Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Karena Dia Lebih Cantik


__ADS_3

"Aku ke sana sekarang!" Ipul meletakkan gagang telepon dengan kasar lalu menyambar kunci mobil di atas meja, berniat langsung pergi namun dia keburu ingat dengan istrinya.


"Sayang.." memanggil sambil setengah berlari agar bisa cepat mencapai kamar, ini darurat dan dia harus memberitahu istrinya.


Ralen masih membungkus tubuhnya dengan selimut, meski dia tidak sedang tidur tapi dia juga tidak berniat untuk bangun apalagi sampai turun dari tempat tidur mendengar panggilan suaminya.


Ipul melangkah cepat mendekat pada sang istri lalu berbicara, "Mama terserempet motor saat akan menyeberang dan sekarang sedang ada di klinik."


Mendengar tentang apa yang menimpa mertuanya tanpa pikir panjang Ralen langsung membuka selimut lalu memperlihatkan wajah yang juga panik sama seperti yang ditunjukkan oleh pria yang berdiri menjulang di sampingnya.


"Aku ingin ke sana kamu mau ikut tidak?" masih bertanya, bukankah seharusnya dia langsung saja mengajak istrinya?


Ralen berpikir sejenak.


"Kamu terlalu lama, aku pergi sendiri saja," kata Ipul tak sabar, semua hal menyangkut sang Mama tidak akan bisa membuatnya sabar apalagi sekarang dia tidak tahu seperti apa keadaannya setelah diserempet oleh motor.


Tadi Hanna hanya mengatakan ada sedikit lecet dan Mamanya yang sedikit syok, wanita itu memintanya untuk tenang dan tidak panik, tapi yang namanya anak mendengar orang tuanya terkena musibah tentu naluri paniknya akan dengan cepat menguasai pikiran.


Iya, Hanna lah yang tadi menghubunginya memberi kabar tentang apa yang menimpa sang Mama, kebetulan wanita itu berada di tempat yang sama dengan Mamanya, dua wanita itu berada di pasar yang sama.


Dulu saat dia masih menjalin hubungan dengan Hanna, wanita itu memang kerap menemani sang Mama ke pasar, pergi berbelanja berdua lalu mencoba resep baru yang akan langsung diberikan pada dirinya atau sang Papa untuk mencicipi, kenangan itu mungkin sudah Ipul lupakan, tapi tidak untuk wanita yang sampai sekarang masih terus mengingatnya bahkan ingatan itu terus berputar di kepalanya saat mereka kembali dipertemukan.


Tatapan Ralen tak jelas saat suaminya sudah melangkah menjauh.


"Aku tidak akan membiarkan kamu sendiri di rumah, ayo ikut." Ralen tidak tahu kalau suaminya kembali masuk ke dalam kamar dan menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuh sang istri.


Sepertinya pria itu ingat akan perkataan Ralen tadi.


Istrinya itu akan mempersilahkan dosen sok ganteng bernama Angga datang ke rumah saat dia tidak ada, kan?


Untung saja dia keburu ingat, kalau tidak mungkin saat pulang dari klinik dia akan sangat murka apabila mendapati Angga di rumahnya.


Ralen yang memang belum mengganti pakaiannya karena tadi dia yang berniat pergi ke kampus pun segera berdiri mengikuti langkah sang suami yang menarik tangannya, meski tidak memakai kekuatan tetap saja itu namanya tarikan.


Ralen sendiri bahkan lupa dengan yang dia katakan tadi, dia hanya asal bicara tapi suaminya menganggap serius apa yang dia bicarakan.


Ralen mendengus lalu tersenyum sinis sambil tetap mengatur langkah agar tidak terjerembab saat menuruni tangga.


Keduanya sekarang sudah berada di dalam mobil yang melaju membelah jalanan di tengah matahari yang bersinar, tanpa bicara karena Ralen yang biasanya berisik lebih memilih untuk diam dan lebih tertarik pada pemandangan di samping kirinya.


"Sayang.."


Baru saja Ipul bersuara sudah terdengar tarikan napas dari sang istri yang teramat berat seperti tertindih beban ribuan ton yang membuatnya kesulitan bernapas, membuat Ipul akhirnya mengurungkan niat dan kembali fokus mengemudi kendaraan menuju klinik yang tadi sudah diberitahu oleh Hanna.


Begitu sampai Ralen langsung menatap nama klinik yang tak jauh dari pasar lantas segera turun mengikuti sang suami yang sudah lebih dulu berada di luar mobil.


Klinik itu lumayan sepi sehingga mereka bisa dengan mudah menemukan orang yang mereka cari, orang yang membawa sang mertua ke klinik itu lebih tepatnya itu yang Ralen ketahui.


"Hanna," suara panggilan suaminya pada wanita yang tengah berdiri membelakangi mereka membuat langkah Ralen perlahan melambat sampai benar-benar terhenti.


"Hanna?" gumamnya dengan mata yang memicing melihat wanita yang kini wajahnya terlihat sambil mengingat nama yang tadi disebutkan oleh suaminya.


