Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Ibu Mau Ralen Mati?


__ADS_3

"Hanna." suara Ipul makin memberat.


Semua yang baru saja dia dengar seakan menjadi pukulan juga baginya, dadanya terasa sesak tentang kisah pilu yang dialami oleh sang mantan kekasih.


Wanita yang cukup lama dia kenal hingga diapun tahu seperti apa sifatnya dengan sangat baik.


Wanita baik hati, lemah lembut dan juga pengertian kini malah harus mengalami nasib buruk tentang rumah tangganya.


Wanita yang dia tahu tidak memiliki siapapun dalam hidupnya kini kembali berjuang seorang diri menghadapi dunia yang seolah tidak berpihak padanya.


"Aku salah memilih suami," kata Hanna lirih disertai dengan isak tangis yang membuat suaranya tidak jelas.


Ipul memejamkan mata lalu menarik napas yang teramat sesak, wanita di depannya tengah menyalahkan dirinya sendiri padahal jika mau wanita itu bisa menyalahkan dirinya, menjadikan dia kambing hitam atas kehidupan berat yang harus dia terima.


Tangan Ipul terulur, ingin rasanya menyentuh dan mengelus kepala sang wanita, ingin memberikan ketenangan tapi dia sadar dia adalah pria beristri ada hati yang akan terluka andai dia tetap melakukannya, sampai akhirnya tangannya hanya mengambang di udara diam kaku tak bergerak.


"Kamu disini dengan siapa?" tanya Ipul yang akhirnya menurunkan tangannya lalu memasukkan ke dalam saku celana yang mungkin berguna untuk menahan dirinya agar tidak sampai melakukan tindakan apapun.


Hanna menyeka air mata, mengangkat kepala lalu netranya yang basah menatap pria yang dulu pernah mengisi hatinya, pria baik dan juga penyayang yang bisa menerima dia apa adanya saat orang lain bahkan memandang dia saja tidak mau karena dia yang hanya hidup sebatang kara dengan pendidikan rendah dan hanya bekerja sebagai pengantar makanan.


Hanna tidak memberikan jawaban hanya sibuk menyelami kedalaman netra pria di depannya, seberapa dalam hingga dia berusaha untuk masuk dan menyelami.


Ipul mengalihkan pandangannya karena tidak mau semakin dalam melihat luka yang tersirat jelas pada mata Hanna.


Hanna menghela napas panjang memperbaiki perasaannya yang entah kenapa malah dengan sangat mudah menangis di depan sang mantan kekasih.


Pria yang sudah tidak ada lagi sangkut pautnya dengan kehidupan dia malah harus mendengarkan cerita menyedihkan yang dia bicarakan.


Dia merasa tak pantas dan itu sangat konyol hingga akhirnya meminta maaf.


"Maaf, tidak seharusnya aku menangis dan membicarakan kisah hidupku padamu Mas," kata Hanna yang berusaha untuk mengembalikan ketenangan dirinya.


Ipul merasa aliran darahnya mengalir dengan cepat ketika mendengar suara lembut Hanna memanggilnya dengan panggilan yang mengingatkan pada beberapa tahun lalu, saat mereka masih berhubungan.


Suara lembut yang selalu menyejukkan yang setiap saat mampu menghilangkan rasa lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.


"Kamu dengan siapa dan tinggal dimana?" Ipul mengulang kembali pertanyaannya, menatap wanita di depannya menuntut jawaban.


Hanna menunduk, "sendiri, aku menginap di hotel ini."


Ipul memejamkan mata, itulah mengapa mereka bisa bertemu disini ternyata Hanna memang menginap di hotel yang sama dengannya.


Sejak kapan? kenapa mereka baru bertemu?


"Lusa aku akan kembali ke Jakarta," ucap Hanna yang selalu setia dengan sepasang netranya yang sendu dan kini sedikit merah, tentu saja karena dia yang menangis.

__ADS_1


"Jakarta? bukankah kamu tinggal di Bandung?" tanya Ipul heran.


Seingatnya Hanna memang tinggal di Bandung kan? lalu jika memang pindah ke Jakarta sejak kapan? apa sejak bercerai?


Semesta pun bingung kenapa Ipul mendadak jadi ingin tahu tentang Hanna beserta dengan kehidupannya.


Dia bukan lagi ingin bernostalgia dengan masa lalu kan? itu hanya spontanitasnya saja sebagai sesama manusia terlebih lagi dia memang mengenalnya.


Hanna menggeleng, "semenjak bercerai setengah tahun yang lalu aku sudah tidak lagi di Bandung, selain mantan suamiku aku tidak mengenal siapapun di kota itu, aku menetap di sana karena memang harus mengikuti suami, tapi saat aku sudah resmi di ceraikan aku langsung kembali ke Jakarta, kembali pada kehidupanku." beber Hanna.


Ipul bisa melihat tidak ada lagi cahaya di kedua netra Hanna, tidak ada lagi binar kebahagiaan yang dulu biasa dia lihat, netra itu menjadi sendu dan cahayanya meredup.


