Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Adik Perempuan


__ADS_3

Ralen sedang memakaikan dasi di leher kemeja suaminya, pagi ini suaminya itu sudah harus pergi untuk memeriksa semua pekerjaannya sebelum kembali ke Jakarta besok pagi.


Dua Minggu sudah terlewati dengan baik, tanpa ada masalah bahkan semua masalah yang ada sudah dia tangani dan sekarang perusahaan yang tadinya ditambang penutupan sudah beroperasi sebagaimana mestinya.


"Ini hari terakhir kita disini, mau di perpanjang untuk bulan madu atau kita pergi ke kota lainnya saja atau kamu mau ke luar negeri? Eropa, mungkin?"


Pria yang sedang menatap wajah sang istri yang tengah begitu serius mengikat dasi di lehernya memberikan tawaran, tawaran bulan madu yang bahkan Ralen pun tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya dari semenjak mereka menikah.


Tangan Ralen yang gemetar karena sungguh sejak tadi dia gagal mengikat dasi dengan benar malah jadi tidak bergerak sama sekali akibat perkataan yang baru saja masuk ke dalam indera pendengarannya.


"Bulan madu?" Ralen malah mempertanyakan seakan telinganya itu sudah salah mendengar.


Ipul mencebikkan bibirnya lalu meraih tangan sang istri yang diam saja, mengajarinya agar bisa mengikat dasi di lehernya dengan baik dan benar, "kalau kamu mau, kalau tidak mau aku tidak akan memaksa," katanya dengan suara yang datar.


Tadi dia yang tiba-tiba saja menawarkan tapi sekarang pernyataannya terdengar seperti dia tidak sungguh-sungguh dengan tawarannya itu, pria ini sedang berbasa-basi saja atau memang sangat ingin menggoda istrinya yang tidak pernah bepergian keluar kota apalagi sampai keluar negeri?


Akibat bantuan dari suaminya akhirnya dasi itu bisa melingkar dengan sempurna di leher kemeja berwarna navy itu, Ralen pun tampak merapikannya sedikit.


"Gimana? pertanyaan ku hanya berlaku sampai nanti malam, kalau kamu tidak memberikan jawaban aku anggap kamu memang tidak ingin pergi kemanapun," ujar Ipul.


Ini sebuah pertanyaan atau ancaman? pertanyaan seperti ini seakan memaksa wanita di depannya untuk segera mengambil pilihan, pilihan yang sebenarnya ada di dalam lubuk hati sang pria.


Seseorang yang mendadak menanyakan sesuatu bukankah sebenarnya itu adalah keinginannya sendiri? tapi agar tidak terlalu terlihat bahwa dia ingin pergi bulan madu kemudian muncullah ide untuk menawarkan pada orang yang ingin dia ajak.


"Aku kan harus kuliah," sahut Ralen seperti tidak mengerti bahwa saat ini suaminya itulah yang sangat ingin pergi bulan madu.


Ipul mengerutkan keningnya mendapat jawaban yang secara tidak langsung menolak ajakannya, pria itupun segera menyingkirkan tangan Ralen yang sejak tadi masih berada di ujung dasinya, lalu tanpa berkata langsung memakai jas dan pergi begitu saja.


Ralen yang menyaksikan setiap gerakan suaminya itu hanya menggaruk belakang telinganya, "dia mau berangkat?" bingung karena suaminya tidak mengatakan apapun misalnya berpamitan seperti yang kemarin-kemarin.


"Kamu mau berangkat?" akhirnya menyadarkan diri lalu mengikuti suaminya yang tengah menuju pintu.


"Menurutmu?"


Ralen menghentikan langkahnya dan dalam sekejap sadar setelah mendengar suara suaminya berubah menjadi sangat ketus.


"Dia marah?" tanya Ralen ketika suaminya sudah tidak terlihat di balik pintu yang di tutup.


Di dalam mobil Damar bisa melihat kalau wajah tuan mudanya itu menegang, dan dia perkirakan pasti ada sesuatu yang baru terjadi.


"Tuan muda."


"Kenapa wanita selalu tidak peka!"


Damar baru saja memanggil namun pria di belakang malah sudah langsung bersuara mengatakan apa yang dia rasakan.


Benarkan dugaan Damar ini, tuan mudanya sedang terlibat masalah dengan seorang wanita dan bisa dipastikan wanita itu adalah istri dari tuan mudanya sendiri.


"Ipul sudah menawarkan untuk bulan madu tapi malah memikirkan kuliah, bukankah kuliah itu bisa di lakukan kapan saja? Ipul menyesal masukin dia kuliah," dengus Ipul dengan rahang yang mengetat.


"Tuan menawarkan?" tanya Damar mencoba menyelami masalah yang terjadi antara tuan muda dan istrinya itu.


Ipul mengangguk, membenarkan pertanyaan dari sang asisten.


