
Ralen sudah sangat siap untuk pergi bekerja, wanita itu bahkan tengah mengeluarkan motornya dari dalam garasi.
"Ma," panggilnya pada Mama mertua yang sedang menyiram tanaman.
Ah, mertuanya itu sekarang sudah jauh lebih baik dari satu Minggu yang lalu, Ipul memintanya untuk menjaga sang mertua dan Ralen melakukannya dengan baik bahkan dengan senyum yang selalu menghiasi wajah dari mertuanya, meski dia tahu mertuanya masih akan selalu bersedih dengan kepergian suaminya tapi setidaknya tidak lagi di tunjukkan dan untuk makan pun mertuanya juga sudah makan dengan normal, menghabiskan makanan yang sudah ada di piring tanpa menyisakan nya lagi.
"Sudah mau berangkat Len?" suara sang Mama mertua yang melihat anak menantunya itu sudah memakai helm dan motor yang ada di sampingnya.
"Iya Ma, tapi Ralen izin pulang agak malaman ya, soalnya mau ke kontrakan Ayah sama ibu, sekalian mau ke tempat kerjanya Tika," jelas Ralen meminta izin pada Mama mertua karena dia tidak mungkin minta izin pada suami yang kontaknya sudah beberapa hari ini dia blokir dan masih belum dia buka juga.
Rasanya dia masih kesal saja, menurutnya suaminya itu egois dan tidak mau mengalah di saat punya istri tapi malah seolah lupa dan tidak ingat sama sekali, hanya akan berusaha menghubungi ketika marah dan ingin memarahinya.
Pernikahan tanpa dasar saling cinta bahkan tidak ada perkenalan lebih dulu untuk mendalami sifat masing-masing menjadikan alasan untuk mereka tidak baik dalam berkomunikasi, ada saja hal yang akhirnya membuat mereka malah jadi bertengkar.
"Ya sudah nggak apa-apa, tapi kamu izin juga sama Mas mu ya," pinta Mama Riska.
Ralen mengangguk saja sebab dia juga tidak yakin untuk meminta izin pada suami keras kepalanya itu, toh mereka masih bertengkar.
Ralen pun pamit untuk berangkat kerja dengan teriakan dari sang mertua, "hati-hati Len," katanya kencang.
Selesai menyiram tanaman yang sudah mulai berbunga, Riska pun masuk ke dalam rumah namun begitu sampai di ambang pintu langkah kakinya terhenti dengan tangan yang menepuk kening, "semalam kan Ipul bilang sore ini dia pulang, aduh! lupa ingetin Ralen lagi, tadi dia minta izin buat pulang malam berartikan Ralen nggak tahu kalau suaminya pulang hari ini," menerka sendiri sebab Riska tidak tahu kalau Ralen dan Ipul tengah bertengkar, setahunya keduanya itu sudah berbaikan saat Ipul berangkat ke Batam.
"Ya sudah nanti aku telepon Ralen saja," tutur Riska lalu melangkah ringan menghampiri Bu Sumi yang tengah merapikan meja makan bekas sarapan mereka tadi.
__ADS_1
******
Ralen melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju perusahaan tempatnya bekerja sekaligus milik suaminya.
"Nggak ngerti gue kenapa bisa nasib gue kayak gini," celoteh Ralen sambil mengendarai motor namun pikirannya memikirkan tentang jalan hidup yang sungguh tidak dia mengerti.
Semua yang ada pada dirinya memanglah milik sang pencipta, apa yang menjadi garis hidupnya sudah ditentukan oleh pemilik alam semesta beserta isinya, tapi yang Ralen tak habis pikir adalah ketika tuhan mempertemukannya dengan pria songong ngeselin yang sekarang malah menjadi suaminya.
Sungguh sampai disini Ralen masih tidak mengerti dan tidak akan pernah bisa mengerti, dia tidak mengenal pria itu bahkan sifat sikap dan semua tentang si pria tapi bagaimana bisa Tuhan menjadikan mereka pasangan? apa ini jodoh sementara atau mereka memang jodoh selamanya?
Memikirkan jodoh selamanya membuat Ralen merasa itu tidaklah mungkin ketika mereka dua orang yang sama-sama keras kepala dan mau menang sendiri, hingga sampai pada titik dimana Ralen pasrah saja atas apa yang Tuhan kehendaki, biarkan Tuhan menjalani apa yang dia kehendaki kepada semua makhluk ciptaannya, memberikan kisah yang sampai saat ini masih belum Ralen ketahui seperti apa dan bagaimana, dia hanya bisa mengikuti kemana saja hatinya menuntun dan tertuju nantinya.
Ralen bekerja seperti biasa hingga tidak terasa waktu sudah berlalu dengan cepat, sore hari tepat pukul 5 dia sudah kembali berada di atas motornya yang sudah berjalan hendak menuju rumah, seharian ini sampai sore bahkan dia tidak memeriksa handphone tidak tahu kalau mertuanya mencoba untuk menghubungi.
