Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Mulai Mencari Tahu


__ADS_3

Daniya masih terus terganggu dengan perkataan Agatha dua hari yang lalu, bahkan ketika bekerja pun konsentrasinya sangat terganggu, dia tidak fokus pada apa yang seharusnya di kerjakan.


Ajakan untuk menginjakkan kaki ke negara kelahirannya membuat dia menjadi gamang, di satu sisi dia sangat ingin bertemu dengan pria yang sudah membuat hari-harinya hambar karena keputusan pria itu untuk kembali ke negara asal mereka tapi di sisi lain dia berpikir sangat tidak mungkin untuk menginjakkan kaki di negara Indonesia mengingat ada pria yang sudah dia lukai hatinya dan dia yakin sampai saat inipun masih menunggu kedatangannya.


Kedatangannya untuk memberikan penjelasan kenapa dia tega pergi pada saat semua rencana pernikahan sudah sangat matang dan terus di bahas setiap saat dalam pertemuan mereka.


Daniya memejamkan mata lalu membuka kunci apartemen yang dia tinggali selama bertahun-tahun di Inggris, menjejakkan kaki pada lantai apartemen dengan raut wajah yang tidak bersemangat.


Sungguh dia sangat bingung harus bagaimana? mengejar pria yang dia sukai dengan resiko bertemu dengan pria yang dia tinggalkan, atau tetap disini menunggu pria yang dia sukai itu datang kembali meski mungkin harapannya itu justru mengecewakan.


Di tengah kebingungan dan kegundahan hati handphone di dalam tasnya berdering, mau tidak mau dia harus menjawab panggilan itu.


Terpampang nama Agatha di layar benda berteknologi itu sebagai si penelepon hingga Daniya tanpa ragu pun gegas menjawab lalu mendekatkannya ke depan telinga.


"Besok kita libur aku ingin mengajakmu pergi ke salon."


Baru juga handphone menempel di telinga suara khas milik Agatha sudah terdengar.


Dahi Daniya mengerut mendengar ajakan sang teman, "salon? untuk apa?" tanya Daniya tak mengerti.


"Ck, salon pun kamu tidak tahu?" celoteh Agatha dengan nada mengejek.


"Aku tahu Agatha, hanya saja buat apa kita ke salon?" jelas wanita yang sekarang tengah membuka mantelnya.


Sekarang di Inggris sedang musim dingin dan cuacanya benar-benar membuat tubuh menggigil apalagi saat menjelang malam seperti ini, sungguh siapapun akan memakai lapisan yang sangat tebal saat berada di luar ruangan.


"Perawatan tubuh, mempercantik wajah atau mungkin memotong rambut mu itu, sungguh Daniy aku sangat gatal melihat rambut panjang mu itu, apa tidak sebaiknya di potong pendek saja?" tanya Agatha, "ah rasanya potong pendek sebuah ide yang tidak cukup buruk, ayo kita potong rambut," tutur Agatha, dia yang bertanya dia juga yang menjawab.


Daniya memegang rambut panjangnya lalu memelintir dengan jari-jari rampingnya, "apa aku cocok dengan rambut pendek? apa tidak akan terlihat aneh nantinya?" Daniya bertanya ragu.


"No! dari sudut manapun mau kamu rambut panjang atau rambut pendek sekalipun tidak ada rambut kamu akan tetap terlihat cantik dan sempurna di kalangan pria manapun!" desak Agatha yang menjadi lebih bersemangat ketimbang Daniya.


Agatha terus berceloteh meyakinkan temannya yang malah sangat tidak percaya diri dengan segala kecantikan wajah serta kesempurnaan bentuk tubuh yang dimiliki.


"Kamu yakin Agatha?" bahkan dia yang memiliki wajah serta tubuhnya pun tidak yakin dengan ucapan dari sang teman sampai akhirnya dia melenggang menuju cermin meja rias yang bisa memperlihatkan seluruh bagian tubuhnya dari atas sampai bawah lalu dari kaki naik ke kepala dan berhenti pada wajah dengan tangan sebelah kirinya yang mulai bergerak menyentuh wajah yang kata Agatha itu cantik, tapi menurutnya tidak demikian.


Sungguh dia tidak merasa cantik bahkan dia merasa sangat buruk sebab sepanjang dia dewasa hanya ada satu orang pria yang sangat menyukainya, itu adalah Angga, pria itu terlalu memujanya dan selalu memaafkan setiap kesalahan yang dia perbuat hingga akhirnya malah membuatnya jenuh menjalin hubungan dengannya.


Daniya jenuh bahkan hanya berpura-pura antusias kala Angga terus membahas tentang pernikahan yang nyatanya dia sangat meragu, dia selalu berpikir kalau rumah tangganya akan sangat membosankan memiliki suami seperti Angga.


"Kamu masih bertanya Daniy? oh yang benar saja," celetuk wanita yang juga baru saja sampai di apartemennya.


"Pokoknya aku tidak mau tahu, besok kita harus pergi ke salon, penampilanmu harus benar-benar di rubah sebelum kita terbang ke Indonesia!" seru Agatha dengan wajah berbinar dia tidak sabar untuk bertemu dengan pria yang hampir dua bulan ini berkomunikasi dengannya lewat akun media sosial.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Agatha langsung memutuskan sambungannya telepon membiarkan Daniya kebingungan karena ucapannya.