"Itu kesalahan tuan muda sebenarnya," cakap Damar membuat Ipul menegakkan duduknya lalu membuka satu kancing yang ada di jasnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari si asisten mendadak membuat Ipul menjadi begah, bagaimana bisa malah dia yang salah? bukankah maksudnya baik? dia ingin berbulan madu dengan istrinya, salah?


"Kenapa Om malah nyalahin Ipul?!" tanyanya dengan nada kesal, dia bermaksud baik tapi bisa-bisanya Om Damar malah menyalahkan dirinya bukankah seharusnya Om Damar ini membela dirinya dan menyalahkan Ralen yang tidak pekaan.


"Ekhem, ekhem."


Damar berdehem sebentar lalu membenarkan pakaian yang dia pakai, saat seperti ini dia harus bersikap tenang agar tidak terpancing dan malah membuat dirinya terkena masalah.


"Seharusnya tuan muda bukan menawarkan, tapi langsung ajak saja, kalau sudah begitu kan Nona tidak akan bisa menolak, lagipula.." Damar tampak ragu mengatakannya, dia sangat tahu seperti apa tuan mudanya itu, keras kepala mau menang sendiri dan kadang gengsinya itu tinggi sekali, seperti sangat sulit untuk mengakui apa yang dia inginkan dan rasakan itu yang membuat orang sering kali salah paham dengannya.


Ipul menautkan kedua alisnya lalu duduk semakin ke depan dan matanya begitu fokus menatap sang asisten membuat asistennya itu menjadi risih serta salah tingkah.


Bayangkan saja seorang pria menatap pria lainnya dengan tatapan yang sulit diartikan, kalau orang lain yang tidak mengenal mereka lihat bukankah mereka nantinya akan salah paham? mengira mereka dua manusia yang tidak normal.


Damar bergidik ngeri membayangkan sekelebatan yang muncul di dalam otak kepalanya lalu mengelus dadanya yang jadi tidak karuan.


"Maksud Om, Ipul langsung aja gitu bawa Jelita bulan madu?" tanya pria yang sepertinya mengerti dengan ucapan sang asisten.


Damar mengangguk, "kalau sudah begitu kan mau tidak mau Nona Ralen akan ikut pergi," jelas Damar dengan wajah bangga seakan itu adalah ide yang sangat cemerlang yang tidak dipikirkan oleh sang atasan, padahal manusia berotak lainnya pun akan berpikiran sama dengannya, hanya segelintir manusia saja yang kadang lambat dalam berpikir karena lebih mengedepankan keras kepala yang mengundang emosi.


Ipul kembali memundurkan duduknya seraya membenarkan letak jam tangannya, "Ipul nggak mau ah, biar aja Jelita yang maksa buat pergi bulan madu."


Nah kan kalau sudah begini dipastikan Damar itu menyesal sudah merasa jadi orang yang paling cemerlang dengan ide pasarannya itu, dia lupa siapa yang sedang dia hadapi sekarang ini, anak dari mendiang Irman yang sifatnya sungguh sangat jauh berbeda dengan Ayahnya itu.


Pria yang duduk di bangku belakang itu akan tetap mengedepankan gengsinya dan berusaha menahan keinginannya sendiri padahal dia itulah yang sebenarnya sudah sangat ngebet ingin pergi bulan madu, satu minggu di Batam masih belum puas kah?


****


"Ma." Daniya memanggil Mamanya yang sedang asik membaca majalah di ruang keluarga.


"Ada apa Dani? kamu mau kemana?" tanyanya saat melihat Daniya sudah berpakaian sangat rapi, itu artinya anaknya itu akan keluar rumah.


Daniya duduk di samping wanita yang sudah menutup majalah yang sedari tadi menemani waktu kosong lalu merangkul tubuh wanita tua itu dengan manja, terlihat jelas kalau dia itu sangat menyayangi wanita yang sudah merawatnya sejak bayi.


"Kamu mau pergi kemana?" mengulang lagi pertanyaannya seraya mengelus rambut sebahu Daniya.


Daniya mengurai rangkulannya lalu duduk bersandar, "Dani mau bertemu dengan Agatha," jawab Daniya.


"Agatha? kenapa dia tidak datang kesini?" dari pertanyaannya Dayna itu memang sudah mengenal Agatha, teman dari anaknya yang berkebangsaan Inggris.


"Dia tidak mau bertemu dengan Mama?" tanya Dayna lagi dengan kerutan di dahinya yang makin bertambah.


"Dia ada urusan, mungkin nanti dia akan datang," Daniya mengambil majalah yang ada di pangkuan sang Mama lalu membacanya.


Majalah Indonesia yang pastinya menyuguhkan berita-berita dari negara itu, merasa tidak ada yang menarik membuat Daniya yang membolak-balik saja lembar demi lembar.


