Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Sendu Seorang Ralen


__ADS_3

"Ralen!" Antika terpekik kaget saat membuka pintu dan mendapati Ralen yang tengah berdiri dengan seluruh baju yang basah, tubuh yang bergetar tanda wanita di depannya ini sedang merasakan dinginnya terpaan hujan yang tadi dengan sengaja dia hadapi.


"Gue boleh masuk nggak?" tanya Ralen membuat Tika bergegas menyingkir dan memberikan temannya itu jalan untuk masuk.


"Langsung ke kamar mandi aja, bilas tubuh Lo biar nggak sakit, cepetan!" mendorong tubuh basah Ralen ke arah belakang dimana kamar mandi berada.


Wanita yang tadi hampir pulas dalam tidurnya itu sangat terkejut dengan kedatangan sang teman di tengah malam seperti ini, biasanya Ralen akan datang pagi ataupun sore dan kalaupun datang pasti di jam tujuhan tidak pernah datang sangat larut malam seperti ini.


Antika kembali menutup pintu menghindari dinginnya angin serta hujan yang sedang bekerja membasahi bumi di malam hari ini.


"Lo lagi kenapa?" tanya Tika yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka, temannya itu sudah selesai berganti pakaian dengan pakaian yang tadi dia kasih dan sekarang sedang menggantung seragam kerjanya yang ikut basah karena tas yang dia gunakan bukan dari bahan yang anti air, agar besok bisa di pakai untuk bekerja.


"Bertengkar sama Ayah dan Ibu?" tanya wanita yang sejak kedatang Ralen tadi tampak menaruh curiga temannya itu tidak biasanya begini.


Datang di tengah malam lalu basah kuyup karena hujan, bukankah Ralen selalu menyiapkan jas hujan di dalam bagasi motornya, wanita itu bisa memakainya lebih dulu bukan?


Tika kemudian menggeleng, "kayaknya nggak mungkin kalau bertengkar sama Ayah dan ibu," membantah sendiri pertanyaannya sebab dia tahu Ralen sangat menyayangi orang tua serta Adiknya sangat tidak mungkin mereka bertengkar lebih lagi rasanya selama mengenal Ralen, Tika tidak pernah melihat atau Ralen mengeluh tengah bertengkar dengan orang tuanya.


"Kenapa leeen?" tanya Tika lagi setelah merasa tidak menemukan jawaban tentang apa yang terjadi pada temannya itu.


Ralen seolah tak bergeming, dia seolah mengunci mulutnya rapat-rapat enggan berbagi kesedihan, kekecewaan dan rasa sakit yang dia rasakan serta alami kepada sang teman, bukan tidak percaya hanya saja dia tidak mau temannya malah turut memikirkan nasibnya.


Sungguh Ralen teramat menyayangi orang-orang terdekatnya itu, hingga rasanya sekalipun sakit yang sampai keterlaluan menimpa dirinya pun mereka tidak boleh mengetahui apalagi sampai ikut merasakan, biar dia merasakan luka sendiri mereka tidak perlu, seperti itulah yang ada di dalam hati Ralen.


"Gue mau nginep disini emangnya nggak boleh?" tanya Ralen seraya melenggang keluar melewati Antika yang harus merapatkan tubuhnya ke tembok karena ruangan itu begitu kecil meski untuk dua orang wanita saja.


Antika menggaruk kepalanya lalu mengikuti Ralen yang sudah berjalan menuju kamar yang tidak berpintu, hanya tembok sebagai pembatas dengan gorden yang menjadi penutup satu-satunya.


"Gue ngantuk mau tidur jangan ganggu gue," pinta Ralen lalu merebahkan tubuhnya di kasur tanpa peduli temannya tengah keheranan dengan sikapnya itu.


Bahkan kini dengan santainya Ralen memunggungi sang teman yang masih setia berdiri di dekat gorden.


"Lo yang ganggu gue Raleeen," teriak Antika merasa tak terima dengan peringatan temannya itu.


Antika bahkan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar dan urakan di atas kasur tanpa dipan itu membuat Ralen menjengkit kaget karenanya.


"Ngeselin Lo!"omel Ralen tapi dengan senyum yang tulus.


Senyum yang berusaha dia tunjukkan untuk menyembunyikan perasaan hati yang sebenarnya, senyum yang berharap bisa menutupi rasa sendu yang sejak tadi menyelimuti.


Sendu seorang Ralen yang mungkin akan kembali berlanjut ketika matahari sudah terbit dan menyadarkannya dari alam mimpi yang semalam sedikit membantunya melupakan semua rasa kecewa yang dia rasakan.


*****


Dengan motor kesayangannya Ralen berangkat menuju tempatnya bekerja, mengesampingkan perasaannya yang tadi sempat berpikir bagaimana dia harus bersikap saat bertemu dengan pria yang sudah membohonginya.

__ADS_1


Pria yang sampai pagi inipun tidak mengirimkan pesan memberi penjelasan padanya, sampai akhirnya Ralen memilih untuk memblokir nomor sang pria mencoba untuk tidak berharap apapun lagi padanya.


Mungkin ini sudah menjadi garis hidupnya dan dia hanya tinggal menata kembali hatinya yang mungkin sekarang akan sulit untuk percaya pada siapapun terutama seorang pria.


