Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Kerjain Saja Sekalian


__ADS_3

Ipul yang sedang asik mengintip malah dikagetkan dengan tepukan di punggungnya, siapa lagi tersangkanya kalau bukan si Om Damar asisten kawakan yang sudah memberinya ide yang begitu brilian seperti ini.


Kalau bukan karena Damar dia masih akan terus berdiri dan memohon penuh ratapan tanpa daya kepada istrinya di depan pintu kamar yang di tutup hanya agar istrinya itu membuka pintu dan memperkenankan dirinya masuk.


"Tuan sudah mau keluar?" tanya Damar dengan pandangan biasa, melihat atasannya mengintip membuatnya berpikir mungkin atasannya itu ingin keluar menemui wanita yang sekarang seperti orang linglung di lorong hotel mencari keberadaan suaminya.


Ipul menautkan kedua alisnya lalu balik mengintip, "semalam dia mengunci kamar dan melarang ku tidur dengannya, jangankan tidur masuk saja tidak boleh, bukankah kalau Ipul keluar sekarang itu sama saja mengalah dengannya?" Ipul menoleh pada pria yang masih berdiri di belakangnya memperhatikan apa yang dia lakukan.


Damar mengatupkan mulutnya rapat-rapat, dia mulai berpikir sudah salah mengambil keputusan, salah membantu tuan mudanya karena dia lupa kalau tuan mudanya itu tidak akan bisa tenang sebelum membalas perlakuan istrinya sendiri.


"Minimal skor imbang," sahut Ipul tenang seraya menaik turunkan kedua alisnya dengan sunggingan senyum yang malah makin membuat Damar menahan napas lalu membuangnya dengan kasar.


"Sekarang sudah imbang kan?" tanya Damar mencoba berpikir positif bahwa tuan mudanya itu hanya akan bertahan di kamarnya sebentar lagi lalu kemudian keluar dan kembali pada istrinya yang sepertinya masih mondar-mandir di lorong hotel, dari kiri ke kanan lalu dari kanan ke kiri begitu terus berulang-ulang.


Ipul menggeleng cepat memberikan jawaban yang membuat telinga Damar berkedut menanti apa yang akan dia dengar selanjutnya.


"Nanti malam kita ke klub."


"Haaah?" mulut Damar menganga lebar tak percaya pada apa yang baru saja dia dengar.


Jadi mereka benar-benar akan ke klub malam? bukankah tadi mereka hanya omong kosong saja? iya omong kosong yang seharusnya tidak dilakukan karena mereka memang hanya berniat untuk mengerjai Ralen, mengerjai wanita itu agar panik dan akhirnya mau membuka pintu, lalu kenapa sekarang malah jadi begini? kenapa tuan mudanya malah ingin benar-benar ke klub malam?


"Ipul suka melihat wajah bodoh bercampur paniknya itu, jadi lebih baik kita kerjain saja sekalian biar Ipul semakin lama menikmati tingkah serta ekspresi bodoh yang dia tunjukkan," kata Ipul seraya kembali melihat pada wanita yang sekarang tepat berdiri di depan pintu tempatnya bersembunyi.


Damar menepuk keningnya, rupanya sekarang dia bersalah dalam mengambil keputusan, niat membantu tapi sepertinya malah akan terjerumus dan terbawa-bawa dalam perang antara tuan muda dan istrinya itu.


Setelah ini sepertinya Damar harus menghubungi istrinya untuk meminta izin pergi ke klub malam, dulu saat muda dia memang sering ke klub minimal dua kali dalam seminggu tapi setelah menikah dia sudah jarang bahkan mungkin tidak sudah tidak pernah, seingatnya memang sudah tidak pernah lagi apalagi ketika istrinya hamil anak pertamanya dia benar-benar sudah tidak melakukan kegiatan mencari hiburan malam di tempat seperti itu, tapi sekarang dia harus kembali menginjakkan kaki di lantai gedung yang lampunya berkelap-kelip memusingkan kepala.


"Dia ngintip!" seru Ipul lalu gegas menunduk ketika Ralen mendekatkan sebelah matanya lalu mengintip ke pintu tempatnya berada, itu menjadi sangat panik membuat Damar hanya menggeleng melihatnya.


"Kamar di hotel ini tidak bisa diintip dari luar tuan muda, kita tidak berada di hotel murahan atau kelas melati yang kamarnya bisa diintip oleh orang lain yang berada di luar," papar Damar mengingatkan sang tuan muda yang sedang bertingkah konyol dengan menundukkan tubuh jangkungnya di depan pintu karena takut ketahuan.


