Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Melihatnya Dengan Wanita


__ADS_3

Sore hari Ralen sudah berkumpul bersama teman-teman kerjanya juga supervisor yang katanya akan mentraktir mereka untuk merayakan ulang tahunnya.


Sebenarnya Ralen tadi memutuskan untuk tidak ikut bergabung tapi Ratu dan juga Safiq memaksanya ikut dan tidak membiarkannya kabur sama sekali, bahkan sebelum jam pulang kerja selesai, Ratu sudah berada di lantai 9 mengawasi Ralen yang berniat pulang diam-diam membuat rencana Ralen kandas begitu saja, hingga akhirnya dia terpaksa ikut meski hatinya tengah menangis saat ini.


"Naik taksi online aja kali ya," kata Bu Dita pada anak buahnya yang berjalan bersamanya menuju keluar dari gedung kantor itu.


"Saya naik motor aja Bu, bawa motor soalnya," ujar Ralen.


"Gue bonceng sama Lo kalau gitu," sambar Ratu yang tidak memberi celah sedikitpun pada Ralen untuk tidak ikut, dia tahu di dalam kepala Ralen saat itu sudah ada rencana untuk menghindari acara traktiran itu.


Sangat mungkin Ralen malah pulang ke rumahnya kalau di biarkan naik motor seorang diri, mengingat sejak tadi Ralen mengatakan tidak jadi ikut.


Dan tatapan Ralen pada Ratu langsung membuat Ratu melebarkan mulutnya menunjukkan barisan giginya dengan alis yang dimainkan.


Ralen pun tak lagi bisa mengelak hingga akhirnya mau tak mau mengangguk dan kini sudah mengendarai motornya untuk mengikuti mobil yang sudah lebih dulu berjalan di depan menuju tempat makan cepat saji yang menjadi tujuan mereka di sebuah mall besar di kawasan Jakarta yang tidak terlalu jauh juga dari kantor.


Ralen mengendarai motor dengan fokus yang tinggi bahkan tidak mendengarkan Ratu yang sedari tadi mengajaknya bicara, tak juga dengar sebab dia memakai helm.


"Yah lampu merah," kata Ratu saat mereka terpaksa berhenti akibat lampu merah yang menyala padahal mobil yang di tumpangi oleh teman-teman mereka ketika lampu masih hijau.


Alhasil mereka harus menunggu dulu sampai lampu merah berganti meski harus tertinggal lumayan jauh, tidak mungkin mereka akan menerobos lampu lalu lintas.


Akhirnya tak lama mereka pun tiba di mall yang mereka tuju, setelah parkir Ralen dan Ratu menghampiri Bu Dita dan temannya yang lain yang sudah menunggu mereka.



"Ayo cepetan masuk, nanti kita nggak kebagian tempat," kata salah seorang dari mereka yang terlihat tidak sabar, sepertinya perutnya memang sudah berbunyi sepanjang jalan tadi mengingat mereka yang memang selesai bekerja mungkin sudah sangat lapar.



"Oh iya, ayo cepat biasanya jam-jam segini tuh tempat makan sudah pasti penuh apalagi ini di mall, lihat aja tuh mall ramai banget," timpal Ratu mengimbangi pernyataan teman kerjanya yang seroang wanita.



Mereka pun melangkah bersamaan menaiki eskalator menuju lantai dimana restoran cepat saji itu berada, sedangkan Ralen sejak masuk ke dalam mall itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, kakinya bahkan terasa berat untuk melangkah namun karena tidak enak hati akhirnya memaksakan diri.



Dan benar saja begitu sampai mereka kebingungan mencari meja yang kosong, semuanya terisi penuh sampai akhirnya ada sekelompok remaja yang sudah selesai makan pergi meninggalkan meja itu hingga mereka dengan segera menempatinya sebelum ada orang lain yang lebih dulu menguasai meja yang di atasnya masih banyak bekas makanan, Bu Dita meminta pelayan untuk membersihkan meja dan setelahnya dia pergi untuk memesan makanan.



Di sudut ini Ralen hanya duduk diam sambil menundukkan wajahnya hanya menggulir layar handphone saja tidak mau larut dengan kehebohan yang sedang terjadi pada teman-temannya saat ini.



