
Cempaka sudah mau keluar rumah lagi.
Dia berencana mau melamar kerja. Sekarang dia ingin kerja di sebuah perusahaan yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
"Kenapa tidak ngehonor lagi nak?" Bu Sekar heran.
"Aku ingin sambil kursus buu, kalau ngehonor uangnya enggak bakalan cukup buat bayar kursusnya. Kalau aku kerja di pabrik, kan lumayan gajinya" Tutur Cempaka menjelaskan.
"Ooh... Begitu rupanya. Yaa baiklah kalau begitu, ibu setuju. Rencananya mau ngelamar ke mana nak?" Tanya bu Sekar pula.
"Itu di jalan besar sana, katanya ada lowongan. Aku mau coba melamar ke sana buu, tempatnya kan tidak jauh dari rumah kita"
Ujar Cempaka.
"Oooh di sana, semoga saja di terima ya nak ya!" Do'a bu Sekar.
"Amiin ya RobbalAlamiin... Terimakasih ya buu atas do'anya"
Ucap Cempaka.
Setelah semua persyaratannya lengkap, Cempaka langsung berangkat sa'at itu juga untuk mencoba peruntungannya.
"Assalamualaikum... Aku berangkat sekarang ya buu" Ucapnya.
"Waalaikumsalam... Hati-hati ya nak!" Sahut bu Sekar sambil memandangi punggung anaknya.
Cuma berjalan sekitar sepuluh menit, sampailah Cempaka ke tempat tujuan. Di sana sudah ada beberapa orang yang satu tujuan dengannya.
"Assalamualaikum..." Ucap Cempaka, menyapa semua orang yang ada di sana.
"Waalaikumsalam..." Sahut mereka.
"Silahkan duduk mbak!" Ujar salah seorang yang ad di sana.
"Terimakasih mbak!" Sahut Cempaka sambil duduk di bangku yang masih kosong.
"Mbak dari mana? Perasaan saya kenal dan sering lihat mbak" Ujar salah seorang yang ada di sana.
"Saya dari Kampung yang ada di belakang perusahaan ini. Memangnya... Mbak di mana suka melihat saya?" Cempaka balik bertanya.
"Saya suka lihat mbak di sekolah.
Di SD satu, yang dekat kantor Desa. Iya benar! di SD satu" Ujarnya lagi.
"Ooh... Mbak rumahnya dekat kantor kelurahan?" Tanya Cempaka.
"Enggak sih, agak ke sini sedikit. Cuma, saya suka nganter adik saya yang baru kelas satu, dan sekolahnya di sd negeri satu itu."
Ujarnya lagi.
"Mbak melihat saya di mana?"
Cempaka bertanya lagi.
"Kalau enggak salah, yaa di sekolahnya. Apa... Mbak juga nganterin adiknya atau anaknya?" Dia balik bertanya.
"Enggak mbak, adik saya sudah pada gede, yang paling kecil sudah di smp. Kalau anak juga, emh... Saya belum punya, saya masih sendiri" Cempaka menjawabnya malu-malu.
"Lalu, waktu itu mbak lagi apa di sana? Apa mbak ngajar di sana?"
Tanya nya lagi.
"Waktu itu saya ngehonor di sana" Ujar Cempaka.
"Haah? Jadi mbak seorang Guru?
__ADS_1
Kenapa sekarang ke sini?" Perempuan itu nampak heran.
"Yaa pingin nyobain saja kerja di perusahaan" Sahut Cempaka sambil tersenyum.
"Cempaka!... Kamu Cempaka kan?"Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya. Cempaka segera menoleh ke arah datangnya suara.
"Haai! Puspa? Kok ada di sini? Ngapain?" Cempaka segera beranjak menghampiri orang yang memanggil namanya tadi. Yang ternyata adalah temannya waktu sekolah dulu.
"Aku kerja di sini! Kamu sendiri, lagi ngapain?" Dia balik bertanya.
"Ooh kerja di sini? Aku baru mau melamar kerja" Cempaka nampak sedih.
"Selama ini, kamu ngapain? Kok! Baru melamar kerja?" Puspa sepertinya bingung.
"Aku ngehonor. Namun, gajinya sangat minim sekali. Enggak cukup memenuhi kebutuhanku. Karena aku ingin kursus atau kuliah lagi. Makanya aku coba melamar ke sini. Aku dengar di sini gajinya lumayan" Cempaka menjelaskan.
"Ooh... Begitu. Aku juga dulu pernah ngehonor, tapi cuma satu tahun, karena begitulah... Seperti yang kamu bilang tadi. Yaa aku
lompat ke sini, Alhamdulillah sampai sekarang aku kerja di sini." Ujarnya.
"Berartiiii Sudah ada tiga atau empat tahun?" Tanya Cempaka.
"Sudah lima tahun aku kerja di sini" Sahut Puspa.
"Wooow! Cukup lama juga ya" Ujar Cempaka.
"Yaa begitulah. Kalau kamu mau kerja di sini, nanti aku bicarakan kepada personalia. InsyaAllah kamu di terima kerja di sini." Puspa menawarkan.
"Aah... Yang benar" Cempaka ragu.
"Bagaimana kalau begini? Aku dulu saja, nanti kalau enggak keterima, baru aku minta bantuan mu" Usul Cempaka. Dia tidak mau mengandalkan jasa orang lain. Takut ada ujungnya.
"Baiklah kalau itu mau mu. Aku masuk dulu ya. Semoga kamu di terima" Puspa masuk ke ruangan tempat kerjanya, karena bel tanda masuk sudah berbunyi.
