Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Penyesalan bu Sekar


__ADS_3

"Tadi Cempaka pulangnya di antar oleh Samudera." Bunga mengatakannya kepada ibunya yang waktu itu tengah berada di halaman belakang rumahnya.


"Mana dia? Mudah-mudahan Samudera mau mema'afkan ibu.


Kali ini ibu sudah sangat setuju kalau Samudera melamar dan menikahi Cempaka." Bu Sekar langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia segera bergegas menuju ke ruang tamu.


"Samuderanya sudah pulang" ujar Bunga.


"Langsung pulang? Kenapa?..., lalu..., Cempakanya ke mana?"Bu Sekar bertanya panik.


"Setelah Samudera pulang, dia kelihatan sedih, dia lari ke kamarnya."Ujar Bunga lagi.


"Cempaka sedih, jangan-jangan dia berantem sama Samudera, tapi..., kenapa pula dia mesti berantem?" gumam bu Sekar. Dia menghentikan langkahnya. Pandangannya tertuju ke arah pintu kamarnya Cempaka.


"Enggak tahu bu. Tapi, sepertinya mereka tidak berantem. Mereka kelihatan sedih sa'at mau berpisah, Samudera sepertinya tidak mau waktu di ajak mampir"


ucap Bunga lagi.


"Kamu tahu dari mana? Apa..., kamu melihatnya?" Bu Sekar menyelidik.


" Aku melihatnya di balik tirai, bu"


ujar Bunga.


"Kenapa Cempaka nangis ya...?"


Bu Sekar mengernyitkan keningnya.


'Enggak tahu bu" Bunga menggelengkan kepalanya.


"Apa..., sebaiknya ibu ketuk saja pintunya. Ibu jadi penasaran" Bu Sekar mengarahkan jarinya untuk mengetuk pintu kamarnya Cempaka.


"Tok!... Tok!... Tok!..., Cempakaaa


bukain dong pintunya, ibu mau bicara. Cempakaaaa" bu Sekar mengetuk pintu kamarnya Cempaka, sambil memanggil namanya.


"Iya buu, ada apa?" Tak menunggu lama, Cempakapun keluar dari dalam kamarnya.


"Sini nak, duduk sama ibu di sini!"


Bu Sekar mengajaknya untuk duduk di ruang tengah.


"Tadi katanya ada Samudera ke sini, sekarang di mana dia?"tanya bu Sekar, dia tersenyum menatap wajah anaknya.


"Sudah pulang" sahut Cempaka.


Dia terlihat sedih.


"Kenapa enggak di suruh mampir dulu? Padahal ibu ingin ngobrol


banyak dengan Samudera."


"Percuma bu, sudah telat." nada suaranya berat, dengan bibir yang bergetar menahan emosi jiwanya yang berkecamuk.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, nak? Telat bagaimana?" bu Sekar mengguncangkan bahunya Cempaka.


" Dia sudah menikah" pelaaaan terdengar suara itu, kalah dengan tangisannya Cempaka yang mulai terisak.


Bu Sekar saling tatap dengan Bunga. Tatapan kaget dan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Siapa yang mengatakan itu? tidak mungkin, pasti ini bohong"


bu Sekar tidak mau mendengarkannya.


"Samudera yang cerita tadi. Dia menikah karena terpaksa. Dia kecewa dengan penolakan ibu dan bapak waktu itu. Ditambah lagi dengan pernikahan kak Bunga, dia menyangka yang nikah waktu itu aku, karena dapat kabar dari mang Ramdhan, bahwa Neng menikah. Dia sangat menyesal sekali bu, karena dia telah gegabah," Cempaka berhenti sejenak, dia menarik nafasnya dalam-dalam.


Lalu menghembuskannya perlahan.


"Diapun pernah ngamuk di kesatuannya, sampai dia di skors oleh komandannya. Karena merasa kecewa dengan kita bu. Kita tidak menghargainya sama sekali akan perjuangannya untuk mendapatkan cintanya. Ibu keukeuh berpihak pada Buana yang belum tentu, akhirnya aku menderita karenanya," Lanjut Cempaka.


"Aku sengaja tidak mengatakan bahwa kita itu membohonginya.


Aku khawatir kalau dia tahu yang sesungguhnya, pasti dia akan kecewa berat." Titik bening dari sudut matanya Cempaka, jatuh bergulir melewati kedua pipinya.


"Ma'afkan ibu ya sayang..., ibu tidak peka dengan keadaan waktu itu, ibu terlalu percaya kepada bu Seroja." Bu Sekar memeluk Cempaka sambil menangis, menyesali semua sikapnya waktu itu yang telah mengecewakan Samudera.


Cempaka hanya bisa menangis


meratapi nasibnya yang selalu menderita dan kecewa.


Kenyataan telah membuat hati Cempaka berdesir pedih kembali.


Dari hari ke hari penderitaan selalu menyapanya, bertahta di lubuk hatinya. Perih dan pedih.