Sampai Bu Dita dan Safiq kembali membawa banyak makanan dengan susah payah, karena memang sangat banyak yang wanita itu pesan.

__ADS_1



"Masih ada lagi," kata Bu Dita lalu kembali pergi mengambil makanan yang sudah dia pesan.



"Ralen makan!" seru Ratu membuat Ralen tersentak kaget karena suaranya.



"Dari tadi Lo diam mulu Len, buru makan," katanya lagi hingga akhirnya Ralen sadar kalau Bu Dita dan Safiq sudah duduk bergabung bersama mereka, itu artinya mereka sudah siap untuk memakan makanan yang sudah tersedia di atas meja.



Mereka pun mulai makan sambil berbincang-bincang mengenai selentingan kabar yang tidak Ralen hiraukan, wanita itu menjadi tuli sebab di balik kaca tempatnya berada dia melihat wajah yang dia kenali.



Wajah pria yang beberapa hari ini tidak dia lihat bahkan dia anggap sudah tidak ada lagi di kota ini malah kini kembali tertangkap matanya tengah berjalan tenang di luar sana.



Hati Ralen berdenyut mendapati fakta ada seorang wanita yang berjalan berdampingan dengan sang pria, membawa beberapa paper bag di tangan mereka.




Sekejap Ralen menerka kalau wanita itu adalah kekasih sang pria, jelas pria kaya dengan wajah yang rupawan tidak akan kesulitan untuk mendapatkan wanita yang sempurna.



Mata Ralen sudah tak kuasa melihat pemandangan itu seiring dengan menghilangnya tubuh kedua orang yang sejak tadi menguras perhatiannya.



Ralen pun mengaduk-aduk makanan di depannya dengan perasaan tak tentu, tidak ada nafsu untuk memakan makanan yang sudah di beli malah hanya memainkannya saja.


******


"Makasih ya Za, kalau nggak ada Lo pusing juga gue mesti beliin ginian buat Mama," kata Ipul ketika sudah berada di dalam mobil.


Tadi dia lupa membawa pakaian dalam untuk sang Mama, mau tidak mau dia harus pergi ke mall untuk membelinya, beruntung Zara dan Davi datang sampai akhirnya dia meminta Zara untuk menemaninya membeli barang pribadi untuk Namanya.


"Apaan sih Lo Pul, pake terimakasih segala kayak sama siapa aja," omel Zara dengan mulut bawelnya.


__ADS_1


Ipul tersenyum lalu melakukan mobilnya di jalanan menuju rumah sakit.



"Keadaan Papa Lo gimana?" tanya Zara yang memang tadi belum sempat melihat Papa dari temannya itu karena Ipul langsung mengajaknya pergi.



"Belum ada kemajuan, semoga aja segera sadar," sahut Ipul dengan fokus yang tetap pada kemudi mobil.



Zara menghela napas panjang lalu melihat pada Ipul dan memberinya semangat dengan tangan yang di angkat, "Lo mesti semangat, Om Irman pasti sebentar lagi sembuh, kan dia mau punya menantu," kata Zara yang memang sebelum kejadian sudah mendengar dari tantenya kalau Ipul akan melamar seorang gadis, tapi tak di sangka kejadian ini malah terjadi.



Mendengar ucapan Zara membuat Ipul kembali teringat pada Ralen, sampai saat ini dia belum juga menemui ataupun menghubungi Ralen, Damar juga belum memberikannya handphone yang baru.



"Za," memanggil wanita yang sejak dulu sampai sekarang adalah teman terdekatnya, teman yang paling tepat untuk bercerita.



"Hm." Zara yang tadi tengah melihat handphonenya pun hanya mendehem saja.



"Gue mau cerita sama Lo, tapi janji jangan ngomong apapun sama yang lain, Mama gue juga Bang Davi sekalipun," pinta Ipul.



"Apa sih Pul?" Zara menyimpan handphonenya.



"Janji dulu," paksa Ipul dengan wajah sangat serius.



"Oke, gue janji," sahut Zara kemudian meski otaknya di penuhi pertanyaan.



"Gue udah tidurin cewek."


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2