"Daniya," panggil Dayna tampak ragu, sebenarnya dia ini tidak mau membuat anak angkatnya itu tidak nyaman dan pasti tidak akan senang dengan apa yang dia ucapkan.


"Hm," Daniya menggumam dengan tangan dan matanya masih berada di majalah berisi 52 lembar dengan tidak semangat.


"Kamu tidak berniat untuk bertemu dengan adik perempuanmu?"


Daniya sekejap menghentikan gerakan tangannya mendengar pertanyaan yang diajukan oleh sang Mama.


"Untuk apa?" tanya Daniya dengan nada terkesan ogah-ogahan tapi dia harus menanggapi pertanyaan dari Mamanya.

__ADS_1


"Untuk apa? ya untuk berkenalan lalu mendekatkan diri siapa tahu kalian bisa akrab dan dekat lalu kamu bisa berbagi cerita ataupun masalah dengannya, bukankah saudara perempuan biasanya akan lebih mudah akrab?" tutur Dayna menjelaskan.


Jujur dia ini berharap Daniya mau memaafkan keluarganya sebab Dayna sendiri adalah saksi bahwa orang tua Daniya itu sama sekali tidak seperti yang Daniya tuduhkan, tapi berulang kali dia menjelaskan Daniya tetap saja tidak mau mendengarkan seolah sudah tertutup oleh kebencian.


Daniya tersenyum sinis menganggap ucapan Dayna sangat tidak masuk akal, dia mana mungkin akrab dengan dua adiknya itu di saat hatinya terus menyalahkan mereka atas apa yang dia alami.


"Mereka itu sudah mengambil apa yang seharusnya Dani rasakan dan Dani tidak mau memaafkan mereka apalagi mengenal dan akrab, rasanya sangat tidak mungkin, kecuali kalau mereka mau mengembalikan apa yang seharusnya jadi milik Dani," tutur Daniya seolah kebahagian yang selama ini dia miliki tidak berarti apa-apa.


Dia ini hidup berkecukupan tanpa pernah merasakan kesulitan apapun dalam hidupnya, semua yang dia inginkan selalu dia dapatkan tapi ucapannya itu seolah dia tidak pernah mendapatkan apapun, seolah tidak ada kebahagiaan yang dia rasakan selama ini.


"Apa kasih sayang yang Papa dan Mama berikan tidak cukup?" Dayna seperti merasa tersinggung dengan perkataan anak angkatnya itu.


Mendengar itu Daniya pun segera memeluk tubuh Dayna dengan sangat erat, "cukup, bahkan lebih dari cukup karena apapun yang Daniya mau kalian selalu memberikannya, hanya saja Daniya merasa iri dengan mereka, mereka itu di besarkan oleh orang tua kandung, meski Daniya pun mendapatkan kasih sayang tapi rasanya mungkin berbeda Ma, Mama pasti mengerti apa yang Daniya maksud," jelas Daniya membenamkan wajahnya di dada sang Mama.


Dayna mengangguk paham lalu tangannya mengelus kepala sang anak dengan sangat lembut dan dipenuhi dengan kasih sayang yang tetap tidak akan berkurang dari dulu sampai sekarang.



Daniya tetaplah anaknya dan akan terus begitu sampai dia tidak lagi bisa menghembuskan napas.



"Sepertinya Daniya sudah terlambat, Agatha mungkin sudah menunggu, Daniya harus pergi sekarang," kata Daniya melepaskan pelukan lalu beranjak dari duduknya tapi sebelum itu dia memberikan kecupan di kedua pipi sang Mama.


Cup! cup!


"Dani pergi."



"Pulang jam berapa?" Dayna bertanya kala Dani sudah mulai melangkah.



"Mungkin malam," sahut Daniya dengan wajah yang berpikir.



Dayna mengangguk, "kalau begitu hati-hati," Dayna mengingatkan yang di angguki oleh Daniya.



Daniya pergi mengendarai mobilnya sendiri menuju tempat Agatha berada, Daniya pikir temannya itu sedang sibuk pacaran dan tidak mungkin menghubunginya tapi ternyata tadi malam Agatha menghubungi dan memintanya untuk datang menemui dirinya.



Daniya tidak bisa menebak apa yang terjadi dengan temannya itu yang memang kerap kali bergonta-ganti kekasih, pria-pria yang diakui sebagai kekasih semuanya tak ada yang jelas, hubungan seminggu lalu putus bahkan pernah Agatha berpacaran hanya tiga hari saja, bukankah itu sangat menakjubkan?



Hal biasa bagi Agatha, tapi bagi Daniya itu sangat aneh, karena dia bahkan tidak mau berhubungan dengan pria yang tidak dia sukai, berbeda dengan Agatha yang bebas mau dengan pria manapun meski tidak memiliki perasaan apapun, mungkin hal itulah yang membuat temannya itu sering kali berganti pasangan.



\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2