"Ma'afkan ibu nak!... Ini semua


karena keegoisan ibu" Pelukan bu Sekar semakin erat. Makin hari dia makin terasa bersalah telah memisahkan Cempaka dan Samudera yang saling menyinta.


"Sudahlah buu, ini bukan salah ibu. Mungkin ini sudah jadi takdirku. Semuanya terjadi karena Allah SWT. Ibu jangan banyak pikiran, ibu jangan menangis terus, aku takut ibu jatuh sakit. Sudahlah bu, aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja"


Cempaka tidak tega melihat ibunya menangis tersedu-sedu di pelukannya.


Cempaka merenggangkan pelukannya, dia tatap wajah ibunya yang basah oleh airmata.


Di usapnya sisa air mata di bawah kelopak matanya.


"Kamu nampak kurusan nak, ini semua karena ibu, kamu pasti kecewa, tertekan dan terluka serta sakit hati dengan keputusan ibu waktu itu. Kalau waktu itu ibu terima lamarannya Samudera, pasti kamu sekarang tidak akan pernah merasakan yang namanya sakit hati nak." Bu Sekar mengungkapkan semua penyesalannya.


"Sudahlah buuu, tidak usah di pikirkan lagi. Aku enggak mau ibu sakit..., semoga saja besok atau lusa kita mendapatkan kebahagiaan." Cempaka berusaha menenangkan ibunya.


"Kamu memang anak yang baik.


Ibu bangga punya anak kamu sayang." Bu Sekar memeluknya kembali.


Penyesalan yang tidak berguna.


Bagaimanapun menyesalnya bu Sekar, semuanya tidak akan kembali. Semuanya telah berakhir.

__ADS_1


Nasi sudah menjadi bubur, tidak akan mungkin bisa menjadi nasi kembali.


Namun, kepedihan di hatinya Cempaka masih perih terasa.


Cempaka masih belum menerima sepenuhnya kenyataan yang menimpa dirinya.


Dia tidak bisa melupakan kecewa


dan perihnya luka di hatinya. Dia


belum bisa kembali bersikap seperti dulu lagi.


Cempaka masih suka mengurung diri di dalam kamarnya.


Hingga suatu hari, Kenari berkunjung ke rumah ibunya. Dia tersentak kaget mendengar apa yang menimpa Cempaka.


"Makanya buu, harusnya ibu itu


percaya kepada kami waktu itu. Pasti semuanya akan indah, tidak mungkin Cempaka akan terus menderita, kecewa, terluka,


tersiksa, tertekan dan merana. Masih muda, baru berusia dua puluh du tahun, Cempaka sudah menanggung begitu banyak penderitaan. Dan semuanya itu di akibatkan oleh keluarganya sendiri. Sungguh miris" Kenari dengan lantangnya menyalahkan ibunya.


Padahal, jauh di dalam hatinya. Dirinya juga ikut berpartisipasi


dalam semua penderitaan yang di alami Cempaka akhir-akhir ini.


Hanya saja itu masih tersimpan rapi, masih terselubung.


"Iyaa Kenari, ibu sudah meminta ma'af kepada Cempaka. Ibu akui, ibu yang salah." Ujar bu Sekar.


"Bagaimana..., sudah di bawa ke bu Ustadzah Fatimah lagi, belum? Jangan di biarkan, kasihan dia." Kenari benar-benar bagaikan peri penyelamat. Tak ada seorangpun yang menaruh curiga kepadanya.


Halus sekali permainannya.


"Sudah..., cuma ibu heran dengan perkataannya bu Ustadzah Fatimah. Bahwa semuanya itu adalah perbuatan seseorang yang sangat dekat dengan keluarga kita. Ibu jadi bingung, siapa dia yang begitu tega berbuat jahat kepada Cempaka.


Padahal Cempaka itu anaknya baik, suka menolong orang yang lagi kesulitan."


"Naah..., sikapnya itulah yang suka jadi bumerang untuk dirinya sendiri. Karena tidak semua orang suka dengan sikapnya yang sok baik terhadap semua orang." Perkataan Kenari membuat ibunya terkejut.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Bukankah bagus kalau adikmu bersikap baik terhadap orang lain?" bu Sekar bertanya sambil menatap heran wajah anak sulungnya itu.


"Enggak..., enggak apa-apa bu, cuma..., cuma menyayangkan saja, karena kebaikannya dia malah di dzolimi sama orang lain. Kasihan kan dia? Serasa tidak berguna kebaikannya itu."


Dengan gelagapan Kenari menjawab pertanyaan ibunya.


Ibunya semakin bingung saja dengan sikapnya Kenari yang gelagapan tak karuan. Seperti orang yang punya salah.


"Emh... Aku pulang dulu bu, belum masak." Kenari pamit pulang, seperti yang malu karena ketahuan belangnya.


"Oooh..." bu Sekar menjawabnya singkat. Hatinya masih dipenuhi rasa curiga kepada anak sulungnya itu.


Namun, sebisa mungkin dia coba untuk meredam prasangka buruk itu, dia masih beranggapan tak mungkin, Kenari berbuat begitu kepada adiknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2