"Bukankah itu nama mantan.."


"Sayang." Ipul memanggilnya membuat dia sedikit tersentak diantara pertanyaan di dalam benaknya.


Saat ini Ralen juga bisa melihat ekspresi wajah tak mengerti yang di tunjukkan oleh wanita yang sekarang sudah berada tepat di depan suaminya


Hanna menatap Ipul dan Ralen bergantian seolah dia bertanya siapa wanita yang di panggil sayang oleh pria yang sampai hari inipun masih bisa dia ingat dengan baik di dalam ingatannya.


Ipul menunjukkan wajah tenang seraya mengulurkan tangan seakan meminta Ralen untuk segera mendekat padanya dan memegang tangannya.


Meski terlihat ragu namun naluri Ralen memintanya untuk melakukan apa yang suaminya minta, berjalan mendekat dengan sedikit mengulas senyum di wajahnya agar tidak menampakkan betapa dia yang sebenarnya sangat terkejut tidak menyangka kalau Mama mertuanya bersama dengan mantan tunangan suaminya.


"Ini Ralen istriku," kata Ipul memperkenalkan dua wanita yang baru pertama kali bertemu.


Pertemuan pertama yang masing-masing membuat debaran jantung mereka tidak bekerja dengan baik, sukses membuat aliran darah mengalir dengan begitu cepat bagaikan air bah yang siap menghantam.


Hanna mencoba membalas senyum meski bibirnya tampak bergetar dan Ralen bisa melihat itu dengan jelas, mengulurkan tangan yang sedikit goyah seperti terkena sambaran angin topan.


"Hanna."


"Ralen." Ralen membalas uluran tangan yang terasa dingin dengan ikut menyebutkan namanya.


Hatinya terusik mendengar suara wanita itu yang sangat lembut dan sopan masuk ke dalam telinganya.


Baru suaranya saja dan Ralen sudah merasa kalau yang dikatakan suaminya memang benar, lalu bagaimana dengan yang lainnya?


Jangan tanya apakah Ipul menyadari kecanggungan dua wanita itu, sebab jawabannya adalah dia sadar dan sangat sadar tapi ini memang harus dia lakukan karena dia pria beristri dan tidak ingin memberi wanita lain harapan di tengah kesalahan yang sudah dia perbuat terhadap istrinya.

__ADS_1


Mereka sampai kehilangan anak dan itu karena perbuatannya.


"Mama dimana?" tanya Ipul pada Hanna sekaligus memecah suasana canggung yang tak sengaja tercipta.


"Ah, ada di dalam," kata Hanna cepat seraya menarik gagang pintu hingga kini daun pintu terbuka dan Ipul gegas masuk ke dalam.


"Sepertinya aku pernah melihatmu." kalimat yang Hanna lontarkan sukses menghentikan langkah kaki Ralen yang ingin menyusul masuk ke dalam.


"Hah?" Ralen mengerutkan kening, tidak mengerti dan tidak paham karena dia tidak pernah merasa mereka pernah bertemu, ini pertama kalinya mereka saling melihat wajah dan menyebutkan nama.


Pantas saja cara Hanna melihatnya seperti orang yang sudah mengenal dirinya, mengenal bukan dalam artian sebagai teman, cukup mengenal wajahnya saja, mungkin begitu?


Jadi, dimana wanita itu melihatnya?


"Di tempatku bekerja, bahkan kamu sempat berbicara denganku."


Apa-apaan ini?


Ralen makin di buat bingung, tempat wanita itu kerja saja dia tidak tahu dimana lalu bagaimana bisa wanita itu mengatakan mereka juga sempat bicara.


Sungguh ini pertama kalinya dia melihat wajah mantan tunangan suaminya, bukan kali kedua atau sekian kalinya.


Wanita ini sedang bermimpi kah? Ralen membatin penuh tanya.


"Kamu sama Ralen?" tanya sang Mama saat melihat anaknya.



Wanita itu sedang duduk di tepi ranjang klinik memegangi tangannya yang mungkin terasa sakit.



Ipul mengangguk sambil berjalan menghampiri.



"Ada di luar sedang.."



"Hanna?" tebak sang Mama dan Ipul mengangguk lambat.




"Supir Mama kemana?"



"Mama suruh buat ke bengkel soalnya kan memang sudah waktunya service nanti setelah service baru jemput Mama lagi, eh malah kejadiannya kayak gini."



Ipul bisa melihat lengan sang Mama yang membiru, memar sama seperti yang dia lihat di tubuh istrinya.



Kenapa istri dan Mamanya harus mengalami hal seperti ini, mungkin yang Mama alami memang murni kecelakaan karena sang Mama juga sudah mengatakan pria yang menabraknya mau bertanggung jawab tapi karena dia melihat pria itu sudah cukup tua jadi Mama Riska menolak karena tak tega, sedangkan yang dialami istrinya murni kesengajaan dan di dalam kepalanya sudah ada satu nama akan tetapi dia tidak ingin gegabah dia masih ingin menunggu bukti apabila sudah dapat dia tidak akan segan memasukkan orang itu ke dalam penjara, tidak peduli apa dan siapa dia.



