
"Cempaka, kau senang kan kalau aku melamarmu sekarang juga?"
sambil menunggu jawaban dari bu Sekar dan pak Jati, Samudera bertanya kepada Cempaka.
"Iya, Sam. Aku senang sekali, tapi orangtuaku" Cempaka menjawabnya sambil berderai airmata.
Dia sudah tahu bahwa kedua Orangtuanya tak mungkin mengizinkannya.
"Ini bagaimana?" Samudera tak mengerti, dia menatap kedua Orangtuanya Cempaka, lalu dia mengalihkan pandangannya kepada Cempaka yang menangis tersedu.
Samudera kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantung baju seragam tentaranya.
Sebuah kotak perhiasan berwarna merah terang, kemudian dia membukanya. Di sana nampak sepasang cincin tunangan yang sangat indah.
"Ini sudah aku siapkan sebelum aku pergi ke Garut kemarin itu."
Ucapnya sambil menunjukkan sepasang cincin tunangan itu kepada Cempaka.
Melihat pemandangan itu, tangis Cempaka semakin terisak saja. Bukan tangis bahagia, tapi tangis duka dan kepedihan hatinya.
Samudera makin tidak mengerti dengan sikapnya Cempaka yang menangis tersedu, harusnya dia menangis bahagia. Bukan menangis meratap sedih begitu.
"Ma'af, Cempaka tidak suka dengan niatku ini?"dengan heran Samudera bertanya.
Cempaka menggelengkan kepalanya.
"Apa aku terlalu terburu-buru?" Dia bertanya lagi.
"Bukan itu" Sahut Cempaka lirih, di sela isak tangisnya.
"Lalu?" Tanya Samudera lagi makin tak mengerti.
"Ibu... Hiks... Hiks..." Cempaka memeluk ibunya sambil menangis terisak-isak. Sungguh membuat Samudera semakin tidak mengerti saja.
"Bu, pak, tolong jelaskan kepada saya, ada apa ini sebenarnya? Jangan membuat saya bingung dan tidak mengerti begini. Tolong bu, pak. Saya sudah jauh-jauh datang ke sini dengan niat yang baik dan tulus mencintai Cempaka."Ujar Samudera berharap.
"Niat saya tulus bu, pak. Makanya saya tidak mau berpacaran dulu seperti yang lain. Dari pertama kami bertemu, kami sudah saling suka, kami merasa saling cocok. Saya begitu mencintai Cempaka, bu. Makanya waktu saya tahu dia menginginkan suami seorang ABRI, saya langsung mendaptarkan diri dan mengikuti pendidikannya. Setelah selesai pendidikan, saya tidak menemui keluargaku. Tapi saya memilih ke sini untuk menemui putri ibu dan bapak, saya janji bu,pak, saya tidak akan menyakitinya. Mendengar Cempaka berada di Garut, saya langsung pergi kesana. Itu semua karena saya serius dengan putri ibu" Ujar Samudera panjang lebar.
Dia ingin perkataannya di dengar oleh orangtuanya Cempaka.
"Iya nak" Ucap bu Sekar, diapun kini menitikkan airmata nya.
Bu Sekar pun menyadarinya, bahwa pengorbanan Samudera yang begitu kerasnya demi mendapatkan cintanya Cempaka.
__ADS_1
Dia membayangkan betapa sakit hatinya Samudera kalau saja dia tahu, bahwa Dirinya telah dibohongi dan di perdaya.
"Bagaimana pak? Ibu jadi merasa bingung dan juga bersalah" ucap bu Sekar dengan suara yang bergetar.
"Bersalah bagaimana bu...? Ibu tidak salah, ma'afkan saya bu kalau seandainya saya telah lancang hendak melamar putri ibu. Mana sendiri lagi, tapi perlu ibu ketahui, saya membawa cincin ini hanya untuk mencobanya di jarinya Cempaka, apakah pas atau tidak. Nanti kalau sudah pas dan Cempaka serta Keluarga di sini setuju. Besok atau lusa saya akan datang kembali untuk melamar Cempaka, bersama ibu dan saudaraku. Karena bapakku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu" Samudera menjelaskan.
"Ibu... Hiks... Hiks...Hiks!" Cempaka makin terisak tangisannya, setelah mendengar penuturan dari Samudera.
Dia tak dapat membayangkan bagaimana kecewanya Samudera setelah tahu ucapan apa yang akan di dengar dari bibir ibunya itu.
"Bukan itu nak yang membuat ibu dan bapak merasa bingung dan juga bersalah. Tapi, Nak Samudera sebelumnya kan sudah tahu kalau... Kalau... Kalau
Cempaka tengah dekat dengan Buana, tetangga satu rt. Malahan sudah ada lima tahun mereka akrabnya, suka belajar bersama, berangkat sekolah bersama" Ucap bu Sekar perlahan.
"Kamipun sebagai orangtuanya sudah sepakat akan menjodohkan mereka. Bahkan, sebelum Buana berangkat ke tempat tugasnya, dia pernah datang ke sini mau melamar Cempaka. Namun tidak jadi karena ada suatu hal yang tak mungkin di langgar. Dan Buanapun pergi untuk menunaikan tugasnya di kota s.