Sungguh dia tidak suka melihat Hanna yang sekarang.


****


"Ralen sudah belum? ini sudah malam kita harus pulang sekarang." Mama Riska berteriak memanggil menantunya yang sudah hampir satu jam berbicara dengan besannya, ibu kandung dari sang menantu yang entah kenapa terlihat tidak seramah yang dulu saat untuk pertama kalinya mereka bertemu.


"Ibu dengar? Ralen harus pulang," kata Ralen bersiap untuk pergi dari hadapan sang ibu yang sejak tadi terus saja membicarakan hal yang tidak ingin dia dengar.


Andai waktu bisa di putar dia lebih memilih untuk berdiam diri saja ketimbang harus pergi ke mall mencari kesenangan tapi malah bertemu dengan wanita yang ingin dia hindari.


Ibunya yang sangat dia sayangi bahkan dia rela melakukan apapun untuk sang ibu, kini lagi-lagi menuntut dirinya.


"Ibu hanya minta satu hal sama kamu Len."


Hah? satu hal? Ralen tidak salah dengar kah?


Kenapa ibunya itu seolah sangat menggampangkan apa yang dia minta, apa tidak berpikir kalau dia itu tengah meminta seorang manusia, suami dari anaknya sendiri.


"Ibu mau Ralen mati?"


Ralen membalikkan pertanyaan yang sukses membuat wanita di depannya menegang tak pernah mengira kalau anaknya akan mengajukan pertanyaan menakutkan seperti itu.


"Mereka masih belum selesai bicara Tante." Daniya yang memang sejak tadi tengah cari muka duduk memepet pada wanita yang mungkin akan menjadi mertuanya?


Mama Riska mengabaikan perkataan Daniya terus melihat pada Ralen yang masih belum juga menghampiri dirinya.


"Ralen itu keras kepala, bahkan dia sudah membuat ibu jatuh sakit tapi dia juga tidak pernah mau menemui ibu, sepertinya dia sudah terlalu nyaman hidup di rumah Tante sampai-sampai melupakan keluarga kandungnya sendiri." omongan Daniya membuat telinga Mama Riska panas.


"Ralen ayo kita pulang, ini suami kamu sudah menelepon," bohong Mama Riska beranjak mendekati menantunya yang wajahnya tidak lagi ceria seperti tadi.


Jangankan menelepon membalas pesan darinya saja Ipul tidak ada.


Terkesan tegang dan sedih dalam waktu bersamaan.

__ADS_1


Ralen mengulas senyum palsu lalu mengangguk pada sang Mama mertua yang berjalan mendekat.


"Bahkan mertua Ralen jauh lebih menyayangi Ralen dari pada ibu kandung Ralen sendiri."


Selesai mengatakan itu Ralen bergegas menghampiri sang mertua lalu melangkahkan kaki meninggalkan tempat yang sejak tadi terasa panas dan juga mencekam.


"Lihat Bu, seharusnya Mama Riska itu jadi mertua Dani, tapi Ralen merebutnya." Daniya mendekati sang ibu dan merengek tak jelas.


"Dani jauh lebih dulu mengenal dan berhubungan dengan Awan, tapi Ralen merebutnya, semua kebahagiaan Dani di rebut oleh Ralen!" seru Daniya dengan wajahnya yang menyiratkan kemarahan.


Dia sangat marah, tidak senang dengan semua kebahagiaan yang mengelilingi Ralen.


Adiknya itu seolah dikelilingi oleh orang-orang baik dan dia tidak suka itu karena dialah yang seharusnya berada diposisi sang adik.


Disayangi oleh suami dan mertua makin membuat Daniya sangat iri dan itu membuat dadanya terasa penuh membuat napasnya sesak bukan main.


"Kita pulang sekarang Daniya, ibu lelah," kata sang ibu yang membuat Daniya mendengus tak suka.


Dia sedang mengadu ibunya bukan menimpali tapi malah mengajak pulang.


"Mas Sai bilang apa Ma?" di dalam mobil yang sudah melaju Ralen menanyakan suaminya.


Mama Riska tertawa lebar, "Mama bohong sayang, Mas Sai mu tidak telepon, Mama tidak suka berlama-lama dengan Daniya dia terlihat.." Mama Riska terdiam sesaat, "menyebalkan dan penghasut," bisik Mama Riska.


Ralen mengangguk setuju karena kenyataannya memang seperti itu.



"Mas Sai juga tidak menghubungi Ralen," kata Ralen ketika melihat handphonenya dan tidak ada satupun notif panggilan tak terjawab, hanya ada pesan yang pria itu kirimkan beberapa jam lalu yang memang sengaja tidak Ralen baca.



"Mungkin baru pulang, atau sedang mandi atau.." Mama Riska menjeda.



"Ketiduran." Ralen melanjutkan perkataan sang mertua lalu mereka tertawa bersama.



Keduanya berpikiran sangat positif sekali setelah harus bertemu dengan dua wanita yang tidak ingin ditemui.



\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2