anak kita!... Harus bagaimana kita pak?..." Bu Sekar menangis melihat apa yang tengah terjadi pada kedua anaknya itu.


Yang sebenarnya itu tidak perlu terjadi seandainya Bunga mau mengerti.


"Sudah bu!... Tenangkan dulu hatinya. Sudah jangan menangis,


dengan menangis tidak akan merubah apa yang sudah terjadi"


Pak Jati menenangkan Isterinya sambil mengelus-elus rambutnya.


"Pak... Apa benar Bunga mau pulang ke rumah karena ada syaratnya? Dia mengajukan persyaratan apa sama bapak?"


Sejurus kemudian bu Sekar menanyakan apa yang menjadi syaratnya hingga dia mau kembali lagi ke rumah bersama Bapaknya.


"Sebaiknya ibu tenangkan dulu hati dan pikiran ibu, nanti baru akan bapak sampaikan apa syarat yang di ajukan oleh anak kita, bu" Dengan suara yang lemah lembut, pak Jati menenangkan Isterinya.


"Enggak pak!... Ibu mau tahu sekarang juga. Ibu tidak akan tenang kalau belum tahu semuanya pak!..." Bu Sekar setengah merengek meminta supaya suaminya segera menjelaskannya.


"Gimana ya bu, bapak merasa bingung untuk mengatakannya"


Pak Jati kebingungan sendiri. Dia menatap lekat mata isterinya yang sudah mulai basah oleh air mata.


"Maksudnya bagaimana pak?... Ayo jelaskan!" Ucap bu Sekar tidak sabar.

__ADS_1


"Hemh... Huuuh... Bagaimana ya?" Pak Jati menarik nafasnya kuat-kuat kemudian dia keluarkan lagi dengan berat, seberat beban yang kini tengah menghimpit hatinya.


"Pak!..." Bu Sekar tidak sabar.


"Kalau bapak tidak berani mengatakannya pada ibu sekarang juga, lebih baik aku pergi dari rumah ini, mumpung bajuku belum ku kembalikan ke dalam lemari. Buat apa tinggal serumah dengan orang-orang yang sudah tidak mempedulikan diriku lagi. Orangtua yang pilih kasih kepada anaknya" Ujar Bunga sambil keluar dari kamarnya.


"Jangan nekad nak!... Baiklah akan bapak jelaskan kepada ibumu tentang syarat yang kau ajukan tadi waktu di jalan" Pak Jati dengan cepat menahan langkah anaknya.


Bunga nampak tersenyum merasa menang. Diapun lalu duduk di samping ibunya. Dia ingin mendengarkannya.


"Begini bu... Emh... " Pak Jati seakan ragu untuk menjelaskannya.


"Kenapa bapak seperti yang ragu begitu?... Bapak takut ibu tidak setuju?... Atau bapak takut nanti Cempaka yang tidak setuju?... Bapak ini sebenarnya sayang enggak sama aku?" Pertanyaan Bunga menyudutkan pak Jati.


"Bapak akui memang bapak bingung dengan syarat yang kau ajukan itu. Terasa memakan buah simalakama bagi bapak nak, mungkin ibumu juga sama kalau ibumu sudah mengetahuinya" Lembut nada bicaranya pak Jati.


Dia masih berharap semoga anaknya itu berubah, mau mengerti dan faham dengan maksudnya.


Namun, harapan itu tak mungkin jadi kenyataan. Bunga tetap pada keinginannya. Dia keras kepala dan juga egois, tak meraba perasaan adik dan kedua Orangtuanya.


"Kalau begitu berarti bapak tadi berbohong kepada aku. Bapak menyetujuinya hanya biar aku mau pulang bersama bapak saja. Sudah jelas ini berarti bapak lebih menyayangi Cempaka. Ya sudah pak memang Cempaka harus di nomor satukan karena dia akan punya suami seorang polisi, tidak seperti diriku ini yang belum ada seorang laki-laki pun yang mau melamarku" Bentak Bunga sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Bunga!... Duduk!" Pak Jati menyuruhnya duduk dengan suara yang tegas dan bergetar, menahan emosi yang seakan-akan sudah tidak bisa di tahan lagi.


Bunga pun nampak kaget dengan sikap bapaknya, dia nampak seperti yang ketakutan. Karena baru kali ini dia melihat dan mendengar bapaknya setegas itu.


Bunga pun mengurungkan niatnya. Dia kembali lagi ke kursi di samping ibunya.


"Memangnya apa pak syarat dari Bunga?... Seberat dan sesusah apa pak?" Bu Sekar semakin penasaran.


"Aku mau kembali ke rumah ini asalkan Cempaka menolak lamarannya Buana, sebelum aku punya suami. Itu syaratnya bu, dan tadi bapak menyetujuinya. Tetapi sekarang, bapak berubah pendiriannya karena bapak lebih menyayangi Cempaka" Dengan lantangnya Bunga mengatakan semuanya.


"Lalu... Cempaka bagaimana?..." Tubuhnya bu Sekar langsung lemas seketika setelah mendengar syarat yang diutarakan oleh anaknya itu.


Ini benar-benar sebuah dilema bagi pasangan suami-istri yang sudah tidak muda lagi itu.


Tak sedikitpun ada perasaan iba atau kasihan di wajahnya Bunga.


Dia sudah tidak peduli lagi dengan adik dan juga kedua Orangtuanya.


Yang ada di benaknya hanyalah Cempaka harus batal di lamar oleh Buana.

__ADS_1


__ADS_2