
Sudah dua hari sejak kejadian yang membuat jantung Ralen selalu berdebar cepat, dan sejak itu pula Ralen tidak masuk kerja bukan menghindar tapi dia memang terserang meriang bahkan setelah Ipul mengantarkannya pulang pada pukul 01:30 pagi, setelah pasangan suami istri pemilik perusahaan itu mengambil keputusan yang membuat nyawanya hampir saja lepas.
Menikah dengan pria songong nan tengil menjadi putusan yang final bagi suami istri itu.
"Kak," sapa Ardan mendatangi kamar sang Kakak dan mendapati Kakaknya itu meringkuk di atas tempat tidur dengan selimut yang mengurung hampir semua bagian tubuhnya, hanya menyisakan sedikit celah untuk kedua matanya.
"Apa?" menjawab dengan suara yang lemah tak bertenaga.
"Kakak nggak masuk kerja lagi?" tanya Ardan duduk di tepian tempat tidur.
"Masih meriang Ar, nggak tahu lah ini meriang nggak sembuh-sembuh," kata Ralen dengan tangan yang mencengkram selimut yang tidak hanya satu, tapi tiga sekaligus.
Sungguh seluruh tubuhnya teramat dingin, inikah efek dari perkataan orang tua Ipul dan juga Ipul sendiri, membuat Ralen terguncang.
Terguncang? sepertinya begitu sebab tak pernah dia bermimpi apalagi membayangkan kalau dia akan menikah dengan pria songong tak menyebalkan yang selalu mencari gara-gara dengannya, sungguh ini layaknya hukuman tanpa dia melakukan kesalahan.
"Lagian Kakak ngapain sih waktu itu kerja sampai pulang jam 2 pagi? lembur juga nggak akan segitunya deh," cetus Ardan, ingat tentang Kakaknya yang pulang pagi buta dalam keadaan lemas bahkan berkali-kali pingsan begitu sampai di kamar, membuat keluarga jadi panik karenanya.
"Di kerjain Bos gila!" sungut Ralen dengan mata tajam tapi tetap saja memperlihatkan kalau saat ini dia sedang sakit.
"Bos gila gimana?" bingung Ardan.
"Yang kemarin anterin Kakak itu bos Kakak kan?" sambung ABG yang masuk sekolah siang.
"Iya, nah itu bos gilanya, bisa-bisanya sekeluarga satu paket begitu otaknya," keluh Ralen.
Bukan tanpa alasan dia mengatakan itu, karena baru pertama kali bertemu saja tingkah mereka membuat kepalanya pusing, yang Ayahnya mengompori istrinya lah, yang istrinya malah dengan entengnya menyuruh dirinya menikah dengan anaknya lah, dan yang lebih gilanya lagi anaknya itu malah setuju untuk menikah.
"Aaargg." Ralen menjambak rambutnya sendiri guna sedikit meringankan denyutan di kepalanya.
"Kak, Kakak gila ya?"
Astaga Ardan malah seenaknya berkata menuduh Kakaknya sendiri gila.
"Keluar kamu!"
Pertanyaan sang Adik malah menambah kadar emosi di dalam jiwanya, dia yang tadinya merasa dingin malah seperti terbakar.
__ADS_1
******
"Dia belum masuk juga?" tanya Ipul pada pria yang kemarin terus dia teror dengan segala sindirannya, tentang pria itu yang ceroboh dalam menyimpan kunci dan segala kesalahan lain yang Damar sendiri pun tak mengerti.
"Sepertinya belum tuan muda," sahut Damar dengan suara yang selalu terlihat bijak meski sejak kemarin dia selalu mendapatkan sindiran dari atasan mudanya itu.
Ternyata mendampingi anaknya malah lebih sulit dari Ayahnya, batin Damar kala itu.
Ipul menyingkirkan berkas yang sedari tadi dia pelajari lalu menatap pada sang asisten senior di depannya.
"Besok dia harus masuk, jika tidak masuk juga katakan aku akan memecatnya!" tegas Ipul memberikan perintah.
