
Ralen menahan air mata yang ingin merembes keluar dari matanya.
"Jangan nangis Ralen, Lo bukan lagi ABG yang akan nangis di jalanan!" sentak Ralen memperingati dirinya sendiri.
Dulu saat sedang ingin menangis karena saking lelahnya mencari uang memikirkan kebutuhan keluarganya, Ralen akan membawa motor dengan kencang dan menangis karena saat itu tidak akan ada yang sadar kalau dia tengah menangis apalagi jika dilakukan malam hari dan ditengah hujan menangis dengan puas dan setelahnya dia akan menjadi sangat lega.
Motor masih terus berjalan meski lambat karena Ralen sendiripun tidak tahu mau pergi kemana karena yang jelas dia tidak akan pergi ke kampus atau pulang ke mertuanya apalagi pulang ke rumah orang tuanya.
Sungguh pulang ke kontrakan orang tuanya bahkan tidak ada dalam pikirannya sama sekali mengingat kejadian demi kejadian yang harus dia alami dan saat bertemu kemarin pun hatinya masih menyisakan kesakitan yang mendalam.
Wanita itu mencoba untuk tegar menghadapi cobaan yang datang bertubi-tubi dalam hidupnya, mengetahui suaminya yang ternyata bertemu dengan mantan tunangannya sungguh menyakitkan hati belum lagi sekarang pikirannya pun mulai memikirkan hal yang aneh-aneh tentang suaminya dan wanita bernama Hanna.
"Sepertinya mereka menghabiskan waktu bersama, mungkin bernostalgia mengingat semua kenangan."
Ralen tersenyum miris hingga tak terasa air matanya meluber, itu bukan air mata kesedihan tapi air mata yang mentertawakan betapa malang nasibnya saat ini.
Wanita itu menghentikan laju motornya saat merasakan benda di dalam kantong celananya bergetar sekaligus mengeluarkan suara.
Tangannya terulur untuk meraih benda yang menyala itu lalu bibir tipisnya melengkung menunjukkan senyum yang terlihat sangat kaku sambil sepasang netranya menatap nama sang pemanggil di layar handphone miliknya.
"Dia baru ingat denganku?" membatin.
Setelah semalaman tidak menghubungi lalu sekarang mendadak menghubungi.
"Pasti Mama yang memintanya," kata Ralen kali ini suaranya terdengar jelas.
Dia menepikan motor, tentu saja dia akan menjawab telepon dari suaminya, ingin tahu apa yang mau dikatakan oleh pria itu.
"Cepat pulang sekarang!"
Baru juga Ralen menggeser layar suara suaminya sudah terdengar berat dan nada kemarahan yang di tahan, bahkan Ralen tidak diberi kesempatan untuk mengucap kata halo.
"Aku sedang ingin jalan-jalan," jawab Ralen mencoba tenang.
"Pulang sekarang!" kembali mengatakan hal yang sama dan kali ini dengan nada yang naik satu oktaf.
__ADS_1
"Kalau aku ingin pulang aku akan pulang, tapi tidak sekarang."
Tentu saja Ralen yang sedang marah tidak akan mau mendengarkan apa yang diminta oleh suaminya, dia sedang sangat kecewa jadi biarkan dia menenangkan dirinya.
"Ralensi Jelita!!!"
Kali ini Ralen benar-benar tersentak, motor yang dia duduki hampir saja jatuh karena kakinya yang bergetar mendengar suara dari pria yang berteriak sangat kencang, andai kakinya tidak bergerak cepat tentu saat ini dia sudah tersungkur ditimpa oleh motor.
Suaminya berteriak dengan suara baritonnya, mungkin semua daun akan berguguran seandainya mendengar bagaimana kencangnya suara pria yang sekarang tengah mengepalkan tangan dengan urat lehernya yang terpaksa muncul akibat harus mengeluarkan suara yang begitu keras.
"Aku meminta kamu pulang Jelita, Mama mengkhawatirkan mu." suara Ipul sudah kembali rendah namun tetap masih ada ketegasan.
"Jadi karena Mama? bukan karena kamu ingin menghubungiku untuk meminta maaf atau membujuk seperti yang biasanya kamu lakukan?" Ralen tersenyum miris, bibirnya sudah bergetar menahan tangis agar tidak keluar.
