
"Aku ingin kamu."
Daniya berkata dengan raut wajah yang tidak main-main, benar apa yang baru saja dia lontarkan bukan sebuah permainan kata belaka karena kenyataannya dia memang menginginkan pria di depannya sekarang ini.
Menginginkan pria itu untuk menjadi bagian dari hidupnya, mengambil bagian pada rangkaian mimpi yang ingin dia wujudkan dalam kenyataan, menjadikan pria itu miliknya dan dia milik sang pria, itu sebuah hal besar yang menjadi daftar dalam perjalanan hidupnya.
Ipul menggeleng sebagai tanda dia tidak sepakat dengan perkataan wanita di depannya ini, wanita yang ternyata menaruh harapan besar terhadap dirinya, wanita yang dia akui anggun dan masuk dalam katagori mendekati sempurna karena semua yang wanita itu miliki dalam hidupnya, wanita yang tentunya akan banyak pria yang mengantri di belakangnya untuk bisa bersanding dan memiliki wanita itu sepenuhnya.
"Tidak bisa," jawab Ipul singkat.
"Kenapa tidak bisa, Awan? kenapa tidak bisa sedangkan aku tahu kamu juga menginginkan hal yang sama, kamu juga ingin bersama denganku!" cecar Daniya tidak terima dan menyerah ketika pria di depannya terlihat menolak dirinya.
Bukankah mereka memiliki perasaan yang sama dulu, tapi Daniya yakin sampai sekarang pun pria yang selalu dia panggil Awan dengan suaranya yang manja masih memilki rasa yang sama dengannya, jika tidak bagaimana mungkin pria itu sekarang mau duduk bersama dengannya dan berbicara berdua di saat pria itu masih banyak kesibukan, lalu bagaimana bisa mereka tidak bisa bersama? bahkan sejak tadi mata sang pria terus menatap padanya, menatap wajahnya dengan sangat intens seperti ada sesuatu yang tengah pria itu pikirkan.
"Aku sudah menikah," akhirnya dengan suara yang datar namun sarat akan ketegasan Ipul mengatakan tentang statusnya yang sudah memilki istri, memiliki seorang wanita yang sudah dia nikahi secara sah.
Mata Daniya membuka dengan sangat lebar disertai dengan debaran jantung yang langsung bergemuruh dan aliran darah yang mengalir begitu cepatnya bagaikan anak sungai yang sangat dekat dengan air terjun yang sangat siap untuk menerjunkan nya kapanpun.
Gelengan kepala yang Daniya lakukan pertanda bahwa dia tidak percaya atau mungkin malah tidak mau percaya dan sangat enggan untuk percaya pada pengakuan pria yang jauh-jauh dia datangi agar dia bisa memilikinya, sungguh dia tidak akan mau percaya pada setiap ucapan yang pria itu lontarkan apalagi menyangkut tentang pernikahan, bukankah mereka baru beberapa bulan tak jumpa? lalu bagaimana bisa pria itu mengaku menikah sedangkan berada di negara kelahiran mereka saja dia hitungannya sama dengan saat pria itu yang mendadak pergi.
"Kamu kembali ke negara ini untuk menggantikan Papamu, itu yang sempat aku dengar," Daniya mengatakan apa yang dia ketahui, wanita itu memantapkan hatinya untuk tidak mau percaya pada pengakuan sang pria.
Ipul menggigit sedikit bibir bawahnya lalu menganggukkan kepala membenarkan apa yang Daniya ucapkan.
Memang benar dia kembali ke Indonesia untuk membantu sang Papa mengurus perusahaan, lalu apakah dia bersalah ketika di tengah jalan malah dipertemukan dengan seorang wanita dan melakukan kesalahan sampai akhirnya malah membuat takdir bekerja menyatukan dia dengan si wanita, apa dia salah kalau dia sampai terjebak dengan seorang Jelita? apa dia salah ketika dia mempertanggung jawabkan perbuatannya yang sudah sangat bajingan meniduri si Jelita?
Rasanya tidak ada yang salah sebab dia bukan laki-laki pengecut yang akan kabur setelah menodai seorang wanita, dia memilih untuk bertanggung jawab terlebih lagi dia memang seorang laki-laki bebas tanpa terikat hubungan dengan wanita manapun.
"Lalu kenapa kamu sekarang mengatakan hal yang tidak masuk akal?" Daniya masih terpatri pada keyakinannya sendiri.