"Ekhem." Ipul berdehem lalu menormalkan sikapnya yang tadi berkelakuan tidak sewajarnya, kembali memasang wajah cool seperti tidak pernah mempertunjukkan sikap tak jelasnya barusan di depan sang asisten.


"Kenapa tidak bisa di lihat," keluh Ralen saat tidak bisa melihat ke dalam kamar yang dia intip.


Kakinya ini sudah lelah karena harus bolak-balik tak jelas dan tanpa hasil, suaminya tidak juga ketemu dia tidak tahu dimana suaminya berada tadi dia sudah berusaha mengetuk kamar-kamar yang dia rasa ada suaminya tapi yang keluar malah wajah yang tidak dia kenal membuat dia menyerah untuk mengetuk satu demi satu kamar hotel yang tersisa, takut malah mengganggu penghuni kamar karena tadi dia malah mendapati seorang pria yang hanya memakai handuk, mungkin pria itu baru selesai mandi atau mungkin malah baru akan mandi?


Ralen berdiri saja di depan pintu kamar yang tadi berusaha dia intip bagian dalamnya, berdiri dengan keringat yang membasahi kening dan menetes di sebagian wajahnya.


"Saat sedang berkeringat dia terlihat semakin seksi dan.."


"Menggairahkan, apakah sebaiknya tuan muda keluar sekarang dan kembali ke kamar bersama Nona Ralen," Damar dengan tanpa bersalah memotong omongan sang atasan.

__ADS_1


Ipul mendelik kejam, "tadi Om yang ngajak Ipul ke sini, tapi sekarang Om malah terus-terusan mengusir Ipul, apa itu tidak keterlaluan?" kata Ipul mempermasalahkan asistennya yang sejak tadi memintanya untuk keluar.


Damar terdiam tidak lagi mengeluarkan suara, percuma saja dia berkata sampai mulutnya berbusa pun tidak akan di dengarkan, tuan mudanya itu pasti akan tetap dengan pendiriannya untuk mengerjai wanita di luar sana.


"Om awasi dia, Ipul mau mandi dulu," kata Ipul yang memang sudah sangat risih karena sejak kemarin sore dia tidak bisa mandi, sebenarnya bukan tidak bisa mandi hanya saja dia yang banyak kemauan mandi di toilet depan sebenarnya tidak mengapa tapi dia itu banyak sekali alasannya yang siapapun akan kesal mendengarnya.


Damar hanya mengangguk engga mengeluarkan suara ketika Ipul melenggang menuju kamar mandi tidak lupa membuka sepatu dan kaos kaki yang bahkan sejak kemarin dia pakai tidur di atas sofa.


Damar berjalan mengarah pada pintu tempat sang atasannya mengintip ke lubang kecil untuk memantau keberadaan wanita yang tengah beristirahat dengan wajah yang berubah-ubah kadang cemberut lalu sebentar kemudian menjadi begitu panik lalu berubah lagi jadi pucat tidak tahu apa yang wanita itu pikirkan sekarang.


Damar melihat heran ketika Ralen melangkah pergi menjauhi pintu kamarnya, "Nona mau kemana?" gumamnya bertanya pada diri sendiri begitu mendapati Ralen tak lagi terlihat akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka pintu, lalu bernapas lega saat matanya menangkap sosok tubuh belakang Ralen yang akan masuk ke dalam kamar wanita itu.


"Ah syukurlah masuk ke kamar," katanya mengelus dada, tadi dia mengira istri dari atasannya itu akan pergi entah kemana, kan dia tahu benar wanita yang dinikahi oleh atasannya sangat ajaib, semua perilakunya benar-benar ajaib sangat berbeda dengan wanita kebanyakan.


"Tadi katanya mereka mau jalan-jalan kan?" kata Ralen saat kembali ke dalam kamar, "aku harus siap-siap kalau gitu," ocehannya terdengar lagi.


"Kamu pikir kamu lebih pintar dariku Saipul Gunawan? sepertinya kamu tidak boleh meremehkan seorang Ralen, aku akan mengikuti kemanapun kamu pergi!" Omong Ralen seraya mengobrak-abrik koper kecilnya mengambil pakaian.


Sebenarnya tidak perlu sampai di obrak-abrik atau sampai mengacak-acak pakaian yang ada di dalamnya hingga berhamburan di tempat tidur, dia bisa mencari dengan tenang pakaian yang akan dia pakai, tapi sepertinya dia sangat tidak sabar untuk segera bersiap dia tidak mau membuang waktu yang nantinya membuat dia malah kehilangan jejak suaminya.


Secepat kilat Ralen berlari ke kamar mandi lalu keluar lagi dengan pakaian yang berbeda, bergerak ke meja rias untuk berdandan, dia akan pergi keluar jadi dia memang harus memoleskan make up di wajahnya.