Belum juga Damar memberikan jawaban suara pintu yang terbuka sudah mengalihkan atensi kedua pria itu.
"Bagaimana?" suara sang Mama yang tanpa basa-basi sudah langsung mengajukan pertanyaan, dan pertanyaan tak jelas itu sungguh tidak Ipul mengerti.
"Bagaimana apanya?" keningnya mengerut melihat wajah sang Mama yang semenjak dua hari lalu menjadi selalu serius.
"Ralen, kamu sudah bicara dengannya tentang pernikahan seperti apa yang dia inginkan," duduk di depan meja kerja sang anak yang sekarang menggaruk kepalanya.
"Belum." menjawab dengan lugu.
Kedua mata Riska melebar, "belum? kamu ini pria macam apa sih Pul," omel wanita yang selalu saja tak sabaran itu.
"Kamu itu sudah ngapa-ngapain Ralen dan kamu harus segera menikahi dia sebelum terlanjur hamil nantinya!" sambung Riska masih saja dengan segala tuduhannya.
"Ya ampun Mama, harus berapa kali Ipul katakan kalau Ipul dan Ralen itu nggak berbuat yang aneh-aneh, kami hanya terkunci dan kebetulan Mama datang di waktu yang tidak tepat," sengit Ipul berulang kali menyatakan keberatan atas tuduhan dari Mamanya.
"Ah sudah Mama tidak mau mendengar itu lagi," kata Riska mengibaskan tangannya.
Wanita itu sebenarnya tahu bagaimana anaknya itu, sangat tidak mungkin berani berbuat hal di luar batas dengan wanita, hanya saja dia merasa anaknya dan wanita bernama Ralen itu cukup cocok ketimbang harus keduluan orang kan lebih baik segera di paksa menikah saja, kebetulan kejadian dua hari lalu menjadi alasan yang tepat untuknya.
Tentu dia sudah mendengar cerita dari suaminya yang mengatakan kalau di hari pertama berada di kantor anak mereka itu malah sibuk mencari-cari petugas kebersihan yang Riska lihat cukup cantik dan sepertinya bisa mengimbangi anaknya, tanpa pikir panjang otaknya langsung bekerja dengan cepat agar anaknya itu menikah dengan Ralen.
Ah sungguh luar biasa sempurna takdir yang Tuhan berikan padanya, tangan Tuhan sungguh membantunya dengan baik.
"Kalau kamu lama biar Mama saja yang bicara dengan Ralen," kata Riska kemudian.
__ADS_1
"Sudah dua hari dia tidak masuk kerja," terang Ipul datar.
"Kalau begitu berikan Mama alamat rumahnya, biar sekalian Mama bicara dengan orang tuanya."
"Astaga Mama!" seru Ipul tak habis pikir.
"Apa? kenapa? kamu ini lama tahu nggak, masa kayak gitu aja nggak bisa," cerocos Riska menyalahkan sang anak.
"Bukan nggak bisa Mama, Mama kan lihat sendiri Ralen aja berapa kali pingsan waktu dengar kata nikah, jadi jangan di buru-buru terus, toh dia juga nggak bakal hamil orang nggak Ipul apa-apain kok, biarin aja nanti Ipul yang bicara sama dia sendiri, Mama cukup duduk manis dan tunggu kabar dari Ipul," pinta Ipul.
Guratan di wajahnya seperti memberi peringatan kepada sang Mama untuk tidak menemui Ralen, bisa kena serangan jantung nanti anak orang karena terus di tekan oleh Mamanya itu.
"Oke kalau gitu, Mama nurut sama kamu, tapi nanti sepulang kerja kamu harus temui Ralen dan bicara dengannya!" perintah Riska tegas yang jelas tak ingin ada bantahan.
"Iya," sahut Ipul pasrah.
Sepeninggalnya sang Mama Ipul masih terus melanjutkan tugasnya, tapi saat ini pikirannya terbagi menjadi dua, memikirkan tentang keputusannya menikah dengan Ralen, wanita yang belum lama dia kenal apakah keputusan yang benar? Ah sungguh kepala Ipul terasa pening.
*******
__ADS_1