"Indonesia?" gumam Daniya.



Sebenarnya dia ingin sangat ingin tapi keraguan tetap saja bersemayam dalam dirinya, takut bertemu dengan pria yang sudah dia tinggalkan dan pria itu akan menuntut penjelasan darinya.



Sungguh tak siap rasanya, tapi sampai kapan dia harus lari darinya? sampai kapan dia terus bersembunyi di saat yang bersamaan dia sangat ingin memulai hubungan baru dengan pria yang telah pergi dengan membawa hatinya.



Daniya menggenggam benda yang tadi mengeluarkan suara dengan pikiran yang melayang memikirkan apa yang harus dia lakukan, sampai akhirnya dia mulai membuka akun media sosial miliknya dan mencari pria yang dia suka di daftar pengikutnya.



Tangannya mulai bergerak dengan kedua mata yang fokus pada layar handphone sedangkan kakinya pun ikut melangkah menuju tempat duduk di pinggiran ranjang lalu menghempaskan bokongnya untuk duduk.




Daniya pun mulai membuka akun sang pria dan mulai melihat-lihat.



"Sudah tidak pernah upload photo," tutur Daniya ketika melihat keterangan tanggal pada photo paling atas yang dia lihat.



Wanita itu mulai mencari tahu orang-orang terdekat sang pria melalui tag photo tapi tidak mendapatkan apapun karena tidak ada yang di tag pada photo manapun.



Dia pun berhenti ketika melihat photo sosok pria berdiri membelakangi kamera, dia tahu siapa pria itu hingga akhirnya jarinya mengelus photo menyalurkan kerinduan yang dia rasakan.



"Sebenarnya kamu ini kemana dan kenapa? tidak ada kabar sampai sekarang apa tidak ingat aku sama sekali? padahal kita sudah sangat dekat dan kamu hanya perlu mengutarakan perasaanmu saja dan aku akan menerimanya, tapi kamu pergi tanpa memberi kepastian apapun padaku," tutur Daniya yang tanpa terasa meneteskan air mata.

__ADS_1



"Teman-teman mu bahkan mengatakan kalau kamu juga menyukai aku tapi kenapa memilih diam saja," kata Daniya lagi seraya menghapus air mata yang membasahi kedua pipi.



Merasa sia-sia dan percuma saja menangis, akhirnya Daniya sadar kalau semua yang dikatakan oleh Agatha benar, dia harus mencari pria bernama Saipul Gunawan, bertemu dengannya guna meminta kepastian tentang hubungan mereka.



"Kamu bahkan sangat romantis saat tahun baru dua tahun yang lalu," gumam Daniya kembali ingat apa yang sempat dia lakukan dengan sang pria dulu.



Daniya memegang bibirnya lalu memejamkan kedua mata kembali larut dalam ingatan tentang malam tahun baru yang mereka nikmati bersama, meski tidak hanya berdua saja tapi tetap saja mereka bisa melakukan apa saja karena teman-teman mereka pun sibuk dengan perbuatan mereka masing-masing.



Malam itu saat langit dipenuhi dan dihiasi oleh warna-warni cahaya dari petasan untuk merayakan pergantian tahun, dia dan pria yang di panggil Awan tanpa sadar berciuman, tidak tahu siapa yang mulai tapi yang pertama mengakhirinya adalah sang pria.



Daniya ingat dengan jelas kalau saat itu sang pria langsung meminta maaf padanya, merasa apa yang mereka lakukan itu adalah salah sedangkan Daniya merasa tidak ada kesalahan apapun terlebih lagi hatinya begitu semarak mengalahkan semaraknya dentuman petasan yang mewarnai langit.



Sekian menit membiarkan dirinya dibawa oleh kenangan indah hingga akhirnya dia kembali tersadar atau menyadarkan dirinya.



Dia menatap layar handphone yang masih menampilkan photo punggung sang pria, terdiam sesaat seperti sedang memantapkan diri pada apa yang akan dia lakukan, baru kemudian setelah sangat mantap dan yakin jarinya bergerak menekan tombol mengirim pesan.


Iya, dia memutuskan untuk mengirim pesan pada pria yang dia rindukan itu dia sangat yakin meski sudah lama tidak mengunggah gambar atau membuat kiriman apapun pria itu masih menggunakan akun media sosialnya itu.


Sungguh mulai sekarang dia akan mengikuti apa yang dikatakan oleh Agatha.


Jari-jemarinya mulai mengetikkan kata demi kata kalimat demi kalimat yang tersusun rapi di layar handphone, mengesampingkan rasa malu karena menghubungi lebih dulu.


Benar yang dikatakan oleh Agatha, dia ini hidup di negara orang dan di jaman modern, wanita juga sudah mempunyai hal untuk mengungkapkan perasaannya lebih dulu, tidak selalu harus menunggu prianya yang mengatakan.


Daniya langsung mengirim pesan yang sudah dia ketik lalu langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan mata yang menatap langit-langit kamar dengan dada yang naik turun menandakan tarikan napasnya sedikit berat setelah mengumpulkan keberanian untuk mengirim pesan pada akun sang pria, yang dia tidak pernah tahu kalau pria itu sudah memiliki istri.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2