"Iya terimakasih" Sahut Cempaka.
*
Setelah selesai interview, kami di suruh menunggu di suatu ruangan yang ada di samping Pos Satpam.
Setengah jam kami menunggu di sana. Satu persatu nama kami di panggil ke ruang Personalia.
"Mayang!" Salah seorang dari kami di panggilnya.
"Iya pak!" Ternyata si mbak yang tadi ngobrol sama aku, yang bernama Mayang itu.
"Cempaka!"
"Namaku di panggilnya" Cempaka segera beranjak mengikuti Mayang menuju ke ruangan Personalia.
Semua pelamar hari itu di terima kerja di perusahaan itu.
" Besok kalian bisa mulai bekerja di Perusahaan ini. Sepuluh menit sebelum waktunya kerja. Kalian sudah harus siap di tempat! Besok mulai kerja jam delapan pagi, jam dua belas kalian istirahat. Jam satu masuk lagi, dan pulang jam lima sore. Kecuali hari sabtu, kalian kerja setengah hari, jadi pulang jam dua belas lebih tiga puluh menit. Tanpa istirahat. Mengenai gajian, di sini di bayar satu minggu sekali. Setiap hari sabtu. Bagaimana, ada yang mau di tanyakan?" Personalia mengakhiri penjelasannya.
"Tidak ada pak, kami sudah jelas"
Ujar kami serempak.
"Kalau sudah jelas, kalian boleh pulang! Jangan lupa, besok tidak boleh terlambat" Ujar Personalia itu.
"Baik pak." Kami pun lalu bubar untuk kembali lagi di esok hari.
*
Keesokkan harinya, Cempaka sudah sampai di tempat kerjanya lima belas menit sebelum waktu masuk tiba.
__ADS_1
Dia sengaja datang lebih pagi. Karena, dia belum tahu keadaan
di Perusahaan itu.
Waktu istirahat tiba, Puspa mendekati Cempaka.
Dia ngajak makan ke kantin.
Cempaka mengikutinya, karena dia belum tahu tentang keadaan Perusahaan itu.
"Cempaka, kamu sudah nikah?
Kamu jadi kan dengan tetanggamu itu?" Puspa menanyakan hal yang ingin di kuburnya dalam-dalam oleh Cempaka.
"Belum, dia nikah sama orang lain. kamu sendiri?" Cempaka balik bertanya.
"Sudah, setahun yang lalu. Ma'af ya aku enggak mengundang mu"
Sahut Puspa.
"Kenapa bisa dia nikah dengan orang lain? Bukannya seluruh keluarga kalian sudah saling setuju?" Puspa menunjukkan rasa herannya.
"Ceritanya panjang, aku sedih dan kecewa serta sakit hatiku kalau ingat itu" Cempaka menundukkan kepalanya, sedih teriris, perih hatinya.
"Emh... Ma'afkan saya. Saya tidak bermaksud untuk membuat
kamu sedih" Ucap Puspa.
"Enggak apa-apa" Ucap Cempaka perlahan.
"Tadi kamu bilang, ceritanya panjang. Boleh enggak saya tahu? Siapa tahu saya bisa memberikan solusinya." Ujar Puspa.
"Boleh saja. Terimakasih sebelumnya" Ucap Cempaka.
*
Setelah beberapa bulan Cempaka bekerja di Perusahaan itu. Puspa selalu bersamanya, keduanya nampak akrab.
Semua yang mereka alami, sudah saling mereka ketahui.
Ternyata, Puspa juga mengalami kekecewaan dari kekasihnya. Dia pun sama bertanya ke sana kemari untuk meredakan luka hatinya kala itu
Namun, deritanya Puspa, tidaklah sepedih apa yang di alami Oleh Cempaka. Sakit hatinya Puspa tidak di barengi oleh hal mistis seperti halnya Cempaka.
"Berarti... Saudaramu sendiri yang membuatmu menderita kalau begitu" Ucap Puspa. Suatu sa'at ketika Cempaka tengah berkunjung ke rumahnya Puspa.
"Iyaa begitulah. Aku juga tidak mengerti" Cempaka lesu menjawabnya.
"Kok! Bisa ya kakakmu berbuat begitu kepada adiknya sendiri"
"Entahlah... Tapi, yang jelas dia itu takut tersaingi olehku" Sahut
Cempaka.
"Bagaimana kalau kamu ikut saya ke tempat guru saya?" Puspa tiba-tiba menawarkan kepada Cempaka.
"Maksudmu, berobat ke orang pintar?" Tanya Cempaka hati-hati.
"Beliau bukan orang pintar. Tapi seorang Ustadz. Nanti kita di beri amalan untuk di wiridkan sebelum kita tidur"
"Enggak tahu yaa, aku sudah sering ke sana kemari, tapi tetap saja begini. Rata-rata hanya bisa menyebutkannya tanpa bisa mengobati atau membuangnya."
Cempaka seperti yang berputus asa. Mungkin dia sudah bosan dengan ikhtiar seperti itu.
"Tidak ada salahnya kalau kita coba, siapa tahu kamu cocok. Dan, semoga saja guruku itu bisa membuang penghalang yang ada di dalam dirinya." Ujar Puspa.
__ADS_1
"Kalau begitu bolehlah kita coba ke sana. Semoga saja Guru kamu itu bisa membuang santet yang ada di tubuhku ini" Harap Cempaka.
Merekapun lalu merencanakan untuk berangkat ke tempat Gurunya Puspa, yang katanya seorang Ustadz.