"Selesai sudah," katanya menatap pantulan wajah serta tubuhnya di cermin.


Melihat penampilannya lalu menyunggingkan senyum sedikit ketus, "aku akan mengawasi dan akan memberi kamu pelajaran kalau kamu sampai berbuat macam-macam," ancamnya pada sang suami yang tidak ada di depannya.


Sama-sama keras kepala dan pemarah menjadikan rumah tangga yang selalu saja gaduh.


"Gimana Om? Jelita masih di depan?" tanya Ipul yang sudah selesai mandi dan memakai pakaian bersih.


"Nona kembali ke kamar, tuan muda," jawab Damar memberitahu apa yang dia lihat tadi.


"Dia pasti sedang bersiap-siap untuk mengikuti kita," tebak Ipul seraya memakai jam tangan bermerk di pergelangan tangannya.


"Jadi kita benar-benar akan pergi tuan muda?" tanya Damar masih tidak yakin.


Ipul mengangguk, "memberi sedikit pelajaran padanya tidak ada salahnya kan, siapa suruh memperlakukan suaminya dengan kejam," cerocos Ipul.


"Bukankah tuan muda biasanya bisa mengendalikan Nona muda," papar Damar merasa bingung, sebab beberapa hari yang lalu saja tuan mudanya itu bertengkar dengan istrinya tapi bisa mengendalikannya tapi kenapa sekarang malah kalah.


"Ipul tidak bisa melakukan apa-apa Om, Ipul di kunciin di luar, kalau tidak di kunci juga sudah Ipul terjang dia mana bisa dia melawan kalau sudah di terjang," ucap Ipul dengan wajah yang menegang mengingat kejadian semalam.


"Itu artinya Nona Ralen sudah mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk melawan tuan muda," jelas Damar.

__ADS_1


"Kalau begitu Ipul akan menyembunyikan semua kunci agar Ralen tidak bisa melakukan perlawanan lagi," katanya mendapat ide setelah mendengar penjelasan dari asisten cerdasnya itu.


Damar menggaruk tengkuknya lalu tertawa kaku, lagi-lagi dia malah memberikan saran pada tuan mudanya.


"Kamu tunggu di bawah saja, aku turun sebentar lagi," kata Ralen pada orang yang di teleponnya.


Ralen memutuskan telepon lalu mengintip dari pintu yang dia buka sedikit untuk bisa melihat suaminya keluar.


"Rupanya dia bersembunyi di situ," bisik Ralen melihat suaminya keluar dari kamar yang bahkan tadi sempat dia intip tapi tidak bisa melihat apapun.


"Dasar bodoh, mengikuti orang dengan jarak sedekat itu? yang benar saja Jelita," kata Ipul pelan menyadari kalau sekarang istrinya tengah mengendap-endap mengikuti dirinya.



Ralen langsung berjongkok bersembunyi di balik guci besar ketika suaminya berbalik ketika berada di dalam lift.


Ipul bahkan mengatupkan mulutnya untuk menahan tawa lalu mengusap cuping hidungnya agar tawanya tidak meledak ketika melihat tingkah laku istrinya.


"Bukankah itu Amara?" tanya Ipul ketika melihat pekerja lapangannya duduk di dalam mobil tepat di belakang mobil yang sudah disiapkan untuknya.



"Pasti Nona memintanya untuk mengantarnya mengikuti kita," sahut Damar.



"Baguslah dia mengajak Amara, setidaknya dia tidak berduaan dengan supir laki-laki," ujar Ipul lalu berpura-pura tidak melihat Amara yang langsung menundukkan tubuhnya bersembunyi.


Mungkin Ralen sudah menyuruhnya untuk bersembunyi kalau melihat dua laki-laki itu.


"Ayo cepat Amara," Ralen berlarian ke arah mobil yang sudah menunggunya lalu masuk dengan napas yang terengah.



Amara mengatur napasnya lalu mulai menjalankan mobil mengikuti instruksi dari istri atasannya itu, mengikuti mobil yang tengah membawa atasannya, jujur ini adalah pertama kalinya dia melakukan hal seperti ini.



Seumur hidupnya dia tidak pernah begini, membantu istri dari atasannya untuk mengikuti sang atasan yang tidak tahu akan pergi kemana membuat jantung Amara berdebar sangat kencang, dia takut kalau sampai kehilangan atau bahkan tertinggal dari mobil di depannya.



"Kita lihat apa yang mau dia lakukan," dengus Ralen meremas seluruh jari-jemarinya sambil menatap mobil yang berjalan di depan mobil mereka.

__ADS_1



\*\*\*\*\*


__ADS_2