"Jangan seperti anak kecil Jelita, aku sibuk tidak bisa setiap saat membujuk mu jadi mengertilah."
"Kamu sibuk dengan mantan tunangan kamu Mas," kata Ralen sudah tidak peduli dengan hatinya yang harus menangis.
Dia akan membahas wanita bernama Hanna itu sekarang, dia tidak peduli kalau suaminya akan marah.
"Kamu ngomongin apaan? mantan tunangan apa?" Ipul entah tidak mengerti atau dia yang memang bodoh malah bertanya pada wanita yang sedang cemburu.
Ralen mengeluarkan tawa, suara tawa yang berbalut kesedihan, "Hanna kan namanya? kamu sibuk dengannya berbicara panjang lebar mengenang masa lalu kalian, mungkin?"
"Mama.."
"Mama tidak mengatakan apapun tentang mantan tunangan mu itu, aku yang tidak sengaja mendengar saat Mama menelepon mu." Ralen dengan lantang menyela saat suaminya ingin bicara, mati-matian menahan sesak di dalam dada.
Wanita mana yang tidak akan marah mengetahui suaminya bertemu dengan mantan tunangannya bahkan sampai melupakan dirinya.
Diapun tidak terima sakit hati dan kecewa, dia yang sedang hamil seharusnya mendapat lebih banyak perhatian dari orang-orang yang dia sayang.
Tapi yang dia dapatkan apa? ibunya memperlakukannya seperti anak tiri, lalu suaminya? entah sengaja atau tidak suaminya itu mengecewakan dirinya.
"Hanna sangat cantik kan? aku rasa jauh lebih cantik dari aku, aku tidak akan sebanding dengannya maka dari itu suamiku pun sampai melupakan diriku, mungkin godaannya luar biasa."
__ADS_1
"Tutup mulutmu!" bentak Ipul tidak suka dengan semua yang Ralen katakan.
Ralen tertawa kencang menutupi kesedihan yang dia rasakan, lihat saja suaminya bahkan memintanya untuk tutup mulut.
"Kenapa? bukankah dia memang menggoda suamiku?"
"Hanna tidak seburuk yang kamu katakan, dia bahkan jauh lebih baik darimu!" sentak Ipul marah hingga tidak bisa lagi mengontrol perkataan yang dia lontarkan.
"Oh." mulut Ralen membulat dengan air mata yang meleleh dari tiap sudut matanya.
Setelahnya tidak ada lagi kalimat yang dia keluarkan hanya tangannya saja yang meremas dadanya yang terasa makin sesak.
"Jelita.." Ipul sepertinya baru menyadari kesalahan yang dia lakukan, "aku tidak bermaksud.."
"Yang kamu katakan memang benar Mas, aku tidak baik mengingat sebelum menikah pun aku sudah tidur denganmu, aku wanita murahan kan?!" Ralen mengeluarkan tawanya lagi.
Tawa yang di buat-buat hanya untuk menutupi betapa hatinya jauh lebih sakit dari sebelumnya.
"Karena wanita baik-baik tidak akan pernah tidur dengan lelaki manapun sebelum dinikahi."
Ralen terus berbicara mengabaikan suara lirih suaminya yang merasa bersalah karena sudah mengeluarkan perkataan kejam untuknya.
"Aku minta maaf Jelita, aku tidak pernah menganggap mu begitu, aku salah." Ipul mengakui kesalahannya meskipun dia tahu Ralen tidak akan begitu saja menerima maafnya.
Dia tahu seberapa menyakitkan apa yang dia sudah ucapkan, sangat membuat sakit hati sedangkan dulu dialah yang meniduri Ralen yang tengah mabuk.
Semua yang terjadi kesalahan darinya, bukan wanita yang sekarang tengah mengandung anaknya.
Ralen sudah tidak ingin mendengar apapun lagi, dia mematikan handphonenya lalu menangis sejadinya di atas motor di tepi jalan yang dilalui banyak kendaraan.
Tidak peduli pada orang-orang yang tengah memperhatikannya, menjadikannya bahan tontonan gratis.
Yang dia pedulikan adalah bagaimana caranya meluapkan semua kesedihan yang datang beruntun dalam hidupnya, seolah tidak membiarkan dia untuk bernapas dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
****
__ADS_1