Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Anggap Hiburan


__ADS_3

Siang hari di hari Sabtu..


"Kamu pulang bawa Motor Abang?" tanya Mamanya begitu melihat Ipul turun dari tangga dengan mulutnya yang menguap, sepertinya anaknya itu baru saja bangun dari tidur nyenyaknya setelah mengerjai anak orang, bahkan sampai bangun siang hari ketika matahari sudah sangat terik.


Tadi pagi suaminya yang akan pergi keluar kota mendapati motor sport milik Davi terparkir di samping mobil sang suami.


Ipul mengangguk dengan lemah seperti nyawanya belum sepenuhnya kembali setelah berkelana di alam mimpi.


"Semalam Ipul udah bilang sama Abang besok sore motornya baru Ipul balikin," sahut Ipul seraya menuju lemari pendingin untuk mengambil sebotol air mineral.


"Jangan minum air es Pul," larang sang Mama.


"Sudah kebiasaan Ma, di Inggris juga Ipul minumnya air es gini kalau bangun tidur," jawab Ipul membuka tutup botol yang airnya terlihat sangat dingin, "lagian ini juga sudah siang kok," sambungnya.


"Di Inggris minum air dingin?" rasa tak percaya langsung menyelimuti hati Riska yang tangannya langsung menghentikan gerakannya saat mengaduk adonan kue yang ingin dia buat.


"Iya, nggak pandang bulu mau lagi musim panas apa dingin, hajar aja terus." menjawab lalu kembali menutup botol yang airnya sudah dia pindahkan ke dalam perutnya melewati tenggorokan yang sejak bangun tidur begitu kering.


"Kamu bisa sakit kalau terus menerus seenaknya begitu terhadap tubuhmu," omel sang Mama tak suka dengan apa yang baru saja dia ketahui perihal sang anak yang setiap hari meminum air es, bukankah jika terlalu sering bahkan setiap saat akan menimbulkan masalah kesehatan, yah meski tak yakin tapi Riska tetap tidak suka dengan kebiasaan sang anak.


"Papa kemana Ma?" tanya Ipul sebab dari turun tadi dia belum melihat sang Papa yang biasanya akan berada di rumah jika akhir pekan.


"Keluar kota." Riska menjawab singkat sambil tetap fokus pada kegiatannya memasukkan bahan membuat kue lalu mencampurnya satu demi satu.


"Ngapain? punya istri muda ya?" dengan kurang ajarnya Ipul bertanya seraya menunjukkan cengiran tak bersalah.


Tuk!


Sang Mama mengetuk kepala anaknya dengan baskom berisi kulit telur yang isinya sudah tercampur rata di adonan kue berwarna cokelat, sepertinya wanita itu tengah membuat bolu cokelat kesukaan sang anak.


"Sembarang kalau ngomong, mau bikin Mama mengamuk tiap hari apa?!" sentak wanita itu dengan mata yang mendelik seram memberikan peringatan.


Tentu saja seorang istri tidak akan terima apabila suaminya menikah lagi, wanita mana yang rela kekasih hatinya membagi hati walaupun jaminannya adalah surga tapi tetap saja seorang Riska tidak akan sanggup dan diduakan bukanlah impiannya, sungguh dia tidak akan pernah siap dan itu hal yang wajar bukan?


"Penyiksaan terhadap anak," celetuk Ipul mengelus kepalanya yang tadi dijadikan sasaran oleh sang penguasa rumah.


"Mulut kamu itu yang menyiksa dirimu sendiri, dasar anak tak tahu balas budi," ketus Riska mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.


"Awan kan cuma kidding Mama ku tersayang, Mama ku yang paling cantik sejagat dunia dan alam ghoib," tutur Ipul merangsek guna memeluk tubuh sang Mama.


"Sebaiknya kamu segera menikah, agar kekonyolan mu menghilang dan di ganti dengan tanggung jawab, heran kenapa hidupmu seolah tanpa beban, ckckck."


"Hohoho untuk yang satu itu Awan menyerah," Ipul melepaskan tangannya dari tubuh sang Mama seraya bergerak menjauh sambil mengangkat kedua tangannya seolah dia seorang prajurit yang tertangkap oleh musuh.

__ADS_1


"Awan-awan, namamu itu Ipul!" Riska tak senang hati setiap kali Ipul menyebut dirinya sendiri Awan, bukankah nama panggilan yang dia berikan sejak kecil sudah cukup bagus, lalu kenapa anaknya ini malah menggantinya dengan yang lain, bergaul dengan bule memang membuat sang anak menjadi banyak tingkah!


"Ah Mama ini memang tidak gaul," seloroh Ipul membuat bola mata sang Mama berputar.


"Pul."


Riska memanggil anaknya yang hendak keluar dari dapur.


"Kenapa Mama ku tercinta yang tiada duanya?" Ipul selalu bisa membuat sang Mama tersenyum sekaligus kesal dengan kelakuannya yang kadang gombalnya melebihi sang Ayah.


"Permintaan Mama masih sama, tinggallah disini tidak usah kembali lagi ke negara orang, gantikan Papamu, lihatlah karena perusahaan membuat Papamu itu kehilangan waktu istirahatnya, Mama juga kesepian saat Papamu keluar kota dan kamu kembali ke Inggris Mama hanya seorang diri di rumah," kata Riska mencoba untuk kembali membujuk anaknya setelah sekian kali usahanya gagal.


"Kan ada Bi Sumi Ma," sahut Ipul urung melangkah kaki dan memilih untuk kembali menghampiri sang Mama yang terlihat gelisah.


"Bu Sumi kan tidak menginap Pul, dia pulang kalau pekerjaannya sudah selesai."