Sebelum berangkat dia pernah berjanji akan melamar Cempaka setelah kakaknya Cempaka menikah" Pak Jati melanjutkan perkataan Isterinya.
"Sekarang kan kakaknya Cempaka belum menikah, baru tunangan. Jadi kami mohon ma'af yang sebesar-besarnya... Bukannya kami tidak setuju ataupun Cempaka tidak mau menerima lamarannya nak Samudera." ucap pak Jati lagi dengan suara yang sangat pelan.
"Tapi, kami sedang menunggu janjinya Buana. Jadi sekali lagi kami mohon ma'af yang sebesar-besarnya. Semoga nak Samudera faham. Kami takut kalau sekarang kami menerima lamarannya nak Samudera. Takut terjadi keributan, kami tidak mau itu terjadi." Ujar bu Sekar.
"Tapi bu, Buana kan sudah berpaling kepada perempuan lain" Ucap Cempaka kesal.
"Tidak nak!... Ibu dan bapak tidak mau hubungan kekeluargaan kami jadi hancur, sekali lagi ma'afkan kami nak Samudera, dengan terpaksa dan dengan berat hati semua ini kami lakukan"Ujar bu Sekar. Dia sama sekali tidak bergeming.
Dia tetap ingin mempertahankan
niatnya untuk besanan dengan bu Seroja, ibunya Buana.
Mukanya Samudera terlihat memerah darah, setelah dia mendengar semua perkataannya bu Sekar dan pak Jati yang kedengarannya menolaknya secara mentah-mentah.
Tubuhnya terasa lemah lunglai tak bertenaga. Di kedua kelopak matanya nampak terlihat buliran bening, yang dengan sekali kedipan pasti akan membasahi kedua pipinya.
Perjuangannya selama ini langsung kandas sa'at itu juga.
Cita-citanya untuk memberikan kebahagiaan buat sang pujaan hati, kini sirna di telan duka nestapa.
Dia yang kemarin bangga karena sudah bisa memenuhi harapan kekasihnya, kini hatinya hampa tak terkira.
Samudera yang gagah dan tampan, kini lemah terkulai bagaikan yang tak bertenaga. Dengan wajah yang bersimbah air mata. Hatinya hancur berkeping-keping. Harapannya musnah diterjang gelombang pasang kedua Orangtuanya Cempaka.
Dia terduduk lesu di lantai ruang tamu rumahnya bu Sekar.
__ADS_1
Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya.
Dia seakan tak percaya dengan semua perkataan yang di dengarnya.
Dia seakan tak percaya dengan pendengarannya.
Bunga-bunga cinta yang bermekaran di dalam dadanya, kini jatuh berguguran seiring jatuhnya airmata yang membasahi kedua pipinya.
"Bu, pak bolehkan saya bertanya kepada Cempaka?"Ucap Samudera.
Bu Sekar dan pak Jati menganggukkan kepalanya.
"Cempaka, aku mau tahu bagaimana perasaan mu terhadap Buana? Apa masih mengharapkannya...?"Di tatapnya wajah Cempaka lekat-lekat.
Cempaka menggelengkan kepalanya.
"Cempaka, ibu mohon jangan mempersulit diri nak!"Bu Sekar menegurnya.
Bukan hanya Samudera yang merasa patah hati dan sakit hati serta kecewa. Tapi,Cempaka juga hatinya remuk redam mendengar ungkapan ibu dan bapaknya itu.
"Aaaaaarkh!..." Cempaka berteriak histeris. Dia merasa kecewa dengan keputusan kedua Orangtuanya.
"Cempaka, ayo masuk kamar nak" Bu Sekar menarik tangannya Cempaka.
"Ibu!... Jangan bu!... Jangan!" Teriak Cempaka histeris. Dia berontak ingin melepaskan pegangan ibunya.
"Ma'af bu, Saya mohon ibu tidak memaksanya bu"Samudera mencoba menahan tangannya Cempaka.
"Bu, lepaskan bu!"pak Jati menyuruh Isterinya untuk melepaskan tangannya Cempaka.
"Nak Samudera, sebaiknya nak Samudera pulang dulu. Rasanya penjelasan dari kami sudah cukup. Ma'af! Cempaka tidak bisa menerima lamarannya nak Samudera" Ucapan bu Sekar terasa bagaikan petir yang menyambar nya di siang hari bolong.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi. Cempaka, ma'afkan aku.
Assalamualaikum..." Samudera merasa di usir oleh ibunya Cempaka.
Setelah mengucapkan salam, diapun lalu keluar dari rumah itu dengan membawa hati yang kecewa dan terluka.
Kepergiannya di ikuti oleh teriakan histerisnya Cempaka yang memanggil namanya.
Sebelum berlalu, Samudera membalikkan badannya menatap Cempaka untuk yang terakhir kalinya.
Setelah tersenyum pahit dan menganggukkan kepalanya, diapun membalikkan badannya dan berlalu meninggalkan Cempaka, yang terus memanggilnya sambil menangis dan meratapi nasibnya.
__ADS_1