"Tidak masuk akal bagaimana? setiap manusia akan menikah jika tuhan sudah berkehendak kapanpun tuhan mau, begitupun dengan aku, aku laki-laki normal yang yang pasti menikah dan kenyataannya.."
"Aku harap kamu hanya sedang bergurau," Daniya memotong apa yang sedang Ipul utarakan, tentang kenyataan yang bukanlah sebuah gurauan seperti yang baru saja dia ucapkan.
Ipul mendecih samar menanggapi perkataan wanita yang perlahan mulai gelisah dalam duduknya, tidak lagi nyaman seperti awal datang tadi.
"Aku belum menyelesaikan perkataan ku," ujar Ipul tidak suka saat dirinya sedang bicara serius malah di potong.
"Aku tidak mau dengar dan tidak akan pernah mau mendengar tentang pernikahan yang kamu akui itu! tidak ada pernikahan antara kamu dan wanita lain! tidak akan ada!" tekan Daniya menatap tajam dan penuh peringatan pria di depannya yang menunjukkan ekspresi tidak percaya.
Ipul menatap heran wanita yang dulu sangat berhati-hati dalam bertindak tapi sekarang menunjukkan sikap yang sangat berbeda, apa ini sifat asli wanita bernama Daniya Ranita? apa seperti ini Daniya yang sebenarnya?
***
Malam hari ketika Ralen sedang berada di dalam kamar mandi telinganya menangkap bunyi dering dari handphone miliknya yang berada di atas meja rias dengan cermin besar yang berguna untuk memantulkan wajah serta tubuh siapapun yang berdiri di depannya.
Ralen yang tengah mencuci wajahnya karena bersiap untuk tidur pun gegas menyelesaikan apa yang dia lakukan, wanita itu mengelap wajahnya dengan handuk kecil khusus wajah sambil menggerakan kaki keluar dari kamar mandi menghampiri meja rias dimana benda yang sedari tadi berbunyi itu berada.
Sebarisan nama si penelepon langsung bisa Ralen lihat dengan jelas hingga dia tak sadar melengkungkan bibirnya sebagai gambaran hatinya mendapatkan telepon dari pria yang nama kontak yang tidak biasa.
"Hallo."
"Kamu terlambat beberapa detik, sedang apa memangnya?" tanya Ipul ketika Ralen sedikit lama menjawab telepon darinya.
"Aku sedang di kamar mandi," terang Ralen seraya menuju sofa di sudut kamar.
Terdengar suara tarikan napas dari sang suami yang bisa Ralen dengar sangat jelas.
__ADS_1
"Tumben menelepon," ucap Ralen, tidak tahu itu hanya sebuah pertanyaan yang spontan saja atau dia sedang menyindir suaminya.
"Apa seorang suami tidak boleh menelepon istrinya?"
"Bukan seperti itu maksudku," Ralen tahu perkataannya tadi membuat pria itu tersinggung.
"Lalu apa? apa ada yang salah saat aku ingin berbicara dengan istriku sendiri? apa ada larangan?" Ipul tampaknya benar-benar sedang tidak bisa diajak berbasa-basi tak jelas, sepertinya suasana hati dia berada pada titik tak baik.
"Aku hanya merasa sedikit aneh, biasanya kan kamu hanya menghubungi saat kamu mau saja."
"Bukankah itu artinya sekarang aku sedang mau menghubungi kamu, Jelita."
"Kalau begitu matikan teleponnya.."
"Jangan!" seru Ralen panik sendiri ketika suaminya malah ingin mematikan telepon.
Ipul merendahkan suaranya yang jadi terdengar begitu berat, "aku merindukan kamu tapi aku tidak bisa mendatangimu."
Deg!
Jantung Ralen langsung berdebar kencang mendengar pengakuan dari si pria yang rasanya baru kali ini mengatakan rindu padanya, dia tidak salah dengar kan? telinganya masih sangat baik untuk mendengar setiap perkataan dari siapapun bukan, masih bisa mendengar baik suara besar atau kecil sekalipun.
"Seandainya besok tidak ada kegiatan tentu aku akan mendatangimu sekarang," imbuh pria yang menunjukkan wajah penuh makna.
Sejujurnya pertemuan dengan Daniya yang memiliki wajah mirip dengan Ralen menimbulkan sebuah rasa yang sulit dikatakan, wajah wanita itu membuat dia merindukan sosok wanita yang menjadi istrinya, andai saja tadi dia tidak waras mungkin dia sudah memelik Daniya dan menganggap wanita itu adalah Ralen, istrinya.