"Mama mau pulang sekarang, tidak betah bau obat cuma bikin kepala Mama tambah pusing," Mama Riska beranjak.



"Loh Mama mau kemana? kan tadi dokternya sudah minta Mama untuk istirahat dulu satu atau dua jam," suara Hanna membuat Ipul dan sang Mama menoleh sedangkan Ralen yang baru akan masuk menggigit bibirnya.



Dia tidak salah dengar, wanita yang berdiri di depannya memang memanggil Mama pada Mama mertuanya, dan itu artinya hubungan mereka sudah sangat dekat lebih dari yang dia kira.



Ralen mengira mungkin Hanna akan memanggil Mama Riska dengan sebutan Tante, tapi ternyata tidak, panggilannya sama seperti dirinya.


Entahlah dia terlalu banyak berpikiran negatif setelah semua yang terjadi.


Wanita itu cantik, anggun, sopan dan ramah dengan suara yang merdu pantas kata suaminya wanita itu jauh lebih baik dari dirinya.

__ADS_1



"Iya Mama sudah lebih baik kok, udah ada Mas Gunawan juga." Mama Riska langsung merapatkan bibirnya saat dia tak sengaja memanggil Ipul dengan yang biasa Hanna panggil.



Disini ada menantunya dan dia sungguh tidak seharusnya berkata seperti itu, di dalam hati Mama Riska memarahi dirinya sendiri.



Jadi Mas Gunawan? batin Ralen lalu tersenyum tipis.



"Ralen sini sayang," panggil Mama Riska berusaha untuk memperbaiki keadaan yang menjadi tegang.


Terlebih lagi Mama Riska melihat Ipul yang panik mendapati raut wajah istrinya yang tampak aneh.


Ralen melangkah mendekat dengan lambat berdiri di samping sang Mama mertua sedangkan Hanna berdiri di samping satunya.



Mama Riska memegang tangan Ralen dengan penuh kasih sayang, dia hanya ingin menunjukkan bahwa Ralen adalah menantu satu-satunya untuk dia, tidak ada yang lain termasuk Hanna.


Memang dia menyayangi Hanna, sejak dulu sampai sekarang rasa sayangnya tidak berubah, namun sekarang dia menganggap Hanna seperti anaknya sendiri bukan lagi sebagai calon istri dari anaknya karena kenyataannya mereka tidak berjodoh.


"Ayo Pul pulang, Mama mau tidur di rumah saja," ajaknya pada sang anak yang berdiri bingung sebab diantara sang Mama ada dua wanita yang sama-sama tengah melihat padanya, membuat jantungnya berdebar tak benar.


Pria itu akhirnya hanya mengangguk.


Untunglah Mamanya tidak mengalami luka-luka fatal jadi mereka bisa diperbolehkan pulang meskipun sebelumnya dokter memintanya untuk tinggal satu jam lagi.



"Aku sekalian antar kamu pulang," kata Ipul pada Hanna yang tengah berdiri saja.



Hanna mengangguk lalu mengikuti mantan tunangannya.


Ralen bisa melihat interaksi suami dan mantan tunangannya menatap tanpa ekspresi karena dia tidak tahu harus berbuat apa, terlebih lagi saat suaminya berkata kalau mereka akan lebih dulu mengantar wanita yang berjalan lambat penuh keraguan.


Ipul membukakan pintu belakang dan membantu sang Mama masuk, lalu membuka pintu depan, niatnya untuk istrinya tapi sang istri malah dengan cepat masuk ke kursi belakang bersama dengan Mamanya.



"Len?" Mama Riska tampak terkejut sedangkan Ralen menggeleng.



"Ralen mau duduk sama Mama," katanya dengan suara yang getir.


Lalu Hanna berdiri tak mengerti, dia seolah menjadi wanita jahat yang membuat suami istri menjadi seperti ini.


"Hanna." suara Ipul membuyarkan pikiran Hanna dan pria itu juga memberi kode agar dia masuk ke dalam mobil.



Brak



Ipul menutup pintu kencang, entah di sengaja atau tidak yang jelas tindakannya itu membuat Hanna berjengkit kaget.



Setelah sekian lama akhirnya dia duduk berdampingan dengan pria yang mengisi hatinya, namun kini keadaannya berbeda di kursi belakang sana ada wanita yang menjadi istri sang pria, wanita yang mungkin dalam hatinya tengah mengutuk dirinya.



Sungguh Hanna bukan perempuan jahat yang ingin mengganggu rumah tangga orang lain, andai dia tahu dari awal mungkin hatinya tidak akan merasa sesakit ini.



Sakit?


Tidak tahu kenapa dia merasakan hatinya sakit, seolah ada benda tajam yang menusuk dan mempermainkannya dengan sangat sadis.


\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2