Tiba di rumah orang tuanya Ralen langsung bercengkrama bercerita apa saja yang dia lakukan selama tinggal di rumah mertua.
Dan hari inipun Ralen datang untuk memberikan gaji guna membayar uang SPP sang adik juga semua kebutuhan sehari-hari yang sudah mulai habis.
"Memangnya nenek tidak baik sama ibu?" Ralen nyeplos begitu saja membuat Ayah dan Ibunya tertawa kecil.
"Baik Len, hanya saja kan kondisinya sangat berbeda Ayah dan Ibu sama-sama orang tak punya, jadi ya tidak mungkin juga kan Nenekmu itu menginginkan menantu yang kondisinya jauh di atas mereka, sedangkan kamu dan suamimu itu jelas-jelas berbeda, mereka bisa saja kan mencari wanita yang setara dengan mereka baik pendidikan juga apa yang mereka miliki," lanjut sang Ibu membuat hati Ralen malah jadi makin berkecil hati.
Tentu Ralen tahu ibunya tidak bermaksud untuk membuatnya merasa rendah diri ada maksud tertentu yang ibunya itu inginkan darinya, lebih bersyukur mungkin? karena tidak semua orang kaya bisa menerima menantu yang biasa-biasa saja bahkan jauh dari biasa.
__ADS_1
"Kamu harus bersyukur Len." timpal sang Ayah, dan benarkan dugaan Ralen? mereka ingin anaknya itu bersyukur dengan suami dan mertua yang sudah diberikan tuhan kepadanya, sepertinya orang tuanya itu tahu kalau anaknya itu sedang bertengkar dengan sang suami bahkan tanpa perlu di beritahu sekalipun, sepertinya memang jangan pernah bermain-main dengan feeling orang tua memang akan selalu benar dan tepat.
Ah Ralen berpikir secara tidak langsung orang tuanya ini meminta dia untuk tahu diri bagaimana harus bersikap di depan suami serta keluarganya itu, mereka berpikir Ralen ini wanita beruntung karena dinikahi oleh orang kaya pemilik perusahaan tanpa mereka tahu apa yang terjadi sebenarnya, tanpa mereka tahu bagaimana bisa pernikahan itu ada kalau tidak ada kejadian yang memaksa mereka harus menikah.
Andai saja Ralen tidak mabuk kala itu mungkin dia masih bisa untuk menolak pernikahan yang sejatinya malah membuat dia tertekan dengan sikap suaminya, juga sikapnya sendiri yang kadang membuat bingung harus bagaimana, dia yang keras kepala di pertemukan dengan pria yang juga keras kepala dan satu kesalahan kecil saja menjadikan suasana memanas hingga berakhir pertengkaran.
"Ralen mau langsung pulang ya Bu," kata Ralen yang tidak mau memenuhi otak kepalanya dengan segala ucapan sang Ibu, memilih untuk segera pergi jauh lebih baik toh dia memang datang untuk memberikan gajinya.
"Kamu nggak mau makan dulu?" tanya sang ibu dengan raut bingung kenapa baru datang malah sudah ingin pulang.
Ralen menggeleng, "mau ke tempat Tika dulu takut kemaleman," jawab Ralen lalu mengambil tangan sang ibu untuk dia kecup dan melakukan hal yang sama pada Ayahnya.
Ralen sudah berlalu menyusuri jalan yang kini dihiasi oleh cahaya jingga yang sedikit menerpa wajahnya.
Pikirannya kini kembali terganggu dengan semua penuturan orang tuanya, dia yang tadinya ingin bercerita banyak malah mengurungkan niatnya itu dengan perasaan yang kini galau tak jelas.
Wanita yang masih memakai seragam kerja dengan sweeter yang dia kenakan itu berkeliling di dalam mall yang di dalamnya ada supermarket tempat Tika bekerja, tadi Tika memberitahukan kalau dia akan selesai kerja dua jam lagi, itu artinya masih lumayan lama dan Ralen harus bersiap untuk bosan menunggu temannya sampai selesai.
Kemarin Tika mengatakan ada film bagus yang harus mereka tonton jadilah Ralen langsung mengiyakan tanpa berpikir atau memang lupa kalau suaminya hari ini kembali dari Batam, dan diapun masih belum juga memeriksa handphonenya.
"Ralen," suara dari arah belakang membuat Ralen yang sedang melihat-lihat tas pun menoleh guna melihat siapa orang yang memanggilnya.
"Angga?"
__ADS_1
"Ah benar Ralen, aku pikir mungkin aku salah orang, kita bertemu lagi," kata pria bernama Rangga yang tersenyum manis pada wanita yang dia kenal di pesta sekitar dua tiga mingguan yang lalu.
*******