Tapi beruntung dia berada dalam kesadaran yang masih melekat di dalam diri dan jiwanya, hingga dia tidak melakukan tindakan-tindakan bodoh yang nantinya malah akan merugikan dirinya sendiri.
Ralen makin terdiam mematung mendengar setiap tutur kata dari sang suami, sedikit tidak percaya tapi pria itu mengatakan dengan intonasi suara yang tidak sama seperti biasanya, meski tidak melihat wajah serta ekspresi yang suaminya tunjukkan seharusnya dia sudah bisa mengerti bahwa apa yang dikatakan oleh suaminya itu sebuah kebenaran, suaminya tidak sedang membual ataupun mengerjai dirinya.
"Jelita," panggil Ipul ketika tak terdengar suara dari sang istri.
"Menurutmu apa seorang pria normal bisa menahan berapa lama ketika keinginan itu datang dengan sangat mendadak?"
Apa ini? suaminya sedang bertanya apa dan tujuannya kemana? keinginan apa yang datang mendadak? batin Ralen yang tidak mengerti.
"Kamu ngomongin apa?" akhirnya memutuskan untuk bertanya ketimbang tersesat dengan pemikirannya sendiri.
"Tidak ada, sudah lupakan," imbuh Ipul tidak mau menjelaskan pada istrinya yang sedang sangat bingung dengan arti dari beberapa kalimat yang dia ucapkan.
"Aku minta nomor telepon Pak Damar saja." Ralen meminta pada pria yang menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan mata yang terpejam tapi telinganya masih mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
"Buat apa?"
__ADS_1
"Untuk berjaga-jaga karena Kamu kadang susah dihubungi, bahkan kamu juga sering mengabaikan telepon dan pesan dariku," papar Ralen mengigit bibir bagian dalamnya.
"Nanti aku kirim lewat pesan," kata Ipul.
"Jelita," panggil Ipul ketika debaran jantung Ralen masih sulit dia kendalikan, ketika kata demi kata yang diucapkan olehnya.
"Kenapa sekarang terus memanggilku Jelita?" tanya Ralen, sungguh dia jadi penasaran ketika suaminya terus saja memanggil dia dengan nama belakangnya, bukankah dulu pria itu memanggilnya Ralen? sama seperti yang lainnya.
"Berharap kamu tidak lagi bar-bar, siapa tahu dengan aku memanggilmu Jelita kamu bisa berubah menjadi lebih lembut dan bertindak sebagaimana seorang wanita," jelas Ipul tentang alasannya memanggil Jelita.
Nama Jelita memang terdengar lebih bersahaja serta anggun dan siapa tahu Ralen yang biasanya galak akan berubah mengikuti nama panggilannya.
"Jadi kamu pikir selama ini tindakanku seperti laki-laki?" omel Ralen kesal dengan ucapan suaminya yang sekarang malah terkekeh mengetahui dia kesal.
"Kecuali di tempat tidur."
Ralen merinding mendengar apa yang dikatakan oleh pria di seberang sana, dia tidak mengerti kenapa sejak tadi pria itu terus saja mengatakan hal yang menjurus pada hubungan suami istri, tadi mengatakan rindu dan sekarang mengatakan tentang tempat tidur, apa pria itu sedang menginginkan dirinya?
"Aku mau mandi, berbicara denganmu membuat kepala dan tubuhku malah semakin panas," oceh Ipul beranjak membuka kaosnya.
Ini sudah waktunya untuk tidur tapi dia malah ingin mandi padahal tadi sepulang dari kantor pun dia sudah mandi untuk membersihkan tubuh serta pikirannya yang menjadi kotor ketika melihat Daniya, bukan! bukan karena tergoda dengan wanita itu tapi wajah Daniya membuat dia teringat dengan Ralen dana semua yang sudah dia lakukan terhadap istrinya itu langsung mengitari otak pikirannya.
"Kamu belum mandi?" Ralen malah dengan polosnya masih saja bertanya.
"Sudah."
"Lalu kenapa malah mau mandi lagi, ini sudah malam kan?"
"Aku mandi untuk menyingkirkan bayangan tubuh polos mu Ralensi Jelita!" desis Ipul.
Mata Ralen membuka sangat lebar tangannya jadi gemetar hingga dia malah dengan refleknya mematikan telepon lalu terbengong dengan tatapan mata yang sesekali mengerjap dan mulut yang menganga.
"Tubuh polos ku sedang ada di dalam pikirannya?"
__ADS_1
\*\*\*