Wajah Riska terlihat merenung memikirkan hari tuanya yang harus kesepian.


"Kalau kamu tetap mau di Inggris ya sudah segera menikah lalu istrimu tinggal disini menemani Mama," selanjutnya Riska malah meminta hal yang lebih konyol lagi menurut Ipul.


Menikah dan istrinya tidak ikut dengannya malah di minta untuk menemani Mamanya itu, jadi buat apa dia menikah? dasar! lagipula mau menikah dengan siapa kalau pacar saja dia tak punya, yah meskipun beberapa waktu kemarin dia memang sedang mendekati rekan kerjanya di Inggris tapi kan tidak mungkin langsung mengajaknya nikah, jadian saja belum.


"Kalau menikah kan Ipul sudah bilang sama Mama dalam waktu dekat ini atau mungkin sampai dua tahun ke depan Ipul tidak ada rencana untuk menikah," jelas Ipul menjawab dengan raut wajah yakin.


"Boleh Ipul pikirkan dulu?"


"Boleh, asal jawaban kamu sesuai dengan apa yang Mama inginkan," jawab Riska menatap sang anak.


"Kalau begitu buat apa Ipul meminta waktu untuk berpikir," cerocos Ipul dengan sudut bibir berkedut manakala mendapati senyuman kemenangan dari sang Mama.


"Ya makanya tidak usah pakai acara mikir segala," jawab sang Mama.


Oke dan.. final! jelas Ipul tidak lagi bisa beralasan apapun untuk membantah yang dia butuhkan sekarang adalah mulai merangkai kembali setiap rencananya yang sudah tersusun rapi, tentang keinginannya memiliki sebuah perusahaan di Inggris yang dia bangun dari hasil jerih payahnya, lalu tentang dia yang ingin membeli salah satu perkebunan anggur yang dulu sangat Zara sukai juga rencana-rencana lainnya.


Tentang kebun anggur, bukan dia yang masih belum bisa move on hingga ingin membeli tempat yang dulu menjadi tempat persembunyian Zara dari suaminya, tapi tempat itu memang sangat menyenangkan untuk di jadikan tempat pelarian ketika sudah sangat penat dengan segala urusan dunia yang tak ada hentinya.


Move on! dia sudah benar-benar move on saat melihat betapa Zara dan Davi memang sangat saling mencintai, keduanya masing-masing memiliki cinta yang sama besarnya cukup terbukti dengan betapa beratnya ujian cinta yang harus mereka lewati.


Menjelang malam Ipul sudah memakai jaket serta menenteng kunci motor menuruni tangga.



"Kamu mau kemana?"

__ADS_1


Baru juga menginjak tangga paling bawah tapi Ipul sudah mendapat todongan pertanyaan dari sang Mama.


"Mau ambil dompet Ipul yang hilang dulu," sahut Ipul seraya mengambil sepatunya di rak penyimpanan di dekat pintu.



"Dompet?"



Ipul karena sudah sibuk memakai sepatu bermerk dengan warna putih.



"Duh, kan udah Mama bilang Pul biarin saja lagian di dalamnya hanya ada uang saja," ucap Mamanya.


Sejak awal memang Riska tidak ambil pusing kala anaknya itu mengatakan jika dompetnya tertinggal di motor yang mengantar anaknya ke bandara, yah anggap saja sebagai imbalan dan Ipul pun juga sebenarnya tidak peduli dengan dompet sekaligus isinya itu, tapi kenapa sekarang anaknya itu berkata akan mengambil dompetnya.


"Yah tapi kan seru Ma, anggap saja hiburan buat Ipul yang baru pulang, lagian di Inggris teman-teman Ipul terlalu serius."



"Lah?" Riska malah tidak mengerti dengan kata "anggap saja hiburan" hiburan apaan? anaknya itu berbicara tak jelas sama sekali.


Riska makin bingung kala Ipul malah nyengir tanpa mau memberikan penjelasan.


"Kakak kenapa sih? dari tadi Ar perhatikan mondar-mandir aja," tanya Ardan ketika memang sejak tadi dia melihat tingkah sang Kakak di dalam kamar.


Berjalan kesana-kemari sudah Ralen lakukan sejak wanita itu pulang ke rumah semalam dengan jaket serta celana yang sedikit basah.


Aneh memang seorang yang berprofesi sebagai ojek online pastinya memiliki jas hujan untuk melindunginya dari hujan yang kadang datang mendadak meski sebenarnya sudah mengabarkan melalui perubahan cuaca hanya saja terkadang manusianya yang tidak peka, sebenarnya jas hujan ada di dalam bagasi motor tapi entah mungkin otak Ralen yang sedikit eror karena memikirkan hutang hingga dia melupakannya.


"Jangan tanya-tanya ah, Kakak malah tambah pusing ini," ujar Ralen dengan tangannya yang sejak tadi memegangi benda berwarna hitam.


Hari ini Ralen sibuk memusingkan dirinya sebab uang di dalam dompet yang dia pakai, menurut Ralen percuma dia berkeliling mencari penumpang sebab dia tahu akhir-akhir ini orderan untuknya sangat jarang sekali masuk, mungkin karena dia sempat membatalkan orderan yang masuk, hingga berakibat begini.


"Kakak nggak jelas, di tanya baik-baik malah gitu jawabnya," omel Ardan memilih untuk menjauh dari kamar sang Kakak ketimbang harus mendapatkan omelan dari mulut bawel Kakaknya itu.



"Iish!" Ralen mendelik tepat saat gorden kamarnya di kibas kan oleh sang Adik.


__ADS_1


\*\*\*\*\*


__ADS_2