Anggaplah pertemuannya dengan Ipul dan apa yang sudah terjadi adalah bagian dari kisah hidupnya yang akan dia kubur dengan rapat di hati yang terdalam, ketika nanti dia bertemu dengannya, Ralen akan menganggap tidak mengenal Ipul, karena memang jika bukan motor yang di serempet oleh mobil Ipul mereka tidak pernah saling mengenal dan mungkin semua yang terjadi pada Ralen tidak akan pernah ada.


Motor melaju dengan tenang sampai akhirnya tiba di gedung bertingkat yang selalu membuat Ralen mendongak guna melihat ujung tertinggi dari gedung itu, rasa penasaran terkadang menggodanya untuk menaiki ujung dari gedung tempatnya bekerja, namun sampai dua bulan dia bekerja tetap tidak ada kesempatan untuknya berada di puncak tertinggi itu.


Motor turun ke parkiran bawah gedung itu, mengambil tempat dari sekian banyaknya kendaraan roda dua yang sudah berjejer rapi.


Ralen melepaskan helm nya lalu mengunci motor dan berjalan lambat menuju pintu yang akan membuatnya berada di lantai paling dasar.


Dia mencoba tenang meski hatinya berkecamuk segala rasa yang membaur menjadi satu, bersatu-padu dalam hatinya membuat Ralen harus menghentikan langkah guna mengatur napasnya yang kembali terasa sesak.


"Selamat pagi Mbak."


Sapaan dari Safiq memaksa Ralen untuk tersenyum dan balik menyapa, "pagi juga," katanya dengan garis lengkungan di bibir.


Keduanya sekarang berdiri di depan lift karyawan setelah sebelumnya mengisi absen tanda kehadiran.


"Ralen!"


Panggilan dari belakang membuat Ralen yang tadi akan masuk ke dalam lift pun terhenti, di belakangnya Ratu tengah berlarian mendekat padanya.


Mereka masuk bersamaan ke dalam lift yang sekarang hanya ada mereka.


"Hah? traktir? dalam rangka apa?" tanyanya tak tahu.


Memang dia tidak tahu apa-apa kan? bekerja baru dua bulan dan berbeda lantai dengan temannya itu membuat dirinya tidak tahu menahu tentang Bu Dita yang katanya mau mentraktir mereka.


"Lo nggak tahu Mbak?" Safiq ikut bicara mempertanyakan Ralen yang tampak tidak mengerti.


Kening Ralen mengernyit dengan wajah melongo lalu mengedikkan bahunya.


"Makanya masuk grup WhatsApp dong Len," cetus Ratu.


"Bu Dita hari ini ulang tahun, jadi dia mau ngajak makan-makan di luar sepulang kerja nanti," sambung Ratu menjelaskan.


"Oohh." mulut Ralen tampak membulat mengeluarkan sedikit kata luapan terkejut, karena dia yang tidak tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahun sang supervisor.


"Gue aja yang anak baru tahu, kok Lo yang duluan masuk dari gue malah nggak tahu Mbak," cerocos Safiq seperti sedang protes tentang ketidak Tahuan Ralen.


"Yeeuh, elo kan ponakannya Bu Dita, kalau Lo nggak tahu kebangetan namanya!" Ratu menyentak nyolot pemuda 18 tahun yang kini mengekeh seraya menggaruk kepalanya.


Ralen mengatupkan bibirnya menahan tawa, sejenak dia di buat lupa oleh keadaan dirinya, sepertinya dia memang harus selalu berada di keramaian agar tidak selalu memikirkan apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


Ratu keluar begitu lift tiba di lantai 8, sedangkan Safiq dan Ralen masih harus naik satu lantai lagi.



Hanya tinggal berdua dengan Safiq saja sudah membuat Ralen kembali berdebar, sesak kembali terasa dan kakinya mendadak lemas tak bertenaga saat lift sudah berhenti di lantai 9.



Pintunya terbuka namun Ralen masih terpekur di dalamnya sedangkan Safiq sudah lebih dulu berada di luar.



"Mbak."



Panggilan Safiq menyadarkan Ralen yang lalu mencoba mengangkat kakinya lalu menjejakkan di lantai 9, Safiq sudah lebih dulu menuju pantry meninggalkan Ralen yang layaknya seperti balita baru belajar berjalan, lambat benar-benar sangat lambat.



Tentu dia menjadi seperti ini sebab dia harus melewati ruangan milik pria yang mulai semalam sudah masuk dalam daftar bajingan untuknya.



Ralen mencoba tenang sampai akhirnya dia berada di depan ruangan milik sang pria yang tampak tidak berpenghuni, bahkan Ralen heran meja sekretaris yang berwajah penuh dengan make up itu tidak lagi ada.



Tangannya pun mengepal dan mulai mencari keberanian untuk mendekat pada pintu yang tertutup.



Memejamkan mata saat tangannya berada di handle pintu, lalu menghembuskan napas memunculkan keberanian untuk membukanya dan..



Tidak ada siapapun di dalamnya bahkan berkas-berkas yang biasa memenuhi meja sudah tidak ada lagi, meja itu tampak bersih dari benda apapun, sama kosongnya dengan ruangan yang tidak ada kehidupan itu.



Pria itu benar-benar melarikan diri?


Ralen gegas menutup kembali pintu itu lalu melangkah cepat bahkan terlihat berlari menuju pantry.


\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2